
“Okey ... Dimana aku sekarang?”
Melihat sekeliling, Arthur terkejut saat melihat banyak gang sempit, kotor, dan sepi. Karena terus marah-marah akibat gagal memancing buaya punggu tembaga, pemuda itu terus menggerutu dan berakhir tersesat.
Pada saat itu, aroma wangi langsung menggelitik hidung Arthur. Pemuda itu kemudian mengendus aroma dan memilih untuk menelusuri sumber aroma itu berasal.
Akhirnya Arthur sampai di depan sebuah bangunan tingkat yang lebih cerah dibandingkan dengan bangunan lain di sekitar. Di depan bangunan itu, tampak beberapa wanita cantik dengan pakaian tradisional yang cukup terbuka. Melihat sosok tampan Arthur, mata mereka langsung berbinar.
“Sekarang adalah jatahku untuk menarik pelanggan. Kalian pergi!”
Sosok wanita dengan pakaian merah berkata dengan nada tidak sabar lalu menghampiri Arthur. Meski tidak puas dan merasa jengkel, sisanya masih memilih untuk diam karena semua telah disepakati oleh mereka.
“Apakah kamu ingin mampir, Tampan? Kakak ini bisa menunjukkan sesuatu yang menarik. Karena kamu tampak begitu muda dan menjanjikan, kakak ini akan memberimu banyak diskon.”
“Masuk?” Arthur memiringkan kepalanya. “Tentu saja.”
Mendengar jawaban Arthur, wanita itu langsung merasa sangat senang. Dia kemudian memeluk lengan pemuda itu lalu mengajaknya masuk ke dalam bangunan itu.
Sesampainya di dalam, Arthur langsung disambut dengan pemandangan seperti diskotik, tetapi versi lebih tradisional. Melihat banyak orang yang minum dan menari, tidak banyak perubahan pada wajah pemuda itu. Dia hanya mengikuti wanita berbaju merah dengan tenang.
Setelah beberapa saat, Arthur tiba-tiba diam dan tidak bergerak. Hal tersebut tentu saja langsung membuat wanita berbaju merah bingung.
“Ada apa, Tampan?”
Arthur tidak menjawab ucapan wanita itu, tetapi malah melepaskan diri darinya lalu berjalan ke arah tertentu dengan ekspresi tenang. Pada saat itu, semua orang langsung melihat ke arahnya dengan ekspresi terkejut. Bukan hanya karena penampilannya, tetapi juga karena apa yang dia lakukan.
Arthur berhenti di depan sebuah kursi kulit besar dengan sosok wanita cantik yang duduk di sana. Wanita itu memakai pakaian hitam dengan motif bunga merah dan emas. Dia memiliki rambut hitam panjang bergelombang dan mata seperti lavender. Kulitnya putih agak pucat, dan sosoknya bisa dibilang begitu menggoda seperti iblis.
Wanita itu adalah sosok perempuan paling cantik dan mencolok dalam tempat ini, sekaligus pemilik tempat ini, Viona.
“Apakah ada yang bisa aku bantu, Adik Tampan?”
__ADS_1
“Apakah kamu yang melakukannya?” tanya Arthur.
Pertanyaan itu membuat banyak orang, bahkan Viona bingung. Dia jelas baru pertama kali bertemu dengan Arthur. Jika pernah bertemu sebelumnya, wanita itu sangat yakin bisa mengingat penampilan mencolok pemuda tersebut.
“Aku bisa membayarnya, jadi bisakah kamu melakukannya untukku?” Arthur memiringkan kepalanya.
Pertanyaan itu langsung membuat gempar. Orang-orang benar-benar tidak percaya apa yang mereka dengar. Lagipula, wanita itu adalah orang yang tidak berani disentuh oleh para pelanggan karena memiliki pendukung di belakangnya.
Selain itu, tidak seperti penampilannya yang mempesona dan membuat gerah, Viona sendiri juga terkenal kuat.
“Apa yang kamu maksud, Adik Tampan? Apakah kamu ingin kakak ini melayanimu? Kakak takut kamu tidak mampu membayarnya.”
“Aku akan membayarnya secara penuh. Tanpa sedikitpun kekurangan.”
Arthur membalas dengan santai. Namun di antara banyak pelanggan, ada beberapa yang merasa marah dan tidak terima sosok ‘dewi’ mereka dihina dengan cara seperti itu.
