
Meski tampaknya tidak menggunakan teknik apapun, tetapi setiap Pilar dan Miku mengetahui seberapa kuatnya serangan Shigekuni sebelumnya. Jadi mereka menatap ke arah Arthur dengan ekspresi tertarik. Cukup penasaran dengan kekuatan asli pemuda itu.
'Setidaknya silver bintang 8? Mungkin telah menembus silver bintang 9?'
Memikirkan itu saja membuat mereka tidak bisa tidak menghirup udara dingin. Kali ini tampaknya Shigekuni telah menerima murid baik. Errr ... kata baik mungkin tidak cocok. Jadi mungkin lebih tepat jika dibilang dengan bakat monster.
"Arthur ..."
Melihat Shigekuni menggertakkan gigi, Arthur merasakan firasat tidak baik. Dia sama sekali tidak merasa tidak terkalahkan. Lelaki tua di depannya adalah satu dari 3 Pilar terkuat di Sekte Pilar Surgawi.
Kekuatannya ... platinum bintang 8!
Mungkin tidak tampak kuat karena masih ada peringkat diamond di atasnya. Namun, tidak ada "manusia" yang menembus batasan peringkat diamond di benua ini. Hanya beberapa iblis, roh jahat, dan monster yang memiliki tingkatan tersebut.
Bisa dibilang, Shigekuni memang salah satu manusia terkuat. Jadi, sebagai pemula, Arthur tidak akan besar kepala hanya karena menangkis tamparan sederhana seperti itu. Lagipula, pada waktu latihan, dia yang menggunakan kekuatan sepenuhnya masih disalahgunakan dan diratakan ke tanah oleh lelaki tua itu.
Melihat mata Shigekuni telah menyipit, Arthur langsung melipat kipasnya. Dia menatap ke arah Miku, para Pilar, lalu ke arah Shigekuni lalu melakukan salam gongshou sambil berkata.
"Seharusnya sedikit pertunjukan kecil sebelumnya bisa menjadi kriteria penilaian.
Dikarenakan murid ini harus merawat para senior yang sakit, maka murid ini akan kembali terlebih dahulu."
Setelah mengatakan itu, Arthur langsung melakukan langkah seribu, melarikan diri dengan kecepatan luar biasa sebelum orang-orang bisa mencerna apa yang dikatakan olehnya.
Jika hanya mendengar ucapan terakhir pemuda itu, semua orang pasti akan menganggapnya sebagai murid yang sopan dan perhatian. Namun setelah melihat penampilan sebelumnya. Mereka mengetahui satu hal ...
Bocah itu tampaknya bisa mengubah wajahnya dengan begitu mudah!
Apabila Arthur mengetahui apa yang orang-orang itu pikirkan, dia pasti sudah protes. Apa yang dilakukannya hanyalah melenturkan pinggang.
Mungkin orang yang memiliki harga diri tinggi, menegakkan punggung dan tidak mau merendah tampak keren. Namun mereka akan cepat mati.
Ya ... tentu saja ada pengecualian. Bagi mereka yang beruntung. Bertemu musuh lemah dan tidak pernah bertemu musuh kuat. Tumbuh perlahan sampai menjadi yang terkuat atau semacamnya.
Sementara Arthur pergi, Shigekuni kembali ke tempat duduknya dengan wajah muram. Beberapa Pilar lain berkata dengan senyum di wajah mereka.
"Kamu mendapatkan murid yang menarik, Old Dragon."
"Ya. Selain bakatnya yang kuat, dia jelas sangat menarik."
"..."
Mendengar perkataan para Pilar lain yang terdengar seperti olok-olok, Shigekuni menggertakkan gigi. Dia hanya bisa menahan amarahnya. Namun ...
Lelaki tua itu sudah bersumpah dalam hati kalau dirinya akan memukuli pemuda itu setelah kembali!
Setelah kepergian Arthur, pertandingan dilanjutkan kembali. Berbeda dengan berbagai halangan sebelumnya. Semuanya berjalan begitu lancar sampai akhir.
...***...
Sembilan hari kembali berlalu begitu saja.
__ADS_1
"Besok adalah hari keberangkatan. Kamu akan pergi ke mana, Arthur?"
Shigekuni duduk dengan tenang sambil menatap kolam ikan dengan ekspresi santai. Di sebelahnya, tampak Arthur yang duduk melamun.
Setelah beberapa saat diam, Arthur akhirnya membuka mulutnya.
"Tidak tahu. Namun, ada satu hal yang cukup menggangguku ketika tinggal di sini selama 99 hari, Pak Tua."
"Apakah kamu memiliki keraguan? Jika iya, tanyakan saja."
"Jujur saja, aku benar-benar penasaran ..."
Arthur menoleh ke arah Shigekuni.
"Kenapa jumlah murid Sekte Pilar Surgawi itu begitu sedikit?"
"..."
