Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Alasan Keberadaan


__ADS_3

Perlahan tapi pasti, perahu kecil berlayar perlahan menuju ke tengah danau.


Jotaro terus mendayung, tidak cepat tetapi tidak begitu lambat. Ketika perahu bergerak perlahan, percikan air dingin mengenai mereka karena gelombang di permukaan yang disebabkan oleh embusan angin malam.


“Dududu~”


Sambil bersiul dengan ekspresi santai, Arthur memegangi joran sambil menunggu umpan dimakan. Pemuda tampaknya tidak begitu peduli dengan suasana sunyi dan mencekam di sekitar. Rasanya ada yang mengintai dan mengawasi mereka dari dalam kegelapan.


“Ugh! Ini benar-benar tidak nyaman, Bos.”


“Kamu benar. Air memercik ke sepatu dan celana, jika kita orang biasa, pasti kita sudah demam keesokan harinya. Namun kita adalah kultivator, tidak perlu takut dengan beberapa masalah kecil semacam itu.” Arthur berkata dengan santai.


Melihat bosnya yang tidak begitu peka, Jotaro hanya bisa menghela napas panjang.


Mereka menunggu dengan tenang, dan tidak ada hal aneh yang terjadi. Pada saat itu, Arthur telah menutupi kultivasinya. Dia curiga makhluk itu memang hantu air dan ditakut-takuti oleh kemunculan Jotaro di tempat seperti ini. Kemungkinan tidak akan muncul sebelum mereka pergi dari sini.


Setelah menunggu cukup lama, Jotaro merasa mengantuk. Sedangkan Arthur tidak mengantuk, tetapi merasa emosional karena tidak ada ikan yang menggigit umpannya. Suasana hatinya menjadi agak buruk karena kejadian seperti itu.


Diam-diam Arthur mengeluh dalam hati kalau dirinya tertular oleh Shigekuni dan murid lain sehingga menjadi emosional.


Pada saat Arthur menguap dan Jotaro memejamkan mata. Bayangan putih besar melintas beberapa meter di bawah kapal mereka. Mengabaikan suara-suara tidak begitu jelas, Arthur mulai mengantuk karena bosan tidak segera mendapatkan ikan.


Saat itu, Arthur merasakan sesuatu mengigit umpannya dan menarik senar pancing.


“Bagus!”


Dengan ekspresi bersemangat di wajahnya, Arthur langsung menarik joran. Saat itu juga, sosok ikan yang tidak utuh langsung mendarat di atas perahu kecil. Melihat ke arah ikan yang hanya tersisa bagian kepalanya saja, ekspresi pemuda itu menjadi lebih jelek.


“Siapa yang menggigit ikanku!”


Arthur berteriak marah. Saat itu, tampak banyak rambut muncul dari bawah kapal. Seolah-olah memiliki pikiran, rambt-rambut tersebur mulai bergerak seperti ular yang melata di permukaan air lalu naik ke perahu. Pada saat itu juga, Jotaro yang bertugas mengurus perahu langsung bangun. Dia juga langsung berteriak.


“Hati-hati, Bos!”


Sadar kalau mereka telah dikelilingi, Arthur langsung meletakkan joran. Dia langsung berdiri di atas perahu. Melihat banyak rambut yang langsung naik menyerang mereka, pemuda tersebut langsung menggunakan teknik palm (telapak tangan) yang diselimuti api hitam lalu menyapu mereka.

__ADS_1


Saat rambut-rambut itu menjauh dari kapal, Arthur langsung menampar permukaan air. Kapal kecil langsung bergerak mundur belasan meter karena dampak gelombak di atas permukaan danau.


Pada saat itu juga, kejadian aneh terjadi.


Bersama dengan suara melengking yang menyakiti gendang telinga, sosok besar keluar dari dalam air. Permukaan air langsung penuh gejolak ketika makhluk tersebut muncul.


Dalam sekilas, makhluk itu seperti hantu air dari cerita dongeng yang pernah Arthur dengar. Namun semuanya jelas sangat berbeda ketika dia memperhatikannya dengan lebih serius. Lagipula ...


Ukuran keduanya terlalu jauh berbeda!


Makhluk itu memiliki tinggi lebih dari tiga meter dengan bagian bawah tubuh masih di dalam air. Rambutnya begitu panjang dan berantakan. Wajahnya sama sekali tidak cantik, bahkan tidak seperti wajah manusia. Hampir seluruh bagian wajahnya membusuk, tampak beberapa yang membengkak karena terendam air begitu lama.


