Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Janji dan Akhir Misi


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu, dua sosok langsung jatuh dengan keras di tempat beberapa domba gunung berlarian.


BLARRR!!!


Sementara Arthur mendarat dengan baik, Frost Wyvern menabrak tanah dengan keras. Makhluk itu sudah sangat lemah. Pedang panas masih menancap di mata makhluk itu, mulai membakar otaknya. Namun, makhluk itu sama sekali tidak berniat untuk menyerah.


“Luka bagian otak. Tubuh dipenuhi luka akibat dibombardir serangan ketika tidak melapisi tubuh dengan energi qi. Kamu sudah tidak bisa terselamatkan. Biarkan aku mengirimmu pergi dengan cepat.”


Meski tidak begitu cerdas, makhluk itu tampaknya masih mengerti beberapa kalimat manusia. Frost Wyvern tersebut kemudian membuat geraman rendah. Di satu mata yang masih utuh, Arthur bisa melihat tekad.


Tekad kalau dirinya pasti akan kembali ke rumah!


“Menyerah saja. Kamu tidak bisa melakukannya.”


Mengatakan itu, Arthur langsung mengeluarkan pedang lain. Setelah itu, pemandangan tragis dimana Frost Wyver sekarat terus diserang oleh teknik pedang Black Imoogi tampak di puncak Frostpeak Mountain. Meski makhluk itu tahu tidak akan menang, tetapi tetap saja tidak ingin menyerah.


Tekadnya untuk tetap hidup benar-benar sangat kuat.


Saat napasnya hampir habis dan tubuhnya roboh, Frost Wyvern mencoba bangkit. Saat itu juga, ucapan Arthur terdengar di telinganya.


“Apakah kamu memiliki keturunan? Jika benar, maka aku akan menjaganya dengan baik.


Jangan salahkan aku melakukan ini, dan aku tidak merasa iba. Kamu menyerang manusia, dan kami menyerangmu. Tidak ada yang benar atau salah dari apa yang terjadi. Bagi kami, kamu adalah makhluk berbahaya. Bagimu, kami adalah penjahat yang datang untuk membunuhmu lalu merampas anakmu. Begitulah adanya.


Meski demikian, aku bisa meyakinkanmu. Selama di bawahku, keturunanmu pasti tumbuh dengan baik. Bahkan jika berada di bawah orang lain, aku juga akan memastikan orang itu memperlakukannya dengan baik.


Itu saja. Kamu-“


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Arthur melihat Frost Wyvern akhirnya mengembuskan napas terakhir. Pemuda itu kemudian menggeleng ringan. Dia memilih untuk menyimpan tubuh Frost Wyvern.


Pemuda itu kemudian melayang perlahan. Pergi untuk menemui orang-orang yang mungkin mengkhawatirkannya.


***


Hampir satu jam kemudian.


Melihat sosok Arthur yang akhirnya muncul. Semua orang langsung bersorak dengan ekspresi penuh kemenangan. Mereka bukan hanya merayakan kemenangan, tetapi juga sangat bahagia karena pemuda itu berhasil kembali hidup-hidup. Khususnya Lily dan Jotaro, mereka tampaknya sangat bahagia ketika melihat Arthur yang masih hidup.


Sedangkan luka yang diderita Arthur, mereka tahu kalau hal semacam itu sama sekali tidak bisa dihindari. Meski tampak cukup parah, tetapi luka itu pasti bisa segera sembuh tidak begitu lama. Saat itu, pemuda tersebut berjalan mendekat sambil berkata.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita langsung melihat jarahannya?”


Mendengar itu, mereka semua langsung tertawa terbahak-bahak. Mereka akhirnya bergegas memasuki gua dengan penuh semangat. Lagipula, apa yang mereka harapkan sudah di depan mata.


Sampai di sarang Frost Wyvern, semua orang langsung menjadi bersemangat ketika melihat tumpukan berbagai benda, entah itu emas, perak, dan perhiasan berharga. Saat itu, Arthur berjalan mencari sesuatu. Daiki merasa bingung, tetapi langsung mengikuti pemuda itu.


Saat itu juga, ekspresi mereka berdua penuh dengan kejutan.


“Aku benar-benar tidak menyangka kalau makhluk itu tinggal di sini untuk bertelur.”


Daiki berkata dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya. Hanya saja, ekspresinya menjadi buruk ketika melihat tiga telur Frost Wyvern. Jika Arthur ingin mendapatkan lebih karena berperan besar dalam penaklukkan Frost Wyvern, dia benar-benar tidak bisa menolaknya atau hubungan mereka akan menjadi canggung.


“Ada tiga telur. Jadi kita harus memutuskan cara membaginya.”


Mendengar suara datar Arthur, Daiki merasa agak enggan. Namun pada akhirnya dia memilih untuk mengangguk.


“Ada dua cara untuk membaginya, Senior Daiki. Pertama, masing-masing dari kita mengambil satu, lalu melelang sisanya. Uang hasil lelang akan kita bagi menjadi dua.


Sedangkan usulan terakhir, salah satu dari kita memilih. Dua telur atau satu telur ditambah tubuh Frost Wyvern. Itu cocok, bukan? Meski tubuh Frost Wyvern berharga, tetapi harganya tidak setinggi telur yang bisa ditetaskan lalu dijinakkan. Belum lagi, tubuh Frost Wyvern juga dipenuhi luka.”


