
Hari ini hari kelas 12 ujian Nasional, sekolah SMA Pelita Bangsa tampak sepi
Begitupun Eliza saat ini yang masih berbaring di tempat tidurnya dengan berbalut selimut.
Sedang Julian masih menginap di rumah Denis semalam sepulang pertandingan dia tak pulang ke rumah.
Flasback on
"Jul lo janji kan mau ke rumah gue sekalian aja hari ini lo nginep" ucap Denis menawarkan ajakaanya ke Jukian dengan raut wajah semangat.
"Eh ide bagus tu ajak Roy juga" jawabku mengiyakan tawaranya tak lupa aku mengingat satu sahabatku yang memiliki sifat kebapakan itu si Roy Martin.
"Tapi Dika gak usah gak mood gue lihat tu pantat anak ayam" tamabhku lagi ke Denis agar si curut tidak perlu diajak karena aku masih sedikit kesal dengan kejadian tadi.
"Hahaha kocak juga lu Jul"
Setelah bus itu berhenti sampai sekolah aku segera turun aku merasa begitu bersalah ketika aku gagal dalam pertandingan tadi, ya ibarat berjuang tapi gagal walaupun setidaknya kita sudah berupaya.
"Lo jangan merasa sedih Jul gak papa kali ini kita gagal nanti kan tahun depan lo pasti di ajukan lagi sama pak Anto usaha tu gak pernah ngehianati hasil tingal waktu aja yang nentuin...." ucap Denis yang memang bisa aku handalkan untuk mengutkan mentalku.
"Iya makasih ya lo udah suprot gue dengan positif" jawabku sambil menepuk pundaknya dua kali.
"Ya itu emang tugas sebagai sahabat bisa bangun mental sahabatbya disaat lagi down"
"Oke anak-anak terimaksih untuk partisipasi anak-anak dalam lomba tadi segera pulang dan istirahat" ucap pak Anto memberi pesan kepada para muridnya.
"Iya pak"
Sampai di rumah Denis
"Badan gue serasa si gebukin maling deh Den" ucapku sambil merebahkan badan di kursi sofa milik Denis.
"Sama gue juga tadi ada yang ngasih nomer ke gue katanya buat lo" Jawab Denis sembari menyerahkan secuil kertas berisi angka itu.
"Gak penting tadi dari SMA wijaya lo Jul barang kali jodoh lo..."
"Buat lo aja kawan"
"Eh sembari kita ngobrol di buka boleh dong tu kotak"
"Siap"
Dengan perlahan Julian membuka kota makan berwarna transparan itu.
"Wao" terlihat nasi kuning lengkap dengan laukanya.
"Nikmat banget kayaknya Jul" decak Denis sembari menelan air liur.
__ADS_1
"Hubungan lo sama dia masih gantung ya...?" tanya Denis yang mirip sambaran petir bagi Julian.
''Iya kaya gantungan baju" dengan seenak jidatnya Roy datang langsung duduk dan ikut ikutan nyerobot makaanan.
"Ngacau lo Roy" ucap Denis sedikit meledek
"Tau deh biar Tuhan aja yang ngatur kisah cintaku sama Dia" ucap Julian yang terdengar bagai syair puitis.
"Widih mulai puitus nih kawan kita" singgung Roy dengan mengedipkan mata ke arah Denis.
Tak berselang lama Dika datang dan cek- cok mulut itu tak terhindarkan.
"Kalian kok engak ajak-ajak sih mau ke rumah Denis....??" ucapnya dengan sedikit menekuk muka.
Kita bertiga hanya saling melongo menanggapi kelakuan cacing tanah yang muali aktif tersebut.
"Pada diem, engak suka emang ya sama kedatangan gue....!!" Dia mungkin nyadar kedatanganya mirip jalangkung yang datang tak di undang dan pulang tak diantar.
"Suka-suka aja duduk gih..." ucap Roy dan Denis bersamaan.
"Widih ada makanan nih nikmat..." ucap Dika dengan mata memandang tak berkedip.
"Woy jangan main comot aja lo cuci tangan dulu sana....!!" ucap Julian dengan tersingung karena seenaknya Dika mengambil makanan padahal yang dikasih belum mencicipi juga.
