Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Aku Tarik Kembali Ucapanku


__ADS_3

"J-Jadi bagaimana?"


Reyna tampak gugup. Dia telah menghabiskan banyak poin untuk menukar resep yang bahkan dirinya tidak bisa gunakan. Harganya juga terlalu mahal, jadi gadis itu tidak ingin membuangnya begitu saja.


Walau sedikit, dia harus mengurangi kerugian!


"Resep-resep itu ... bukan hanya resep minuman biasa, kan?"


"Tentu saja tidak. Anggur buah empat musim memiliki efek baik dalam hal kultivasi. Selain itu, teh seratus bunga juga memiliki efek yang menenangkan. Dikatakan bisa membantu seseorang dalam melakukan pencerahan."


"Oh?"


Dua efek tersebut jelas sangat baik. Membuat kultivator berkultivasi lebih cepat dan membantu menenangkan diri ketika mendapatkan halangan, bisa dibilang membuat otak lebih tenang dan fokus dalam memecahkan masalah. Hal tersebut memang luar biasa.


Arthur menatap ke arah Reyna lalu bertanya, "Lalu kenapa kamu tidak melakukannya sendiri?"


Mendengar ucapan Arthur, Reyna langsung tampak tertekan. Dia menoleh ke samping sambil bergumam.


"Bukannya aku tidak mau. Aku tidak bisa melakukannya. Untuk membuat anggur atau teh, membutuhkan keahlian dalam memurnikan obat tingkat tinggi.


Daripada membuat anggur atau teh, pada alkemis tingkat tinggi jelas memilih untuk membuat pil yang lebih menguntungkan."


"Katakan, bantuan apa yang kamu perlukan? Jika terlalu sulit, aku mungkin tidak bisa membantu. Lagipula, aku hanya seorang koki." Arthur menghela napas panjang.


"Tolong bantu aku memecahkan masalah di Desa Batu Putih!" ucap Reyna sambil menatap mata Arthur dengan tegas.


"Desa Batu Putih?"


Arthur memiringkan kepalanya. Dari ekspresinya, pemuda itu jelas belum mendengarnya. Meski tampak sembrono, dia jelas telah mencari informasi tentang beberapa kota, desa, dan beberapa tempat penting di kerajaan sekitar. Namun nama Desa Batu Putih jelas tidak pernah dia baca atau dengar.


"Desa Batu Putih adalah sebuah desa kecil yang terletak di perbatasan. Meski dibilang perbatasan dua kerajaan, letaknya sendiri ada di dekat hutan. Tempat itu memang tidak terkenal, jadi wajar jika kamu belum mendengarnya."


"Tampaknya kamu cukup akrab dengan tempat tersebut. Bukankah informasinya minim? Bagaimana kamu bisa mengetahuinya? Apakah kamu ingin mencari harta atau sesuatu yang tersembunyi di sana?"


"Alasannya ... Aku tidak bisa mengatakannya."


"Lalu aku tidak bisa membantumu," ucap Arthur santai.


"..." Reyna menatap Arthur dengan ekspresi tidak percaya.

__ADS_1


"Kamu bahkan menyembunyikan tujuanmu. Kemungkinan kamu menyembunyikan informasi penting juga besar. Tidak diketahui, berarti lebih berbahaya.


Aku tidak berniat membuang nyawa hanya untuk dua resep belaka."


"Aku tidak akan menyembunyikan informasi penting!"


"Katakan saja tujuanmu, Gadis Kecil. Jangan buang-buang waktu di sini! Berhentilah menundaku. Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi. Pergilah!"


Setelah mengatakan itu, Arthur berbalik. Dia berjalan menjauh tanpa menoleh ke belakang.


Reyna tertegun sejenak. Menggigit bibir bawahnya, dia langsung berjalan menyusul Arthur. Dia mengikutinya dari belakang, ingin mengatakan sesuatu tetapi selalu terhenti karena keraguan.


Melihat ke arah Arthur yang berjalan dengan ekspresi bosan dan terkadang menguap, Reyna merasa semakin rumit.


"Di Desa Batu Putih, ada iblis yang memakan para gadis. Jumlahnya tidak begitu menentu. Namun, menurut informasi, jumlahnya semakin lama menjadi semakin banyak."


"..."


Reyna melirik ke arah Arthur. Melihat bagaimana pemuda itu diam saja, dia menjadi lebih bingung.


"Aku ... Aku tidak ingin menyelamatkan mereka hanya karena aku dianggap sebagai pahlawan. Aku lebih egois.


