
Saat ini Rehan sedang duduk santai di kursi rotan yang menghadap langsung ke arah taman dan kolam ikan yang menampilkan hawa sejuk itu, saat ini Dia sedang mengerjakan tugas mata kuliahnya. Terlihat Ayunda sedang berdiri di dekat pintu sebelah ruang makan yang bersambung dengan dapur minimalis, Ayunda tampak cangung untuk mengatakan semua permasalahanya ke Rehan.
Wanita itu hanya diam tak bersuara sorotan matanya jelas sedang memandang anak lelakinya dengan tatapan teduh di benaknya Dia ingin mengatakan semuanya namun Dia akan takut akan seprti apa ketika Rehan mengetahui dirinya sedang mengandung buah dari hubunganya dengan Wijaya yang serta dalam waktu dekat Dia akan menikah dengan Wijaya lelaki yang tengah menjadi bapak dari janin yang berada dalam perutnya.
"Ma kenapa kok berdiri aja gak capek emang...??" tanya Rehan dengan mengerutkan kening Dia tau mamanya sedang memandanginya tanpa berkedip, Ayunda tampak tersenyum tipis tersimpul jelas senyuman itu hanya sekedar basa-basi atau rasa ingin menghargai ucapan anaknya.
Ayunda segera berjalan tampak saat ini Dia selalu memakai daster yamg longgar layak halnya orang hamil.
"Han mama boleh ngomong...?" ucap Ayunda sembari menarik kursi berwarna putih itu dan mulai di dudukinya aura di wajahnya terpancar jelas Dia sedang memiliki bamyak pikiran.
"Iya ma ada apa mama ini kaya mau ngomong sama siapa aja sih pake nanya segala....?" jawab Rehan keheranan dengan sifat Ayunda yang tampak ingin berbicara dengan orang lain.
Suasana kembali cangung terlihat Rehan srdang sibuk dengan tugasnya sedang Ayunda tampak lesu dengan keringat dingin yang terus menetes di tubuhnya.
"Han dua minggu lagi mama akan nikah lagi mama minta restu kamu ya..." ucap Ayunda dengan nada berat mengatakan akan membaut sakit hati Rehan namun tidak mengatakan akan lebih membuat sakit tentunya.
Benar saja Rehan tertawa penuh penghinaan mendengar ucapan mamanya yang membuat emosinya seketika membuncah.
"Ma mama yakin emang hidup mama kurang bahagia ya udah punya anak yang sekarang sudah beranjak dewasa mama itu kurang bersyukur tau ma..." jelas Rehan dengan menghentikan acara memainkan jemarimya di atas keyboard itu Rehan tak hayal menasehati Ayunda karena sampai kapanpun Dia jelas tak akan mau punya ayah baru yang notabennya adalah bapak dari musushnya sendiri, Dia jelas punya harga diri dan dengan harga yang mahal tentunya.
Ayunda serasa ketar-ketir ingin melanjutkan ucapanya bagaimana jikalau Rehan tau Dia saat ini sedang hamil bertambah bencilah anak semata wayanganya terhadap dirinya.
"Ya yang peting mama sudah ijin sama kamu Han maaf kalau mama buat hati kamu sakit karena ini semua ada alasan dan tentu semua itu terjadi beralasan bukan begitu mama mengambil langkah karena mama ada sesuatu hal yang tak mukin mama ceritakan semuanya ke kamu..." ucap Ayunda sembari berdiri dan berjalan ke arah tanaman berukuran besar yang nertempat di dalam pot hitam itu dengan berkali-kali menghela nafas beratnya.
"apa mama bilang ada sesuatu hal soal apa uang cinta atau hayalan aku kira kalau soal uang mama gak perlu khawatir karena semua bisnis serta harta papa itu sudah jatuh ke tangan mama sampai anak cucu akupun harta itu tak akan pernah habis ma jadi alasan mama apa...?" ucap Rehan yang pintar bersilat lidah itu berusaha mengulik setiap sisi dari alasan mamanya yang ingin menikah lagi.
"Oh iya apa hebatnya lelaki itu sih sampai mama tergila-gila seperti ini..." lanjut Rehan lagi yang terlihat sudah tak nafsu mengerjakan tugas yang seharusnya di kerjakan sekarang.
"Han terkadang pahamilah posisi mama, mama itu juga butuh figure sosok lelaki untuk memdampingi mama cinta mama ke papa kamu sampai kapanpun tak akan pernah pudar namun ada kalanya kodrat seorang wanita itu ingin memiliki lelaki itu benar nak jangan salahkan mama tapi hati mamalah yang terlanjur butuh...." jelas Ayunda dengan perlahan melihat bentuk perutnya yang kian hari kian berubah ada satu harapan di dalam benanknya Dia takut jika anak ini lahir tanpa seorang ayah tentunya.
Rehan hanya diam Dia tau maksud arah tujuan ucapan mamanya yang tak mungkin Dia ragukan lagi kebenarnya namun suatu hal lain nampaknya bisa memenuhinya tanpa harus lekaki itu bukan.
__ADS_1
Kepala Ayunda mulai pusing kembali dan perlahan pandangan matanya mulai kabur dengan cekatan Rehan menahan tubuh Ayunda yang hampir jatuh itu
"Ma mama kenapa sih ma....?" ucapnya sembari menahan tubuh mamanya yang mulai limbung dan terlihat tampak pucat itu dan terasa badanya perlahan mulai mengeluarkan hawa dingin.
