
"Kamu.....???" ucapku dengan terkejut setelah membuka pintu saat yang ada di depanku ialah Feri bukan Julian seperti yang ku harapkan.
"Jalan Yuk" ajaknya sembari membuka kaca helmnya dan tersenyum manis ke arahku.
"Tapi Fer..." jawabku sedikit linglung karena aku sunguhan sangat terkejut melihat kehadiranya.
"Udah buruan naik....!!" ucapnya sembari menyuruhku naik.
"Em iya tapi" jawabku sambil berfikir sejenak.
"O.... iya om tante aku ajak jalan Putri bentar ya" ucap Feri kepada mama dan papa yang ada di belakangku.
"Udah mau mahrib lo..." jawab Ayahku sedikit sinis
"Em kalo besok aja gimana..." tambah mamaku.
"Sekarang aja gak papa bentar doang paling sejam aja" ucap Feri mengelak ucapan mama dan papa.
Dan karena aku sudah dadan rapi akhirnya aku turuti kemauan dia yang sebarnya aku terpaksa dengan langkah berat aku berpamitan sama mama dan papa dan segera menghampiri Feri.
Drennn...
Terdengar raungan motor yang menepi di depan rumahku.
Dan ternyata Julian yang datang.
"Oh gue kirain udah pulang..." ucap Julian yang melihatku bersama Feri saat ini aku yang tak tau harus apa aku hanya diam.
DanĀ setelah itu Feri turun dari motor dan menghampiri Julian dengan tatapan penuh ancaman.
"Plakkkkk....!!!!" dia membogem wajah Julian dengan keras.
"Dasar lo bang*at ya, gak usah banyak gaya lo, ngapin lo kesini...!!" ucap Feri dengan wajah merah membara.
"Santai lah gue kesini cuma mau ada urusan kok sama Putri dan lagian gue sama dia gak ada apa apa juga..!!" jawab Julian sembari memegang pipinya yang mukin sedikit membiru.
"Iya sayang dia mau ada sesuatu yang pengen di omongin aja kok" ucapku srdikit meredakan suasana namun justru itu menjadikan suasana semakin panas.
"Oh jadi lo lebih bela dia dari pada gue hah...!!" ucap Deri melotot tajam ke arahku.
"Gak sayang..." bantahku ke Feri agar dia sedikit melunakan amarahnya.
"Oh oke gue balik Put" ucap Julian yang mukin mengetahui saat ini situasi tidak tepat.
"Tapi Jul" ucapku sedikit memohon dengan tatapan penuh harap.
"Udah gak papa kok" jawabnya yang membuat hatiku serasa di penuhi salju apalagi dengan senyum manisnya yang membuatku betah memandang wajahnya.
"Buruan naik" tiba-tiba lamunanku di buyarkan akan ucapan Feri yang meyuruhku segera beranjak.
Setelah itu Julian berbalik arah dan melajukan motornya pergi dari rumahku, sebenarnya aku kecewa namun aku harus apa selain membiarkan dia pergi.
"Udah ya sayang kita lanjutin acara kita aja" hiburku ke dia agar tak terus meluapkan emosinya.
__ADS_1
"Tapi lo gak bohong kan kalo lo sama dia gak ada apa-apa" tanya Feri yang membuatku harus mengatir segala hal yang terbaik untuk menutupi semua ini.
"Iya sayang aku serius" jawabku penuh kepalsuan.
"Yaudah yuk kita jalan sekarang" ucap Feri sedikit tersenyum.
"Iya sayang..." jawabku dengan ucapan manis.
****
Eliza pov.
Sudah dua hari ini aku tak beranjak dari tempat tidur seperti orang gila rasanya hanya menghabiskan waktu dengan hal yang tak berguna.
Rasanya aku sangat malas untuk pergi ke sekolah aku hanya ingin berbaring dan berbaring melanjutkan mimpi bodohku yang layaknya sebuah halusinasi.
Dia, Julian selalu datang dengan beribu alasan untuk membujukku agar menemuinya.
Tapi sayang, ketika hatiku kembali aku pulihkan dia menambahi luka yang belum kering ini dengan goresan yang justru membuat semakin sakit.
Apakah aku berlebihan tentu iya tapi salahkan pada hatiku yang terlanjur menjadi lemah karena ketidak mampuanku mengendalikan setipa ego yang tak berguna ini.
Tok..tok....tok
Aku buyarkan lamunan ku dan betapa terkekutnya aku dia datang lagi dan dengan bodohnya aku membukakan pintu untuknya.
"Eliza gue mohon jangan giniin gue" ucapnya yang tiba-tiba memohon ke padaku.
"Udah lah Jul lagian kita lebih baik udahin semua ini" ucapku dengan keras dan emosi yang kembali muncul.
"Alah alasan terserah lo, gue pengen sendiri Jul mending lo pergi sekarang...!!" ucapku ke dia dengan sedikit membentak.
