
“Ogah. Untuk apa aku mengikutimu tanpa alasan yang jelas?”
Satoru berkata dengan nada datar dan ekspresi malas di wajahnya.
Jawaban itu membuat orang di sekitar tercengang. Biasanya, pemuda itu akan mengangguk dan pergi dengan malu-malu dalam pengawasan orang-orang. Namun apa yang berada di depan mereka tidak normal, melenceng dari skrip biasanya.
Chiaki yang mendapatkan jawaban dari Satoru tertegun di tempatnya. Merasakan tiga teman sekamar pemuda itu menatapnya, dia merasa agak malu. Pada akhirnya gadis itu menghentakkan kakinya sebelum pergi sambil mendengus marah.
Melihat Chiaki yang menghilang di kejauhan, ketiga teman sekamar Satoru tampak panik.
“Siapa dia, Satoru-san?” tanya Manabu.
“Apakah kamu tidak mencoba mendekati kakak kelas, Sobat? Siapa lagi gadis itu?” tambah Takeo.
“Apakah tidak apa-apa membuat Chiaki marah, Satoru-san?” ucap Ono dengan ekspresi cemas.
Mendengarkan pertanyaan dari teman-temannya membuat ekspresi Satoru agak gelap. Entah kenapa, mereka sekarang menatapnya dengan cara aneh. Tampaknya menganggapnya sebagai playboy yang suka main-main dengan hati para gadis!
‘Bukankah imajinasi kalian terlalu tinggi? Aku jelas tidak terlalu mengenal mereka, apalagi memiliki hubungan semacam itu!’
Satoru menggertakkan gigi, tetapi pada akhirnya tidak menjelaskan apa-apa. Lagipula, menjelaskan semuanya pun mungkin tidak dipercaya. Jadi memilih diam alih-alih membuang napas secara percuma.
Pada akhirnya, Satoru terus berjalan ke kamar tanpa mengatakan apa-apa. Tindakannya jelas membuat tiga orang lainnya menjadi penasaran.
Pemuda tampan, gadis cantik, siswa-siswi berprestasi. Di sekolah, pembicaraan tentang mereka sering kali ada karena sosok yang menonjol seperti itu sering digunakan sebagai bahan gosip.
Apakah terkenal itu baik? Tentu saja baik, tetapi juga ada sisi negatifnya.
Walau banyak orang suka, tetapi orang yang tidak suka, iri, bahkan benci juga ada. Orang-orang semacam itu akan lebih memperhatikan mereka. Melihat apa yang dilakukan si populer, dan jika sampai melakukan sedikit hal buruk saja ... mereka akan menyebarkannya, bahkan memberinya bumbu agar lebih pedas!
Meski sudah tidak lagi tidak menjadi Satoru Fujiwara, si jenius yang akan mewarisi Fujiwara Group. Di sini pun dia mulai populer sebagai anak tampan dari Tokyo yang pintar dalam mata pelajaran umum, terbaik di antara rekan sebayanya.
__ADS_1
‘Pada akhirnya, apakah menjadi ‘biasa’ hampir tidak mungkin dilakukan?’
Memikirkan hari-hari di sekolah sebelumnya, Satoru menutup matanya. Pada saat membukanya, ekspresinya tampak lebih tenang. Pandangannya agak kusam, tidak secerah ketika baru saja tiba di sekolah ini.
***
Siang harinya.
Hari ini, Satoru dan rekan sekelasnya akan mulai mempelajari peternakan babi. Jadi mereka pergi ke kandang babi untuk melihat secara langsung.
Babi adalah ternak yang cukup populer di negara ini karena menjadi salah satu sumber protein utama yang dikonsumsi oleh para warga. Jadi, Akademi Greenfield juga memberikan pelajaran tentang kursus tersebut.
Guru yang mengajar mereka adalah pria paruh baya pendek, tubuhnya tidak begitu kurus atau gemuk. Tampak seperti orang-orang dari era Meiji. Namanya adalah Okuda.
“Terkadang babi digunakan untuk menujukkan sesuatu yang kotor, bodoh, atau ejekan, tapi itu salah.
Mereka mandi lumpur untuk melindungi diri dari parasit, dan juga menurunkan suhu tubuh mereka di cuaca panas. Mereka juga memiliki indera penciuman yang tajam. Penciumannya membantu ingatan mereka, dan menjadikan mereka sebagai salah satu binatang ternak terbaik.
Mereka juga memiliki rahang yang kuat. Mereka bisa menggigit jari manusia sampai putus dengan mudah. Oleh karena itu, kalian harus berhati-hati.”