Shigekuni tertegun. Dia berpikir kalau pemuda tersebut akan menanyakan masalah kultivasi atau semacamnya. Namun siapa sangka, pemuda itu malah menanyakan hal-hal tidak penting semacam itu.
"Tentu saja jumlahnya sedikit! Tidak semua orang bisa menjadi kultivator. Selain itu, Sekte Pilar Surgawi juga hanya menerima para murid dengan kualitas tertentu.
Jangan samakan pada kultivator dengan kubis di pasar! Para kultivator itu langka! Jika tidak, kenapa kita harus bingung dalam menghadapi para makhluk jahat itu!"
"Tenanglah, Pak Tua. Kamu terlalu emosional." Arthur memutar bola matanya.
"Memangnya ini salah siapa! Huh?! Aku tidak tahu apakah harus merasa beruntung atau tidak menerima bocah seperti kamu sebagai murid."
"Kami tidak akan merindukan kamu, Bodoh! Namun kami pasti akan merindukan hidangan yang kamu buat."
"Bah! Pak Tua yang tidak jujur!"
"Apa kamu bilang?!"
"Aku pergi dulu, Michael sudah menunggu di ruang tamu."
Tidak ingin terkena pukulan monster tua itu, Arthur langsung melarikan diri.
Sampai di ruang tamu, dia melihat Michael yang duduk di kursi dengan ekspresi serius di wajahnya.
"Yo! Apakah persiapanmu sudah selesai, Michael? Benar-benar ada waktu untuk mampir ke tempat ini?"
"Tentu saja aku telah menyelesaikannya."
"Baguslah kalau begitu." Setelah mengatakan itu, Arthur duduk di depan Michael. "Ada apa?"
"Kamu yakin memilih pergi sendiri, Arthur?"
Mendengar pertanyaan itu, Arthur malah mengambil cangkir teh lalu menyesapnya. Sama sekali tidak menjawab secara langsung pertanyaan Michael.
Meski setiap orang yang dipanggil diminta untuk membersihkan kejahatan di dunia, mereka tidak dipaksa melakukannya. Selain itu, mereka juga tidak diminta untuk menyebar. Bagi yang ingin, mereka bisa membentuk kelompok dan pergi bersama untuk keamanan.
__ADS_1
"Bergabunglah dengan timku, Arthur. Selama kita dalam satu kelompok, seharusnya kemungkinan bertahan di luar sana akan menjadi lebih tinggi."
"Kamu tidak mungkin tidak mengetahui tujuanku, kan? Aku sama sekali tidak tertarik untuk membasmi iblis dan roh jahat!"
"Meski begitu, musuh di luar sana sangat kuat, Arthur. Kamu tidak boleh sembrono!"
Mendengar perkataan Michael, Arthur menarik napas dalam-dalam. Ekspresinya berangsur-angsur menjadi lebih dingin.
"Apakah aku takut suatu hal yang disebut kematian, Michael?"
Michael tertegun. Melihat ekspresi tenang dan mata buram pemuda itu, dia langsung mengingat kenangan lama.
"Apakah kamu benar-benar memilih jalan ini, Arthur? Bukankah banyak yang lebih cocok?"
"Maksudmu mengangkat senjata dan terus bertarung? Michael ... aku ingin menjalani kehidupan yang lebih berarti."
Arthur tersenyum ramah seperti biasanya sebelum berkata.
"Maafkan aku, Okay?!"
Melihat senyum di wajah sahabatnya, Michael menghela napas panjang.
"Kamu tidak perlu minta maaf karena itu memang hak kamu, Arthur."
Michael kemudian bangkit sambil berkata.
"Kalau begitu aku harap perjalananmu lancar-lancar saja, Arthur."
"Kamu akan pergi ke Kerajaan Sakura, kan?"
"Bagaimana kamu bisa tahu?" ucap Michael dengan ekspresi terkejut.
"Karena kerajaan tetangga itu tempat kelahiran Nona Pendeta. Ya ... aku bisa menebaknya karena memang kamu mudah ditebak.
Aku hanya bisa mendoakan semoga berjalan dengan baik."
"Tentu saja!" Michael berkata tegas. "Omong-omong, lain kita bertemu, kamu harus memasak "itu" untukku, okay?"
Mendengar ucapan Michael, Arthur tertegun. Dia kemudian tersenyum lebar sembari berkata.
"Bodoh! Itu hanya akan mengingatkan kita dengan beberapa kenangan buruk. Namun, ya ... sesekali boleh juga."
Setelah itu, Arthur mengantar Michael sampai ke depan Dojo. Keduanya saling memandang sambil tersenyum.
"Sampai jumpa lagi, Kawan!"
^^^>> Bersambung.^^^
---
Bantu Author Kei dengan vote, like, dan komentar. Kalian juga bisa memberikan gift agar author lebih semangat.
__ADS_1
Terima kasih!