Romantika Cinta Anak Muda

Romantika Cinta Anak Muda
Chapter 154


__ADS_3

Hampir satu minggu lebih Wijaya masih terus tinggal di aprtemen yang berada di dekat kantor perusahaanya, mengingat pekerjaannya kian hari kian bertambah banyak.


Tak terkeculi malam ini Dia baru pulang ke rumahnya sendiri yang jelas Dia baru tau Julian sudah beberapa hari meninggalkan rumah yang dibangunya susah payah ini bersama Amelia.


Wijaya tampaknya tak sadar Julian sudah pindah ke Bandung tanpa mendapat ijin dari Dia.


Menjadikan Dia pulang ke ruamh itu tampak seperti biasanya selalu berusaha membahagiakan hati Julian walau hanya mendapat penolakan semata.


Mobil berwarna hitam itu mulai menepi di depan pagar bercat hitam itu lelaki itu memang memilik sifat mandiri selalu membuka pagar itu dengan tanganya sendiri tak terkecuali nalam ini. Hidup memang terkadang tak harus bergantung dengan orang lain.


"Inah..." ucapnya ketika baru sampai di depan  rumah dan membuka pintu utama yang tampak tak terkunci itu dengan tangan membawa sebungkus ayam geprek untuk anaknya yang Dia beli dengan susah payah dengan mengantri beberapa pembeli itu.


"Iya pak..." jawab Inah yang terlihat belum tidur itu walau hari hampir tengah malam namun dengan setia wanita itu menungu majikanya Dia memang mencari nafkah dengan menjadi pelanyan bila dikata hina itu hanya untuk mulut-mulut orang yang kekurangan siksa.


"Udah makan Julian...?" tanya lelaki itu seperti biasa ketika sampai rumah selalu menanyakan keberadaan Julian terlebih dahulu ya memang Julian adalah anak yang sangat Dia nanti-nanti dulu bersama Amelia kelahirnya sungguh menjadi anugerah terbesar bagi Wijaya.


Inah hanya terdiam


"Julian udah makan..?" tenya Lelaki itu kedua kalianya dengan tangan menaruh tas kerjanya di meja sembari duduk di kursi tamu dan dengan segera gadis berpakaian sederhana itu membuatkan kopi untuk majikanya.


"Maaf pak mas Julian udah pulang ke Bandung hari minggu lalu..." jawab Inah dengan bibir gemetar Dia takut jawabanya akan membuat sakit hati tuanya karena gadis itu tau sesayang apa Wijaya terhadap Julian.


"Apaa kamu ngomong apa...,,??"tanya Wijaya dengan nada sangat terkejut belum tuntas Dia menyelesaiakan permasalahan dengan Ayunda kini terbebani satu hal lagi dengan kepergian anak lelakinya. Dia tampak tak menyangka dan mengusap wajah yang terlihat penuh akan keringat itu dengan kasar.


"Kamu kenapa gak bilang sama saya harusnya kamu bilang biar saya segera pulang..." ucap Wijaya dengan nada tinggi Dia begitu sangat kecewa dengan kepergian Julian.


"Maaf pa tapi saya takut pak soalnya saya takut bapak sedang sibuk saya tidak ingin menggangu bapak " jawab Inah dengan menundukan kepala baru pertama kali ini majikamya marah sampai sedemikian rupa kepadanya.


Wijaya tampak frustasi rasa lelahanya menjadi semakin lelah mendapati anak kesayanganya sudah pergi dari rumah ini basi sudah terlanjur menjadi bubur tampaknya ucapan Julian waktu itu tak main-main.


Dengan terburu-buru Wijaya kembali ke mobilnya dan akan pergi ke Bandng Dia ingin sekali bertemu Julian sesayamg apapun terhadap Ayunda Julianlah masih nomer satu, namun belum sempat Dia masuk panggilan dari sekertarisnya mengagalkan kembali langkah wijaya .

__ADS_1


Dan Dia kembali masuk membuka dan membanting pintu itu dengan keras seakan-akan tiada hal lain untuk meluapkan emosinya yang terlanjur membabi buta itu otaknya panas sepanas bara api dan pikiranya terasa kelu saat ini.


