Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Dewa Gunung?


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


“Apakah kita benar-benar tidak salah arah, Bos?”


Duduk di atas pedang terbang, Joe bertanya kepada Arthur dengan ekspresi bingung di wajahnya.


Jelas, menurut tugas yang didapatkan, jenderal iblis dan demonic beast yang marah datang untuk menghancurkan empat kerajaan. Jika tujuan mereka memang seperti itu, seharusnya musuh menyerang kota-kota besar.


Sedangkan sekarang, arah yang mereka tuju adalah sebuah kota kecil di perbatasan, tidak ramai, dan berada di pegunungan. Jadi rasanya tidak cocok dengan tugas yang diberikan.


“Apakah kamu meragukanku, Joe?” Arthur mengangkat alisnya.


Meski biasanya agak ceroboh, Arthur sangat percaya diri dengan navigasinya. Pemuda itu sangat yakin kalau dirinya tidak buta map. Arah tujuannya jelas sama dengan perintah.


Mendapatkan informasi dari markas pusat untuk melacak musuh, Arthur tidak percaya kalau dirinya tersesat!


“Bukannya aku meragukanmu, Bos. Hanya saja, tampaknya tempat ini kurang cocok, kan?”


“Aku tahu maksudmu.” Arthur mengangguk berat. “Daripada menyerang tempat terpencil, seharusnya para demonic beast menyerang kota-kota besar.”


“Benar.” Joe mengangguk berat.


“...”


Lily duduk di samping Arthur, menatap ke arah kedua orang tanpa merubah ekspresinya. Daripada memikirkan hal-hal rumit dan tidak pasti, gadis itu malah lebih fokus pada pemandangan indah hutan, sungai, dan pegunungan di sekitar.


“Mungkinkah demonic beast itu mengalihkan perhatian, Bos? Maksudku, pergi ke tempat lebih jauh untuk memancing dan menghentikan pengejaran sementara dua demonic beast lain menyerang kota.”


Memikirkan dua demonic beast lain yang memiliki ukuran lebih besar dan kekuatan penghancur lebih kuat, Joe merasa kalau semuanya menjadi lebih masuk akal.


“Aku percaya dengan orang-orang di markas pusat. Mereka pasti tidak akan memberikan koordinat salah. Itu berarti, hanya satu kesimpulan!” ucap Arthur dengan tampilan misterius.


“Maksudmu, Bos?” Joe tampak bingung.


“Itu berarti kota tersebut lebih penting daripada yang kita bayangkan.”


“Kota kecil itu ... lebih penting daripada kota-kota besar dengan penduduk lebih banyak?”


Joe merasa bingung. Meski demonic beast itu memiliki sedikit kecerdasan, seharusnya mereka tidak bisa melakukan hal-hal seperti menargetkan kota penting atau semacamnya.


“Apakah semua terjadi karena arahan iblis kelelawar itu?” gumam Joe.

__ADS_1


“Bisa jadi karena arahan iblis kelelawar. Namun, ada kemungkinan kalau iblis lain memberi mereka perintah.”


Arthur berkata dengan ekspresi santai. Rasanya pemuda itu sama sekali tidak begitu mempedulikan alasan serangan demonic beast. Sesaat kemudian, dia menambahkan.


“Tugas kita hanya mengurus beberapa demonic beast. Apakah ada sesuatu yang lebih dalam atau tidak, sama sekali tidak ada urusannya dengan kita. Tidak perlu terlalu dipikirkan.”


Arthur hanya ingin menyelesaikan tugas lalu pergi dari kerajaan tersebut. Selain ingin mencari berbagai bahan masakan, dia tidak terlalu tertarik untuk terlibat dengan semacam konspirasi atau semacamnya.


Bahkan, setelah bergabung dengan Garden of Death, Arthur ingin menjadi ikan asin. Daripada sibuk bekerja, dia lebih ingin berjemur, membolak-balik tubuh tanpa memikirkan banyak hal.


Lagipula, berurusan dengan manusia itu merepotkan.


Terbang beberapa waktu, Arthur dan kedua rekannya melihat sebuah kota kecil. Meski bangunannya lebih sederhana dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya, tetapi kota itu tampak kuno dan memberi kesan damai. Terlihat nyaman untuk ditinggali.


Pedang terbang turun langsung ke alun-alun kota.


Banyak warga menatap Arthur dan kedua rekannya dengan ekspresi penasaran. Bahkan, banyak anak kecil yang berlarian. Mencoba mendekat karena ingin melihat kultivator nyata.


Pada saat Arthur dan kedua rekannya turun dari pedang terbang, banyak anak-anak yang melihat mereka dengan ekspresi penasaran di wajah mereka.


