
Melihat ke arah jamur pinus matsutake yang telah banyak dikumpulkan, Arthur tertegun.
Berbeda dengan di dunia sebelumnya dimana jamur tersebut mulai sulit ditemukan, jamur matsutake benar-benar lebih mudah didapatkan di dunia ini. Asalkan pergi ke hutan pinus di musim gugur, mereka biasanya bisa dengan mudah menggalinya.
Melihat jamur hampir memenuhi dua karung besar, Arthur berkedip. Berbagai masakan seperti sup jamur matsutake kuah bening, matsutake gohan, dan beberapa resep lain mulai bermunculan dalam kepala pemuda itu. Awalnya, dia merasa kalau jamur ini mahal dan harus diolah hati-hati. Sekarang, pemikirannya agak berubah.
Arthur langsung menyimpan satu karung jamur. Setelah itu, dia meminta seseorang untuk membersihkan satu karung jamur lain. Setelah itu, barulah dia mengeluarkan peralatan masak. Tidak ingin membuat sesuatu yang memakan banyak waktu, dia akhirnya berpikir untuk membuat rebusan jamur, ayam, dan beberapa sayur.
Di depan mata terkejut banyak orang, Arthur langsung mengeluarkan berbagai bahan. Dia mulai mengupas, memotong, dan memisahnya ke berbagai wadah berbeda. Gerakannya sangat cepat, membuat mereka yakin kalau pemuda itu memang ahli pedang yang sangat baik.
Keluarkan sebuah panci besar dengan diameter hampir 90 centimeter dan tinggi 125 centimeter, Arthur mulai merebus air. Dia kemudian langsung memasukkan bahan demi bahan, memberi bumbu, dan menyelesaikan semuanya dengan begitu cepat dan rapi. Sama sekali tidak menyia-nyiakan waktunya.
Sebenarnya, Arthur sendiri agak enggan mengolah jamur mahal seperti itu dengan cara acak. Namun dia tidak punya pilihan. Banyak bahan, banyak orang yang perlu diberi makan, sedikit waktu ... hanya bisa melakukan sesuatu yang tidak terlalu rumit.
Setelah merebusnya cukup lama, hidangan akhirnya matang.
Glup!
Orang-orang langsung menelan ludah. Benar-benar tidak sabar untuk mencicipi hidangan yang Arthur buat.
“Aromanya sangat kaya.”
“Wow! Memakannya pada suhu dingin seperti ini pasti menghangatkan badan.”
“Aku benar-benar menjadi lapar.”
“Aku rasa jika Tuan Arthur membuka restoran, dia pasti akan menerima banyak tamu penting. Restorannya pasti tidak akan pernah sepi.”
“...”
Mendengar ucapan mereka, Daiki menggelengkan kepalanya. Dibandingkan dengan bos restoran, ketua divisi dari Garden of Death jelas memiliki status lebih mulia.
Pada saat semua orang bersemangat, ekspresi semua orang tiba-tiba berubah ketika mendengar lolongan serigala.
Mereka kemudian melihat sosok serigala level gold bintang 1 dengan tubuh besar dan memiliki tanduk di kejauhan. Mengikuti aba-aba makhluk itu, tampak puluhan serigala yang muncul entah dari mana. Tiba-tiba mengelilingi dan mulai menyerang ke arah reombongan dengan ganas.
__ADS_1
“Ambil senjata!”
Semua orang langsung membawa senjata masing-masing lalu mulai membuat barisan. Namun karena lengah, kejadian kacau langsung terjadi. Beberapa orang terdorong, ada juga beberapa ksatria yang tidak berani asal menyerang karena terlalu berdekatan dengan rekannya. Saat itu juga, mereka tiba-tiba mendengar suara.
KLANG!
Arthur menoleh, lalu mendapati satu panci sup untuk makan malam mereka semua tumpah dan berceceran ke mana-mana. Saat itu juga, dia langsung menghunus pedang dengan ekspresi dingin, penuh kebencian. Namun, sebelum dia bereaksi, suatu hal yang tidak terduga terjadi.
“BISA-BISANYA KALIAN MEMBUANG MAKANAN BERHARGA! AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN!”
Sosok Daiki yang biasanya tenang, santai, dan cukup mendominasi dengan senyum berbahaya merubah ekspresinya. Dia sangat marah, tampak garang dan cukup gila. Dia langsung mengangkat kapak emas lalu mengejar para serigala dengan ekspresi liar.
Bukan hanya Daiki, anggota Divisi 9 lain luga meraung dengan ekspresi gila. Mata mereka merah, menggertakkan gigi, menahan tangis, terus menyerang para serigala dengan ganas dan kejam. Lebih mirip sedang kerasukan.
“Eh?”
Beberapa tanda tanya besar muncul dalam benaknya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau mereka bisa begitu liar. Bahkan lebih marah daripada dirinya yang memasak hidangan itu sendiri.
