
Aku sedang duduk di kursi tunggu rumah sakit mataku masih sembam aku terus memandang sekelilingku dengan tatapan kosong.
Aku begitu tak menyangka sesayang itu kak Rehan dengan aku hingga dia berani taruhan nyawa demi aku.
"Udah kamu tenangin diri kamu sayang..." ucap Julian sembari merangkul tubuhku aku sedang bersandar di bahunya.
Aku hanya Diam aku tak bisa menjawab ucapanya.
Julian terus mengelus-elus rambutku dengan lembut.
Bibirku belum kuat untuk menceritakan semua ini kepada Julian.
"Mohon maaf ini siapa yang bertangung jawab sama pasien ini soalnya ada berkas yang harus di tanda tangani mengingat kondisi pasien cukup parah karena luka tusuksn.." ucap salah satu perawat berkacamata itu dengan tangan membawa sejumplah berkas yang ada di tanganya.
"Saya Dok" ucap Julian sembari beranjak berdiri serta melepaskan pelukan ini.
"Baik jadi mas ini harus bertangung jawab silahkan masuk dan urus adminitrasinya juga...." lanjutnya lagi sembari memperlihatkan beberapa lembar berkas dan seraya mempersilahkan Julian masuk
"Baik Sus, kamu tunggu disini aja ya" ucap Julian ke arahku dengan tatapan teduh itu.
Aku hanya diam dan mengangukan kepala.
Kurang lebih dua puluh menit Julian keluar dengan membawa kantong plastik transparan berisi barang Rehan aku tak kuasa melihatnya, entah kenapa hati ini semakin tersayat rasanya begitu menyakitkan untuk aku.
"Jul jauhin dari aku, aku takut..." ucapku dengan rasa trauma yang masih menyelimuti pikiranku.
Melihat rasa traumaku Julian segera menjauhkan barang itu ke kolong kursi yang kita duduki.
"Ini ada ponselnya lebih baik kita hubungi keluarganya..." Julian memperlihatkan telepon gegam milik kak Rehan kearahku.
"Biar aku aja Jul..." ucapku dengan bibir bergetar dan tanganku betusaha meraih ponsel itu.
Aku mulai membuka layar ponsel itu dan mencari aplikasi watsaap miliknya segera aku ketuk dan muncul beberapa nama kontak yang tertera di layar itu segera aku ketuk icon berbentuk pangilan dan mencoba menelpon nomer yang bertuliskan nama 'mama' itu.
Tak berapa lama mam yang aku tuju mengangkat pangilanku.
"Hallo Han ada apa...??" tanyanya dari seberang telepon dengan nada halus.
"Ini aku temenya tan" jawabku berusaha menguatkan tibuh ini untuk bersuara walau terasa berat.
"Iya ada apa ya..??" suaranya berubah menjadi datar.
"Rehan ada di rumah sakit Wijaya kusuma Tan.." ucapku berusaha menjawab dengan semaksimal mungkin.
__ADS_1
"Apa kenapa...??" tanyanya lagi terdengar sangat panik.
Aku semakin tak kuasa menahan rasa sedihku aku tak mampu menjawab pertanyaan dari wanita di seberang telepon ini aku tak tega mengatakan sebenarnya.
"Udah matiin aja..." perintah Julian sembari mengangguk.
Aku tak peduli segera aku akhiri pangilan ini walau aku terkesan kurang sopan.
Julian begitu perhatian denganku, sekarang dia begitu mengerti dengan keadaan aku saat ini, dia selalu ada disampingku ketika aku sedang butuh sandaran.
"Ini yang ngelakuin kamu...??" ucapnya dengan hati-hati mungkin Dia tau hatiku tak sekuat biasanya.
Aku mengelengkan kepala karena bukan aku yang menusuk kak Rehan tapi aku penyebabnya.
"Dea...??" ucap Julian dengan suara pelan.
Aku menganguk,
"Udah kamu jangan sedih terus ini kan bukan salah kamu..." ucapnya berusaha menyemangatiku kembali.
"Tapi Jul ini semua gara-gara aku" ucapku menatap matanya demgan tatapan mendalam.
Dan terdengar dari sebelah kamar rawat itu terdengar Dea sedang berteriak sekencang kencangnya hingga aku mendengarnya begitu miris, aku jelas tau Dea tak sengaja melakukan itu tapi apalah daya kejadian itu begitu cepat.
