
Satu minggu berlalu kini Ayunda sedang bertemu dengan Wijaya di sebuah pusat perbelanjaan.
Ayunda melambaikan tangan ke arah Wijaya yang baru datang dan terlihat berjalan tergopoh-gopoh dan menghampirinya.
"Hay" ucap Ayunda dengan tersenyum manis.
Wijaya hanya menanggapi dengan senyuman sembari duduk berhadapan dengan Ayunda.
"Oke mau pesen apa...?" ucap Wijaya langsung kepada Ayunda seperti biasa pekerjaanya yang terlalu sibuk hingga membuatnya lupa waktu..
"Gak usah mas aku cuma mau ketemu Amelia aja.." jawab Ayunda yang membuat Wijaya terkejut karena seperti nermimpi di siang bolong.
"Apa kamu bilang apa aku gak salah sengar...?" ucap Wijaya memastikan kemauan Ayunda yang terbilang Aneh itu.
"Iya mas aku pengen ketemu Amelia mantan istri kamu kayaknya aku lagi ngidam deh..." lanjut Ayunda lagi dengan tersenyum menampajan gigi putihnya bagai biji mentimun.
"Sayang plis minta yang lain jangan minta yang bahaya dong kamu ini ngacau deh..." ucap Wijaya terlihat keheranan dengan permintaan kekasihnya itu yang tampak tak biasa.
"Gak mas aku maunya ketemu Amelia titik....." jelas Ayunda lagi memasang wajah di tekukmya bagai pakaian kusut.
Wijaya hanya mengelengkan kepala tanda Dia tak habis pikir dengan kemauaan Ayunda yang kian hari kian membuatnya pusing saja.
"Sayang sebentar lagi kita akan nikah kamu gak boleh kecapeaan dong kasian anak kita kamu harus istirahat yang cukup..." ucao Wijaya terlihat sedang menasehati Ayunda agar bisa memilirkan perihal yang di lakukan baik atau buruk bagi janinnya.
"Mas apa susuahnya sih kita ke Bandung aku cuma pengen ketemu Amelia itu doang gak lebih...." jelas Ayunda lagi dengan nada jemgkelnya karema merasa hanya meminta satu hal namun nampaknya Wijaya terlihat kesulitan mewujudkan.
"Gak sayang kalau mau beli peralatan bayi sekarang ayo tapi kalau ke Bandung aku gak ijinin...." jelas Wijaya dengan ketus ya tampakanya kali ini Dia harus tegas ke Ayunda.
"Oke aku akan kesana sendiri...." ucap Ayunda yang justru membuat Wijaya ingin menepuk jidatnya sendiri.
"Ayunda plis mintalah yang wajahr jagan bahayain bayi kita oke..." jelas Wijay lagi yang tengah kehabisan kata-kata untuk memasehati Ayunda.
"Aku akan pergi sendiri mas..." ucap Ayunda justru berdiri dan beranjak dari kursi itu meninggalkan Wijaya.
Ya kali ini Wijaya harus menuruti kemuan Ayunda yang tampak aneh itu.
Ketika menyebut kota Bandung hatinya teringat kembali akan Julian dan mungkin kini saatnya Dia harus menemui anak lelakinya.
Sedang Julian saat ini sedang menunggu angkutan umum itu untuk mengantarkanya pulang kenapa Dia tak memakai motor tampaknya Dia lebih berhemat walau hanya selisih lima ribu rupiah tampaknya lembaran uang bergambar imam bonjol itu lebih berartti sekarang sekeras apapun batu rupanya lebih keras kerja manusia.
Hidupnya di Bandung berubah total tak seperti di Jakarta yang dulu bergemerlap harta dan kesenangan kini semenjak perpindahanya ke kota kembang ini rupanya membuat dirinya lebih belajar apa arti hidup.
Angkutan berwarna biru itu mulai menepi dan Julian segera melangkahkan kakinya masuk dan seperti biasa banyak penumpang saat jam pulang sekolah seperti ini, tak hayal jarak dari rumah ke Sekolah hanya berjarak dua kilo meter menajadikan Dia lebih memilih menaiki angkot yang sudah biasa baginya.
Udara panas dan bau solar memang tampaknya menjadi bau khas dari angkutan ini walau begitu ketika terbiasa semua tak jadi masalah.
Dia duduk di belakang sopir dan tanpa sisengaja Dia menginjak sepatu seorang wanita yang terlihat satu sesekolah denganya.
"Maaf ya.." ucap Julian kepada gadis berjilbab rapi itu yang terlihat begitu sholeha.