"Dan gak seharusnya lo bawa putri ke depan gue dan ngejelasin sesuatu hal yang naif" tambahku lagi dengan sinis dan mata yang kugerakan layakanya aku tak sudi mendengarkan ucapan darinya.
"Gue cape El lakuin cara apa pun dan cuma lo agap sampah" jawabnya sedikit pelan.
"Gue yang lebih cape Jul dari dulu lo selalu egois dan tak pernah berkomitmen sama tujuan hubungan kita" ucapku sebisa mukin menyudahi obrolan kita.
"Oke kalo ini mau kamu gue akan pulang dan gak akan ganguin lo lagi" jawabnya dengan lesu dan segera melangkahkan kaki.
"Oke Jul ini sakit" ucapku tiba-tiba tanpa aku sadari apa yang aku ucapkan justru berkebalikan dengan kemauanku.
"Lo yang minta dan lo yang nyuruh gue pergi kan" jawabnya yang mwmbuatku justru malu.
"Sejujurnya gue tau yang lebih egois tu diri lo sendiri dan sebenarnya hati lo masih mau nerima gue tapi semua itu lo tutup tutupin, gue bisa rasain itu El" dia berbalik dan mengucapkan kata itu dan membuatku sedikit bimbang.
Dan tiba-tiba dia memeluku erat semua beban yang aku pedam seketika pecah dengan beruraian air mata dia terus menciumku dan memeluku dengan erat.
"Aku janji El aku gak akan lakuin ini semua ke kamu lagi" ucapnya yang masih terus memeluku erat.
Aku tak bisa menjawab aku hanya berdiam tak bergeming.
"Lo belum makan kan" ucapnya lagi sembari melepaskan pelukan.
__ADS_1
"Belom" jawabku apadanya.
"Kita ke dapur yuk" ajakanya tampa menungu persetujuan dari bibirku dia menarik tanganku menuju bawah.
"Oke dari pada kita berantem terus mending kita masak" ucapnya yang membuatku sedikit gembira namun aku masih menutupi semua kebodohanku sedari tadi yang membuatku malu.
"Gue gak laper" jawabku sedikit berbohong agar dia tak melanjutkan keinginanya.
"Boong tu buktinya perut lo kempis dan suara lo naik turun" ucapnya sembari melihat tubuhku dari atas sampai bawah.
"Gak lucu" jawabku menangapi tatapan nya yang membuatku sedikit risih.
"Lo mau ngapain sih Jul" tambahku lagi yang toba-tiba mengambil panci dan menyalakan kompor.
"Gue mau masakin lo ramen yang udah gue beli tadi'" jawabnya sembari menuang air ke dalam panci dan mulai membuaka bukusan ramen instan itu.
"Gue gak suka" jawabku sambil membalikan badan karena aku masih malas meladeni keinginanya.
"Yaudah mau lo apa...??" ucapnya menanyai keinginanku sembari memajukan badanya dan mendekatkan wajahnya ke arah wajahku dan itu membuatku semakin melting.
''Mau gue lo pergi" jawabku sambil menghindari bibirnya yang mulai mencari inangnya.
Cup.....****
"Manis kan" ucapnya yang membuatku kesal karena aku gagal menghindarkan bibir manisku dengan bibirnya yang nakal.
"Udah deh mending kamu diem duduk biar aku yang masakin oke" perintahnya sembari mendudukan aku ke kursi.
Setelah itu aku diam aku membiarkan dia melakukan semua hal yang dia suka toh dia tak merepotkan ku jadi tak ada salahnya.
Sembari menungu dia melakukan tingkah anehnya.
Aku memainkan ponselku berharap dia mengentikan setiap ocehanya yang terdengar basi.
"Eliza taruh gak Hfnya hargai aku dong ngambil piring kek apa kek" ucapnya yang terlihat jengkel akan kelakuanku.
"Lo ngapain atur gue jelas-jelas lo yang mau bikin diri lo repot dengan sedirinya jadi gak usah suruh suruh gue" jawabku yang masih terus memainkan ponsel.
"Iya-iya serah" jawabnya pasrah sembari terus memasak mi ramen itu.
Setelah beberapa menit dia akhirnya menyelesaikan masaknya.
"Makan yuk" ucapnya mengajaku makan.
"Duluan aja" tolaku ke dia dan membuat dia sedikit kesal.
"Lo kok gitu cicipin lah walau sedikit" jawabnya sambil cemberut dan membuatku tak tega melihatnya.
"Iya-iya" jawabku menuruti kemaunya.
Dan setelah itu akhirnya dia membuat senyumku kembali muncul karena hanyalah dia obat sesunguhnya yang aku butuhkan.
Julian, you are the most beautiful gift to me
__ADS_1
I didn't know what love felt like until I met you, but now I know waht a broken heart feels like too.
Itulah kata terindah yang ku ucapkan untuknya walupun hanya dalam hati namun sedikit membuatku tersenyum puas.