"Inah" ucapnya dengan nada keras dan lantang kemarahan dalam dirinya rupanya tak bisa dia tahan Inah yang mendengar teriakan tuanya segera datang menghampirinya takut untuk kedua kalinya mendapat benatakan seperti waktu tadi.


"Iya pak" jawab Inah dengan segera menghamoiri Wijaya yang tampak berdiri di dekat pintu itu.


"Siapkan air hangat buat saya mandi" ucap Wijaya dengan memelankan nada suaranya.


Wijaya tampak semakin kesal dengan klienya yang membatalkan kontrak kerja denganya karena Dia hampir satu minggu mati-matian merancang pengerjaan bisnis samapi akhirnya Dia di tinggal anak sendiri pergi, walau jumplahnya rugi tak seberapa namun tampkanya membuat Wijaya kesal akibatnya Dia melupakan tangung jawabnya mengurusi Julian belum lagi saat ini Ayunda sedang banyak permintaan mengingat Dia sedang hamil muda bisa dibilang kepalanya saat ini rasanya hampir pecah tak seperti biasa ketika masih bersama Amelia ketika Dia sedang sibuk dan kembali pulang selalu dengan bahagia anak istri berkumpul dan membut lelahnya menjadi tak berasa namun berbeda sekarang rumah ini tampak kosong bagai bangunan tak berpenghuni.


Dia kembali duduk di kursi itu meminum kopi yang tampaknya mulai dingin itu Dia meneguk satu teguk dan berusaha memejamkan matanya hingga satu kalimat itu berhasil membuatnya terbangun.


"Maaf pak airnya sidah siap" ucap Inah dengan sopan walau Dia tak bersekolah hingga SMP tampaknya pendidikan moralnya lebih baik.


Wijaya segera membuka matanya perlahan dan beranjak dari tempat Dia duduk sekarang


"Oh iya terimakasih kamu boleh istirahat sekarang..." ucap Wijaya dengan halus dan setelahnya Inah berjalan kembali ke kamarnya.


Tak berlama-lama Dia segera berjalan menuju kamar mandi dan melakukan rutinitas mandi pada umumnya.


Setelah selesai mandi dan berpakaIan baju tidur Dia segera berjalan ke kamar Julian ya keringatanya saat ini yang mati-matian Ia lakukan untuk Julian tampaknya hanya sia-sia belaka.


Hatinya bergetar hebat perasaannya begitu menyiksa saat di tinggal anak lelakinya pergi tanpa Dia tau Dia duduk di sofa berwarna putih kelabu itu yang biasa di temapti duduk Julian saat sedang bersantai, kamar ini seakan-akan mengingatknya pada kenangan lampau waktu Julian memilih kamar ini dan dengan bujuk rayu karena kamar yang memiliki balkon sendri dan bisa memandang perumahan di kotanya dengan jelas. Ya itu hanya sebagian robekan kecil kenangan yang terlukis begitu indah dan sekarang tamoak rusak.


Dia mulai mendekati almari milik Julian dan membukanya satu persatu tampak semua baju sudah dia bawa semua dan tak tersisa satu pun. Lemari itu tampak kosong mengambarkan keseriusan akan ucapan Julian waktu itu pergi tanpa mengabarinya adalah bukan omong kosong semata.


Dia baru terasa rupanya Dia sendiri yang merusak rumah tangganya dengan Amelia hancurnya sebuah keluarga adalah dari dirinya dan Dia sadar Dialah sendiri yang menyebakan semua masalah ini semakin menjadi runyam.


Ibarat nahkoda Dia sedang terjung bebas kearah lautan dan tak menau penumpangnya terombang-ambing seprti apa.


Dia berjalan kembali ke kamarnya dan setidaknya masih banyak waktu untuk menemui Julian di Bandung.

__ADS_1


Sedang kehidupan Julian saat ini di Bandung tampaknya terasa pahit sewaktu ketika Dia merasakan tinggal bukan di runah sendiri itu tampaknya berat terbukti ucapan iparnya beberapa waktu lalu membuatnya semakin yakin kehadiranya kurang disuaki oleh iparnya walu Dia tau ini rumah omanya namun perasaan tak enak itu tampakya kini sedang di rasakanya dan menghantui di dalam pikiranya.


