Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Tambang Besi Dingin


__ADS_3

Enam hari berlalu begitu saja.


Sesuai dengan rencana, Arthur dan tiga lelaki tua lain berangkat tiga hari yang lalu. Kali ini, karena permintaan Arthur, mereka juga membawa Nanami bersama dengan mereka. Tiga lelaki tua lainnya juga membawa murid mereka untuk mendapatkan pengalaman.


Masanobu membawa Natsumi bersama dengannya. Kijimura membawa seorang pemuda dengan wajah biasa-biasa saja, tetapi tampak bersemangat bersamanya. Sedangkan lelaki tua terakhir membawa seorang gadis yang tampak pemalu bersamanya.


Jelas, karena Arthur membawa ‘beban’, ketiga lelaki tua itu juga melakukan hal yang sama. Lagipula, perjalanan ini juga bisa menjadi latihan bagi keempat junior tersebut. Cukup bermanfaat dalam pertumbuhan mereka.


Berdasarkan tingkat kultivasi, keempat junior itu masih berada di tingkat bronze. Pemuda bersemangat dan gadis pemalu itu berada di tingkat bronze bintang 5, Natsumi masih berada di tingkat bronze bintang 2, sedangkan Nanami ... sekarang telah menembus tingkat bronze bintang 4.


Natsumi merasa cemburu kepada Nanami. Meski Nanami beberapa bulan lebih tua darinya, tetapi gadis itu memulai latihan serius hanya sekitar dua minggu lebih awal darinya. Namun, kecepatan kultivasi gadis tersebut sangat cepat. Sedangkan untuk murid dua lelaki lain, dia tidak begitu peduli karena mereka sampai di tingkat seperti itu setelah tujuh atau delapan bulan kultivasi. Meski dianggap cukup baik, tetapi tidak bisa masuk dalam kategori jenius.


Natsumi merasa kalau guru yang ditunjuk oleh kakeknya kurang baik. Dia percaya setelah meminum Pil Fajar Ungu, dirinya tidak akan kalah dalam segi bakat jika dibandingkan dengan Nanami. Bahkan gadis itu sekarang meminta kakeknya untuk mengundang Arthur sebagai gurunya. Namun, sampai sekarang masih belum ada jawaban pasti dari kakeknya.


Hal tersebut jelas membuat Natsumi, putri dari Kerajaan Fuji yang selalu dimanjakan sejak kecil merasa kesal!


Dalam tiga hari ini, mereka melakukan perjalanan menuju ke perbatasan. Selain istirahat untuk makan, tidur, atau membiarkan junior berlatih sebentar, mereka menggunakan waktu untuk bergegas menuju ke lokasi. Sedangkan cara mereka pergi sama sekali tidak menggunakan kereta kuda atau kapal, tetapi dengan cara kultivator yang cukup mencolok.


Ya ... menaiki pedang terbang.


Sebagai kultivator tingkat gold, Arthur tentu bisa melakukannya. Hanya saja, dia enggan melakukan hal tersebut karena dirinya lebih suka melakukan perjalanan lambat untuk menikmati prosesnya. Namun kali ini berbeda karena mereka cukup terburu-buru.

__ADS_1


Pedang terbang sendiri dibuat dari beberapa bahan khusus. Benda itu bisa meregang dan menyusut, ukuran ketika dibawa biasanya hanya sebesar jari kelingking, tetapi bisa menjadi menjadi seukuran papan selancar bahkan ada yang seukuran kapal kecil. Pedang itu sendiri tidak digunakan untuk bertarung dan hanya dilakukan sebagai sarana transportasi. Mirip dengan sapu penyihir dalam dongeng-dongeng.


Sebagai seorang yang berasal dari dunia lain, tentu saja Arthur sempat mempertanyakan banyak hal. Contohnya, kenapa mereka tidak membuat kapal yang bisa dikecilkan dan dibesarkan, kenapa mereka tidak memilih bentuk papan selancar yang lebih terlihat ringkas dan tidak mencolok, serta beberapa pertanyaan lain. Namun pada akhirnya pemuda itu hanya bisa berpikir kalau itu sebuah tren, atau memang selera orang-orang di dunia ini.


Selain karena suka menikmati suasana, ada alasan lain kenapa Arthur hampir tidak pernah menggunakan pedang terbang. Ya ... karena dia merasa hal semacam itu memalukan.


