Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Mulai Mengajar


__ADS_3

Melihat ke arah Nanami, Arthur merasa rumit.


Pertama, dia sendiri sama sekali tidak berniat menerima murid secara normal. Bahkan jika melakukannya, pemuda itu pasti memilih anak kecil untuk dilatih. Lagipula, meski usia aslinya di atas dua puluh tahun, setelah datang ke dunia ini, usianya tidak jauh dari Nanami itu sendiri.


“Aku sama sekali tidak berniat menerima murid secara formal. Aku hanya mengajarimu beberapa dasar, tidak perlu sampai berlutut seperti itu.”


“Tidak! Anda yang akan menunjukkan saya jalan menuju dunia kultivasi. Anda adalah guru saya dan pantas mendapatkan horman ini!”


Melihat bagaimana Nanami tampak bersikeras, sudut bibir Arthur berkedut.


‘Sekali lagi bertemu dengan anak bermasalah.’


Arthur menghela napas panjang. Dia kemudian membantu Nanami berdiri sambil berkata.


“Lakukan sesukamu.”


“Baik, Guru!”


Nanami bangkit dengan senyum cerah di wajahnya. Gadis itu menatap ke arah Arthur penuh dengan penuh semangat.


Arthur sendiri melirik sekeliling. Melihat kekacauan karena semua berjalan tidak sesuai dengan harapan, dia menghela napas.


“Kalau begitu kita akan mulai latihan besok. Terlalu banyak yang terjadi sore ini, beristirahatlah untuk menenangkan diri. Kami akan datang besok pagi.”


“Eh? Kita tidak memulainya sekarang?” tanya Nanami.


“Tentu saja tidak. Aku juga memerlukan beberapa waktu untuk mempersiapkan apa yang harus aku ajarkan. Selain itu, sangat tidak nyaman untuk berada di sini setelah kejadian yang terjadi sebelumnya.


Kalau begitu-“


“T-Tolong tunggu sebentar, Tuan.”


Sebelum pergi, Arthur dihentikan salah satu ksatria istana yang baru saja tiba. Pria itu tampak gugup, tetapi masih menghampirinya dan melaporkan.


“Saya diminta untuk menyampaikan pesan bahwa anda dan penjaga anda dipersilahkan menjadi tamu. Kami telah menyiapkan kamar bagi kalian untuk tinggal. Tentu saja, akomodasi yang sesuai telah disediakan.


Master berkata kalau semuanya hanya kesalahpahaman yang dibuat oleh putranya. Beliau ingin berteman dengan anda.”


“...”


Arthur langsung mendecak tidak puas. Meski begitu, dia mengerti arti kalau cabai tua lebih pedas. Melihat potensi pada dirinya, mantan Raja tidak ingin membuat masalah dan malah menjalin hubungan karena akan memiliki banyak manfaat bagi Kerajaan Fuji di masa depan. Selain itu, bisa saja mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk membungkamnya.


‘Mencoba mengujiku? Kalau begitu biarkan aku meladeni kalian.’


Arthur mengejek dalam hati. Merubah ekspresinya agar tampak ramah, pemuda itu kemudian berkata.


“Kalau begitu terima kasih atas sambutan hangat kalian.”


Melihat Arthur tidak menolaknya, ksatria itu menghela napas lega. Tampaknya misinya bisa dijalankan dengan baik dan dirinya tidak akan mendapatkan masalah.

__ADS_1


***


Malam harinya, Arthur berbaring dalam kamar tamu dengan ekspresi santai.


Dia dan Jotaro diberi ruangan terpisah. Pemuda itu diberi sambutan hangat, ruang baik, dan makanan enak seperti para tetua dari sekte tertentu dan tamu besar lainnya. Sementara itu, Jotaro sendiri diberi perawatan tingkat menengah yang sudah sangat baik, sama dengan para bangsawan tingkat rendah yang diundang menjadi tamu.


‘Tidak ada racun dalam makanan, tidak ada deskriminasi, tidak ada provokasi ... ini benar-benar menyebalkan.’


Tok! Tok! Tok!


Saat itu, suara ketukan pintu terdengar. Ekspresi Arthur berubah. Dia tampak senang dan menantikannya.


‘Percobaan pembunuhan? Cukup menarik!’


Arthur bangkit. Dia mengambil katana miliknya lalu sedikit menggeser pintu untuk melirik ke luar. Namun ekspresinya berubah saat melihat wanita cantik dengan pakaian tradisional tetapi hampir menunjukkan beberapa hal dan tampak menawan di depan kamar.


‘Taktik memenangkan hati dengan kecantikan?’


Sudut bibir Arthur berkedut.


“Aku tidak tertarik,” ucap Arthur lalu menutup pintu dengan keras.


Pada saat pemuda itu berpikir kalau dirinya bisa tidur dengan tenang, ketukan pintu kembali terdengar. Dengan ekspresi kesal, pemuda itu menggeser pintu. Saat dia akan berteriak, pemuda itu tertegun.