"Oh iya gak papa lagian gak sengaja" jawab gadis itu dengan tersenyum manis Wanita itu terbilang menjaga pandangan mata dari Julian terbukti Dia mulai berpindah tempat ke arah samping kanan menempati spot tempat duduk kosong yang bersebelahan dengan wanita.
Julian kini tampaknya sadar bahwa seharusnya lelaki dan perempuan bukan muhrim itu tak seharusnya bersentuhan mengingat itu betapa banyaknya dosa yang Ia lakuakan bersama Eliza walau hanya sebatan bersentuhan dan bercumbu mesra.
__ADS_1
Gadis itu rupamya muali turun dengan sopanya berjaln dan mendahuui Julian.
"Maaf saya duluan ya.." ucapnya dengan membungkuk ke arah Julian dan mulai melangkahkan kakinya turun.
"Iya..." jawab Julian dengan tersenyum.
Tak berapa lama Julian juga mulai turun dari angkot itu dan berjalan ke arah rumahnya yang tinggal lima belas langkah lagi dari Dia turun dari angkot dan membayar kepada sopir angkot itu.
Entah kenapa kpikiranya kini tertuju ke arah gadis tadi begitu membuatnya ingin berubah.
"Asallamualaikum..." ucap Julian seperti biasa saat masuk rumah.
"Walaikum salam." jawab wanita paruh baya yang sedang menjahit baju itu.
Rumah ini memang mewah bagi siapa saja namun bagi Julian hanya menyimpan lara baginya tinggal bukan dirumah sendiri tampaknya membuat Dia berubah
"Udah pulang Jul.." ucap wanita paruh baya itu seperti biasa menghampiri cucunya dengan meninggalkan pekerjaanya dan menuju ke arah Julian yang sedang membuka tali sepatu
"Udah oma.." jawab Julian sembari mencium tangan omanya.
"Yaudah buruan makan masakanya udah siap tu Reva juga baru datang" lanjut wanita itu menawarkan makan siang untuk cucunya.
Julian mulai melangkahkan kakinya masuk ke kamar dan berganti pakaian setelah selesai berganti Julian segera berjalan menuju meja makan yang tampak adiknya sedang makan disana bersama omanya.
"Jul buruan kesini kita mkan bareng..." ucap wanita itu yang begitu bahagia menawarkan kepada Julian entah kenapa semakin hari tinggal di rumah omanya ini justru membuat Julian semakin tersiksa batinya.
"Kamu sekarang kok kurusan sih...?" tanya oma yang terlihat sedang mengambilkan nasi untuk cucunya.
Rumah omanya memang jam segini tamoak sepi tapi ketika malam nanti aadik iparnya akan datang dan tingal di rumah ini dan menyebabkan Julian tak enak hati.
Setelah selesai makan Julian akan segera ke Butik tempat mamanya berjualan sekarang seperti biasanya.
Dia mulai memanaskan motor miliknya dan bersiap-siap.
"Rev kakak ke Butik dulu ya jaga oma.. " ucap Julian pada adiknya karena akhir-akhir ini omanya sering mulai sakit-sakitan.
"Iya kak beres jangan lupa pulang beliin seperti biasa somay bandung" jawab Reva dengan mengacungkan jari jempolnya dan tentunya dengan cengiran khasnya.
"Oke..." jawab Julian sembari menaiki motor miliknya dan mulai melajukan motornya menembus padatnya jalanan kota Bandung saat hari hampir sore.
Udara mulai terasa sejuk di iringi tawa dari sang awan yang tampak mulai terlena oleh cahaya matahari yang mulaiĀ menyusut dan tampak Indah itu dengan mulai menampakan warna orangenya.
Tak berapa lama Julian telah sampai di depan Butik yang terlihat tengah ramai oleh pengunjung itu Julian mulai menujukan senyum bahagianya karena dengan kedatangan pengunjung itu merupakan tanda bahwa Butik mamaya sedang ramai oleh pengunjung.
Julian mulai mematikan mesin motornya dan mulai melepaskan helm yang bertengger di atas kepalanya.
Dia mulai turun dan membawakan bekal untuk mamanya seperti biasa.
Julian mulai berjalan masuk membuka pinta dan berjalan ke ruang yang khusus untuk istirahat mamanya saat jam makan.
Setelah menaruh makanan itu Julian mulai berjalan ke kasir dan membantu mamanya berjualan Dia mulai memahami dan banyak belajar sekarang tentang bisnis ya harapanya kelak Ia akan menjadi orang sukses di kemudia hari.