Kamu tahu? Orang-orang di Dojo Ular tidak begitu dekat denganku. Bisa dibilang, mereka semua tidak dekat satu sama lain. Situasinya lebih dingin daripada 11 tempat lain.


Aku mendapatkan seorang teman. Dia bukan murid senior atau murid inti. Gadis itu hanya murid pintu luar yang rendah hati. Dia tidak begitu berbakat, tetapi gadis itu sangat baik.


Namanya Nana. Dia gadis yang baik, lembut, dan sangat sopan.


Nana berasal dari Desa Batu Putih, itulah kenapa aku pergi ke sana. Sebenarnya Nana tidak pernah menyuruhku pergi ke sana. Aku hanya bertanya dan dia menceritakan kampung halamannya. Termasuk adiknya yang mungkin akan dikorbankan.


Kamu mungkin berpikir aku naif dan tanpa sengaja dimanfaatkan oleh gadis itu hanya untuk dimintai pertolongan. Namun aku tidak merasa demikian.


Aku yang berinisiatif untuk pergi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan gadis itu.


Master berkata kalau aku memiliki bakat yang baik. Hanya saja, aku sendiri mengerti bahwa aku hanyalah gadis pengecut. Oleh karena itu, aku bergantung kepada orang lain.


Aku hanya ingin menolong temanku. Setelah itu, aku juga tidak tahu akan pergi ke mana.


Aku benar-benar menyedihkan, bukan? Sama sekali tidak pantas untuk menjadi pahlawan, apalagi— aduh!"

__ADS_1


Reyna terkejut ketika menabrak Arthur. Melihat ke arah pemuda yang berhenti secara tiba-tiba, dia tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya. Namun setelah beberapa saat, gadis itu menjadi lebih tenang.


"Berikan resepnya." Arthur berkata dengan nada malas.


"Eh? Kamu ... benar-benar mau membantuku?" Reyna menatap ke arah Arthur dengan ekspresi terkejut.


"Berikan saja! Lagipula, tempat itu dekat dengan hutan dan pegunungan, kan? Mungkin aku bisa berburu sesuatu di sana."


Arthur berkata dengan ekspresi tidak sabar.


Reyna buru-buru mengeluarkan dua buku tipis lalu menyerahkannya kepada Arthur. Dia tidak curiga kalau pemuda itu berbohong atau semacamnya. Entah karena gadis tersebut bisa membedakan orang, atau memang dia begitu naif.


Menerima dua buku, Arthur menatap ke arah Reyna dengan ekspresi agak bingung. Pada awalnya, dia berpikir kalau gadis itu sosok putri es yang dingin atau semacamnya. Namun siapa sangka, ternyata gadis yang tampak dingin itu ternyata begitu pemalu dan naif.


'Ya ... manusia memang tidak bisa dilihat dari luarnya saja.'


Arthur menghela napas panjang. Dia membuka buku resep Teh Seratus Bunga terlebih dahulu. Alasannya sederhana, bukunya lebih tebal.


Pemuda itu membaca sekilas bahan-bahannya. Setelah itu, dia tidak bisa tidak mengerutkan keningnya.


'Lebih dari 90 bahan bukanlah tanaman ajaib yang langka, bahkan dianggap sebagai bahan kelas rendah. Masalahnya ...'


Arthur menggelengkan kepalanya. Meski bahannya tidak begitu berharga, tetapi jumlahnya banyak. Selain itu, bunga-bunga tersebut harus fresh. Itu tidak masalah bagi Arthur yang memiliki ruang penyimpanan dari Yin-Yang Koi. Namun hal tersebut cukup merepotkan bagi orang lain. Itulah kenapa teh ini sekarang sudah tidak diproduksi.


Selain kesulitan menjaga bahan, bunga-bunga tersebut harus diproses secara manual. Caranya mirip mengolah daun teh secara tradisional. Yang membuatnya lebih menarik, 100 bunga tersebut harus diolah bergiliran karena harus diproses dalam suhu yang berbeda.


Membaca resep itu, Arthur tersenyum. Dia tidak menyangka langsung menemukan sesuatu yang menarik minatnya.


Setelah menyimpan dua buku dalam cincin dimensi, Arthur menatap Reyna lalu berkata.


"Aku tarik kembali ucapanku. Tugas ini ..."


Arthur menyeringai.


"Aku akan menerimanya."


^^^>> Bersambung.^^^


---

__ADS_1


Bantu Author Kei dengan vote, like, dan komentar. Kalian juga bisa memberikan gift agar author lebih semangat.


Terima kasih!


__ADS_2