
Berada di dalam kantor kepala sekolah, Satoru berdiri dengan ekspresi lelah. Merasakan tatapan serius kepala sekolah dan Pak Aikawa membuatnya tidak bisa berkata-kata. Hanya bisa mengeluh dalam hati karena dia bisa begitu sial.
Terseret arus sampai hampir mati tenggelam karena ketiga teman sekamarnya yang memiliki otak begitu imajinatif!
‘Jika sampai dikeluarkan, akankah aku akan menjadi gelandangan?’
Memikirkan itu, Satoru langsung menghirup napas dingin. Ekspresinya berangsur-angsur menjadi serius, tampaknya bersiap untuk bertarung demi masa depannya.
“Apakah kamu tahu kenapa dipanggil, Satoru-kun?” tanya Pak Aikawa dengan ekspresi serius.
“Tidak!” jawab Satoru tegas.
“Jangan berpura-pura bodoh, Satoru-kun! Apa yang kamu lakukan di pagi hari telah tersebar ke seluruh sekolah. Apakah aku harus menjelaskan semuanya?”
“...”
Ekspresi Satoru menjadi gelap. Dia sama sekali tidak menyangka kalau masalah itu langsung menyebar ke seluruh sekolah. Pemuda itu diam-diam mengeluh dalam hati karena orang-orang di tempat ini sangat suka bergosip.
“Selain itu, Tashigi-sensei juga telah memanggil Natsumi-kun. Jadi sebaiknya kamu mengakui kesalahanmu sekarang!”
Pak Aikawa merasa marah, sedih, dan kecewa. Pada awalnya, dengan bergabungnya Satoru dan Ono, dia merasa senang karena kualitas belajar para siswa-siswi lain membaik karena daya saing sengit. Belum lagi, Satoru memiliki nilai hampir sempurna di semua pelajaran, bahkan tidak ragu membantu teman-temannya.
Jadi apa yang terjadi kali ini membuat Pak Aikawa merasa sedih. Dia sama sekali tidak menyangka kalau murid yang diharapkannya malah akan menjadi sumber bencana.
“Saya benar-benar tidak melakukan hal semacam itu. Bisakah membersihkan kandang kuda dan membuang kotoran sebagai kencan indah? Berkuda melewati ladang bunga? Yang benar saja!”
“...”
Melihat ekspresi tertekan dan penuh keluhan di wajah Satoru, Pak Aikawa dan kepala sekolah saling memandang. Merasa agak ragu, lelaki tua itu akhirnya angkat bicara.
“Bisakah kamu menjelaskan apa yang terjadi Nak? Aku mendengar apa yang kamu lakukan di Tokyo dari kakekmu, jadi jangan salahkan aku jika curiga.”
Wajah Satoru semakin gelap ketika mendengarkan ucapan kepala sekolah. Ternyata bukan hanya tiga teman sekelas konyol yang membawa masalah, bahkan kakeknya yang bau juga melaporkan ‘pencapaian besar’ yang dilakukan olehnya sehingga sekarang kepala sekolah mewaspadainya.
Satoru menarik napas dalam-dalam, kemudian mulai menjelaskan.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan pemuda itu, kepala sekolah dan Pak Aikawa tampak heran. Mereka merasa telah mendengarkan cerita yang jauh berbeda, tampaknya bukan cerita yang sama.
Melakukan tugas pagi, diajak kakak kelas untuk bertemu kuda agar tidak terlanjur trauma karena sempat tiba, diam-diam mengeluarkan kuda dan mencoba menaikinya, lalu dipergoki oleh Pak Sengoku dan dihukum sampai agak siang.
Apakah Satoru dan Natsumi tidak salah? Tentu saja mereke bersalah. Namun, kesalahan mereka bukan melakukan hal-hal yang melanggar norma, zina, dan sesuatu yang mereka bayangkan.
Walau tidak sepenuhnya percaya, tetapi kepala sekolah dan Pak Aikawa tampak cukup lega. Jika apa yang mereka lakukan adalah hal tabu seperti gosip, bukan hanya keduanya akan putus jika perut Natsumi membengkak, tetapi reputasi sekolah juga akan terpengaruhi atas kejadian ini.
“Selain itu, cinta kucing dan anjing apa yang para murid itu pikirkan. Aku sedang diuji oleh lelaki tua itu, tidak ada waktu untuk main-main!”
Melihat ekspresi serius di wajah Satoru, kepala sekolah menghela napas panjang. Akhirnya dia sedikit mengetahui bagian mana yang sehabatnya sebut sebagai tidak normal.
Satoru memang memiliki bakat dalam banyak hal, keterampilan, kemampuan belajar, dan tekad kuat. Seorang remaja yang luar biasa, saking luar biasanya, sampai menjadi tidak normal karena tempramen dan kemampuan seperti itu seharusnya tidak dimiliki seorang remaja.