Satoru sendiri juga melihat seekor babi besar dengan ekspresi agak terkejut. Meski tidak mengetahui banyak informasi tentang babi (pig), dia juga masih sedikit memiliki informasi tentang kerabatnya, yaitu babi hutan (boar)
Babi hutan sendiri juga suka mandi lumpur. Selain itu, makhluk itu suka menggosokkan taring panjangnya serta tubuhnya ke pohon. Paling penting, mereka adalah spesies yang hidup berkelompok dan invasif. Sendiri saja cukup sulit dihadapi, apalagi banyak. Disarankan untuk menghindari dan tidak membuat masalah dengan mereka.
‘Aku tidak menyangka hewan gempal, tampak lemah, dan berpenampilan seperti itu masih berbahaya.’
Melihat babi di kandang, Satoru mengangkat alisnya. Merasa itu sedikit menarik.
“Lihat! Benar-benar lucu!”
Mendengar ucapan para gadis, Satoru dan siswa laki-laki lain menoleh. Di sebuah kandang kecil, tampak delapan anak babi. Berbeda dengan penampilan dewasa yang jelek, terlalu gemuk, dan agak tidak menyenangkan, anak-anak babi itu memang imut.
__ADS_1
Bahkan bisa dibilang, kecuali serangga, hampir semua bayi hewan itu imut.
“Bukankah mereka perlu menyusu, Okuda-sensei? Kenapa mereka ditaruh di kandang berbeda?” tanya salah satu murid.
“Itu memang disengaja. Bisa kalian lihat, ada pagar pembatas yang cukup renggang di antara kedua kandang ini. Hal tersebut dibuat agar anak-anak babi masih bisa minum. Selain itu, alasan kenapa mereka dipisah itu juga penting, untuk menghindari diinjak-injak sampai mati oleh induknya.” Pak Okuda menjelaskan dengan ramah.
Mendengar percakapan mereka, Satoru mengangguk dengan ekspresi serius di wajahnya. Dia mengawasi para anak babi yang mulai menyusu. Saat itu, matanya menyempit.
“Tampaknya mereka tumbuh tidak setara, Okuda-sensei? Ada anak babi yang jauh lebih kecil dibandingkan lainnya.”
“Itu terjadi karena posisi minum mereka. Sejak lahir, anak babi akan berebut tempat untuk memilih posisi minum. Yang paling kuat ada di depan dan yang lemah di belakang. Semakin ke belakang dekat dengan kaki, jumlah susunya semakin sedikit, itulah kenapa tubuhnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan anak babi lain.”
Mendengar itu, tangan Satoru mengepal. Pemuda itu menghela napas panjang. Ekspresinya tampak semakin kosong.
‘Entah manusia atau ternak, mereka sama saja. Yang kuat mendapatkan yang lebih baik. Selalu dicap dengan harga tertentu, dianggap baik atau buruk berdasarkan kualitas. Pada akhirnya ... bukankah mereka (manusia dan ternak) sama saja?’
Seolah mengetahui apa yang Satoru pikirkan, Pak Okuda mengambil anak babi paling kecil yang selesai menyusu.
“Biasanya kami akan membiarkan semuanya berjalan sesuai dengan hukum alam. Namun, kami juga sering membantu babi-babi kecil ini dengan memberinya pakan tambahan. Biarkan yang paling kecil bisa menyusul saudara-saudarinya.
Tentu saja, itu bukan berarti kita (manusia) adalah makhluk yang baik. Toh, alasan kenapa kita membantunya tumbuh juga supanya dia bisa mencapai kualitas tertentu dan bisa dijual dengan harga lebih.
Namun, hal semacam itu bisa membuat kita merasa menjadi manusia. Berbeda dengan kebanyakan binatang yang melakukan segalanya berdasarkan insting, kita memiliki akal dan perasaan yang melebihi mereka.”
Mendengarkan ucapan Pak Okuda, Satoru terkejut. Melihat pria paruh baya kecil (pendek) yang menyerahkan babi kecil padanya, pemuda itu menerimanya dengan ekspresi ragu.
‘Menggunakan kekuatan bukan hanya untuk memangsa, tetapi menolong yang jauh lebih lemah darinya. Menggunakan akal demi kebaikan, bukan memberi cap atau nilai kepada orang seolah mereka barang.
Melakukan hal-hal seperti itu ... agar bisa menjadi manusia?’
Memikirkan itu, mata Satoru yang awalnya kusam sedikit mendapatkan cahayanya. Dia menatap anak babi kecil yang dipegangnya. Memiliki ekspresi tegas di wajahnya, pemuda itu kemudian berkata dengan tegas.
__ADS_1
“Kalau begitu, biarkan saya membantu merawatnya, Pak!”
>> Bersambung.