Seluruh kain putih yang membungkus tubuhnya tampak begitu kotor. Bukannya menampilkan sosok mempesona, apa yang Arthur dan Jotaro lihat adalah tulang rusuk yang mencuat. Bagian dada busuk dimana mereka bisa melihat paru-paru dan jantung. Turun ke bawah, mereka melihat organ dalam yang telah membusuk dan memancarkan aroma menyengat.


Aroma itu sendiri sudah membuat banyak orang tidak bisa menahannya.


Gabungan antara dampak tiga indera langsung menyerang. Entah indera penglihatan, pendengaran, dan penciuman langsung menjadi tidak nyaman ketika berhadapan dengan makhluk itu.


Berdiri di atas perahu kecil, Arthur menatap makhluk itu dengan ekspresi buruk di wajahnya. Alisnya langsung berkerut ketika mengendus aroma yang lebih buruk daripada bangkai yang disimpan dalam ruang tertutup berminggu-minggu. Pada saat menutup mulut dan hidungnya dengan syal yang baru saja dia keluarkan, ekspresinya menjadi lebih tenang dan nyaman dibanding sebelumnya.


“Sungguh ... aku belum pernah bertemu dengan makhluk semenyebalkan dirimu.”


Mengatakan itu, Arthur langsung menarik keluar pedangnya. Dari penampilannya, pemuda itu jelas masih marah karena momen memancingnya diganggu oleh kedatangan makhluk itu.


Terlebih lagi, pemuda itu tampaknya lebih marah karena ikan yang dia pancing dengan susah payah benar-benar digigit oleh makhluk di depannya!


Makhluk itu langsung menyerang Arthur dengan cepat sambil membuat teriakan yang mengganggu pendengaran. Rambut tak terhitung jumlahnya langsung bergegas menuju ke arahnya. Memegang pedang yang diselimuti oleh api di tangannya, pemuda itu sama sekali tidak takut.


Swoosh!


Pedang menebas dengan cepat. Langsung memotong dan membakar banyak rambut yang bergegas ke arah Arthur. Saat itu juga, aroma bangkai terbakar langsung membuat kedua pemuda itu ingin muntah.


“Sudah cukup! Tahan dia, Joe!”


Melihat rambut yang memanjang dan menyerang ke arah mereka, Arthur sama sekali tidak bergerak. Sosok Jotaro langsung maju ke depannya dan menahan serangan rambut. Pria itu langsung memegang dua ikat rambut dan menahannya.

__ADS_1


Roh jahat tersebut langsung membuat raungan aneh. Makhluk itu membuka mulutnya dan bergegas munuju ke arah Jotaro, berniat untuk menggigitnya. Namun saat itu Arthur langsung melemparkan pedang terbang.


Pedang terbang yang menjadi besar langsung melayang di udara. Pemuda itu melompat ke atas pedang terbang, kemudian langsung menebas dengan pedang yang diselimuti api hitam.


“Black Imoogi Style, bentuk pertama ...”


Sosok ular hitam yang terbuat dari api hitam muncul di belakang Arthur.


“Tabrakan Sang Ular!”


Dengan tebasan vertikal sederhana, ular hitam langsung melesat ke arah roh jahat tersebut dengan kecepatan luar biasa. Makhluk itu menyadari bahayanya, tetapi tidak bisa melarikan diri karena ditahan oleh Jotaro.


BANG!


Bersama suara ledakan, ular hitam langsung menembus tubuh roh jahat tersebut. Beberapa saat kemudian, tubuhnya mulai terbakar api hitam ... benar-benar mulai dimurnikan.


“Eh? Begitu lemah?”


Sambil menahan rambut makhluk yang tampak ganas itu, Jotaro berkata dengan nada tidak percaya.


Saat itu, Arthur mendarat kembali ke atas perahu kecil lalu memukul kepala Jotaro dengan ringan. Dia kemudian menjelaskan dengan nada tidak sabar.


“Apakah kamu tidak melihatnya?”


“Apanya?”


“Meski penampilannya memang mengerikan, tetapi makhluk itu jelas terluka parah. Kekuatan aslinya seharusnya berada di tingkat gold bintang 2-3. Namun karena lukanya begitu parah, kekuatannya turun sampai tingkat silver bintang 6.


Itu berarti, makhluk itu memang tidak berasal dari tempat ini. Tampaknya datang dari tempat lain karena terluka parah. Alasannya tinggal di sini jelas untuk memburu manusia demi memulihkan kekuatannya.”


Setelah mengatakan itu, Arthur menghela napas panjang dengan ekspresi lelah di wajahnya.


“Meski misi kita selesai ... tampaknya kita akan terlibat sesuatu yang rumit setelah ini.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2