
Sore harinya setelah praktik selesai, para siswa-siswi dibubarkan. Kembali ke asrama mereka untuk beristirahat lalu mandi bergiliran sesuai dengan jadwal.
“Apa-apaan ini? Kita hanya memiliki waktu 15 menit untuk mandi?”
Melihat jadwal mereka, sudut bibir Satoru berkedut. Jika hanya digunakan untuk mandi, 15 menit sudah cukup. Namun jika menghitung perjalan dari asrama, melepas pakaian, mandi, mengganti pakaian, lalu kembali, waktu itu jelas tidak cukup.
“Aku setuju denganmu, Sobat!” Takeo juga tampak tidak puas.
“Memangnya apa yang bisa kita lakukan? Itulah aturannya,” ucap Manabu dengan senyum masam.
“...”
Sementara itu, Ono hanya berbaring di tempat tidur tanpa mengganti pakaian. Matanya tampak seperti ikan mati. Meski sama-sama dari kota, dia berbeda dengan Satoru yang cukup tahan pukulan. Apa yang dialaminya hari ini benar-benar membuat pemuda itu kacau.
Melihat penampilan Ono, tiga orang lain saling memandang lalu menggelengkan kepala mereka.
“Ayo mandi terlebih dahulu. Kamu bisa tidur setelah makan malam, Ono-kun.”
Setelah mengatakan itu, Manabu menyeret Ono pergi. Satoru dan Takeo saling memandang lalu mengangkat bahu dengan ekspresi malas dan lelah. Membawa handuk, mereka pergi ke pemandian.
Di sana, mereka langsung mencuci tubuh lalu membasuhnya dengan air sebelum masuk ke dalam air panas.
“HAH~ Berendam air panas setelah bekerja seharian memang mantap!” ucap Takeo dengan ekspresi puas.
Satoru tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk ringan sebagai persetujuan. Bersandar pada tepi kolam sambil memejamkan matanya, pemuda itu merasa otot-otot yang sebelumnya kaku terasa nyaman.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan empat orang masuk ke dalam sambil berseru, “Sampai kapan kalian akan berendam? Sudah waktunya bergantian!”
“Mana aku tahu! Waktunya terlalu sempit!” teriak Takeo dengan logat lokal.
“Jika kalian tidak segera keluar, waktu kami akan habis!” teriak salah satu siswa.
Sebelum Takeo berteriak, Satoru menepuk pundaknya lalu menggelengkan kepalanya. Mereka berempat pun akhirnya menyudahi mandi lalu pergi ke asrama untuk beristirahat sejenak.
Pada saat Satoru memejamkan matanya dan hampir tertidur, suara dari horn (speaker) terdengar. Memanggil para siswa-siswi datang ke kantin untuk makan malam.
Mengenakan celana training dan kaos longgar, Satoru yang tampak mengantuk mengikuti Takeo dan Manabu yang berjalan di depan. Sementara itu, Ono yang nyaris tidak bisa membuka matanya berjalan di sebelahnya.
Sampai di kantin, mereka mengambil nampan berisi jatah makan mereka lalu pergi memilih meja.
Melihat hidangan di depannya, sudut bibir Satoru berkedut. Semangkuk nasi, semangkuk sup miso dengan irisan tahu, sepiring kecil tumis sayur, satu ikan bakar, dan ... sebutir telur mentah.
“Oi, Manabu.”
“Ada apa Satoru-san?” Manabu menoleh dengan ekspresi bingung.
__ADS_1
“Karena kamu telah meminjamkan majalah sebelumnya, telur ini untukmu. Kamu makan cukup banyak kan?”
Mendengar ucapan Satoru, Manabu sedikit terkejut. Dia tampak agak bingung.
“Benarkah?”
“Ambil saja,” ucap Satoru.
“Kalau begitu terima kasih, Satoru-san!” balas Manabu dengan seringai di wajahnya.
Sementara Manabu tampak senang dan Takeo terlihat iri, Ono menatap Satoru dengan ekspresi rumit. Bagi orang lain, Satoru mungkin terlihat baik. Namun bagi Ono, Satoru jelas memiliki niat lain.
Sama sepertinya ... Satoru jelas tidak bisa makan telur setelah apa yang terjadi di sore hari!
“Kamu boleh mengambil milikku, Takeo-kun.” Ono berkala lembut.
“Benarkah? Wow! Kamu benar-benar baik, Ono.”
Tidak seperti Manabu yang berpikir dua kali, Takeo langsung mengambil telur. Dia memecahkannya di atas nasi putih panas, memberi sedikit bumbu lalu mencampurnya merata.
Melihat Manabu dan Takeo makan dengan lahap, Satoru dan Ono saling memandang lalu menghela napas panjang.
Terlihat saling menghargai orang yang mengalami penderitaan sama.
