Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
207


__ADS_3

Keesokan paginya.


Satoru yang berada di kandang kuda sibuk bersih-bersih. Ketika menyelesaikan tugas bersih-bersih, dia memberi makan Dark Ray. Saat itu juga, pemuda itu melihat Natsumi yang juga telah menyelesaikan tugasnya.


“Ada apa?” tanya Natsumi yang merasakan tatapan Satoru.


“Bukan apa-apa,” balas pemuda itu.


Setelah mengatakan itu, Satoru langsung pergi. Benar-benar meninggalkan Natsumi yang terdiam bingung di tempatnya.


Belum sempat Natsumi mengatakan apa-apa, Satoru telah pergi. Langsung kembali ke asrama setelah pekerjaan usai. Hal tersebut membuat gadis itu merasa bingung dan aneh. Sampai-sampai dia terus memikirkannya ketika berjalan kembali menuju ke asrama perempuan.


Pada saat sarapan, Natsumi tidak begitu fokus. Dia sesekali melihat ke arah meja siswa-siswi kelas 1, mencari sosok yang membuatnya merasa penasaran.


“Apakah ada yang menganggumu, Natsumi?” tanya teman sekelasnya.


“Tidak ada,” balas gadis itu, tetapi tatapannya masih mengembara.


“Apakah kamu mencari pemuda tampan dari Tokyo itu?”


Mendengar pertanyaan itu, Natsumi langsung menoleh dengan ekspresi berbahaya di wajahnya. Gadis itu menatap temannya dengan ekspresi serius.


“Omong kosong apa yang kamu katakan? Siapa yang mencari-cari lelaki itu?”


Melihat ekspresi serius di wajah Natsumi, teman-temannya tampak bingung. Salah satu dari mereka akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


“Bukankah hubungan kalian dekat? Maksudku, kalian berdua dianggap sebagai pasangan? Kalian tidak berpacaran?”


“Tentu saja tidak!”


Natsumi langsung menyangkalnya. Dia merasa agak jengkel dan tidak puas, tetapi juga merasa agak malu. Hubungannya dengan Satoru sendiri memang agak dekat. Itu tidak bisa dibilang sahabat atau pacar. Namun, hubungan mereka berdua tampaknya sedikit lebih dari teman biasa.


“Benarkah? Aku lihat kamu berteman baik dengan Satoru-kun. Jika kamu tidak ada hubungannya dengan adik kelas itu, bagaimana kalau memperkenalkannya pada kami?” tanya salah satu temannya.


“Apa?! Apakah kalian masih tertarik dengan adik kelas, tidak fokus pada studi kalian?” ucap Natsumi dengan mata terbelalak.


“Hehehe! Tampaknya kamu masih tidak mengerti, Natsumi. Lihat baik-baik adik kelas kita itu. Tampan, pintar, dan kuat. Bahkan jika dirumorkan kalau dirinya datang ke sini karena kehilangan orang tuanya, tetapi masa depannya masih ada.

__ADS_1


Selain itu, banyak saudari (teman-teman) kita yang merupakan anak perempuan tanpa saudara laki-laki. Jika itu aku, aku sama sekali tidak keberatan menerimanya. Dengan fisiknya, dia bisa membantu peternakan dan ladang di rumah. Bukankah itu bisa dianggap membawa pulang suami yang baik?”


Mendengar ucapan berani dari teman lainnya, Natsumi langsung terkesiap. Dia sama sekali tidak menyangka kalau gadis-gadis itu memiliki ide yang begitu berani.


Hanya saja, ucapan beberapa temannya tidak salah. Beberapa orang di pedesaan sekitar wilayah mereka memang seperti itu. Ada cukup banyak gadis yang menikah setelah lulus SMA atau SMK.


Bisa dibilang, sama sekali tidak berpikir untuk masuk ke universitas. Selain karena biaya yang mahal, masuk ke universitas agak sulit karena studi mereka cukup buruk.


“Bagaimana Natsumi? Jika para senpai (kakak kelas) tahu kalau ternyata kamu tidak memiliki hubungan dengan Satoru-kun, mungkin mereka akan menatapnya. Walau kemungkinannya kecil karena kelas 3 fokus pada ujian, siswi kelas 2 lain jelas berbeda.


Daripada dilirik orang lain, bukankah lebih baik memperkenalkannya pada temanmu sendiri?”


“...”


Mendengar ucapan dari temannya, Natsumi kehilangan kata-kata. Saat itu juga, dia mengingat penampilan Satoru. Pemuda yang menunggangi kuda hitam, sosok tampan yang tersenyum lembut di bawah sinar merah mentari pagi. Mengingat senyum pemuda itu dalam otaknya, tangan Natsumi tanpa sadar mengepal.