"Han kepala mama pusing banget " ucap Ayunda yang terlihat sudah tak tahan lagi merasakan rasa sakit yang terus berdenyut di kepalanya memang kehamilan ini lebih membuatnya capek di banding hamil anak pertamanya.
"Yaudah kita ke kamar ya...."
Rehan segera mengantarkan mamanya kedalam kamar dan dengan perlahan Dia menidurkan wanita yang melahirkanya itu di atas ranjang dengan lembut tak lupa Dia sedikit memijat pundak Ayunda agar setidaknya bisa merilekskan kondisi mamanya saat ini.
"Ma aku pangil Dokter ya biar mama di periksa mama sekarang sering lho pusing kaya gini aku takut mama kenapa-napa" ucap Rehan dengan nada khawatir Ayunda tau anaknya mulai curiga dengan kondisinya saat ini.
"Gak usah sayang mama cuma kecapean aja" tolak Ayunda dengan nada lesu.
Rehan semakin penasaran dengan rasa sakit yang sedang dirasakan mamanya yang terlihat sangat sering mengeluhkan pusing dan juga mual itu..
"Ma coba kita cek ke Dokter" ucap Rehan lagi dengan nada sedikit memaksa mamanya.
"Yaudah mama istirahat aja aku mau selesaian tugas kuliah dulu" ucap Rehan ke arah Ayunda sembari menyetuh dahi mamanya dengan lembut.
Ayunda mulai menutup kedua matanya merasa tak ingin menggangu istirahat mamanya, Rehan mulai berjalan keluar dengan menutup pintu itu secara perlahan dan berjalan kembali ke tempat semula tapi pikiranya selalu penasaran dengan tingkah laku mamanya yang terlihat semakin aneh itu tampaknya
.....
Hingga Senja mulai menysut tergantikan langit yang tampak kelabu itu, sehabis pulang kuliah dan nongkrong dengan temanya Kali ini Rehan sedang berads di kamar mamanya yang saat ini tampak kososng karena Ayunda sedang menerima tamu rekan kerjanya yang sedang berbincang-bincang di ruang tamu canda tawa yang terdengar dari mamanya itu membuat Rehan bersedih sebab di balik canda tawa yang meriah itu tersimpan luka di batinya.
Kali ini Rehan berencana mencari tau semua rajasia yang sedang di sembunyikan mamanya kali ini, Rehan mulai berjalan hati-hati dan baru kali ini Rehan masuk ke kamar Ayunda tanpa meminta ijin. Tampaknya rasa penasaranya itu kian hari kian semakin tak tertahan lagi.
Rehan mulai menutup pintu itu dengan perlahan dia sengaja langsung menuju bufet yang biasa untuk menyimpan berkas-berkas penting milik mamanya.
Dia mulai membuka satu persatu berkas berkas penting itu Dia sangat yakin dengan percakapan mamanya dengan dokter langanya itu yang terdengar sedang menyimpan suatu rahasia darinya.
__ADS_1
Dia mulai membuka map yang berisi lembaran kertas hasil pemeriksaan mamanya beberapa waktu lalu
Rehan semakin bingung dengan semua ini dia berusaha membolak balikan isi dari kertas itu namun tampakanya dia tak mengerti istilah dari yang tertulis di selembar kertas itu.
Dengan sengaja Rehan mulai mengambil beberapa kertas diagnosa dari dokter itu ya karena Dia anak laki-laki menjadikan Dia tak tau apa maksud di balik kertas dalam map tersebut.
Dia segera berjalan keluar dari kamar mamanya dan dengan cepat berjalan kembali menuju kamarnya, Dia mulai mengambil gambar dari kertas serta gambar dari hasil usg tersebut Dia memang tak banyak menau tentang semua ini.
Dia mulai mencari tau tenjang kata-kata yang jarang Dia dengar Dia mulai membuka internet dan mulai browsing mencari kata-kata singkatan di dalam kertas itu.
Belum sempat Dia melanjutkan mamanya sudah terlanjur datang dan masuk ke dalam kamarnya dengan cepat Rehan nenyimpan semua barang yang Dia ambil dari map itu.
"Rehan..?" ucap Ayunda seraya mendekati putranya.
"Iya ma" jawab Rehan dengan wajah tampak kikuk sembari menyembunyikan kertas itu di balik bajunya.
"Kamu habis dari kamar mama ya...?" tanya Ayunda dengan menatap tajam ke arah Rehan.
"Engak ma aku sedari tadi di sini main game...." jawab Rehan dengan bola mata terus ia arahkan ke bawah tanda Dia sedang mencari alasan.
"Oh jadi tadi cuma perasaan mama aja maaf ya" ucap Ayunda dengan tersenyum tipis tampaknya Dia sedang menertawai ke haluanya.
Rehan begitu lega saat mamanya tak mempergokinya mengambil kertas itu.
"Syukurlah..." ucap Rehan dengan mendudukan dirinya di kursi.
Sedang Ayunda mulai berjalan ke kamarnya namun kecurigaanya justru semakin menjadi saat bufet tempat Dia menyimpan barang itu terbuka. Namun dengan perlahan Dia berusaha membuang pikiran negatif itu kalaupun Rehan tau itu tak masalah selagi pernikahanya dengan Wijaya sudah di ambang mata.
Dia mulai duduk perlahan sembari mengelu-elus perut yang mulai membesar itu Dia tersenyum saat mendengr kabar Wijaya sebenatar lagi akan menikahinya.
"Sebentar lagi kita akan berkumpul dengan papa sayang..." ucap Ayunda dengan mengelus-elus perutnya dengan lembut.
__ADS_1