Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 37 : Rencana Licik Rehan


__ADS_3

''Akhirnya aku bisa mendapatkan dia dengan mudah" ucapku dengan senyum yang merekah.


"Boleh bagi gak Re...?" Ucap Andi sambil bercanda.


"Apa lo bilang dikira dia barang dagangan apa, ini emas men gak gampang buat gue dapetin jadi sory aja gue gak bisa bagi" jawabku sambil tersenyum licik.


Aku terus menciumi dia dengan puas tak lupa setiap inci wajahnya tak ada yang tak aku sentuh.


"Manjur juga Re obatnya...?" sambung Gilang yang membuat buluk kudukku berdiri.


"Iyalah gue beli mahal semahal gue dapetin Eliza" jawab aku dengan puas.


Setelah itu Andi memarkirkan mobil di dekat gudang kosong yang tak terkunci.


Segera aku menurunkan Eliza dan masuk ke gudang.


Aku udah siapkan kursi kayu serta tali yang akan aku persembahakan untu Eliza.


"Cepat siapakan apa yang aku suruh...!!!" perintahku kepada temanku.


"Oke ..." jawab serentak ketiga temanku


Segera aku dudukan dia dikursi dan aku jilat terlebih dahulu bibirnya.


"Selamat Eliza kamu akan jadi milikku seutuhnya" ucap ku sambil menyeringai.


Segera aku ikat tanggan kanan kiri serta kakinya dengan tali serta aku sekap bibirnya dengan lakban.


"Selesai ......" teriaku penuh kepuasan


"Oke kalian bisa jaga di luar jangan pernah intip gue sama Eliza...!"


"Sip hero..." jawab mereka sambil mengangkat alis.


Segere ketiga temanku keluar dan mengawasi apa yang akan aku lakukan untuk Eliza.


"Hahahahaa..." aku terus tertawa puas sangat puas.


"Eliza lo yang terlalu bodoh memilih cowok banci kaya Julian, dan lo Julian gak pernah tau siapa gue" ucapku lantang penuh kesombongan.


"Dan sekarang aku lah pemenangnya"


Settt


Dia sudah terbangun...


"Aku akan melakukan semua hal yang ingin ku lakuakn Eliza Anandian...!!!!!!" aku terus tertawa puas.


Dan dia terlihat layaknya orang baru sadar.


"Pinter kamu Eliza'' ucapku sambil mendekati dia.


Tanpa di sadari Aftur sudah membuntuti mereka sedari tadi.


"Sialan tu kakak kelas apa  yang akan mereka lakukan dengan Eliza" umpatnya dalam hati sembari mengintip disela-sela pepohon disekitar gudang.


"Jika aku maju sediri pastilah aku babak belur aku harus cari cara lain".


Aku berfikir keras segera aku menghubungi kedua temanku.


****


Dengan amarah yang terus membara aku membawa motor ku ke bengkel bersama Denis.

__ADS_1


"Awas aja....!!!  jika aku tau ban*sat yang lakuin semua ini..." ucapku kesal.


"Wajar jul..." jawab Denis berusaha meredakan emosiku


.


"Ini gak wajar Den liat aja akal lo kali, pinteran dikit ini tadi sebelum berangkat sudah aku cek setelah samapi sekolah aku cek lagi" jawabku sambil ngos-ngosan.


"Orang bodoh pun tau Den ini semua. ada yang lakuin...?" tambahku lagi


"Udah deh Jul terima aja apa yang terjadi kali ini" jawabnya sambil mengusap pundakku.


"Gak gampang Den...!"


"Apa nya sih..? hanya karena kamu gagal boncengin El..?????.


"Begitulah" jawabku singkat dengan nada datar seraya aku terus mendorong motor.


Letak bengkel tak jauh dari Sekolah kurang lebih hanya berjarak satu kilo.


Setelah sampai segera aku memasukan ke bengkel.


"Lo duluan aja Den..!" suruhku ke Denis agar segera pulang karena otakku saat ini tidak bisa diajak walau hanya sekedar ngobrol ataupun bercanda.


"Gak papa Jul sekalian nongrong..?" jawabnya dia santai.


"Gue lagi gak mood Den yang ada tambah kacau pikiranku".


"Oh... oke kalo gitu gue duluan" jawabnya pasrah sambil beranjak pulang.