Melihat pemandangan damai di kota, Joe tidak bisa tidak berbisik pada Arthur.


“Apakah kita tidak salah tempat, Bos? Tampaknya orang-orang di kota sama sekali tidak mengalami masalah, bahkan tidak ada kepanikan di wajah mereka. Terlihat sangat normal.”


“...”


Meski begitu, Arthur juga merasa bersyukur karena tidak perlu melihat pemandangan kacau dimana banyak orang mati. Khususnya anak-anak yang lemah harus menjadi korbannya.


Pada saat itu, datang sosok lelaki paruh baya dengan pakaian indah. Dia dikelilingi oleh banyak pengawal. Jelas, posisinya di kota sama sekali tidak rendah.


“Selamat datang di Kota Karang Hijau, Tamu-tamu terhormat. Perkenalkan, nama saya Koga.”


“Jadi itu Tuan Koga. Perkenalkan, nama saya Arthur. Mereka adalah rekan saya, Joe dan Lily.”


“Senang bertemu dengan anda, Tuan Arthur. Kami telah mendapatkan surat dari atas. Untuk menjelaskan situasi secara terperinci, tolong ikuti kami.”


Melihat wajah Koga, Arthur mengangguk ringan.


“Dimengerti.”


Arthur dan kedua rekannya kemudian mengikuti Koga serta para penjaga.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, mereka akhirnya sampai di rumah tuan kota yang tidak terlalu jauh dari alun-alun. Dalam perjalanan, Arthur mendapatkan beberapa informasi.


Koga adalah tuan Kota Karang Hijau. Penduduk kota ini biasanya berprofesi sebagai pemetik tanaman khusus di gunung. Tanaman-tanaman tersebut biasanya dijual kepada para kultivator karena berguna untuk membuat berbagai obat atau racun.


Dikarenakan berbagai perjanjian, banyak kultivator hanya bisa mendapatkan berbagai tumbuhan yang dipetik. Sama sekali tidak bisa mengambil sendiri.


Bisa dibilang, kota ini adalah kota penting yang memiliki fungsi sebagai salah satu penghubung kerajaan dengan beberapa sekte dan kultivator.


Beberapa waktu kemudian, Arthur dan kedua rekannya duduk di ruang tamu rumah tuan kota. Mengikuti arahan Koga, banyak pelayan yang antusias menyambut dan menjamu mereka dengan baik.


Arthur melirik ke arah teh mengepul di atas meja dengan ekspresi tenang.


“Jadi ... apakah kita bisa membicarakan semuanya sekarang, Tuan Koga?”


Mendengar pertanyaan tersebut, Tuan Koga yang sebelumnya tampak santai menjadi lebih serius. Setelah menghela napas panjang, pria itu kemudian berkata.


“Tolong ucapkan apa yang ingin anda tanyakan, Tuan Arthur.”


“Baik.” Arthur mengangguk. “Pertama-tama. Saya penasaran kenapa kota ini bisa begitu tenang padahal ada demonic beast yang menyerang.”


“Alasan kenapa kota ini tenang karena kami tidak menyebarkan berita pada penduduk.”


Mendengar itu, Joe langsung mengerutkan kening. Pria itu tidak bisa tidak bertanya.


“Bukankah itu berbahaya? Ini tidak hanya mempengaruhi nyawa satu, tapi banyak orang.”


“Sebenarnya, keamanan kota masih bisa terjamin karena demonic beast itu hanya tinggal di gunung dan tidak melakukan serangan besar-besaran.” Koga berkata dengan santai.


“Itu berarti ... kedatangan kami sebenarnya sia-sia?” Arthur mengangkat alisnya.


“Tentu saja tidak.”


Koga menggelengkan kepalanya. Menatap ke arah Joe yang bingung dan Arthur yang masih tenang, dia mulai menjelaskan.


“Meski tidak menyerang kota, tetapi makhluk itu menyerang siapa saja yang pergi ke hutan atau gunung untuk mencari tanaman liar. Hal tersebut sangat mempengaruhi pendapatan kota, bahkan hubungan kerajaan dengan dunia para kultivator.


Selain itu, mulai banyak lelaki tua yang menyebarkan gosip. Mereka berkata kalau tindakan memetik tanaman liar itu salah. Bahkan, menganggap kalau tindakan orang-orang di kota membangkitkan amarah Dewa Gunung.


Menurut mereka, Dewa Gunung sekarang muncul untuk menghukum kota ini.”


Mendengar penjelasan Koga, Arthur mengelus dagu. Mengangkat sedikit sudut bibirnya, pemuda itu bergumam.

__ADS_1


“Heh ... Dewa Gunung, kah?”


>> Bersambung.


__ADS_2