
Lanjutan.
"Bangun udah sampai...." aku mendegar suaranya lembut itu berbisik di telingaku.
Aku membuka mata dan mendapati aku sudah sampai di depan rumahku.
Aku mulai melepas tangan yang aku lingkarkan di perut rata milik Julian.
"Aku tertidur ya Jul..." ucapku dengan nada lesu.
"Iya gak papa..." ucapnya sambil tersenyum ke arahku.
Aku mulai turun dari motor aku tak menyangka aku bisa tidur senyaman itu disaat baju yang aku kenakan masih basah kuyuh.
"Kamu bisa masuk sendiri kan El...??" ucapnya dengan terus melihat ke arah wajahku tanpa henti.
"Bisa Jul makasih ya udah di anterin..." jawabku sambil melirik sisi kanan dan kiri memastikan bahwa tak ada orang di sekitarku selain Dia.
"Iya, yaudah aku pulang dulu ya jangan lupa makan habis itu langsung istirahat aja" ucapnya lagi dengan penuh perhatian aku bagaikan ratu rasanya.
"Iya kamu juga ya, sampai hari senin kita ketemu lagi"
Julian mulai mengendarai motornya kembali aku memandang pungung yang mulai menghilang itu.
Rasanya aku sedih ketika kebersamaan kita berhenti.
Aku tersenyum tipis setelahnya aku mulai membuka gerbang, tak aku sangka mama sudah berada di depan pintu rumah dengan menunjukan raut wajah yang tak biasa, mungkin Dia sedang menunggu kepulanganku sedari tadi
"Habis dari mana...??" tanya mamaku dengan nada tinggi cenderung membentaku aku tau mama saat ini sedang marah.
"Maaf ma aku pulang kemaleman...."
"Habis dari mana...??" mama tak mungkin memaafkan kesalahan aku kali ini terlihat pertanyaan yang terus di ulang.
Aku hanya diam dengan wajah aku tundukan di depan mamaku.
Tak seperti biasanya mama semarah ini dengan aku.
"Itu tadi Julian lagi ...?" ucap mamaku lagi dengan nada tak suka, pertanyaan mama langsung membuat hatiku terasa tertusuk ribuan duri.
"Iya ma..." jawabku dengan pelan
"Inget ya Eliza mama gak akan setuju kalau kamu pacaran sama Julian....!!!" ucapan mama serasa hati yang sudah kusatukan dengan Julian di pisah secara paksa.
"Gak ma aku cuma temenan aja kok" jawabku dengan menyembuyikan kenyataan yang aku simpan rapat-rapat ini.
__ADS_1
"Semenjak kamu kenal Dia kamu tu berubah El..." ucap mamaku lagi menilai kedekaranku dengan Julian tak ada artinya.
"Ma udahlah biarin Eliza masuk kasian Dia kedinginan itu..." Ayahku datang berusaha membukakan pintu dan dengan baiknya menyuruhku masuk.
"Salah sendiri yah udah tau hujan deras tapi malah asik jalan sama cowok" ucapan mama seperti mendendam Julian.
"Mama udahlah kaya gak pernah muda aja" seka papaku berusaha meredam emosi mamaku.
"Mama keras ke Eliza karena mama gak ingin kejadian buruk seperti anak temen mama yang hamil duluan padahal masih sekolah"
"Aku juga wanita ma aku tau perasaan mama begitu khawatir dengan aku tapi jangan berlebihan..." ucapan yang hanya kuutarakan dalam hati.
"Iya Ma maafin Eliza janji gak akan ngulanginya lagi"
Aku agak kecewa dengan sikap mama tapi aku habya berusaha diam, karena itu terlebih baik.
"Julian itu kan anaknya pak Santoso Tau sendiri Dia habis cerain istrinya terus malah dekat sama Renata teman aku kerja dulu yah..." ucapan mama yang membuat aku semakin kasihan dengan perasaan Julian jika mendengar ucapan mama yang menyakitkan ini.
"Udahlah ma Dia kan Bapaknya sedang Julian anaknya..." jawab Ayahku yang hanya menangapi hal biasa tak melebih-lebihkan.
"Gak bisa gitu yah bisa saja kan nanti nular ke anaknya..." tambah mamaku lagi dengan wajah mulai di tekuk lagi.
"Mama ini lagian mereka cuma deket pikiranya malah sampai nikah segala..." jawab ayahku sembari menyeruput kopi yang berada dalam cangkir itu ayah memang bijak dalam meredam emosi mama.