Ketika berada di tingkat gold, mereka bisa saja terbang secara langsung. Meski lebih menguras tenaga, Arthur juga lebih menyukainya. Selain bisa bergerak lebih bebas, dia merasa itu tidak terlihat memalukan. Namun sekarang dia hanya bisa menelan rasa malu karena harus membawa Nanami bersamanya.


Sebenarnya Arthur bisa saja meninggalkan Nanami, tetapi itu berarti dia harus tinggal lebih lama di Kerajaan Fuji karena harus memenuhi janji 100 hari mengajar. Oleh karena itu, pemuda itu memilih untuk membawa Nanami ikut dengannya.


“Kita akan segera sampai di lokasi.”


Suara Masanobu terdengar. Berbeda dengan beberapa orang yang berdiri dengan ekspresi serius di wajahnya, Arthur duduk bersila di atas pedang seukuran speedboat dengan tenang. Jika bukan karena menjaga citra sopan dan berbudi luhur, dia benar-benar ingin menguap dan mengeluh.


Apa yang dilakukan oleh pihak Kerajaan Fuji biasa terjadi di dunia ini. Para petinggi sama sekali tidak peduli dengan nyawa para pekerja. Di mata mereka hanya ada uang, uang, dan uang. Sibuk membesarkan perut mereka tanpa peduli dengan nyawa orang-orang di bawahnya.


“Kita sampai.”


Suara Masanobu kembali terdengar.


Saat mereka hendak mendarat, banyak penambang yang melihat ke langit dengan ekspresi kagum di wajahnya mereka. Arthur melirik enam orang lain yang tampak cukup berpuas diri karena merasa lebih tinggi. Dibandingkan mereka, dia malah merasa agak tidak senang karena merasa seperti primata langka yang dijadikan subjek tontonan.

__ADS_1


Arthur berdiri. Di belakangnya, Nanami juga melakukan hal yang sama. Gadis itu tampaknya merasakan ketidaksenangan gurunya. Hanya saja, dia bingung bagian mana yang membuat pria itu merasa tidak senang.


“Turun.”


Arthur berkata santai. Pedang terbang melayang dengan ketinggian kurang dari tiga meter, dia dan Nanami melompat turun. Setelah itu, pemuda tersebut melambaikan tangannya. Pedang hitam langsung mengecil dan terbang ke tangannya. Dia kemudian menyimpan pedang tersebut dengan ekspresi tenang.


Sama seperti dirinya, tiga lelaki tua lain beserta murid mereka telah turun. Kedatangan mereka semua langsung disambut oleh tokoh banyak prajurit dan juga para pengurus tambang. Orang-orang itu menyambut mereka dengan sangat hormat, bahkan mereka terus menjilat Masanobu dan mengatakan hal-hal tidak perlu. Tindakan mereka membuat Arthur mengerutkan kening. Benar-benar ingin menampar mereka agar diam.


Setelah tiba, mereka semua kemudian pergi menuju ke kantor. Tentu saja, mereka tidak akan langsung pergi menuju ke tambang. Selain perlu mendapatkan informasi terbaru dan lebih terperinci, Masanobu meminta tiga orang termasuk Arthur untuk beristirahat agar mereka bisa bertarung dalam kondisi optimal.


Sementara tiga lelaki tua memutuskan untuk beristirahat, Arthur memilih untuk jalan-jalan. Mungkin karena penasaran dengan lingkungan di sekitarnya, Nanami juga memutuskan untuk mengikutinya.


Keluar dari kantor, Arthur berjalan-jalan dengan santai. Karena menjadi tamu khusus, para penjaga yang bertugas sama sekali tidak menghentikannya. Pemuda itu berjalan-jalan untuk mengawasi lingkungan sekitar.


Sementara itu, Nanami tampaknya lebih tertarik kepada para penambang. Melihat penampilan mereka, dia tidak bisa tidak bertanya.


“Guru, mereka ...”


“Apakah kamu pikir semua orang menjalani kehidupan baik? Pekerja tambang seperti mereka memiliki kehidupan yang berbeda dibandingkan dirimu. Bekerja terlalu keras, kurang makan, kurang penghasilan. Bahkan beberapa dari mereka dipekerjakan secara paksa.”


Arthur tidak menjelaskan lebih lanjut. Dia melirik ke arah Nanami yang tampaknya termenung. Selain agar tidak menunda latihan, ada alasan lain pemuda tersebut mengajak Nanami ikut dengannya. Ya ...

__ADS_1


Biarkan gadis itu mendapatkan pengalaman dan melihat seperti apa dunia yang sebenarnya.


>> Bersambung.


__ADS_2