“BIARKAN AKU MENGAJARIMU TATA KRAMA, BOCAH!”
“UGH!”
Pria itu langsung jatuh berlutut di lantai. Pada saat itu juga, banyak orang menatap ke arah Arthur dengan ekspresi tidak percaya.
“Tampaknya kamu masih memiliki kemampuan, Adik Tampan.” Mata Viona menyempit.
Arthur tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung maju ke depan lalu memegang tangan Viona. Pemuda itu kemudian menarik tangan wanita tersebut lalu mengendusnya.
“Aku tidak salah. Tampaknya yang memasak daging asap sebelumnya adalah kamu. Aroma asap dan beberapa rempah ini tidak bisa berbohong.”
“...”
Banyak tanda tanya muncul di atas kepala semua orang. Viona sendiri juga tertegun. Pada awalnya wanita itu akan melawan, tetapi tidak menyangka kalau pemuda di depannya mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak dia harapkan.
__ADS_1
“Kamu ... menyuruhku memasak untukmu?” tanya Viona.
“Tenang saja, aku bisa membayarmu secara penuh.” Arthur berkata dengan nada serius.
Viona tertegun. Dia kemudian menutup mulutnya dan tertawa. Setelah beberapa saat, wanita itu kemudian berhenti tertawa lalu menatap ke arah Arthur dengan mata penuh perhatian.
“Kamu benar-benar menarik, Adik Tampan. Apakah kamu benar-benar tidak tertarik dengan Kakak Perempuan ini?” tanya Viona sambil membuat sedikit pose, menunjukkan beberapa lekukan indah tubuhnya.
Arthur masih menatap ke arah mata Viona dengan tenang. Merasakan tatapan pemuda itu, dia menjadi sedikit gugup. Jika menghadapi lelaki yang mudah tergoda, dia sama sekali tidak akan merasakan hal yang sama. Melihat pria lurus semacam itu benar-benar membuatnya merasakan sesuatu yang jauh berbeda.
“Baik, aku akan memasak untukmu.”
Pada akhirnya, Viona berkata dengan senyum lembut di wajahnya.
***
Keesokan harinya.
Viona menatap ke arah Arthur yang pergi meninggalkan tempat hiburan tersebut dengan ekspresi heran dan kagum. Selain memasak dan makan bersama, mereka sama sekali tidak menghabiskan malam untuk melakukan hal lain. Bahkan, pemuda itu malah memilih untuk menyewa kamar sendiri untuk tidur dan langsung pergi di pagi harinya.
“Benar-benar pemuda yang menarik,” ucap Viona dengan senyum di wajahnya.
Sementara itu, Arthur yang baru saja meringgalkan tempat itu merasa agak takjub. Apa yang dia makan sebelumnya terasa cukup luar biasa. Makanan di Sekte Pilar Surgawi memang enak, tetapi sedikit kurang unik.
Sedangkan yang dia makan kemarin adalah daging asap. Sepotong daging sapi yang dimasak dengan diasapi. Aromanya benar-benar sangat berbeda karena dibakar dengan jenis kayu khusus. Selain itu, cara memasak daging sampai medium sehingga masih juicy benar-benar memanjakan lidah.
Saat itu juga, Arthur menyadari kalau bukan hanya binatang buas atau monster, tetapi juga tanaman di tempat ini juga berbeda. Ada banyak tanaman unik yang cocok untuk dimasak. Entah kayunya untuk memanggang, buah untuk membuat jus atau kue, dan berbagai jenis bagian lain yang bisa dijadikan sup atau sayur.
“Tampaknya aku masih perlu banyak belajar.” Arthur mengelus dagunya. “Dibandingkan dunia sebelumnya, tempat ini memiliki lebih banyak jenis binatang dan juga tumbuhan. Sesuatu yang ajaib semacam ini ... bisa dibilang membawa kesenangan tersendiri.”
Memikirkan banyak bahan yang menantinya, pemuda itu tersenyum. Langsung pergi menuju ke arah pusat perdagangan. Tempat biasanya karavan mampir. Karena ... Arthur berencana untuk segera pergi ke ibukota untuk menyelesaikan tugasnya!
__ADS_1
>> Bersambung.