Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Orang-orang Serakah


__ADS_3

Satu minggu berlalu begiru saja.


Dalam sebuah ruang tertutup dengan banyak lentera menyara dan asap dupa mengepul, tampak lima orang duduk melingkari sebuah meja.


“Garden of Death menolak menjual benda itu pada kita.”


Salah satu tokoh yang terlihat paling muda di antara lima orang itu berkata dengan nada datar. Saat itu juga, suasana menjadi lebih tenang. Setelah beberapa saat, suara lain kembali terdengar.


“Apakah biaya yang kami berikan kurang? Berapa banyak yang mereka minta?”


“Bukan itu masalahnya.” Pria itu menggelengkan kepala.


“Lalu apa yang mereka minta sebagai gantinya?”


“Garden of Death sama sekali tidak berniat menjualnya dengan harga berapapun.”


Mendengar itu, ruangan kembali menjadi sunyi. Hanya ada suara napas berat dimana beberapa orang menahan emosi mereka.


“Mungkinkah mereka telah mengetahui fungsi dari item tersebut?”


“Seharusnya tidak.”


Sosok pria berusia di akhir dua puluhan itu menggelengkan kepala. Melihat ke arah empat tetua yang duduk di depannya, dia memiliki senyum main-main di wajahnya.


“Berhentilah main-main! Bukankah kamu tahu betapa pentingnya benda itu untuk klan kita?”


Seorang tetua menggebrak meja dengan ekspresi marah di wajahnya. Sebagai tanggapan, pria itu hanya mengangkat bahu. Melihat situasi semakin memanas, dia membalas dengan santai.


“Tidak semua orang di Garden of Death tahu kalau benda itu bisa digunakan untuk menekan roh jahat dan mengendalikannya. Namun seharusnya satu atau dua orang tahu fungsi tersebut, dan mereka yang sekarang membawa benda itu.”


“Apa maksudmu?” tanya seorang tetua.


“Garden of Death membuka divisi 10 setelah sekian lama tidak menambah divisi. Menurut informasi, pemimpin kelompok tersebut cukup optimis dengan ketua divisi 10 tersebut. Hanya saja, karena belum lama dibentuk, anggota divisi 10 hanya dua orang, satu tingkat gold bintang 2 dan satu tingkat silver tingkat 6.”


“Kamu bilang mereka menyelesaikan misi melawan tiga roh jahat tingkat gold dan gadis terkutuk itu? Mustahil!”


“Aku tidak bilang begitu, Pak Tua.


Menurut data, tampaknya divisi 6 sempat muncul di sekitar daerah tersebut.”

__ADS_1


“Divisi 6? Arima? Pria yang dijuluki ‘Kultivator Terkuat generasi berikutnya’? Kenapa orang itu muncul di tempat seperti ini?” Seorang tetua bertanya dengan ekspresi bingung di wajahnya.


“Tentu saja untuk merekrut ketua divisi 10. Selain itu, menurutku, alasan kenapa desa itu berhasil dipecahkan karena bantuan Arima. Hanya saja, orang itu tidak mengambil keuntungan dan membiarkan juniornya mendapatkan hasilnya.


Seperti seorang Senior baik yang merawat Juniornya.”


“Maksudmu ...”


Melihat ekspresi terkejut muncul di wajah empat tetua. Pria itu menyeringai lalu berkata dengan ekspresi jijik di wajahnya.


“Karena bocah itu menolak untuk memberikannya. Kita akan mengambilnya sendiri. Kita harus mengajarinya sopan-santun ...”


“Biarkan dia menghormati senior yang lebih tua dan sadar cara dunia bekerja!”


***


Sementara itu, di tempat Arthur dan rekan-rekannya berada.


“Sangat jarang kamu menerima misi dengan ekspresi bahagia di wajahmu, Bos.”


Melihat ekspresi bahagia di wajah Arthur, Jotaro langsung merasa curiga. Dia merasa kalau kondisi pemuda itu sama sekali tidak seperti biasanya.


Arthur langsung menyangkalnya. Meski begitu, senyum di wajahnya sama sekali tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dia sama sekali tidak menyangka, baru satu minggu beristirahat, ada tawaran misi yang berhubungan dengan evil beast.


Selain itu, musuh tampaknya tidak begitu kuat, cocok bagi Jotaro dan Lily untuk latihan. Sedangkan dia sendiri tentu saja memilih untuk menjadi ‘pengawas’ yang akan bertindak jika situasi di luar kendali.


