
Waktu kembali berlalu bersama embusan angin.
Tanpa terasa, dua bulan lebih berlalu. Musim semi hampir tiba, dan apa yang tertunda sebelumnya akan segera dilakukan.
Ya ... pertemuan antara para ketua divisi dari Garden of Death.
Sementara itu, di atas sungai yang dilapisi es tebal, Arthur duduk di kursi kayu sambil memegang pancing. Di depannya, ada es yang sudah dilubangi, digunakan sebagai tempat memancing.
Di sisi kirinya, ada meja kayu kecil di mana ada beberapa botol sake dan sedikit camilan. Namun, pemuda itu tampak tidak begitu peduli dengan sake, camilan, atau joran di tangannya. Dia malah menatap kosong dengan pikiran yang mengembara entah ke mana.
“Sudah aku duga kamu ada di sini, Bos!”
Mendengar suara itu, Arthur tersadar dari lamunannya. Pemuda itu kemudian menoleh, melihat ke arah Joe dan Lily yang menghampirinya.
Entah kenapa, saat itu dia memikirkan Pak Shigekuni yang melatihnya tahun lalu. Merendamnya dalam sungai dingin semalaman atau beberapa hukuman lain jika dia melakukan kesalahan.
Tanpa sadar, sudut bibir Arthur terangkat.
‘Musim dingin kali ini benar-benar damai.’
Saat itu, Arthur merasakan ikan menggigit umpannya. Dengan tarikan sederhana, seekor ikan sebesar paha pria dewasa langsung naik ke atas permukaan es. Melihat itu, pemuda tersebut bersiul.
Arthur dengan santai menepuk tubuh ikan penuh lemak itu sambil berkata pada Joe dan Lily.
“Ini akan menjadi makan malam kita.”
__ADS_1
***
Malam harinya.
“Sebenarnya ini enak, tapi ...”
Joe menghela napas panjang. Dia kemudian melirik Arthur yang tampak biasa saja, lalu ke arah Lily yang agak enggan makan.
“Sudah aku duga, Bos. Meski enak, tetapi makan ikan setiap hari membuat kami bosan!”
“Tutup mulutmu dan makan saja.”
Arthur berkata dengan nada tidak sabar. Pemuda itu kemudian menunjuk ke arah Joe dengan sumpitnya sambil mengoceh.
“Kamu seharusnya bersyukur bisa makan enak setiap hari. Satu set makanan lengkap di pagi, siang, dan sore hari.
Melihat Arthur mengoceh menyaingi emak-emak yang memarahi anaknya, Joe benar-benar bingung harus membalas bagaimana. Dia sebenarnya bersyukur bisa makan enak setiap hari. Hanya saja ...
“Aku hanya ingin merubah selera makan dengan menu selain ikan,” gumam Joe.
“Kalau begitu tangkap saja!” ucap Arthur dengan nada tak acuh sebelum lanjut makan.
“Tidak bisakah kita membeli bahan di pasar?”
“Musim dingin di sini menyebalkan. Bukan hanya ternak semakin sedikit dan jarang diperjual-belikan. Sekali dijual, harganya mahal!”
__ADS_1
“...”
Joe terdiam. Dia merasa, kata mahal sama sekali tidak cocok keluar dari mulut Arthur. Sebagai orang yang menyelesaikan misi menyelamatkan sebuah kerajaan, pemuda itu jelas mendapatkan banyak, banyak sekali upah belum termasuk hadiah dari pihak kerajaan.
Arthur bahkan bisa membeli sebuah rumah besar tiga lantai dengan halaman depan dan belakang luas di ibukota kerajaan lain yang lebih makmur lalu merenovasinya. Jadi, kata ayam, bebek, atau sapi ‘mahal’ sama sekali tidak cocok keluar dari mulut pemuda itu.
Daripada berkata kalau daging itu mahal, lebih tepat kalau berkata Arthur itu sangat pelit!
Pada saat itu, Arthur tiba-tiba berhenti makan. Pemuda itu kemudian bergumam.
“Memang, meski diolah berbeda-beda setiap hari, tetapi itu masih ikan. Diulang-ulang setiap minggunya. Memang, rasanya agak membosankan.
Omong-omong, itu membuatku berpikir. Sepertinya enak jika makan daging rusa atau beruang.”
Arthur kemudian menoleh ke arah Joe.
“Joe! Besok tangkaplah seekor rusa atau beruang. Kalau bisa beruang. Sepertinya ada di hutan utara kota.”
“...”
Mendengar perintah itu, sudut bibir Joe berkedut. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Menatap ke arah Arthur, pria itu mengangguk.
Saat itu juga, dia juga sudah memastikan kalau dugaannya benar.
Bosnya, ketua divisi 10 dari Garden of Death ...
__ADS_1
Adalah orang yang keras kepala, pelit, dan seenaknya!