Di depan pintu, tampak seorang lelaki tampan dengan tubuh berotot dengan senyum penuh percaya diri. Pria itu mengedipkan mata ke arahnya. Namun melihat Arthur mengenakan penutup mata, pria itu berkata.


“Saya ada di sini untuk-“


Arthur langsung membanting pintu dengan ekspresi muram di wajahnya. Malam ini benar-benar menjadi salah satu pengalaman buruk setelah dia datang ke dunia ini. Benar-benar merasa kesal sampai ingin memukuli orang!


***


Keesokan paginya.


Setelah sarapan dengan makanan yang dikirim ke kamarnya, Arthur pergi menuju ke halaman belakang. Dia juga telah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian mirip dengan sebelumnya, yang hanya berbeda warna pada gambar bambunya.


Sampai di halaman belakang, dia melihat sosok Nanami yang sudah bersiap. Meski pakaiannya agak usang, tetapi dia memiliki penampilan cantik dan bersih. Hal tersebut membuat Arthur menghela napas panjang.


“Apakah kamu sudah sarapan?” tanya Arthur santai.


“Guru!” seru Nanami dengan senyum di wajahnya.


“Saya sudah sarapan, Guru.”


Setelah mendengarkan jawaban Nanami, Arthur mendengar perut gadis itu berbunyi. Dia mengabaikan rona merah di wajah gadis itu. Pemuda tersebut mengeluarkan bungkusan dari kantong dimensi miliknya.


“Ada roti daging di sana. Aku tidak bisa menghabiskannya tadi. Makanlah.”


“Eh? Tapi Guru-“

__ADS_1


“Kamu harus memiliki tenaga untuk berlatih. Selain itu, lain kali, kamu harus menjawab pertanyaanku dengan jujur jika kamu memang menganggapku sebagai guru. Apakah kamu mengerti?”


Mendengar itu, Nanami mengangguk. Dia menunduk ketika menerima makanan dari Arthur, tampaknya merasa malu karena kebohongannya diketahui oleh sang guru.


Selesai sarapan dan minum, Nanami menatap ke arah Arthur lalu bertanya.


“Bagaimana dengan pengawal anda, Guru.”


“Tampaknya dia sudah mati. Ya. Itu bagus jika dia tidak lagi-“


“Sangat disayangkan. Aku tidak akan mati semudah itu, R-Y-U-M-A.”


Sosok Jotaro dengan tubuh penuh keringat dan kepala berkilau ketika terkena sinar matahari muncul di halaman belakang sambil tersenyum percaya diri. Menyadari sesuatu, dia kembali berkata.


“Maksudku, Bos Ryuma.”


“...”


Nanami menatap Arthur dengan ekspresi penasaran. Sebagai tanggapan, pemuda itu berkata dengan nada datar.


“Abaikan dia.”


Setelah itu, Arthur mengajak Nanami untuk melakukan pemanasan. Usai pemanasan, dia meminta gadis itu untuk duduk di bawah pohon rindang. Sementara itu, pemuda tersebut mulai menjelaskan.


“Seperti yang kamu ketahui, semakin tinggi teknik, semakin baik pula. Meski tingkat kesulitannya juga lebih tinggi, jika memiliki bakat dan kemampuan yang memadai, itu masih bisa dilakukan. Jadi di sini aku akan memberimu teknik yang diberikan oleh ayahmu.


Ada hampir sepuluh buku. Apakah kamu ingin memilih sendiri sekarang?”


“Guru!” Nanami mengangkat tangannya.


“Ada apa?”


“Bagaimana dengan pendapat Guru sendiri? Apakah anda bisa memberi saran?”


“Hm ...”


Arthur mengelus dagu. Setelah berpikir selama beberapa saat, dia akhirnya membuka mulutnya.


“Menurutku, semakin banyak teknik itu belum tentu baik. Jika orang itu bisa menguasainya secara mendalam, tentu itu memiliki dampak baik. Meski begitu, bakat orang berbeda-beda. Jika ingin segera menjadi kuat, aku menyarankan untuk tidak memikirkan terlalu banyak trik.


Kamu pengguna pedang, kan?


Aku rasa teknik kultivasi (untuk menyerap dan memperbaiki qi), satu teknik pedang, dan satu teknik gerakan sudah cukup. Tentu saja, jika ketiganya sudah dilakukan dengan baik, kamu bisa menambahkan satu teknik lagi. Menurutku palm lebih mudah dan cocok dipelajari.


Jadi ketika kamu terdesak dan kehilangan senjata saat bertarung, kamu bisa menggunakan teknik palm untuk bertahan lalu melarikan diri. Jangan kira melarikan diri itu tindakan tidak terpuji. Daripada mati dengan bodohnya, bertahan untuk membalas di masa depan masih lebih baik.”


Arthur tertegun sejenak ketika melihat Nanami yang menatapnya dengan mata berbinar. Sudut bibir pemuda itu berkedut sebelum bertanya.


“Apakah kamu paham dengan apa yang aku katakan?”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2