Dia kembali menghitung uang yang berada di dompet berwarna coklat itu yang biasanya selalu penuh dengan lembaran uang seratus ribuan kini hanya tinggal lima ratus ribu dan itu untuk besok bertemu Eliza rasanya tak cukup. Dia sebenarnya punya tabungan sisaan pemberian papanya satu bulan lalu yang dia gunakan untuk keperluan sekolah dan dengan sangat hati-hati Dia tau posisi mamanya bukan seprti dulu hidup dengan mendapat uang dari papanya yang kini Dia mencari nafkah sendiri.


Amelia tampak tak tau anaknya sedang menyimpan masalah ini sendiri Julian jelas tak punya nyali memceritakan apapun hal jika itu berhubungam dengan rumah ini.


"Jul kok masih ngurusi jualan aja sih udah istirahat ini uang buat kamu besok ke Jakarta buat nemuin pacar kamu sekalian salam dari mama" ucap Amelia dengan lembut sembari duduk di sebelah Julian yang sedang mengurusi onlineshop milik mamanya. Amelia begitu bangga dengan Julian hatinya begitu peka terhadap keadaanya saat ini. .Julian rasanya engan menerima uang itu karena sedikit baginya belum tentu banyak buat mamanya.


"Ma aku ada kok uang mending mama simpen buat belanja aja" ucap Julian menolak dengan halus. Walau tanpa Julian sadari hati mamanya jeals sakit ketika anaknya menolak pemberian darinya.


"Udah gak papa ini jatah buat kamu terima nak walau tak seberapa" ucap Amelia dengan tatapan sendu baginya bisa membahagiakan anak adalah mimpinya saat ini.


Julian merasa miris dengan meneriama uang pemberian mamanya yang berjumaplah satu juta itu Dia tak menyakal mamanya susah payah mencari uang dan Dia hanya bisa menikmatinya tanpa tau rasanya sebab Dia belum tau rasanay mencari serupiah bagaimana.


"Yaudah cepet tidur ya nak biar besok bisa ke jakarta pagi-pagi" ucap Amelia denahn lembut semabri mencium kening Julian begitu bahagianya hati wanita itu sekarang bisa bertemu anak lelakinya setiap saat.


Ketika Amelia berjalan keluar Julian segera menyimpan uang itu baik-baik untuk Dia tabung memang uang itu jika yang orang melihat dari atas tampak kurang namun jika orang yang melihat ke bawah banyak orang kesusahan mencari uang dengan nominal sebanyak itu.


Dia menutup labtop bermerk asus itu  kembali.


Malam tampaknya semkin larut dan besok adalah hari minggu Dia jelas ingin menepati janjinya dengan Eliza untuk menemuinya di Jakarta.


Ketika memandang bulan Dia teriangat wajah mamanya yang tampak bisa berdiri sendiri walau  saat kegelapan menyapa.


Dia memang sedang kesusahan uang mamun untuk kembali ke rumah penuh siksa itu tampaknya tidaklah mungkin karena sama halnya menjatuhkan diri ke lubang kesengsaraan yang sama.


Lagi-lagi Dia kembali memekirikan mamanya saat Dia melihat dompet itu kembali, yang memberikam uang walau Dia tau uang satu juta itu adalah uang simpananya untuk Ia tabung namun karena Julian bercerita ingin ke Jakarta menjadikan Amelia memberikan uang itu untuk anaknya. Ya memag kasih ibu sepanjang masa


Baru mencoba menutup kedua bola matanya ponselnya terus berdering dan terpaksa membuatmya terbangun kembali


Dia mendapati panggilan dari papanya yang membuatnya menonaktifkan ponselnya Dia menaruh kembali di atas meja dan melanjutkan kembali tidurnya.

__ADS_1


Semoga di malam-malam yang panjang tidurnya terasa lebih membahagiakan di banding kehidupan nyatanya.


__ADS_2