Namun hatiku terasa sakit saat mendengar ucapan mama menyingung keluarga Julian begitu menyayat hati ini rasanya.
Aku segera berjalan menaiki anak tangga perlahan aku berhenti mendengar ucapan mama aku lagi namun hanya aku hiraukan.
Sampai kamar aku mulai mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi
Perlahan aku menangalkan semua pakaianku yang basah dan berlanjut menguyur badanku dengan air yang mengalir dari atas shower.
Aku menikmati suasana yang sama seperti tadi namun rasanya berbeda tak senyaman tadi saat ketika bersamanya.
Hampir lima belas menit aku berada di kamar mandi aku segera membuka gagang pintu dan keluar tak lupa dua buah handuk sudah menyelimuti tubuh serta kepalaku.
Setelah itu aku mengambil pakaian dan memakainya.
Aku mulai merapikan rambutku dengan sisir aku tersenyum ketika melihat arah luar rumah. aku teingat kembali saat bersama Dia yang serasa hanya seperti mimpi.
Hari ini aku sunguh bahagia hatiku sudah membaik sekarang hampir seperti semula dan kini Dia telah kembali lagi kepadaku aku bersyukur Tuhan telah kau hadirkan Dia dihidupku kembali.
Aku sedang duduk di ranjang tempat tidurku sembari berbalas pesan dengan Julian seakan-akan waktu aku bertemu Dia tadi tak ada artinya.
Namun ketika melihat wajahnya di layar ponsel miliku ini aku jadi teringat perkataan mama tadi yang mengangap Julian anak tak baik
__ADS_1
Aku begitu iba kenapa seseorang pandai menilai orang lain padahal kenyataanya sediri dia tak menau.
Pikiran tak baik mulai menghampiriku aku takut jika kelak mama tak merestui hubungan aku dan Julian karena jika itu terjadi aku akan merasakan sakit itu kembali.
Di luar hujan justru semakin deras memapah kesenduan ini muncul kembali kenangan yang terjadi hari ini yang begitu bermakna bagiku.
Kita saling berpandangan dalam cahaya malam kita hanya terpisah jarak dan waktu namun hati kita selalu bersatu.
...
"Mas akhir bulan ini nanti aku mau ke Bali ada tugas dari kantor..." ucap Ayunda dengan nada lembut seperti biasa yang di ucapkanya.
"Lama...??" tanya lelaki berbadan tegap itu.
"Satu minggu mas soalnya harus survei daerahnya dulu bersama tim aku mas...." ceritanya lagi sembari meyedok satu sendok salad yang masih utuh itu.
"Nanti aku anterin aja..." ucap lelaki itu penuh perhatian.
Ayunda hanya Diam
"Mas kamu serius sama hubungan kita..?" ucapan Ayunda seperti guyonan bagi lelaki berkacamata itu.
Ayunda jelas ingin memastikan hubungan gelapnya dengan lelaki yang saat ini duduk di depanya itu.
"Iya jelas, buat apa aku cerain Amelia kalau gak demi kamu..." jawab lelaki itu sembari mengigit satu gigitan risol mayo yang masih sedikit panas itu.
"Aku berasa jahat ya mas..."
Ayunda jelas sadar yang dilakukan menyakitkan bagi Amelia.
"Udahlah gak usah bahas itu yang peting tahun depan aku janji nikahin kamu..." lelaki itu meraih tangan mulus Ayunda dan mengucapkan janji yang pernah Ia utarakan beberapa waktu lalu.
"Aku gak berharap mas..." Ayunda mulai melepaskan tanganya dari gegaman itu.
"Ini Rehan belum mau kalu punya bapak lagi..." tambah Ayunda berusaha mencari jalan keluar untuk berpisah dari jeratan dosa ini.
"Ayunda kamu katanya sayang sama aku jangan bikin hati kamu dilema ikuti hati kamu aja soal anak kita, pelan-pelan mereka pasti akan nerima..." jelas lelaki itu panjang lebar berusaha mengembalikan perasaan Ayunda padanya.
Mereka terus berbincang-bincang sampai larut malam.
Ayunda memang wanita pekerja keras dan mandiri kemanapun Dia pergi selalu mengendari mobil sendiri tak terkecuali malam ini yang membaut hati lelaki itu was-was di buatnya.
"Lain kali aku antar jemput aja gak tega aku kalau kamu pulang sendiri kaya gini"
"Udah gak papa, aku pulang dulu Rehan udah nunggu soalnya..."
__ADS_1
"Iya" jawab lelaki itu dengan tersenyum.