Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Ketua Divisi 10


__ADS_3

Arthur memegang sebuah lencana dari bahan tidak diketahui dengan ukiran indah, gambar bunga teratai di tengah dan empat binatang suci di empat sisi. Genbu di atas, Suzaku di bawah, Byakko di kiri, dan Seiryuu di kanan. Tepat di bagian tengah bunga teratai, ada tulisan ‘X’ yang tidak mencolok.


Pemuda itu kemudian meneteskan darahnya ke lencana tersebut. Saat itu, lencana tersebut memancarkan cahaya redup sejenak, lalu kembali normal.


“Jadi ... hanya seperti ini?”


Arthur menatap ke arah Arima dan Tsubaki dengan ekspresi curiga. Pandangannya kemudian beralih ke Chikuwa dalam bentuk akita inu gemuk. Melihat penampilan binatang konyol dan tidak berbahaya tersebut membuatnya tidak bisa tidak mengeluh dalam hati.


‘Apakah makhluk ini suka berpura-pura agar bisa menggertak lawannya? Benar-benar kejam!’


Mengabaikan Arthur yang begitu penasaran dengan Chikuwa, Arima melirik ke arah Tsubaki. Menyuruh gadis itu untuk menjelaskan.


“Tolong jangan meremehkan lencana itu. Meski syarat untuk digunakan mudah, tetapi itu sangat berharga dan hanya dimiliki oleh para ketua divisi.


Lencana itu sendiri memiliki berbagai efek. Selama kamu mengisi energi, dapat digunakan untuk menahan tujuh serangan kultivator di puncak level emas. Energi bisa diisi ulang, bukan alat sekali pakai. Selain itu, lencana tersebut bisa membantu dalam kultivasi, digunakan untuk sarana komunikasi antar ketua divisi, sarana untuk menyampaikan tugas, dan banyak fungsi lainnya.”


Mendengar itu, Arthur merasa kalau lencana di tangannya menjadi lebih berat. Caranya memandang lencana tersebut juga berubah. Dia benar-benar tidak menyangka kalau benda kecil itu bisa begitu berharga. Itu berarti, lencana di tangannya ... mahal.


“Jangan berpikiran untuk menjualnya.”


Mendengar peringatan itu, sudut bibir Arthur berkedut.


“Aku tahu!”


Arthur menjawab dengan nada tidak puas. Dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menjualnya. Ya, kecuali ketika bangkrut, dia tidak berencana menjualnya. Ya ... Pemikirkan untuk menjadikan lencana ini tabungan darurat memang terlintas dalam pikiran pemuda itu.


“Omong-omong, kenapa kalian masih di sini?”


Arthur melihat ke arah Arima, Tsubaki, dan Chikuwa yang ikut mengelilingi api unggun sambil menunggu hidangan yang dia masak matang. Lagipula, rebusan sebelumnya benar-benar tidak bisa dimakan karena tumpah, terkena debu, pasir, dan tanah. Jadi pada akhirnya dia sekali lagi memasak.


Jotaro sendiri sedang beristirahat karena terluka akibat pemukulan Chikuwa. Tentu saja, dia juga telah dirawat dengan obat yang diberikan Tsubaki. Bahkan Arthur meminta uang kepada Arima dengan dalih kompensasi.


Hanya Nanami dan ibunya yang terus diam, tidak berani berbicara karena takut kemarahan Arima serta rekannya. Tampaknya mereka masih cukup terkenal.


“Hey, bukankah itu tidak apa-apa untuk ikut makan malam? Kami telah membayar kompensasi. Selain itu, kami telah kerepotan mencarimu. Tidakkah makan bersama dengan senior bisa membuat hubungan lebih baik?”


Arima berkata dengan nada santai. Sama sekali tidak peduli dengan ekspresi Arthur. Tampaknya semua penolakan pemuda itu dianggap tidak valid.


“Jadi, apa yang harus aku lakukan? Apakah ada beberapa tips bagiku? Selain itu, kapan bawahanku akan datang?”


“Bawahan apa?” tanya Arima.


“Bukankah sebagai ketua divisi 10, markas pusat akan mengirimkan orang yang akan bertugas di bawahku. Beberapa anggota starter atau semacamnya.”

__ADS_1


“Tidak ada hal semacam itu.”


“Maksudmu?”


“Seluruh anggota, kamu harus mencarinya sendiri. Tidak ada markas cabang atau semacamnya. Jika kamu ingin tempat tinggal, bawahan, dan segala sesuatu lainnya ... kamu sendiri yang harus mendapatkannya.”


Arthur tertegun sejenak. Dia kemudian bertanya, “Bagaimana dengan gaji bulanan?”


“Tidak ada. Kamu hanya dibayar ketika kamu bekerja. Itu berarti, semakin banyak pekerjaan yang kamu selesaikan, semakin banyak pula hasil yang kamu dapatkan. Selain itu, uang serta hadiah lain akan dikumpulkan lalu dibayarkan per tahun ketika semua divisi melakukan pertemuan.


Meski begitu, kamu bisa tenang karena pemimpin tidak akan mengambil satu sen pun dari hakmu.”


“...”


Arthur benar-benar terdiam. Meski dia juga yakin kalau pendapatan per misi pasti tinggi, tetapi semuanya benar-benar kacau ketika mendengar kalau pendapatan hanya bisa diambil satu tahun sekali. Meski menabung itu baik, dipaksa menabung 100% gaji selama satu tahun itu sudah terlalu berlebihan!


“Lalu bagaimana dengan biaya transportasi atau semacamnya?”


“Tidak ada. Bukankah kamu bisa terbang? Kenapa repot-repot?”


“Lalu apa yang harus aku makan jika tidak ada uang?”


