Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 143


__ADS_3

Lelaki bernama Wijaya dan Ayunda itu sedang menghabiskan waktu makan malamnya di  rumah makan yang terkenal ramai itu terlihat tiada spot tempat kosong lagi.


Barangkali menunggu dua jam lamanya hingga mendapat antrian makan di tempat makan yang menyajikan masakan khas bali dengan diiringi suara musisi nan merdu itu yang menambah kesan harmonis.


Mereka baru bertemu setelah kejadian Julian berkelahi dengan Rehan beberapa waktu lalu. Yang hingga saat ini menimbulkan luka terdalam di hati Ayunda.


Ayunda masih diam serasa makanan yang telah disajikan dihadapanya itu tak ada artinya Dia hanya terus memainkan ponsel merk apple keluar terbaru miliknya itu dengan serius lelaki di depanya itu seperti tak diangapnya.


Wijaya tampak cemas dan gelisah melihat wanita yang sangat disayanginya itu sedang chatingan dengan seseorang Dia khawatir Ayunda chatingan dengan lelaki lain. Dia terus berdeham berharap Ayunda meresponya namun nihil Ayunda masih tetap sama, memainkan jemari lentiknya di atas layar ponsel itu.


Wijaya mulai mencicipi hidangan itu namun ketika mulai mengunyah makanan itu rasanya tak seenak biasanya entah mungkin karena perasaan hatinya saat ini.


Hampir tiga puluh menit suasana masih sama hingga dengan sengaja wijaya menjatuhkan garbu miliknya hingga mengeluarkan bunyi "ting"


Ayunda menoleh dan Dia hanya diam tak peduli dengan kembali melanjutkan cahtinganya dengan pegawai bawahanya.


"Mau sampai kapan dieminya ...?" tanya wijaya pada akhirnya karena sudah merasa tak kuat tak di perhatikan oleh Ayunda. Ya wanita berpakaian rapi itu selalu membuat Wijaya selalu terpanana walau Ayunda tetap diam tak merespon ucapan Wijaya.


Hingga Wijaya berusaha meraih tangan halus milik Ayunda dan diterima lembut oleh Ayunda.


"Kamu masih marah....?" tanya Wijaya lagi pada Ayunda sembari mengelus-elus tangan halus itu dengan lembut.


Ayunda mengelengkan kepala dan menaruh ponsel miliknya di atas meja.


"Em kayaknya aku balik aja deh mas capek" jawab Ayunda terdengar frustasi dengab raut wajah terlihat tak menikmatai makan malam kali ini dan membuat Wijaya semakin cemas.


"Jangan gitu dong makan dulu aku udah pesenin kamu makanlah kan gak baik sayang nolak makanan....." ucap Wijaya berusaha mencegah Ayunda yang terlihat ingin pergi dari tempat duduk itu.


"Mas, mas itu harusnya tau aku kaya gini gara-gara anak mas Julian, gara-gara Dia Rehan hampir kabur dari rumah mas" jelas Ayunda dengan nada kesal dan terlihat begitu marah dengan Julian.


"Sayang kita bicara baik-baik dulu" ucap lelaki itu berusaha meredam amarah Ayunda yang membuatnya takut kehilangan wanita yang terpaut usia lima tahun itu denganya

__ADS_1


Ya saat ini Ayunda mulai menunjukan sifat emosionalnya akibat banyak masalah yang sedang di hadapinya.


"Oke kamu maunya gimana....?" tanya Wijaya pada akhirnya merasa kali ini Dia harus bijaksana menangapi kemaauan Ayunda.


"Aku mau kita serius mas sama hubungan kita aku gak mau cuma diangap pelakor kaya gini aku malu mas apalagi kita udah ketauan oleh istri mas dan anak mas.." jelas Ayunda dengan nada tinggi dan tampak mengebu-ngebu hingga membuat Wijaya sedikit terkejut dengan sifat asli Ayunda.


"Hanya itu yang mau kamu..." Ucap wijaya dengan nada sesantai mungkin karena Dia tak ingin memperpanjang masalah serta kemauan Ayunda kali ini tergolong wajar baginya.


"Iya tapi aku juga ingin ketemu Julian terlebih dahulu aku ingin kasih tau cara sopan santun yang baik untuk Dia" jelas Ayunda lagi dengan nada sama terlihat begitu kesal dengan Julian.


Lelaki itu jelas tak bisa mengatakan tidak kepada Ayunda wanita kesayanganya itu Ia hanya mengangukan kepala menuruti kemauan Ayunda.


Hingga pada akhirnya gati Ayunda kembali luluh.


....


Hampir pukul sebelas malam lelaki itu baru sampai di rumah rasa lelahnya itu tampak saat Dia mulai turun dari mobil dan membuka pintu gerbang sendiri Dia paham saat ini hari mulai larut tak baik baginya untuk berteriak kepada pembantunya.


