Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 151


__ADS_3

Matahari belum menampakan diri Pagi- pagi buta Julian sudah bersiap meningalakn rumah yang ditingalinya Dan saat ini Dia sudah memesan grabcar untuk mengantarkanya ke Bandung, ke tempat oma dan mamanya tinggal sekarang.


Dia memilih naik mobil ketimbang kereta karena barang yang di bawanya lumayan banyak. Papanya masih belum pulang sedari kemarin tampakanya lelaki itu memang mengijinkan Julian untuk pergi dari rumahnya.


Dia berjalan ke arah dapur dan mulai menghampiri mbak Inah pembantunya


"Mbak aku pamit dulu ya" ucap Julian dengan sopan seperti perpisahan pada umumnya wanita itu terlihat sedih dengan kepergian anak majikanya.


"Iya mas hati-hati..." ucap wanita itu dengan menahan air matanya yang seperti akan jatuh.


"Jaga rumah ini baik-baik ya sama salam buat papa nanti kalau pulang aku juga minta maaf kalau aku dulu pernah jahat sama kamu..." ucap Julian dengan nada yang terdengar mulai lebih dewasa.


Wanita itu hanya mengangguk sembari menyeka air matanya.


Julian mulai berjalan keluar rumah di bantu wanita itu membawakan beberaoa barang bawaan untuk Julian bawa ke Bandung. Tak berapa lama mobil Xenia berwarna silver itu mulai menepi di depan rumah Julian, sedang motor milik Julian akan di bawa saudaranya yang kebetulan sedang berada di kota jakarta.


Julian mulai memasukan koper ke dalam bagasi mobil yang di bantu Inah dan sopir garabcar tersebut.


Julian mulai duduk dan membuka kaca jendela mobil itu sembari melambaikan tangan.


Mbak Inah hanya tersenyum pilu atas kepegian Julian dari rumah yang kini hanya tersisa sepi.


Mobil itu mulai melaju keluar dari perumahan dan berjalan menuju jalan raya.


Julian mulai mencoba memejamkan mata berharap semua akan lancar dan baik-baik saja doanya hanya satu pilihanya saat ini tepat.


Alasan Dia berangkat pagi-pagi karena Dia tak ingin Eliza sampai melihatnya dan akan membuatnya semakin sedih Dia tau perasaan wanita mana yang tak sama saat kekasihnya pergi dan dalam waktu singkat dan mendadak.


Sedang sahabatnya sudah menau sebelum Julian memberitahu kepada Eliza Denis Roy dan Dika sebenarnya juga tak ingin Julian meninggalkan kota ini namun jika itu jalan terbaik bagi Julian mereka mencoba iklas.


Matahari mulai menampakan diri Julian mulai merasakan hawa setidaknya lebih membuat pikiranya lebih membaik.


Dann keluar dari rumah yang mirip neraka itu tampaknya pilihan yang tepat untuk Dia pilih.


Kurang lebih selama empat Jam lamanya perjalan dari Jakarta ke kota Bandung rasa lelah iti terbayar sudah dengan sambutan Amelia yang begitu hangat dan antusias dari omanya dan dengan rona wajah bahagia.


Julian mulai berjalan kedalam rumah dengan tangan penuh membawa beberapa barang yang sudah di turunkan oleh supir bernama Ardi itu. Setelah selesai Julian mulai membayar dan mobil itu berjalan pergi.


"Oh cucu oma akhirnya bisa tinggal disini juga" ucap Wanita berkacamata itu sembari memeluk Julian dengan rasa rindunya yang teramat sangat.

__ADS_1


"Iya oma...." jawab Julian dengan tersenyum.


"Maksih ya oma udah di ijinin tingal disini" ucap Julian yang tampaknya tau diri walau hal itu justru membuat rasa tak enak di hati omanya.


"Jul kamu tu ngomong apa sih ini rumah oma jika oma setuju kamu tinggal disini tak perlu ada yang di permasalahin lagi sayang..." ucap,wanita itu dengan lembut ke arah cucunya.


Julian mulai duduk di kursi ruang tamu itu seperti biasa sudah tersaji minuman kesukaanya dan beberapa camilan istimewa.


"Tapi oma sama mama kamu jelas belum tau alasan kamu pindah kesini apa sebnarnya bukan...?" tanya wanita tua itu sembari duduk mendekati cucunya sedang Amelia tampak sangat bahagia akhirnya Julian akan tinggal di sini.


"Papa mau nikah oma ya buat aku lebih baik aku pergi ya soalnya aku belum siap menerima ibu baru" jelas Julian dengan nada terasa berat walau hanya untuk menceritakan hal itu dan  jelas akan menbuat Amelia dan ibunya terkejut.


"Apa papa kamu mau nikah kurang ajar sekali tu si Wijaya dulu tampangnya begitu manis datang kesini seakan-akan ucapanya itu meyakinkan oma tapi ternyata lebih busuk rupanya..." ucap wanita yang sedang memotong kue lapis itu tercengang hebat dengan ucapan cucunya.


"Ma udah biarin mas Wijaya itu hak Dia kok .." ucap Amelia dengan nada halus Dia selalu pandai menyembunyikan sakit di hatinya itu karena hatinya memang benar sebaik hati bidadari.


Mereka terus berbincang-bincang seperti biasa wanita yang di panggil oma itu tampaknya sangat menyayangi Julian


Hari semakin sore Ya Julian akan menempati kamar yang sebelumnya di tempati Reva dan Reva akan tidur dengan Amelia, mamanya.