"Jul aku pusing aku gak kuat lihat semua ini" ucapku sedikit berteriak frustasi.
"Aku takut Jul hal buruk akan terjadi aku gak bisa terima itu Jul" ucapku dengan berurai air mata lagi.
"Sutth kamu jangan ngelanatur kita doain Rehan gak papa jangan mikir yang aneh- aneh" ucap Julian berusaha membuang pikiran negatifku.
"Tapi Dea...?" ketakutanku mulai muncul aku takut Dea menuduhku balik.
"Udah sementara ini kita rahasiain kejadian ini biar sekolah tau kabar ini dengan sendiri..." Julian mengusap air mataku perlahan.
Tak berapa lama datang wanita yang masih berseragam kerja dengan rapi itu berjalan dengan tergopoh-gopoh menuju ruang UGD raut wajahnya sangat gelisah memikirkan anak satu satunya sedamg tak berdaya di rumah sakit.
"Rehan mana Rehan...??" tanya wanita yang kutahu mama kak Rehan itu dengan panik yang berjalan ke arah aku dan Julian yang sedang menunggu kehadiranya.
"Bagaimana kondisinya...??" ucap mama kak Rehan ke arah kita.
Aku hanya diam aku gak mau berucap sepatah katapun.
"Masih di dalam Tan" jawab Julian dengan suara pelan
__ADS_1
"Dia kenapa sampai di bawa kerumah sakit..??" tanyanya lagi dengan raut wajah gelisah.
Mendengar ucapan mama kak Rehan bibirku tak sangup rasanya untuk menjawab lagi dan lagi aku hanya diam.
"Dia ada luka tusukan tante yang sabar ya" hibur Julian dengn ucapan yang sopan dan lembut tanpa Julian tau wanita yang sedang dia hibur ada selingkuhan papanya.
Wanita itu terus menangis bibirnya serasa kaku Dia tak kuasa menahan kesedihannya terasa yang terjadi saat ini hanyalah mimpi.
Julian merasa iba dengan nalurinya dia memeluk wanita itu.
"Ibu yang sabar ya..." ucapnya dengan memeluk wanita itu Dia tersentuh, Dia seperti merasakan kesedihan mamanya waktu itu.
Walaupun Julian tak menyangkal Rehan adalah musuh bebuyutanya tapi ketika soal wanita Julian tak berdaya.
"Jelasin ke tante bagaiman kronologinya" ucapnya dengan tatapan mata kosong.
"Maaf tan temen saya ini sedang syok dia gak bisa ceritain dengan jelas kronoligonya tapi saya bisa jamin bukan Dia pelakunya..." ucap Julian berusaha melindungi aku tentunya.
Julian menyerahkan berkas yang di bawa itu serta baju milik kak Rehan yang berlumur darah di dalam kantong plastik transparan itu.
Wanita itu justru tak sadarkan diri tubuhnya lunglai dan ambruk ke bawah ketika melihat barang milik anaknya karena tadi pagi anaknya masih sehat tak seperti sekarang.
"Tan tante..." ucap kita bersamaan.
"Kamu ambil minyak kayu putih El di dalam tas aku yang depan" ucap Julian menyuruhku mengambil minyak itu sedang Julian berusaha membangunkan mamanya kak Rehan.
"Iya Jul"
Aku berusaha mendekatkan sebotol minyak kayu putih itu dekat hidung waniat itu, agar bisa menghirup baunya.
Tak berapa lama wanita akhirnya sadar dan membuka mata.
"Tante udah gak papa..?" tanya kita berdua sembari membantu berdiri lagi dan mendudukan di kursi.
"Gak maksih ya udah bantuin Rehan sampai sini...." ucapnya dengan lesu namun wajahnya terlihat pucat.
"Iya sama-sama tante" jawab Julian Dia jadi merasa tak tega meningalkan wanita itu.
Namun satu sisi Julian merasa kasihan denganku karena kondisiku saat ini kurang baik.
"Ini udah hampir sore kita berdua mau ijin pulang tan..." ucap Julian pada akhirnya mungkin Dia tau jika aku terus disini semakin memperburuk pikiranku.
"Iya maksih banyak ya...." ucapnya dengan lesu dan tatapan sendu.
__ADS_1
"Maaf ya Tan" ucap Julian merasa kasihan dengan wanita itu.
"Gak papa"