“Kamu selalu mendapatkan uang tambahan dari penduduk daerah yang kamu selamatkan. Selain itu, mereka juga akan memberikan perjamuan. Bisa makan enak.


“...”


Mendengar ucapan Arima, Arthur merasa kelompok dia bergabung tenyata agak keterlaluan. Rasanya seperti mengumpulkan beberapa orang kuat, menyatukan mereka di satu tempat, lalu memberi mereka misi dan informasi. Sisanya, biarkan semua orang berperilaku mandiri.


Rasanya ... judul ketua divisi itu benar-benar hanya title kosong!


‘Yang terjadi maka terjadilah.’


Tidak mau repot-repot memikirkannya, Arthur memutuskan tidak lagi membahas hal tersebut. Meski begitu, banyak hal yang ingin dia bicaakan dengan Arima perihal kelompok dia tergabung.


Tanpa terasa, waktu mengalir begitu saja. Dalam waktu ini, banyak hal yang Arthur pelajari.


Kelompok dimana dia tergabung disebut Garden of Death. Mereka adalah sekumpulan kultivator elit yang berspesialis dalam memburu dan memusnahkan monsterl, roh jahat, iblis, serta makhluk-makhluk jahat lain. Namun berbeda dengan sekte yang memiliki wilayah kekuasaan sendiri, selain markas pusat, mereka semua bebas.


Meski begitu, kelompok tersebut berburu bukan untuk melayani masyarakat atau dunia. Anggota kelompok juga tidak melayani kelompok tersebut. Sebaliknya, mereka berburu untuk mereka sendiri.


Hasil tangkapan, pemberian warga, bayaran tugas, dan beberapa hal mereka ambil untuk memperkuat diri mereka sendiri.


Inti kelompok adalah sang pemimpin utama dan sepuluh ketua divisi. Wakil divisi bahkan dianggap tidak begitu penting. Sedangkan anggota divisi, pemimpin tidak begitu peduli pada hal semacam itu.

__ADS_1


Oleh karena itu, ketua divisi pada umumnya membentuk divisi mereka sendiri sesuai dengan selera. Ada yang memiliki banyak anggota, sedang, atau sangat sedikit seperti divisi 6 milik Arima. Mereka yang memiliki banyak anggota tampaknya tidak kalah dengan beberapa sekte tingkat menengah, hampir setara dengan sekte tingkat atas. Tentu saja, jika ketua divisi dihitung ... ceritanya akan berbeda.


Pada awalnya, setiap ketua divisi diwajibkan untuk memiliki kekuatan minimal tingkat platinum bintang 1. Namun semuanya berubah sejak dua puluh tahun yang lalu dimana divisi baru mulai dibuat. Dari divisi 6 sampai divisi 10, ketuanya adalah orang yang pemimpin anggap memiliki potensi.


Sekarang Arima memiliki kekuatan yang sama sekali tidak buruk di antara kultivator tingkat platinum. Menurutnya sendiri, ketua divisi 7 sekarang berada di puncak tingkat gold dan bisa menembus level platinum kapan saja. Sedangkan tiga ketua divisi terakhir masih agak jauh dari tingkat platinum. Mungkin memerlukan waktu sekitar sepuluh tahun untuk menembus tingkat tersebut.


Meski begitu, divisi 9 sendiri dibuat 5 tahun lalu. Menurut Arima, pemimpin sebenarnya tidak bermaksud untuk menambah divisi lain. Arthur dianggap pengecualian, sekaligus ketua dari divisi 10. Ketua divisi terakhir sekaligus penutup.


Keesokan paginya setelah sarapan, mereka pun berpisah.


“Sampai ketemu lain hari, Junior. Aku pasti akan merindukan masakanmu. Hati-hati dan jangan sampai mati.”


Arima berkata dengan nada malas sebelum pergi. Tsubaki membungkuk sopan, dan Chikuwa menggonggong beberapa kali sebelum pergi.


Arthur tahu kalau Arima masih menyembunyikan banyak hal, tetapi setidaknya dia tahu beberapa informasi penting. Contohnya, ketua divisi 1 sampai divisi 6 setidaknya berada di level platinum, yang masih tidak bisa dia kalahkan sekarang.


Melihat dua orang dan satu akita inu pergi, Arthur dan rekan-rekannya kembali melanjutkan perjalanan.


***


Beberapa hari berlalu begitu saja, dan akhirnya Arthur beserta rekan-rekannya tiba di tempat tinggal Takahide.


“Apa? Apakah kamu tidak berniat mampir terlebih dahulu?”


Mendengar Arthur dan Jotaro akan segera pergi padahal baru saja tiba, Takahide terkejut. Pada awalnya dia sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda itu membawa istri dan putrinya datang ke sini. Meski itu juga terjadi karena permintaan istrinya, tetapi pria itu masih berterimakasih karena Arthur mau melakukannya.


“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa mampir.” Arthur menggelengkan kepalanya. “Mungkin lain kali?”


“Kalau begitu aku hanya bisa makan masakanmu lain kali.”


Takahide tersenyum lembut. Dia, istri, dan putrinya kemudian membungkuk dengan sopan.


“Terima kasih atas bantuanmu, Arthur.”


“Angkat kepala kalian. Aku hanya melakukan pekerjaanku, ini situasi win-win. Tidak perlu terlalu berlebihan.”


Setelah mengatakan itu, Arthur kembali berkata.


“Kalau begitu kami pergi sekarang.”


Melihat ke arah Arthur dan Jotaro yang menghilang di kejauhan, ekspresi Nanami menjadi lebih serius. Kedua tangannya mengepal erat ketika dia berkata.


“Aku akan menunjukkan kalau diriku layak, Guru. Tunggu saja!”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2