Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 46 : Bangkit


__ADS_3

Hampir beberapa hari aku lebih sering di rumah tanpa alasan yang Jelas.


Mukin aku yang terlalu bodoh menangisi orang yang mukin sudah tak peduli lagi dengan aku menanyai kabarku pun tidak apa ini yang dinamakan pengemis cinta..?.


"Ini terakir kali aku menangis karena Julian untuk esok harus aku lupakan dia" umpatku dalam hati sembari menyeka air mata ini dengan kasar.


Saat meihat ponsel rasanya hanya membuka luka di hati


Dia tak pernah menghubungiku sama sekali semua perkataan dia hanyalah sampah semata.


Dan berita yang beredar dari grub sekolah kalau dia sudah jadian sama Putri


Seperti sebuah tombak yang sedang meluncur ke ulu hatiku


Sakit, perih, mengobrak-abrik semua luka di hatiku tapi aku harus lebih kuat sebab hidup harus terus berjalan.


Segera aku tutup kotak musik yang sedari tadi menghiburku dengan alunan melodi yang merdu serta miniatur cantik yang sedari tadi menari diatas kotak.


Segera aku rebahkan tububuhku ke kasur dan segera menutup mata dan merasakan hempasan kehidupan malam yang sunyi sesunyi hati aku saat ini.


Kring... Kring


"Eliza sekolah gak sayang...??" ucap mama aku dari luar kamar berusaha membangunkanku.


"Iya ma aku udah bangun kok..." jawabku dengan mata yang belum semuanya terbuka.


Segera aku mandi dan melakukan rutinitas pagi hariku.


Aku awali pagi ini dengan semangat dan aku buang semua kesedihanku yang hampir seminggu penuh aku dirumah mengurung diri


Aku mencoba tersenyum dan aku harus merubah pola pikirku untuk menjadi lebih baik.


"Ma pa Eliza berangkat ya..?" ucapku pamit ke mama yang sedang duduk di teras sama ayah.


"Iya sayang hati-hati ya.." jawab mama sembari memberikan senyum.


"Iya ma" jawabku sambil mencium mama


Dan aku segera melajukan motorku menuju Sekolah.


Sekitar lima belas menit aku sampai di sekolah


Segera aku berjalan ke kelas dan menghiraukan semua yang membuatku tak niat sama sekali untuk melangkah ke sekolah ini.


"Eh lo use...!!" tiba-tiba ada Dea yang langsung menghadang jalanku.


Aku berusaha tak cari masalah lagi segera aku mencari jalan lain.


"Jangan ganggu dia Dea kalau lo gak mau berurusan sama gue...!!" ucap Aftur yang tiba-tiba datang disampingku.


"Oh ternyata ada pehlawan baru ya buat Eliza pantes lo sama dia sama...!!" ucap Dea terdengar meledek.


"Udah El mending ke kelas aja...!!" perintah Aftur ke aku


"Iya maksih ya Tur.." jawabku sambil mengeriytakan dahi ke arah Dea pertanda sekarang aku berani.


"Apapun yang terjadi dengan aku nanti harus aku persiapkan mental yang kuat aku bukanlah Eliza dulu lagi..." dehamku dalam hati dan aku berlalu pergi dan Aftur masih di sampingku meninggalkan Dea dengan kebodohanya.


"Aku duluan ya El..." ucap Aftur ketika hampir sampai di kelasnya.


"Iya Tur..'' jawabku sambil melambaikan tangan.


Sampai dikelas aku langsung menghampiri Vey dan Rena yang sedang sibuk membaca buku.


''Hay ...." ucapku menyapa mereka.


''Akhirnya kamu masuk El....'' teriak Vey kegirangan sambil memeluk tubuh aku.

__ADS_1


"Udah sembuh kan...??" sekarang Vey yang menanyai keadaanku


"Udah lah" jawabku sambil duduk di sebelah Vey.


"Lo baca apa Vey ..??" tanyaku penasaran


"Ini lagi hafalin rumus El.."


"O iya aku ngumpulin tugas di meja guru dulu ya..." ucapku yang baru teringat akan tugas rumah.


"Mau kita temenin gak...??" ucap Rena menawariku untuk mengantar.


"Gak usah" jawabku sambil beranjak dari kursi dan berjalan keluar kelas.


Segera aku berjalan menaiki tangga dan menuju ruang guru yang tepatnya berada dia atas.


Oh shittt...


Ada Julian yang sedang mengobrol dengan Putri


Aku senyum tipis dan aku lewati dia dengan beban berat di hatiku namun aku haruslah kuat.


Aku mencoba selangkah demi langkah melaju


Dia tidak melihat ku..??


Menyapaku pun tidak...??


"Eliza ...."


Aku berpura-pura tak nendengar teriakan dari Putri


"Eliza tunggu..." teriaknya lagi yang membuatku menoleh


"Apa.. ???" jawabku datar


"Gak papa" jawabku dengan nada berat.


Segera aku berlalu pergi meninggalkan mereka.


