Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 136


__ADS_3

Malam semakin larut langit tampak kelabu namun Julian masih belum juga beranjak dari tempat duduk itu Dia terus memandangi jalanan yang tampak sepi yang hanya menyisahkan cerita pilu di dalam hatinya.


Hembusan angin malam yang tak nampak nyata serasa menusuk jiwa yang rapuh itu


"Jul udah jangan terus terpuruk seperti itu mama gak papa kok cepat tidur..." wanita bernama Amelia itu menghampiri putranya yang sedak duduk di kursi kayu itu, kursi saat Dia dulu sekolah menengah pertama.


"Ma" Julian menoleh ke arah wanita itu, Dia begitu terenyuh ketika melihat wanita di depanya itu terlihat begitu tegar walau masalah besar sedang di hadapinya.


"Ma papa tu kelewatan jangan berpura- pura seolah-olah mama tu kuat...." ucap Julian berusaha menyetuh tangan halus milik mamanya dan di tempelkan di area wajahnya.


"Ini semua terjadi gak sengaja Jul mama Juga gak tau kalau bakal nemuin wanitanya papa kamu lagian buat apa kita membenci orang jika Tuhan aja mudah memafkan...." jelas wanita itu dengan tersenyum walau terlihat dari bola matanya terlihat sembam seperti orang habis menangis.


Julian hanya tersenyum menangapi ucapan mamanya yang bagai malaikat, sembari Dia memeluk tubuh yang terlihat mulai kurus itu.


"Mama tu mirip lilin..." ucap Julian yang teringat pepatah itu.


"Udah deh Jul mama gak papa kayaknya rambut kamu mulai panjang deh nak" jawab Amelia berusaha menghibur putranya yang jadi korban dari permasalahan rumah tangganya sembari duduk di sebelah Julian.


"Ma wanita yang jadi selingkuhan papa Itu aku kenal..." ucap Julian dengan tersenyum namun ketika mengingat wajah itu hatinya terasa teriris-iris.


"Iya terus kenapa...?" tanya Amelia sembari mengelus-elus kepala anaknya yang saat ini sedang memeluk tubuhnya.


"Ya dunia itu sempit banget ma dan Rehan anak dari pelakor itu musuh aku di sekolah.." jelas Julian lagi mengingat Rehan yang akan terus menjadi musuhnya.


"Jul udah deh kamu harus belajar iklas mungkin papa kamu memang udah bukan jodoh mama lagi,,," jelas wanita iti dengan suara menahan air mata.


"Tapi ma sekali aja papa bisa gak sih ngertiin perasaan mama...." ucap Julian lagi seperti berharap penuh dunianya yang dulu akan kembali.


"Sayang mama kan udah cerai jika papa kamu ngelakuin itu wajar kok..." jelas Amelia lagi seperti sedang mengajari Julian saat sekolah TK dulu yang begitu cerewet.


"Aku mau nanya hati mama tu terbuat dari apa sih...??" tanya Julian sembari melihat bola mata mamanya.


Wanita itu terkekeh menangapi ucapan anaknya sembari mengelengkan kepala


.....


Saat ini wanita bernama Amelia itu sedang menunggu Butiknya sembari membaca refrensi dari beberapa buku majalah desainer ternama.


Walau hatinya sedang tak baik bamun Dia tetap profesional menjalakan pekerjaanya.


"Maaf buk kemarin ada yang mau bertemu sama ibuk..." ucap Andin kepada Amelia.


"Siapa Ndin...?" tanya Amelia sembari melipat halaman majalan itu dan menaruhnya kembali di atas meja.


"Ini buk mungkin aja ibu bisa hubungi nomer ini soalnya kemarin mau pesen baju buat acara pernikahan...." jekas Andin seraya menyerahkan kartu nama itu.


"Oh iya baik saya simapn ya..." jawab Amelia sembari menerima kartu nama itu dari Andin.


Disaat Amelia dan pegawaiya itu berbincang-bincang datang lelaki yang datang seperti orang asing membuka pintu dengan kasar.


"Permisi..." ucap lelaki yang memakai kaca mata hitam itu.


"Iya" Amelia menoleh mendapati mantan suaminya yang datang seperti orang asing, perlahan rasa sakit didadanya itu seperti bangkit kembali dan air mata itu serasa sudah berkumpul dan siap jatuh Dia hanya melamun begitupun lelaki itu nenatap wanita yang pernah menemaninya dari nol hingga sesukses sekarang itu dengan tatapan angkuh.