Dia mulai memasukkan mobilnya kedalam garasi dan berjalan ke dalam rumah.


Dia mulai nenaiki tangga dan berjalan menuju kamar namun perlahan langkah kakinya terhenti saat berada tepat di depan kamar Julian hatinya bergerak untuk masuk ke dalam kamar itu.


Dia berusaha membuka pintu yang tampak tak terkunci itu Dengan perlahan.


Dia mendapati anak lelakinya itu sedang tidur dengan pulas hatinya bergetar saat melihat wajah anaknya yang tampak tirus Dia tak menampik masalah hancuran tumah tangganya itu akibat ulah dirinya sendiri dan anak menjadi korbanya.


Dia berusaha berjalan menuju meja belajar Julian dan terlihat kini anaknya tampak rajin buku-buku tebal itu tampak terbuka tanda Julian habis membaca buku pelajaran Fisika itu.


Pikiranya tampak terbebani saat Dia melihat lemari yang tampak acak-acakan itu seperti tak ada yang mengurusinya Dia melirik satu bingkai foto hingga Dia terenyuh dengan foto keluarga kecilnya itu namun perasaan bersalah itu semakim mencuat ketika menemukan satu foto saat ulang tahun Julian yang disitu tampak Wijaya sedang berada di masa pas-pasan dengan membelikan kue ulang tahun Jukian dengan uang pemberian temanya waktu itu.


Dia melirik kembali Julian yang tampak tak sadar akan kehadiranya itu sembari menyelimuti tubuh Julian dengan selimut tebal itu secara perlahan tak lupa jemarinya menyentuh rambut hitam milik Julian dengan lembut merasa takut anak lelakinya akan  bangun lelaki bernama Wijaya itu segera beranjak keluar dari kamar itu Dia keluar dari kamar dengan perlahan dengan kembali menutup pintu kayu itu.

__ADS_1


Dia mulai masuk ke kamarnya perlahan hatinya sedikit goyah akan meneruskan kisah cintanya dengan Ayunda entaj kenapa perasaan dilema itu seperti menghampirinya kembali.


Dia buka kembali lemari yang pernah menyimpan kenangan-kenangan manis bersama Amelia yang masih tersimpan rapi itu mulai dari foto hingga beberapa perhiasan serta jam tangan yang di belinya dengan hasil keringat mereka waktu itu, ya Dia tak menyangka kelakuanya sunguh bejat terhadap wanita yang mendampingi dirinya dari titik terendahnnya dulu sampai ke titik yang sekarang.


Namun perlahan Dia menutup laci di dalam almari itu kembali. Dia segera berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


....


Keesokan hari.


Julian sedang terburu-buru dengan rutinitas paginya sedang lelaki itu sengaja berangkat lebih siang dari biasanya sebab Dia ingin sekali bertemu dengan anak lelakinya, Julian.


"Jul sarapan dulu..." ucap lelaki yang sudah rapi mengenakan seragam kerja iti kepada Julian yang sedang memakai kaos kaki dan sepatu.


Julian tampak terkejut dengan sikap papanya yang terlihat aneh itu karena tak biasanaya lelaki itu meluangkan waktunya untuk menemaninya sarapan walau Julian saat ini tak bisa melakukanya sebab Dia bangun kesiangan.


"Hah..." ucap Julian dengan  nada terkejut


" kenapa cepat Jul duduk dulu kita sarapan..." jawab Wijaya dengan nada berharap dan antusias.


"Maaf aku lagi gak asa waktu kesiangan nih..." jawab Julian dengan terburu-biri sembari mengambil sepeda motornya dan melajukan keluar dari rumah.


Lekaki itu tampak sakit hati saat anaknya sendiri tak menunjukan sikap peduli terhadap dirinya walau Dia berusaha meninggalkan pekerjaanya namun sayang balasan Julian tak sepadan dengan pengorbananya.


Dia tak menyangkal sifat Julian beruvah sebab darinya amun helas terasa kecewa itu benar terbukti nyatanya.


Lelaki itu kembali terdiam sembari menyeruput kopi yang berada dalam cangkir putih itu yang sudah tak mengeluarkan uap panas lagi.


Dia melihat dari jendela anak lelakinya sudah berjalan keluar dari rumah.


Pikiranya kalut Dia merasakan benar-benar tidak di pedulikan lagi oleh anak sendiri itu sakitnya jelas terasa sangat sakit.

__ADS_1


Lelaki iti terdiam berusaha menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan Dia mengusap wajahnya dengan kasar saat ini untuk bertemu Julian itu baginya sangatlah susah.


Dia kembali teringat kata-kataAyunda untuk segera menikahinya baginya itu hal yang mudah namun entah kenapa Dia merasakan sangat berat untuk mewujudkan hal itu.


__ADS_2