
Tanpa terasa, beberapa hari berlalu begitu saja.
“Hari ini adalah hari terakhir praktikum. Sungguh melegakan.”
Di kantin, Ono berkata dengan ekspresi lega. DI sampingnya, Satoru mengangguk ringan. Tampaknya setuju dengan apa yang Ono katakan.
“Selain itu, jika dipikir-pikir, makanan di tempat ini lebih segar karena kebanyakan bahan diambil dari pertanian sekolah. Rasanya cukup berbeda dengan bahan-bahan yang dikemas dan dibeli di super market.”
Melihat sarapan di depannya, Satoru tampak cukup puas. Meski masih ada sedikit penolakan pada ‘telur segar’, tetapi dia mengakui kalau bahan lain memang lebih baik.
“Kamu benar, Satoru-san. Bahan-bahan di sini lebih segar dan nikmat ketika disantap!” balas Ono.
Mereka berdua pun menyantap sarapan mereka dengan lahap. Namun, beberapa saat kemudian ekspresi mereka langsung berubah.
‘Sial! Ternyata satu-satunya yang kunantikan hanya makannya!’
Satoru dan Ono memukul paha mereka dengan ekspresi tertekan. Bukan hanya terombang-ambing karena tidak terbiasa dengan kehidupan peternak, mereka berdua menyadari kalau apa yang dinantikan dari hari melelahkan dan membosankan hanyalah makanannya.
“Tampaknya kalian mulai terbiasa dengan kehidupan di sini, Sobatku!” ucap Takeo dengan seringai di wajahnya.
“Ugh!” Ono tampak begitu tertekan.
“...”
Satoru menutupi wajahnya dengan tangan tanpa mengucapkan sepatah kata. Dia bahkan tidak tahu harus membalas bagaimana. Rasanya pemuda itu telah membuang waktunya dengan begitu sia-sia.
Selesai sarapan, mereka kembali untuk bersiap. Dalam perjalanan, Manabu menoleh ke arah kedua teman sekamarnya lalu bertanya dengan nada khawatir.
“Apakah kalian sudah menemukan klub yang cocok? Ini sudah hari terakhir dan besok seluruh siswa harus mulai mengikutinya loh.”
“Benar-benar belum.” Satoru sekali lagi menghela napas panjang.
“Apakah tidak ada kegiatan yang membuatmu tertarik?” tanya Manabu.
“Ada. Hanya saja, aku masih sedikit ragu.”
Mendengar jawaban Satoru, tiga orang lainnya tampak penasaran. Mereka jelas ingin tahu apa yang akan dipilih oleh pemuda itu. Namun mereka tidak bertanya karena Satoru tidak membahasnya.
***
Siang harinya.
Menyerahkan formulir pendaftaran yang telah diisi, Ono terkejut ketika melihat pilihan Satoru.
“Kamu juga ingin bergabung dengan klub berkuda, Satoru-san?”
“Ya. Meski ingin ikut klub pengolahan pangan, tetapi aku masih memilih klub berkuda karena tidak ada hal semacam itu di Tokyo. Mungkin ada dan aku tidak mengetahuinya. Yang jelas, aku hanya ingin mencoba.”
“Jadi begitu,” gumam Ono.
“Ya.”
__ADS_1
Satoru mengangguk, sama sekali tidak melihat perubahan ekspresi di wajah Ono.
Setelah itu, mereka pun kembali ke kelas. Usai menyelesaikan pelajaran umum, mereka berganti pakaian lalu pergi ke kandang ayam.
Berbeda dari biasanya, hari ini mereka cukup bersemangat karena ini adalah hari terakhir dan besok mereka akan pergi untuk mempelajari hal lain.
“Meski melelahkan, karena ini hari terakhir. Aku harap kalian masih semangat!”
Pak Torikawa berkata dengan senyum ramah di wajahnya. Selama satu minggu ini, dia merasa cukup terbantu karena kelompok A melakukan tugas dengan baik. Sebagai seorang guru, tentu saja dia merasa puas karena memiliki murid seperti itu.
“Ya!” jawab mereka berlima serempak.
“Bagus!” Pak Torikawa mengangguk puas.
Setelah itu, mereka pun memulai pekerjaan mereka. Mengambil telur, mengumpulkan, membersihkan, menata sesuai dengan warna dan ukuran. Baru kemudian mereka menyimpannya ke tempat penyimpanan.
Mendapatkan tugas untuk menggosok (membersihkan) telur, Satoru melakukannya dengan santai. Lagipula, mereka melakukan pekerjaan yang sama di pagi hari. Jadi sekarang pekerjaan tidak menumpuk.
“Satoru-kun, kamu memilih ikut klub apa?” tanya Chiaki.
“Klub berkuda.”
“EH? Kamu tidak masuk klub pengolahan?” Chiaki tampak terkejut.
“Aku memang cukup tertarik, tetapi tidak melakukannya. Menurutku klb berkuda lebih menarik. Kenapa kamu pikir aku akan bergabung klub itu?”
“Aku dengar Yui-senpai ada di klub itu.”
