
Tiga hari kemudian.
Selama beberapa hari ini, Arthur telah menjelajahi desa dan area di sekitarnya. Tidak hanya itu, dia juga telah berkenalan dengan beberapa warga desa.
Orang-orang menyebutnya bahwa bencana telah datang ke desa dan mereka harus bersembunyi sampai bencana tersebut menghilang. Sedangkan bagaimana cara menghilangkan bencana ...
Ya. Gadis paling cantik di desa tersebut harus dikorbankan.
Baru setelah itu, desa akan kembali tenang. Mereka semua bisa keluar untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Seperti bertani, berburu, atau berdagang ke kota terdekat.
Jelas, daripada mencoba menyelematkan, mereka berpikir untuk segera mengorbankan Murasaki!
Di rumah Momo, Arthur dan tiga orang lainnya telah berkumpul. Mereka adalah Reyna, Murasaki, dan Midorima. Sedangkan Aoi tidur yang kelelahan bermain sedang tidur di kamarnya.
"Apakah semuanya akan baik-baik saja? Maksudku, tidak akan ada yang salah dengan Murasaki, kan?"
Meski Midorima memanggil kakaknya dengan nama langsung dan berkata dengan nada tidak sopan, ekspresi khawatir tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
"Menurut informasi, makhluk itu seharusnya tidak lebih kuat dariku. Jadi aku cukup yakin, kami berdua bisa mengalahkannya.
__ADS_1
Masalahnya, kepala desa berkata kalau makhluk itu tidak akan keluar kecuali saat prosesi ritual pengorbanan. Oleh karena itu, kami terpaksa membawa Murasaki.
Namun kamu tidak perlu khawatir, kami berdua pasti melindunginya!"
Reyna berkata dengan nada tegas. Dia kemudian melirik ke arah Murasaki dengan ekspresi minta maaf. Setelah berteman dengan gadis itu, dia jelas merasa tidak nyaman kalau gadis tersebut mengambil resiko.
Hanya saja, semuanya tidak bisa dilakukan jika Murasaki tidak melakukannya!
Selain itu, kepala desa telah melakukan ritual tahap pertama di malam sebelumnya. Di malam ini, ritual pengorbanan harus dilakukan. Oleh karena itu, mau tidak mau mereka harus melakukannya.
"Tentu saja aku akan menyetujui hal tersebut. Bahkan jika gagal, aku tidak akan menyalahkan kalian." Murasaki tersenyum lembut.
"Kakak!" ucap Midorima dengan ekspresi enggan.
"Aku—"
"Tidak apa-apa, Midorima. Semuanya akan baik-baik saja. Bukankah ada Tuan Muda Arthur dan Nona Reyna?"
Melihat ke arah Murasaki yang tersenyum lembut, Midorima tampak enggan. Setelah beberapa saat, dia akhirnya terpaksa menyetujui hal tersebut.
__ADS_1
***
Malam harinya, di kuil yang cukup jauh dari desa.
Murasaki mengenakan pakaian tradisional. Gadis tersebut berdandan cantik seperti dengan pakaian pengantin khas desa. Dia berjalan sendirian melewati halaman depan dengan langkah sopan sambil membawa sebuah nampan dengan semangkuk darah dan banyak bunga di atasnya.
Tidak jauh dari sana, Arthur dan Reyna bersembunyi di balik semak rimbun.
Murasaki berhenti di depan tangga kuil lalu meletakkan apa yang dia bawa di sana. Setelah itu, dia mundur beberapa langkah baru kemudian duduk bersimpuh lalu membungkuk sopan tiga kali.
Murasaki kemudian berdiri lalu mulai menari. Suara bel yang terikat di kedua tangan dan kakinya menggema di hutan. Suara tampak lembut dan menenangkan, tetapi juga membawa rasa dingin di tengkuk pendengarnya.
Saat itu, tiba-tiba ada sosok yang muncul dari belakang Arthur dan Reyna.
Arthur menoleh ke arah Midorima yang baru saja tiba dengan ekspresi heran di wajahnya. Belum lagi ketika melihat penampilan berantakan pemuda itu.
Dia benar-benar berpikir kalau ada yang salah!
Meski Midorima panik, dia sama sekali tidak berani berteriak dan mengganggu proses ritual. Pemuda itu menatap ke arah Arthur dan Reyna dengan cemas sambil berkata.
__ADS_1
"Tuan Muda Arthur, Aoi ... Aoi menghilang!"
Mendengar itu, ekspresi Arthur dan Reyna langsung berubah.