Dibandingkan dengan para remaja yang seperti pohon bermekaran penuh warna di musim semi, dia lebih mirip sepotong baja dingin. Terlalu kokoh dan sulit dibengkokkan lagi. Remaja itu jelas baru berusia 15 atau 16 tahun, tetapi sudah memikirkan perusahaan, orang-orangnya sendiri, dan hal-hal tidak masuk akal semacamnya. Bertingkah seperti jenderal perang atau semacamnya!
“Apakah kamu tidak apa-apa? Aku dengar kamu jatuh dari kuda kemarin, bukankah kamu ceroboh karena mencoba menunggang kuda tadi pagi? Bagaimana jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi?”
“Yang terpenting itu tidak terjadi. Selain itu, ini hanya luka kecil. Tidak seburuk ketika menghindari beruang di perkemaan musim panas dua tahun lalu. Saat itu ... bukan hanya tulang bahu sediki bergeser, kaki kiriku juga terkilir cukup parah, hampir tidak bisa berjalan satu minggu penuh.”
Perkemahan musim panas? Beruang? Kecelakaan?
Memikirkan hal semacam itu membuat Pak Aikawa bertanya-tanya apakah mereka masih hidup di dunia yang sama. Lagipula, apa yang dikatakan pemuda itu benar-benar tidak masuk akal!
Sementara itu, kepala sekolah yang mengenal kakek Satoru tertegun di tempatnya. Lelaki tua itu tidak bisa tidak mengeluh dalam hati.
‘Aku tahu kalau dia adalah satu-satunya cucu laki-lakimu, Sobat. Tetapi caramu mengajar benar-benar terlalu biadab! Memangnya kamu sedang menumbuhkan jenderal di masa perang atau semacamnya?
Ini adalah era damai, Bung! Damai dimana kamu tidak perlu mengangkat senapan atau pedang dalam perang! Untuk apa mempertemukannya dengan beruang?
Tidak sengaja? Kentut! Siapa yang tidak tahu pikiran anehmu!’
Melihat Pak Aikawa dan kepala sekolah yang tercengang, Satoru mengangkat bahu.
“Tidak apa-apa jika kalian tidak mempercayai saya. Yang pasti, sekarang saya baik-baik saja. Selain itu, agar semuanya jelas, bisakah anda memanggil Pak Sengoku? Anda juga bisa memanggil teman asrama saya. Lagipula ...
__ADS_1
Mereka sangat berkontribusi atas ‘popularitas’ saya!”
Melihat ekspresi Satoru yang tampak seperti harimau tersenyum, kepala sekolah dan Pak Aikawa tercengang.
Pak Aikawa pura-pura batuk, setelah itu beliau segera mengangguk.
“Itu masuk akal. Agar situasinya lebih jelas, maka mereka memang harus dipanggil.”
Sekitar setengah jam kemudian, semua orang pun berhasil dikumpulkan.
Saat itu, Satoru melihat Bu Tashigi yang menatapnya dengan mata seperti ular berbisa. Entah kenapa, tampaknya wanita itu benar-benar membencinya. Jika tatapan bisa membunuh, Satoru percaya kalau sekarang dia telah terbunuh.
“Sekarang, Natsumi-kun, bisakah kamu menjelaskan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi?” tanya kepala sekolah dengan nada lembut.
Mendengar itu, Natsumi mengangguk berat. Dia segera menjelaskan semuanya, walau agak gugup dan sedikit berbeda, pada dasarnya garis besarnya sama dengan penjelasan Satoru.
“Itu mirip apa yang dijelaskan Satoru-kun sebelumnya, jadi sekarang biarkan aku bertanya, apakah apa yang mereka berdua katakan itu benar, Sengoku-sensei?”
Pak Sengoku sedikit terkejut karena masih dipanggil ke ruang kepala sekolah. Dia hanya bisa menjawab dengan senyum masam di wajahnya.
“Itu benar, Kepala Sekolah. Mereka membuat kesalahan, jadi saya menghukum mereka.”
“Apa yang dilakukan oleh Sengoku-sensei adalah hal benar. Karena membuat kesalahan yang bisa berakibat fatal, maka kedua murid ini pantas dihukum. Namun, kenapa kamu tidak menjelaskan semuanya dan malah menghilang?” tanya kepala sekolah dengan senyum di wajahnya.
“...”
Pak Sengoku menggaruk belakang kepalanya dengan senyum canggung. Merasakan tatapan yang diarahkan kepadanya, dia merasa semakin tidak nyaman. Pria paruh baya itu mencoba bersembunyi agar berita tentang Satoru dan Natsumi tidak tersebar.
Dia hanya khawatir, jika masalah itu terdengar di telinga kepala sekolah ... bukankah gajinya akan dipotong lagi?
Itulah kenapa Pak Sengoku hanya bisa menggaruk belakang kepalanya tanpa mengatakan apa-apa.
Jelas merasa malu untuk mengakuinya!
>> Bersambung.
__ADS_1