‘Jika pemandangan seperti ini terlihat di dunia sebelumnya, aku pasti akan diselidiki karena dituduh memasukkan beberapa barang berbahaya dan ilegal ke dalam masakan! Lagipula ...
Melihat adegan kacau dan berdarah di sekitar, Arthur hanya menyarungkan pedang lalu mengangkat tangan. Benar-benar tidak berniat ikut campur. Bahkan, raja serigala yang awalnya muncul dengan cara mendominasi benar-benar terdiam ketika melihat adegan kacau seperti itu.
Jika makhluk itu bisa berbicara, dia pasti sudah mengeluh lalu siapa manusia dan siapa binatang buasnya.
Pemandangan ini benar-benar merusak cara berpikir sederhana makhluk itu!
***
Sekitar dua jam kemudian.
“...”
Melihat banyak orang yang berlutut, duduk bersandar pada pohon, dan berbaring dengan pakaian bersimbah darah sambil menahan air mata. Orang-orang yang tidak tahu pasti akan menganggap mereka adalah pasukan pemburu yang berhasil membunuh rombongan serigala untuk membalaskan dendam orang tua, keluarga, sahabat, atau kekasihnya. Namun, pada kenyataannya ...
Kejadian seperti itu benar-benar terjadi karena sup yang tumpah.
__ADS_1
Arthur melirik ke arah raja serigala yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan tatapan iba. Sudut bibirnya berkedut, turut berduka cita untuk makhluk itu karena kurang beruntung. Benar-benar dipukuli puluhan orang dan dipotong-potong menjadi banyak bagian di tempat.
Merasakan suasana tertekan di sekitar, Arthur benar-benar bingung harus berkata apa. Selain dirinya, mungkin hanya ada dua orang yang masih ‘waras’. Mereka berdua adalah Jotaro yang tampak tenang, dan Lily yang menatap sekitar dengan ekspresi kosong, tampaknya bingung dengan apa yang sedang terjadi.
“Arthur, Arthur ... aku lapar.”
Mendengar itu, Arthur melirik Lily dengan ekspresi aneh. Melihat pemandangan kacau dan berdarah seperti ini, gadis itu masih bisa berkata kalau dirinya lapar. Benar-benar bingung harus sedih karena tidak peka, atau bangga karena mental gadis itu benar-benar kuat.
Bahkan Arthur sendiri merasa sedikit tidak nyaman untuk makan pada kondisi seperti itu. Masih bisa makan, tetapi jika tidak mendesak, dia memilih untuk tidak melakukannya.
Saat itu juga, Arthur tiba-tiba melihat kalau banyak orang memandanginya dengan mata penuh harap. Tampaknya mereka juga berpikir untuk makan seperti Lisa. Pemuda itu langsung bertanya-tanya dalam hatinya.
‘Mungkinkah di sini aku yang tidak normal karena merasa tidak ingin makan di kondisi seperti ini?’
Memikirkan itu, Arthur langsung menggelengkan kepalanya. Saat itu, Daiki langsung mendekatinya. Pria itu menepuk bahunya lalu bertanya.
“Bagaimana kalau memasak daging serigala, Saudaraku?”
“Tidak.” Arthur langsung menggelengkan kepalanya. “Daging serigala tidak enak, khususnya baunya yang tidak menyenangkan dan sulit dihilangkan. Aku tidak akan memakannya kecuali dalam kondisi terdesak.”
“...”
Mendengar itu, Daiki langsung tampak kecewa. Bukan hanya dia, orang-orang lain juga langsung merasa kecewa.
Merasakan situasi penuh tekanan dan rasa frustrasi di sekitar, Arthur benar-benar merasa sangat tidak nyaman. Entah bagaimana, dia merasa kalau lebih baik dirinya segera betindak agar tidak ikut terbawa suasana sekitar.
“Aku akan memasak sesuatu yang lain untuk kalian makan, tetapi tidak di sini. Aku akan memilih tempat, kalian bisa membersihkan diri lalu beristirahat. Biar aku yang mengurus sisanya.”
Mendengar ucapan Arthur, semua orang memandangnya dengan mata berbinar. Sudut bibir pemuda itu berkedut, merasa tidak nyaman dengan karena pandangan orang-orang yang tampaknya sedang melihat penyelamat atau semacamnya.
Bingung apakah harus menangis atau tertawa, Arthur yang pergi ke tempat lain untuk memasak memutuskan untuk menandai hari ini dalam diary sebagai tragedi ‘Sup Tumpah’ yang berakhir dengan pemusnahan gerombolan serigala.
Pemuda itu merasa, ternyata ada banyak hal aneh di dunia ini.
Dia benar-benar masih perlu banyak belajar untuk membiasakan diri!
__ADS_1
>> Bersambung.