Mendengar ucapan Chiaki, gerakan Satoru terhenti. Pemuda itu kemudian menatap gadis yang tersenyum ramah ke arahnya.
Saat itu, suara Daiki terdengar. Berbeda dengan anggota lainnya, pemuda itu biasanya pendiam jadi mereka merasa ada jarak yang sulit dilewati.
“Kamu juga mengenal Yui-senpai?” tanya Satoru heran.
“Tentu saja aku mengenalnya karena aku tinggal di rumah yang sama dengan gadis bodoh itu.”
“...”
Saat itu, telur di tangan Satoru langsung tergelincir. Belum sampai jatuh ke tanah, dia langsung menyambarnya.
Setelah itu, Satoru menatap ke arah Daiki dengan ekspresi heran dan tidak percaya. Entah kenapa, berita itu seperti sambaran petir di hari yang cerah. Benar-benar mencengangkan sampai Chiaki yang pandai bergosip juga tidak mengetahui berita itu.
“Kenapa kalian tampak seperti orang bodoh? Aku tinggal di rumah yang sama karena dia adalah sepupuku. Apakah kalian tidak berpikir kalau mungkin saja aku adalah adiknya?”
‘Tidak, tidak, tidak! Penampilanmu sama sekali tidak mirip dengan gadis pendek dan imut itu!’
Satoru langsung mengeluh dalam hatinya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Daiki yang begitu pendiam ternyata memiliki hubungan dengan Yui.
Sama seperti ketika Satoru mendapatkan informasi penting tentang Daiki sebelumnya.
Berbeda dengan penampilannya yang pendiam dan tampak serius, sebenarnya Daiki tidak pintar. Lebih tepatnya, dia adalah monster otot yang menakjubkan tetapi memiliki otak agak kecil. Melihat hasil ulangan pemuda itu membuat Satoru kehilangan kata-kata.
__ADS_1
Bahkan hampir menyaingi kebodohan Jiro!
“Kamu adalah sepupu Yui-senpai? Itu benar-benar berita mengejutkan.”
“Apakah ada yang aneh?” Daiki menoleh sambil mengangkat alisnya.
“Sama sekali tidak.” Satoru menggelengkan kepalanya. “Kamu juga ikut klub pengolahan? Ilmu bahan pangan?”
“Tidak. Kenapa aku harus ikut klub seperti itu?”
Mendengar jawaban Daiki, Satoru merasa lega. Jika memang memilih klub itu, dia malah akan mempertanyakan apakah pandangannya terhadap dunia selama ini telah salah.
“Aku ikut klub baseball. Sudah memulainya sejak liburan musim semi.”
“Hah? Jadi kamu langsung ikut latihan setelah mendapatkan surat penerimaan?” tanya Satoru dengan ekspresi terkejut.
“Iya.”
“Sepertinya kamu sangat menyukai baseball.”
“Ya.”
Daiki mengangguk. Namun pupilnya mengecil dan wajahnya menjadi serius.
Melihat reaksi itu, Satoru tahu alasan kenapa Daiki bermain baseball bukan hanya hobi. Walau tidak tahu apa, dia yakin pemuda itu memiliki alasan lain di baliknya.
Hanya saja, mereka tidak terlalu kenal dan Satoru juga tidak ingin terlalu mencampuri urusan orang lain. Jadi, akhirnya pemuda itu hanya diam.
“Jika kamu bergabung dengan klub berkuda dan mengenal Yui, seharusnya kamu juga mengenal Natsumi?”
“Ya. Sama seperti Yui-senpai, aku hanya bertemu dengannya beberapa kali. Apakah dia tetanggamu?”
“Kami memang berasal dari desa yang sama. Terlebih lagi ...”
Daiki tidak melanjutkan. Namun saat Satoru melihat ekspresi gelap pemuda itu, tampaknya hubungannya dengan Natsumi tidak baik. Tidak ingin menabur luka dengan garam atau merobek luka lama, Satoru kembali diam.
Sementara itu, Chiaki yang melihat Satoru dan Daiki tampaknya terpana. Beberapa saat kemudian, mata gadis itu mulai berbinar.
Sebagai gadis yang mudah berbaur dan memiliki banyak informasi tentang orang-orang di sekitarnya sekaligus gadis yang suka bergosip, Chiaki tampaknya menemukan sesuatu yang baru.
Cinta segitiga, teman masa kecil, hubungan masa kini dan masa lalu ...
Berbagai cerita penuh drama langsung muncul dalam kepala gadis itu.
Setelah menyelesaikan praktik, Satoru dan keempat rekannya memberi hormat pada Pak Torikawa.
“Terima kasih banyak atas pelajarannya,” ucap mereka serempak.
“Hahaha! Santai saja. Selain itu, meski sesi ini telah berakhir, bukan berarti kita tidak akan bertemu lagi. Sampai jumpa pada periode berikutnya.”
“Ya!”
__ADS_1
Setelah itu mereka bubar. Tidak kembali ke asrama seperti biasa, mereka belima berpencar. Pergi ke klub mereka masing-masing.
>> Bersambung.