***
Pukul 04:30 pagi, Satoru dan Ono dibangunkan oleh suara alarm. Melihat Manabu dan Takeo yang tidak harus bangun pagi untuk piket, mereka berdua menghela napas panjang.
Setelah mencuci muka dan berganti pakaian, Satoru dan Ono pergi keluar dari asrama. Di sana, mereka bertemu dengan Daiki, Jiro, dan Chiaki.
“Benar-benar dingin!” gumam Ono. Dia bertanya kepada Satoru. “Apakah kamu tidak kedinginan, Satoru-san?”
“Tidak.” Satoru menggelengkan kepala. “Mungkin karena aku mudah beradaptasi?”
“...” Ono diam sambil mendorong kacamatanya.
Setelah itu dia melihat penampilan fresh Daiki yang membuatnya tidak bisa tidak bertanya, “Bukankah kamu juga mengikuti kegiatan ekstra kulikuler, Daiki-kun? Kenapa kamu tampak sangat bugar?”
“EH?”
Saat itu, Jiro dan Chiaki menatap Ono dengan ekspresi bingung. Pemuda berambut mohawk itu kemudian berkata, “Apakah kamu tidak tahu kalau semua murid diwajibkan untuk mengikuti pelajaran ekskul?”
“Benarkah?” tanya Satoru.
Saat itu, keempat rekannya menatap pemuda itu dengan ekspresi bingung. Tampaknya juga tidak menyangka kalau ternyata Satoru tidak mengetahui itu.
__ADS_1
“Benar.” Chiaki memiringkan kepalanya. “Apakah kamu belum memilih ekskul?”
“Belum,” jawab Satoru santai.
“Rencananya kamu ingin ikut ekskul apa?” tanya Chiaki.
“Tidak bisakah aku memilih tidak ikut? Maksudku, kita menyelesaikan praktik cukup sore. Masih mengikuti pelajaran ekskul? Bukankah itu berlebihan?”
“Bukankah itu malah meredakan stres akibat banyak belajar dan bekerja?” Chiaki balik bertanya.
“Jika kamu memandang dari cara itu, memang ada benarnya.”
Satoru mengelus dagu. Sambil berjalan menuju ke kandang ayam, pemuda itu memikirkan akan ikut ekskul apa.
Saat itu juga, sosok Yui tiba-tiba muncul di kepalanya. Satoru buru-buru menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin ikut ekskul hanya karena orang lain. Namun, pemuda itu juga ingin mengikuti ekskul yang membuatnya tertarik.
Kendo, karate, memanah, dan olahraga langsung dikesampingkan karena Satoru tidak terlalu berminat dan telah dilatih oleh para guru elit sejak kecil. Kebetulan dia sedang memikirkan ekskul memasak karena memiliki cukup minat dan keterampilan yang masih perlu diasah, tetapi kembali menggelengkan kepala karena tidak ingin terburu-buru.
Satoru kemudian melirik ke arah Ono lalu bertanya, “Kamu memilih ekskul apa?”
“Aku bahkan belum memikirkannya,” jawab Ono dengan senyum masam di wajahnya.
“Kalau begitu kalian harus memikirkannya nanti. Sudah hampir jam 5 dan Pak Torikawa pasti sudah menunggu kita!”
Melihat Chiaki yang terburu-buru, Satoru dan Ono saling memandang lalu segera mengikuti ketiga teman mereka.
***
Siang harinya.
Setelah makan siang, Satoru yang kembali ke kelas membantu Jiro belajar. Sambil menopang dagu, pemuda itu berpikir.
‘Bahkan setelah mencari, aku tidak menemukan yang pas. Klub penggemar sapi? Kenapa hal semacam itu harus ada?’
Memikirkan itu, Satoru tiba-tiba menghela napas panjang.
Jiro yang sedang belajar melihat ke arah Satoru lalu Ono yang tampak bingung. Memikirkan sesuatu, dia berbicara dengan agak ragu.
“Jika kalian ingin sesuatu yang baru tetapi juga tidak aneh dan cukup terkenal dari sekolah ini, bagaimana kalau Klub Berkuda?”
Mendengar saran Jiro, Satoru dan Ono tertegun. Saat itu juga, Satoru tiba-tiba memikirkan sebuah pemikiran aneh.
‘Kakek telah memberiku pelajaran kendo, karate, memanah, berenang, dan sebagainya. Dalam pertempuran kuno, hal-hal semacam itu memang berguna. Apa yang kurang adalah berkuda, ya ... itu karena sulit melakukannya di kota seperti Tokyo.’
Memiliki ekspresi tertarik di wajahnya, Satoru pun membalas dengan sudut bibir terangkat.
__ADS_1
“Tampaknya cukup menarik.”
>> Bersambung.