"Sokk higenis lo Jul..." Dika mulai tersingung dan dengan sendirinya berjalan menuju wastafell.
"Dari si Elizaaaaaa yaa...." Dika justru tak tersingung malah kegirangan.
"Ya seratus dua puluh ribu buat kamu..." ucap Roy memberikan kedua jempolnya.
Julian sejujurnya tak suka dengan kedatangan Dika ya dendam yang dulu itu masih berasa rupanya.
"Eh udah deh gak usah pada ribut dan bercanda mending kita pada makan biar gue abilin piring dulu..." Dengan perhatianya Denis mulai mengambilkan piring beserta minumanya dari dapur.
Setelah itu mereka berempat sedang asik menyatap makann buatan Eliza beserta mamanya.
Terlihat mereka hanya Diam menikmati sajian makanan yang lezat itu.
Setelah kenyang mereka berempat mulai berbaring di lantai rasa lelah terbayar sudah dengan sajian makanan tersebut, di tambah Eliza menambahkan buah serta Risol dan beberapa gorengan.
Tak berselang lama azan mahrib berkumandang.
"Gue balik ya den Den..." ucap Dika dengan mata masih menciut mungkin rasa kanntungnya sedang bersadar dalam tubuhnya.
''Iya deh lo gak nginep aja Dik...??"
"Gue juga ikutan pulang Den" lho Roy nginep sini aja itung-itung nginep di villa, karena memang rumah Denis sangat bagus karena mengingat kedua orang tuanya arsitektur
__ADS_1
"Gue aja deh yang nginep kasian nih orangtuanya lagi keluar kota takut sendirian lagian besok libur juga..." ucap Jukian dengan gaya sok perhatian.
"Hahahah yaudah deh kita balik dulu ya makasih lho Den..."
"Iya..." jawab Denis sembari mengantarkan kedua temanya menuju gerbang.
Setelah sholat mahrib bersama, Julian dan Denis sedang berbincang-bicang di teras rumah sembari menikmati sayupan angin malam yang begitu dingin itu
"Lo lagi ada masalah ya Jul...??" tanya Denis sembari menyilangkan kakinya diatas paha.
"Banyak Den..." ucap Julian dengan menyikangkan tangan di dada.
"Gue turut prihatin sih atas percerian orang tua kamu..." Denis berusaha mengerti masalah yangvsedang di hadapi kawannya itu.
"Iya gak papa lagian semua ini pasti sudah tulisan tangan Tuhan" ucap Julian sambil berdecak.
"Ya kita memang harus berbaik sangaka pada Tuhan"
"Ini Den kopinya..." ucap ibu-ibu paruh baya ya itu pembantu Denis.
"Makasih ya mbok" pangilan Denis emang simbok karena yang mengurus dia dari orok juga wanita tersebut.
''Iya.." setelah itu wanita paruh baya itu berjalan masuk.
"Terus kalo hubungan lo sama orangtua lo...?" Jukian balik bertanya.
"Ya kadang aku iri dengan kekuarga biasa sederhana tapi bahagia..."
"Eum..."
"Gue iri jujur sama kakak gue yang udah nikah rumahnya rame..." lanjutnya lagi melanjutkan pembicaraan yang terpotong tadi.
"Sama, gue juga belum iklas mama gue pimdah rumah..." Julian ikut bercerita perihal hal yang sama dengan Denis.
"Gue dulu pernah marah sama dunia..." ucap Julian sambil menyerupu kopi dalam cangkir berwarna putih itu.
'Terus..."
"Ya gue gak bisa nerima keadaan..."
"Jul Jul jangan puitis terus nanti ubanan lho kamu..." ucap Denis sedikit meledek Julian.
Malam semakin larut namun mereka masih tetap asik berbincang hingga hari hampir menyingsing fajar.
"Gila udah jam dua aja..." ucap Julian sembari melihat jam di ponselnya.
"Tidur gih..." perintah Denis sembari menghabiskan sisa kopi yang tinggal satu teguk itu.
__ADS_1
"Iya keasikan ngobrol sih...." ucap Julian yang mulai berdiri dan beranjak masuk.