Gadis itu kemudian melihat teman-temannya yang tertawa dan bercanda. Ekspresinya berubah menjadi kurang ramah.


‘Rubah-rubah kecil ini ...’


Siang harinya, Natsumi benar-benar merasa tidak tenang.


Selain ketika sarapan, dia mencoba menemui Satoru ketika makan siang, tetapi pemuda itu menyelinap pergi seperti dikejar hantu. Kejadian semacam itu benar-benar membuatnya sangat tertekan. Mengingat hal-hal yang terjadi sebelumnya membuatnya agak cemas.


‘Apakah dia tahu kalau aku dan Miyuki sengaja mengajaknya dan Ono berkencan agar mereka bisa berbaikan? Hubungan mereka tampaknya memburuk dan akhirnya marah padaku karena merasa telah ditipu?’


Memikirkan kemungkinan masuk akal semacam itu membuat Natsumi merasa semakin tidak nyaman. Dia hanya ingin membantu Satoru tetapi tidak menyangka kalau itu menjadi bumerang, membuat pemuda itu malah membencinya.


Dengan bayang-bayang Satoru yang selalu muncul dalam benaknya, Natsumi tidak bisa-tidak menghela napas panjang. Dia benar-benar tidak bisa fokus pada pelajaran karena terlalu memikirkan pemuda itu. Jadi, akhirnya gadis itu hanya bisa menggertakkan gigi, menunggu sore hari untuk berbicara dengan Satoru dalam pelajaran ekskul.


***


Sore harinya.


“Apa kamu bilang Paman? Satoru-kun tidak mengikuti ekskul hari ini karena ada kepentingan mendesak?”


Mendengar penjelasan dari pamannya, Natsumi tidak bisa tidak berkata dengan ekspresi tercengang. Dia sama sekali tidak menyangka semuanya bisa menjadi seperti itu. Bahkan gadis itu sempat berpikir kalau Satoru memang sengaja menghindarinya.

__ADS_1


“Panggil aku Sengoku-sensei, Gadis konyol! Selain itu, memang ada masalah apa kamu mencari bocah itu? Jika hanya penasaran karena dia tidak datang, kamu bisa bertanya padanya besok. Sekarang lakukan tugasmu! Jangan pikir bisa lalai hanya karena kamu adalah keponakanku!”


Pak Sengoku berkata dengan ekspresi buruk di wajahnya. Akhir-akhir ini tampak agak mudah tersinggung. Bukan karena masalah lain, tetapi karena dia telah kehilangan gaji bulan in karea arena pacuan kuda Ban’ei sebelumnya.


“Hmph!”


Melihat pamannya yang tidak bisa diandalkan, Natsumi mendengus. Gadis itu kemudian pergi untuk melakukan tugasnya.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Natsumi tidak memilih berkuda. Dia langsung menuju ke tempat anak-anak kelas 1 sedang melakukan tugas kebersihan. Tujuan sangat jelas, yaitu untuk menemukan Ono.


Beberapa saat kemudian, Natsumi akhirnya menemukan Ono dan berbicara kepadanya. Hanya saja, setelah beberapa saat bicara, gadis itu merasa agak bingung karena dia tidak menyangka kalau dugaannya salah.


“Kamu bilang ... kalian berdua telah berbaikan?” tanya Natsumi untuk memastikan.


“Ya.” Ono mengangguk tegas. “Ini hanya salah paham.”


“Itu ... baguslah kalau begitu,” ucap Natsumi dengan ekspresi heran dan bingung.


Gadis itu menatap Ono. Melihat dari atas ke bawah, dia yakin kalau pemuda itu sama sekali tidak berbohong. Hal tersebut membuatnya semakin bingung.


‘Lalu kenapa Satoru menghindariku? Apakah ada masalah?’


Melihat ekspresi bingung di wajah Natsumi, Ono memberanikan diri untuk berbicara.


“Anu ... Jika itu soal Satoru-san, mungkin aku memiliki sedikit petunjuk, Natsumi-senpai.”


Mendengar ucapan Ono, Natsumi sadar dari lamunannya. Gadis itu kemudian melihat ke arah Ono lalu bertanya, “Apa maksudmu?”


“Ketika mendapatkan kiriman paket dari kakeknya, Satoru-san tampaknya agak cemas. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Hanya saja, bisa saja ada hubungannya dengan kakeknya. Lagipula, beliau adalah satu-satunya anggota keluarga Satoru-san.”


Ucapan Ono membuat Natsumi langsung menghubungkan semua petunjuk. Tidak sampai beberapa saat kemudian, gadis itu memiliki firasat buruk.


‘Mungkinkah Satoru-kun akan kembali ke Tokyo dan tidak akan ke sini lagi?’


Memikirkan itu, wajah Natsumi tiba-tiba menjadi agak pucat.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2