"Mama istirahat dulu gih biar pekerjaan mama aku yang handel dulu" ucap Julian pada Amelia yang tengah sibuk meneliti barang pesanan konsumenya.
__ADS_1
"Yaudah mama minta tolong ya Jul..." jawab Amelia pada Julian dengan menterahkan buku berisi desain gambar yang akan di tawarkan pada konsemenya.
"Iya..." jawab Julian dengan tersenyum.
Amelia begitu beruntung ada Julian di sampingnya selain bisa membantu pekerjaanya juga membuatnya bahgia karena bisa berada di dekat anak lelakinya sepanjang hari.
Julian mulai sibuk melayani konsumen itu di bantu satu pelayan itu.
Hari hamir malam setelah habis sholat isya Butik itu mulai tutup tak lupa Julian yang selalu terakir menutup pintu yang berukuran besar dan berat itu.
"Ma udah beres kita pulang yuk..." ucap Julian pada mamanya sembari memasukan ke dalam kantong kunci itu.
"Iya Jul..." ucap Amekia seraya naik ke pumggung motor itu Julian mulai menyalakan mesin dan kendaraan itu mulai melaju membawa ibu dan anak itu seperti biasa mereka selalu melewati jalanan yang macet karena semakin malam terasa semakin banyak kendaraan roda dua maupun roda empat yang melaju ke arah yang sama.
Jalanan kota Bandung tampak bergemerlapan sorotan lampu jalanan serta lamu kendaraan
Tak lupa seprti biasa Julian selalu berhenti di tepian pingir jalan yang terlihat penjual kaki lima yang menjajakan makanan malam Julian mulai berjalan ke arah penjual somay Bandung kesukaan Reva.
"Biasa ya Bang sepuluh ribu aja.." ucap Julian seraya nenyerahkan uang sepuluh ribuan sbari menyeka keringat yang menetes di wajahnya.
"Iya mas .." jawab penjual itu seraya mengambilkan somay yang berada dalam panci khas penjual somay itu.
Tak berapa lama setelas selesai Julian segera berjalan kembali ke arah motor yang Dia parkirkan di sebelah penjual nasi goreng dan Dia melajukan kembali motornya untuk pulang.
Hanya sekitar lima belas menit mereka sampai di depan rumah omanya.
Julian mulai turun beserta Amelia dan berjalan masuk ke dalam rumah seperti biasa Oma dan Reva terlihat sedang menonton acara televisi hal biasa itu yang terjadi di setiap rumah.
Dan bungkusan plastik itu dengan biasa sudah mendarat mulus di tangan Reva.
"Maksih ya kak Julian..." ucap Reva seperti biasa pada kakaknya dan membuat wanita tua itu tersenyum haru karena cucu-cucunya begitu rukun.
Reva mulai menikmati somay bersaus kacang itu dan di bagi dengan omanya.
Sedang Amelia dan Julian mulai masuk ke kamar masing-masing.
Julian rupanya hari ini benar-benar merasakan badanya terasa lelah tak lupa setelah mandi dia segera mengerjakan tugas dari sekolah ya walaupun Dia anak baru rupanya Dia tak terlalu kesusahan mengikuti pelajaran di sekolah barunya tergambar jelas perlahan Julian mulai menjadi anak disiplin dan pekerja keras.
Lagi lagi ponsel hitam miliknya itu berdering yang kesekian kali dan menamplikan panggilan tak terjawab dari Eliza yang berjumplah lima kali.
Julian mulai menutup buku tulis dan paket miliknya seraya membuka ponsel itu dan melakuakn pangilan balik untuk Eliza.
Sembari menunggu pangilan di jawab dari Eliza Julian membalas pesan dari Eliza Julian tersenyum masam kini dirinya tampak sibuk hingga melupakan Eliza
Eliza tak mengangkat telepon itu dan hanya mengirimkan balasan untuk Julian.
"Selamat tidur maaf kalau aku ganggu kamu sibuk..." itulah satu kaliamt yang dikirimkan Eliza untuk Julian. Julian tak menyangkal waktunya terlanjur habis untuk bekerja dan belajar menjadikan wanitanya sedikit terlupakan ollehnya
Namun Julian masih terus menghubungi Eliza karena jika di pahamai dari kata-kata itu tampkanya Eliza sedang marah.
Julian menyerah karena Eliza tak jua mengangkat telepon darinya hingga pada akhirnya Dia tertidur dengan sendirinya.
Di seberang sana Eliza tampak sedang menatap ponselnya dengan sendu rupanya semakin hari Dia semakin rimlndu dengan Julian tapi perasaanya selalu berkata Julian kini terasa berbeda.
__ADS_1