Aku sederken kepala aku di kursi samping bengkel, sambil menunggu giliran motor aku diperbaiki.


Tak terasa aku terlelap.


"Oh iya.. maaf pak" jawabku sedikit kaget.


"Berapa pak bayarnya...???" tambahku lagi menanyakan berapa biaya memperbaikinya.


"Empat pulih ribu mas.." jawab bapak-bapak itu.


"Oh ini pak.." jawabku sambil mengulurkan uang dua puluh ribuuan dua.


"Makasih mas"


"Ya sama-sama pak"


Aku lihat jam tangan hitam yang biasa aku pakai sudah menunjukan diangka tiga dan dua belas.


"Udah asar aja" gumanku dalam hati.


Segera aku melajukan motor dan berlalu pulang.


Deg!!!!


Tiba-tiba perasaan tak enak menghampiriku.


Segera aku mencari ponsel dan kembali mengirim pesan untuk Eliza .......


Sayang udah pulang ya...?*


Maaf ya aku gak bisa anter*.


Setelah itu aku berganti pakaian dan mengabil air wudu dan segera salat

__ADS_1


Sehabis salat aku segera mengecek ponselku lagi.


"Kok gak di bales sih gak aktif lagi kemana sih Eliza"  umpatku kesal.


Kepalaku rasanya terus berdenyut-denyut aku kembali mencoba menelepone nya namun nihil dia tidak memberikan balasan yang setidaknya menenangkan aku.


Aku melihat jam di dinding yang tepat menujukan pukul empat sore pikiranku seketika kacau entah kenapa aku tak tenang sama sekali dengan pikiranku ini apalagi hati aku.


"Hem.. aku harus menemui dia" gumanku dalam hati


Aku segera mandi berganti baju dan segera ke rumahnya menanyakan perihal dia tidak aktif serta tidak pedulinya dengan hati aku yang terus menghawatirkan dia.


"Ma... aku keluar bentaran" ucap ku ke mama.


"Mau kemana kak...??" tanya mamaku.


"Cuma mau ke rumah temen doang...'" jawabku sambil bersalaman dengan mama.


"Hati-hati kak"


Langsung aku cuzz ke rumah Eliza


"Awas aja El sampai kamu hanya alasan ini itu apalah aku cium kamu berulang-ulang nanti" umpatku kesal.


Tak berapa lama aku sampai dirumahnya segera aku menepi dan turun kemudian aku memencet bel yang terpasang di gerbang.


Tak berapa lama mbak Inah membuka gerbang.


"Mbk Elizanya ada.....????" tanya ku langsung ke mbak Inah.


"Maaf mas belum pulang" jawabnya yang membuatku seketika mengaruk kepala.


"Apa...., belum pulang seriusan mbk...???"


"Iya mas".


Segera aku berfikir keras apa jangan- jangan dia latihan drama tapi ga mukin apa dia ke rumah kedua temenya.


"Oh yaudah mbk maksiah ya"


"Iya sama-sama mas".


Segera aku cari ponselku dan menelepon salah satu diantara mereka dan jawabnya membuatku semakin kesal tidak ada yang tau dan jawabanya sama tadi pulang naik bus dan mereka hanya bertemu sampai halte.


"Kemana sih lo El bikin gue gak tenang aja" ucapku kesal sangr kesal sambol aku memukul ban motor sialan ini dengan kaki.


"Bisa gila ini aku, harus cari kemana lagi,


Oh iya aku harus hubungin Stevi buat nanyain siapa tau dia tau Eliza sedang dimana" tanyaku sediri dan ku jawab sediri.


Lebih sialnya lagi dia tidak mengetahui keberadaan Eliza.


Sialll harus kemana lagi aku memcari kamu El umpatku dengan kesal.


"Lo tu setidaknya kabarin kek" ucapku sambil terus berdecak kesal.


Aku berfikir terus dan aku memutuskan balik ke sekolah.


Dengan rasa yang tak karuan aku terus melajukan motor ini dengan pikiran tidak tenang.


Ketika sampai segera aku berkeliling setiap sudut sekolah, tapi nihil semua sia-sia.....


"Kemana kamu El...????" ucapku sambil berjongkok di depan Aula.

__ADS_1


***


__ADS_2