__ADS_1


"Maaf buk saya permisi...." ucap Andin berjalan ke arah gudang untuk mengambil beberapa baju yang sudah siap di pasarkan.


"Oh iya Ndin..." ucap Amelia terlihat kehabisan kata-kata.


Amelia tak sudi menatap lelaki itu Ia buang pandangan matanya ke arah layar ponselnya berusaha memasukan nomer pelanganya yang terdapat di selembar kartu nama itu.


Merasa tak di sambut baik lelaki itu berjalan mendekati Amelia


"Ada apa...?" tanya Amelia merasa risih dengan lelaki yang dulu sangat Ia cintai.


"Bisai minta waktunya sebentra kita makan di luar..." ucap lelaki itu yang duduk di kursi pelangan itu tanpa di suruh Amelia.


"Maaf kerjaanku banyak...." ucap Amelia yang sok sibuk dengan layar ponselnya.


"Oh sesombong itu kamu sekarang...." lealaki itu merasa tak di hargai ucapnya menjadikan Dia naik darah.


Amelia menghela nafas dengan kasar mendengar ucapan mantan suaminya itu yang terasa seperti pisau tajam yang kini terasa sedang membuat sayatan.


''Maaf mas aku gak bisa kalau ada perlu bicara disini saja selagi aku masih ada waktu" jelas Amelia berusaha tak memperpanjang percakapan ini.


"Oh iya saya minta kamu jangan ikut campur sama urusan aku dengan Ayunda..." ucap lelaki utu dengan menatap tajam ke arah Amelia dan berusaha mengerakan tangan kananya yang terlihat ingin menampar Amelia namun berhasih Dia tahan.


Amelia tersenyum pilu betapa teganya mulut lelaki di depanya itu yang terdengar sedang memcermahi harga dirinya.


"Nih ada uang aku mohon tutup mulut kamu jangan sampai sebar status Ayunda hapus nomer serta aplikasi kamu sama Dia....!!!'' ucap lelaki itu dengan ketus sembari menyerahakan uang puluhan juta di hadapan Amelia dengan kasar.


Amelia tak menjawab Dia hanya terdiam sembari menahan rasa sakit hatinya yang seperti tertusuk ribuan jarum.


''Andin..." ucap Amelia dengan suara serak dadanya seketika sakit mendengar ucapan manan suaminya yang tak pernah mengangap dirinya juga manusia.


"Tolong ya tunggu di sini sebentar saya mau kebelakang dulu..." ucap Amelia berusaha menyembunyikan air mata itu dari lelaki itu dan Andin.


Wanita itu tak kuasa menahan air matanya Dia menangis terisak di balik toilet kecil itu.


Sedang lalaki itu masih tetap menungu Amelia di depan kursi pelangan itu.


Setelah selesai membasuh wajahnya dengan air mengalir Amelia segera berjalan kembali ke luar dan mendapati mantan suaminya masih duduk ditempat yang sama.


"Maaf setidaknya aku masih punya akhlak yan bagus mas di banding uang yang kamu berikan ini, memang uangku tak ada apa-apanya di banding uang ini tapi aku cukup..." jelas Amelia berusaha terlihat tegar di hadapan mantan suaminya wakau hatinya sangat rapuh.


"Ambil aja aku tau kamu butuh biaya buat sekolah Reva.." ucap lelaki itu dengan nada meremehkan Amelia.


Amelia begitu tak kuat menahan emosinya apalagi menyertakan nama anaknya di permasalah yang menjijikan ini hingga membuat Dia membuang semua uang itu didepan wajah lealaki itu dengan kasar.


"Ambil mas ambil uang ini aku gak butuh ambil semua yang kamu mau aku sudah gak butuh apapun dari kamu soal Reva aku masih punya keringat setidak nya itu mampu membuat Dia hidup...." ucap Amelia dengan nafas tersengal-sengal hatinya begitu sakit hingga membuat air matanya mengalir dengan sendirinya.


"Pergi dari sini....!!" ucap Amelia lagi dengan keras sembari berusaha mengusap air matanya karena Dia tak ingin terlihat lemah di depan lelaki bajingan itu , walau disaat sendiri Dia selalu meneteskan air mata muaranya.


Andin merasa ketakutan melihat pertikaian yang terjadi hari itu. Dia berusaha berjalan ke afah rak yang berisi  sepatu wanita itu.