"Jul udah asar..." ucap Amelia menghampiri putranya yang sedang duduk bersandear di kepala ranjang itu.


"Udah ma..." jawab Julian dengan tersenyum kini mimpimya untuk tinggal satu rumah dengan mamanya terwujud sudah.


"Jul" ucap Amelia dengan sendu


"Iya ma" jawab Julian berusaha menatap kedua bola mata Amelia.


"Maafin mama ya" ucap Amelia sembari berusaha memeluk tubuh Julian dengan lembut.


"Buat apa..?" tanya Julian yang terheran dengan kata-kata Amelia


"Mama gak bisa kasih kamu kehidupan yang baik disini" lanjut Amelia lagi dengan tatapan mata Ia alihkan ke arah lain.


"Suth ma mulai sekarang aku akan belajar mandiri ma aku akan jual motor aku buat sekolah aku nanti" ucap Julian berusaha mengerti arah pembicaraan Amelia yang tampaknya menjurus ke arah keuangan Julian jelas sadar bahwa kehadiranya akan menambah beban buat mamanya.


"Jangan Jul itu buat sekolah kamu mama masih ada tabungan kok walau sedikit" lanjut Amelia lagi dengan nada terdengar meyakinkan Julian.


"Ma gak papa" jawab Julian lagi dengan nada tulus.

__ADS_1


"Jangan besok kamu langsung masuk ke sekolah kan" lanjut Amelia lagi berusaha mengalihkan topik pembicaraan lain.


"Iya ma surat perpindahan sudah siap semua" jawab Julian dengan kembali mengingat surat dari kepala Sekolah lamanya yang Ia simpan di dalam map berwarna merah itu.


"Papa kamu mau nikah sama Ayunda...?" tanya Amelia pada akhirnya Dia jelas bohong jika Dia berkata aku baik-baik saja rasanya sekarang hatinya seperti terkelupas hidup-hidup memikirkan mantan suaminya yang akan menikahi selingkuhanya yang Dia kenal orangnya


"Iya ma terkadang dunia ini sempit banget ya ma" ucap Julian memandang kosong balkon yang berada di sisi luar kamarnya.


"maksud kamu...?" tanya Amelia yang tak mengerti dengan ucapan anaknya.


"Mama bisa bertemu dengan Ayunda " jawab Julian langsung to the poin.


"Iya Jul mama kenal lewat instagram miliknya yang ternyata akun fakenya" jelas Ayunda yang tampak menyesali pertemuanya waktu itu.


"Yaudah ma gak papa gak usah di pikirin terlebih baik kita memikirkan kehidupan kita disini" ucap Julian berusaha mengalihkan pikiran berat Amelia.


"Iya Jul" jawab Amelia yang terlihat mengeluarkan air mata itu namun Dia dengan cepat menyekanya.


"Yaudah kamu istirahat aja dan persiapin buat sekolah besok mama tinggal dulu ya" lanjut Amelua lagi seraya berdiri dan berjalan ke luar dari kamar Julian.


"Iya ma..."


Julian mulai mencoba merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur itu dengan perlahan Dia berusah memejamkan matanya namun rasanya tak mungkin tidur di sore hari Dia mulai beranjak dan berjalan menuju meja yang biasa di gunakan Reva untuk belajar Julian mulai mengambil ponsel miliknya yang sedari tadi tak tersentuh jemarinya.


Dia tersenyum saat Eliza mulai mengirimnya beberapa kali pesan yang mirip anak kecil saja yang terus minta diperhatikan dan benar saja saat ini Eliza tampaknya sedang marah dengan Julian terbukti saat ini Eliza sedang online namun tak membaca pesan dari Julian yang tak seperti biasanya.


Julian mulai mengambil langkah Dia ketuk icon panggilan vidio itu dan Dia mulai menghubungi Eliza.


"Hallo..." ucap Julian mengawali obrolan mereka yang tampak dari layar itu Eliza sedang cemberut dan mata yang terlihat sembam serta Eliza hanya diam dan membuat Julian semakin tak tega melihat Eliza dari layar ponselnya.


"Sayang kenapa sih ngambek terus..." ucap Jukian dengan nada membuat Eliza semakin rindu karena biasanya setiap hari selalu berjumpa di sekolah.


Dari tampilan layar itu Eliza tampak sedang bersedih terlihat Dia sehabis menangisi orang yang saat ini justru berusaha menertawainya dan Julian tau Eliza bolos sekolah hanya karena Dia sedang galau.


"Kamu nangis lagi...?" tanya Julian dengan tersenyum baginya Eliza kini tampak mengemaskan.


Ya begitulanh Eliza yang saat ini benar- benar kehilangan sosok Julian di hidupnya walau hanya berbeda tempat tapi rasanya sangat jauh dan terasa menyakitkan.


"Muah" Julian mulai mencium wajah Eliza dari layar ponselnya dan membuat Eliza semakin mewek dibuatnya.

__ADS_1


"Udah gede malu ih nangis mulu..." cibir Julian dengan nada meledek yang justru membuat Eliza sedikit kesal orang yang di tangisinya serasa tak membalas apa yang sedang dirasakanya.


Tak berapa lama Eliza tampak mematikan pangilan vidio itu dari Julian karena saat ini Dia sedang galau dan tak ingin terlihat terus bersedih.


__ADS_2