"Eliza..." sekarang Julian yang bergantian meneriaki aku aku tak menghiraukan dan segera menuju atas.


Sakit sangat sakit tapi aku haruslah kuat ini semua yang terbaik buat aku kedepan.


Lebih baik semua terbuka sekarang daripada aku tersakiti untuk yang kedua kalinya dan ini semua menyadarkanku tentang arti cinta sesunguhnya.


Segera aku masuk ke kantor guru dan meletakan semua tugas yang aku kerjakan di rumah.


Mataku terasa ada yang menganjal berat dan dada ku serasa terdesak batu


Air mataku hampir jatuh segera kau melihat atas dan berusaha menjaga agar tidak turun.


"Oke aku berhasil..." umpatku dalam hati


Buliran bening ini tak jadi menetes segera aku ke menuruni tangga dan berlalu ke kelas.


Kadang terbesit pikiran dihatiku apakah aku harus pindah sekolah, namun dengan itu aku tak bisa melihat wajah Julian, itu yang menjadi alasanku bertahan disini demi lelaki yang aku cintai.


Walaupun hatiku sebenarnya sudah tak mampu melangkah serta beban yang aku pendam yang sudah semakin berat.


"Apa yang sedari tadi aku pikirkan.!!!" aku buyarkan semua lamunanku dan segera berjalan menuju kelas.


***


"Oke... lo udah sebar kan kalau berita Julian sudah Jadian sama Putri dan lo udah foto mereka saat berdua kan..??" tanyaku ke Fitri dan Devi dengan tatapan tak bersahabat.


"Oke tenang Dea semua berjalan mulus sesuai rencana" jawabnya yang membuatku seperti memdapatkan sebuah harta karun.

__ADS_1


"Eh...lo Dea sampai kapan lo jadiin aku budak lo dan bersandiwara seolah.. !!" tiba-tiba datang Putri yang entah dari mana dia datang aku berusaha memyetop ucapanya.


"Diem mulut lo kalau Eliza sampai keluar dari sekolah ini selesai semua tugas lo !!" jawabku dengan angkuh dan nada yang aku buat seperti memainkan permainan.


"Apa lo bilang gue gak sudi ya jadi


babu lo...!!" jawabnya yang membuatku tertawa mengelitik.


"Oke akan gue sebar..!!" ucapku ke dia dengan nada mengancam.


"Sebar apa...??" tanyanya yang sok penasaran.


"Akan gue sebar saat lo berduan sama Julian di perpus ke Eliza...!!" jawabku sambil mendekatkan mata ku ke wajahnya.


"Lo licik ya De..!!" ucapnya sambil menatap tajam ke arah mataku tanda tak suka.


"Siapa suruh lo lawan putri di sekolah ini...!!" jawabku dengan angkuh.


"Oke inget ya lo harus terus mau jadi babu gue...!!" ucap ku ke Putri sambil


Menoyor kepalanya dengan jari.


"Sialan lo dea" jawabnya yang sedikit kalah telak dari aku.


"Hhhh... pinter lo Dea" ucap Fitri menanggapi tingkah lakuku ke Putri.


"Iyalah biar dia tau rasa berani lawan gue" jawabku sambil berlalu ke kelas.


***


Sial aku benar-benar terjebak dalam permainan Dea.


Eliza...


Maafkan aku ini semua salahku


Sampai kapan aku terus menyakiti hati dia.


Pandangan mataku teralihkan saat aku melihat Julian sedang berjalan dari bawah .


"Eh Jul aku boleh ngomong sebentar gak" teriakku sambil berusaha mengejar dia.


"Apa..?? Jawabnya dengan nada santai.


"Sebenernya status kamu sama Eliza apa..??" tanyaku tiba-tiba.


"Gak tau Put yang jelas kita lagi gak deket" jawabnya yang membuat otak ku ikut berdenyut.


"Lo kok jahat banget sih Jul kasian dia" ucapku berusaha menyadarkan dia dari ucapan konyolnya.


"Cukup Put aku masih terus mencari teka- teki semua ini" jawabnya sambil menghempaskan nafas kesal.


"Tapi dengan kita deket itu membuat Eliza sakit" ucapku dengan pelan dan nada yang mukin membuat dia sedikit paham.


"Hatiku serasa kosong kamu ataupun dia sama" jawabnya yang nasih abu-abu.


"Jadi aku mohon Jul kita.." ucapku namun dia memotong dengan jari yang ia tempelkan didekat bibirku.


"Suftt.. Kita temen deket doang Put lagian lo juga pacar nya Fahmi kan..??" jawabnya sembari duduk di dekat tangga.


"Iya aku tau jadi aku memutuskan untuk mundur dari pentas itu.." ucapku pasrah ke arahnya.


"Ya jangan dong ini demi sekolah..!!" jawabnya sambil berusaha menahan tanganku.


"Iya tapi aku wanita Jul aku tau apa yang dirasakan Eliza..." ucapku sambil membalikan wajah tanda hati aku sedang tak baik.


****

__ADS_1


Next


__ADS_2