Merasa tak ada harganya lelaki itu pergi tanpa mengucap sepatah kata pun di depan Amelia.


Amelia tertunduk lesu di kursi itu sembari mengatur detak jantungnya agar kembali seperti semula di saat lelaki itu belum muncul.

__ADS_1


"Ndin..." ucap Amelia pada pegawainya.


"Iya buk..." jawab Andin seraya berjalan menuju Amelia.


"tolong jangan bilang ke siapa-siapa ya tentang kejadian hari ini..." ucap Amelia terlihat sedang mengusap air matanya


"Oh baik buk.." jawab Andin dengan menundukkan kepala.


"Tolong uang itu kamu kumpulin dan di taruh di amplop coklat itu nanti tolong kasih ke anak saya..." ucap Amelia kepada Andin


"Iya buk" jawab Andin seraya melakukan perintah Amelia.


Tak berapa lama Julian datang membawakan makan siang untuk wanita itu.


"Ma ada apa sih kok keliahat habis nangis..." ucap Julian yang datang dari arah pintu seraya menghampiri mamanya yang terlihat sedang bersedih itu.


"Gak papa sayang biasa ada pembeli susah banget permintaanya jadi mama sedikit panik tadi..." jawab Amelia dengan senyum sedikit dipaksakan


"Mama mau kebelakang dulu kamu jaga sebentar ya..." ucap Amelia berusaha menyembunyikan air matanya dan berjalan menuju gudang tempat penyimpanan barang itu.


"Maaf mbak tadi ada apa Ya...?" tanya Julian sedikit berbisik ke arah wanita berpakaian rapi itu.


Andin tak menceritakan apapun kepada Julian


"Maaf mas sama ibuk hanya di suruh ngasih uang ini kepada mas..." ucap Andin seraya mengulurkan uang di dalam amplop coklat itu kepada Julian.


"Ma mama kenapa sih ..?" Julian berusaha mendekati mamanya saat sedang berada di gudang itu.


"Gak papa tadi di masakin apa mama sama oma...?" jawab Amekia berusaha terlihat baik-baik saja sembari berjalan keluar dari gudang itu dan menuju ruangang kosong tempat istirahat dan sembahyang.


''Ma jawab aku ini uang dari siapa...?" tanya Julian kepada wanita yang sedang membuka kotak makan itu.


"Sayang itu uang papa kamu katanya buat kamu di titipin ke mama..." jawab Amelia berusaha berbohong.


"Gak mungkin ma...?" ucap Julian yang tak percaya dengan ucapan mamanya.


"Jul udah deh kamu belum makan siang kan lebih baik kita makan dulu enak lo ini bukanya tahu bacem kesukaan kamu kan sama risol ayo kita makan...?" Amelia berusaha mengalihkan pembicaraan lain dan berusaha menawari makanan yang berada di kotak makan yang di bawa Julian tadi.


Julian hanya diam Dia tau ada banyak hal yang di sembunyikan mamnya dari dirinya merasa tak ingin menanyakan hal lain.


"O iya gadis yang kemarin itu namnya Eliza ya...?" tanya Amelia kepada Julian dengan tersenyum sembari menyedok nasi yang di taruhnya di atas piring melamin itu.


"Iya ma wanita yang pernah aku ceritain ke mama waktu itu" jawab Julian berusaha menangapi ucapan mamanya walau membahasa nama itu membuatnya sedikit sedih.


"Ya pasti Dia anak orang kaya ya.." tanya Amelia dengan menatap arah lain dengan tatapan kosong.


"Biasa aja kaya kita kok ma " jawab Julian dengan senyum tipis.


"Jul... Jul kelihatan dari pakaian yang Dia kenakan itu nunjukin Dia dari keluarga berkelas atas." ucap Amelia seperti sedang merendah.


"Kalau sekedar pacaran gak papa asal kamu harus jaga kehormatanya ya" lanjut Amelia lagi sembari meneguk air mineral di dalam kemasan botol itu.


"Iya ma pesan itu selalu aku ingat kok ma" jawab Julian dengan ucapan berusaha menenangkan mamanya.

__ADS_1


"Maksih ya Jul kamu tumbuh jadi anak yan baik" ucap Amelia sembari mengelus punggung Julian dengan lembut.


"Iya ma" jawab Julian dengan tersenyum.


__ADS_2