“Kamu memang benar, Arthur. Hanya saja, menjualnya terlalu sia-sia, jadi kita akan menggunakan cara ke dua. Masalahnya-“


“Arthur ... kamu ...”


Daiki merasa terharu. Melihat ke arah Arthur, dia ingin menyerahkan sesuatu yang lebih berharga. Namun, pada akhirnya pria itu tidak bisa melakukannya dan berkata.


“Aku memilih dua telur. Apakah tidak apa-apa?”


“Tentu saja tidak apa-apa. Namun sebagai gantinya, aku boleh mengambil telur terlebih dahulu, kan?”


“Eh? Tentu.”


Mendengar ucapan Daiki, Arthur langsung maju ke sarang lalu mengambil satu telur. Ukurannya sedikit lebih kecil dibandingkan dengan dua lainnya. Jika diperhatikan, itu seharusnya memiliki kualitas agak buruk karena kurang nutrisi. Hanya saja, ucapan Arthur membuat Daiki kehilangan kata-kata.


“Tidak terlalu besar atau kecil. Mudah dibawa. Ya ... ini lebih cocok untukku.”


Melihat bagaimana Arthur membawa telur Frost Wyvern dengan cara sembarangan, banyak orang menghirup napas dingin. Lagipula, telur itu sangat berharga. Jika sampai jatuh dan pecah, itu pasti akan menjadi penyesalan seumur hidup.


“Apakah kamu yakin itu baik-baik saja, Arthur? Meski ketiganya memiliki kemungkinan hidup tinggi, tetapi itu bisa saja gagal menetas. Aku benar-benar tidak nyaman. Jika kamu ingin, aku bisa-“

__ADS_1


“Jika tidak menentas, maka aku akan menjadikannya nasi goreng telur dengan potongan berbagai daging tingkat tinggi. Pasti sangat luar biasa.”


Mendengar itu, semua orang tercengang. Sedangkan Daiki sendiri merasa lebih terharu karena tampaknya pemuda tersebut sangat peduli padahnya. Padahal, semuanya tidak seperti itu.


Pertama, apa yang Arthur pilih adalah telur Frost Wyvern bermutasi. Sisiknya tidak berwarna kelabu seperti Frost Wyvern normal, tetapi biru seperti safir. Makhluk itu sangat langka dan lebih kuat. Sepuluh wyvern biasa tidak cukup menggantikannya. Itulah kenapa pemuda tersebut memilihnya.


Kemudian, alasan kenapa dia datang pertama kali jelas daging Frost Wyvern untuk mengisi kulkas dengan bahan kualitas super. Kemudian, sisa bagian tubuh Frost Wyvern sangat berguna bagi Gluttony. Hal tersebut juga sangat menguntungkannya.


Jadi, meski tampak baik, sebenarnya Arthur menggali keuntungan lebih banyak untuk dirinya sendiri. Hanya saja, Daiki salah sangka sehingga menjadi lebih menghormati dan menghargai Arthur.


Saat itu, suara pemuda itu kembali terdengar.


“Aku tahu kalau kamu menyukainya, Senior Daiki. Namun aku harus mengingatkan. Kamu harus merawat keduanya dengan baik. Aku sudah berkata pada induk Frost Wyvern sebelum kematiannya.


Jika kamu sampai melakukan beberapa tindakan konyol, aku tidak akan segan melawan Divisi 9 untuk merebutnya. Meski kita menjadi teman, bahkan seperti saudara, aku tidak akan dengan mudah mengingkari kata-kataku. Jadi tolong ingat itu.”


“Tenang saja! Aku akan merawat mereka seperti anakku sendiri!”


“...”


Arthur memutar matanya. Dia merasa kalau orang itu agak gila. Menggelengkan kepalanya, pemuda itu kemudian meminta untuk memulai membagi rampasan. Sesuai dengan perjanjian, dia mendapatkan 30% yang sudah sangat banyak. Selain itu, sebagai bonus, dia mendapatkan sebuat buku teknik kultivasi yang cukup tua.


Karena tampaknya cocok untuk Jotaro, Arthur memberikannya kepada pemuda itu.


Hal tersebut membuat Jotaro merasa sangat bahagia. Sementara itu, tatapan Lily terus mengarah ke telur di tangan Arthur.


Arthur menghampiri gadis kecil itu, lalu memberikan telur Frost Wyvern sambil berkata.


“Kamu boleh membawanya, tapi harus berhati-hati. Itu tetap milikku, karena aku yakin kamu tidak tahu apa-apa soal perawatan. Namun, kamu juga boleh bermain dengannya jika sudah menetas.


Apakah ada keberatan, Lily?”


Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya. Dia menatap telur bukan karena menginginkannya. Hanya saja, sebagai gadis kecil, Lily merasa pernasaran.


“Permukaannya halus dan dingin, Arthur.”


Berkata dengan nada polos, Lily menggosokkan pipinya ke telur itu sambil menikmati sensasi dingin pada telur. Melihat itu, Arthur menggelengkan kepalanya. Orang-orang juga hanya bisa menghela napas. Bagi mereka, sama dengan ketuanya, gadis kecil itu sama sekali tidak bisa menghargai telur berharga semacam itu.


Dengan begitu, perjalanan mereka untuk menaklukkan Frost Wyvern pun akhirnya selesai.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2