“Arthur, apakah masih jauh?” tanya Lily dengan ekspresi polos.


“Apakah kamu lelah, Lily? Tentu saja perjalanan masih jauh, kita baru saja meninggalkan kota. Jika kamu ingin melakukan perjalanan lebih nyaman, kamu harus segera mempelajari teknik terbang yang aku ajarkan.”


“Aku mengerti, Arthur.” Lily mengangguk patuh. Gadis itu kemudian memiringkan kepalanya. “Joi tidak bisa terbang?”


“Uhuk! Kemampuan terbang hanya bisa dilakukan oleh kultivator tingkat gold ke atas, Lily. Joe berada di tingkat silver, jadi tidak bisa melakukannya.”


Mendengar itu, Lily melihat tangannya sendiri sambil menghitung pelan.


“Bronze, silver, gold ... begitu?” tanya gadis itu sambil memiringkan kepalanya.


“...”

__ADS_1


Sudut bibir Jotaro berkedut. Jika tidak tahu kalau otak Lily hampir kosong, dia pasti mengira keduanya sedang berakting untuk mengejeknya. Juga, entah kenapa Jotaro merasa tingkat silver yang dia bangga-banggakan dulu sekarang terasa begitu lemah.


Sebenarnya Jotaro sama sekali tidak salah. Hanya saja, dia berada di tempat yang kurang cocok dengannya. Salah satunya adalah perempuan pendek mirip dengan gadis kecil, tetapi berusia 40 tahun. Sedangkan yang satu adalah monster dengan bakat aneh yang bisa mencapai tingkat gold sebelum usia 20 tahun. Bahkan jika memiliki bakat yang bagus, dia sendiri terlambat berkultivasi. Perlu beberapa waktu sebelum menembus tingkat gold.


‘Satu tahun ... aku akan berusaha sekeras mungkin untuk menembus tingkat gold dalam satu tahun bahkan jika itu membunuhku!’


Tidak senang menjadi yang paling lemah di dalam kelompok, Jotaro bersumpah dalam hati. Selain itu, dia juga masih memendam dendam pada Chikuwa si akita inu yang memukulinya. Entah kenapa, tekanan semacam itu membuat semangatnya semakin membara.


Saat itu, suara menyela pemikiran Jotaro.


“Tenang saja, Joe. Masih banyak waktu. Kamu sedikit terlambat, jadi wajar jika sedikit tertunda.”


Mendengar itu, Jotaro sempat terkejut. Dia langsung membalas dengan tegas.


“Tenang saja, Bos. Aku tahu kelemahanku sendiri. Kamu tidak perlu menghiburku. Hal semacam ini sama sekali tidak membuatku menyerah.”


“Baguslah jika kamu tidak patah semangat.”


Mereka pun terus berbincang sambil melanjutkan perjalanan.


Sama seperti sebelumnya, Arthur berpenampilan seperti pendekar pedang meski wajahnya tidak disamarkan. Jotaro masih berpenampilan seperti pertapa botak dengan tubuh penuh otot. Hanya saja, sekarang ditambah satu lagi anggota, Lily yang berpenampilan seperti putri kecil yang rapuh. Membawa payung merah dengan ekspresi kosong di wajahnya.


Benar-benar penampilan yang sangat mencolok di antara banyak orang.


Beberapa jam kemudian, Lily tidak sanggup untuk berjalan. Dia tampaknya menyesal, tetapi fisiknya yang buruk dan tidak terlatih sudah tidak bisa lagi dipaksakan. Melihat gadis yang telah memaksakan diri sampai batasnya, Arthur mengangguk puas.


Ketika Lily lelah, Arthur mengeluarkan pedang terbang. Ketiganya kemudian melanjutkan perjalanan mengendarai pedang terbang. Alasan kenapa pemuda itu tidak langsung melakukannya jelas karena melatih fisik Lily. Setelah fisiknya dilatih, tidak ada salahnya memakai alat tambahan untuk melakukan perjalanan.


Melihat Lily duduk di ujung pedang sambil merasakan semilir angin dengan ekspresi tertarik di wajahnya, Arthur mengangkat bahu. Dia kemudian melirik ke arah Jotaro.


“Tenang saja, Joe. Bukan hanya Lily, aku juga telah mempersiapkan latihan untukmu.


Aku tahu kalau kamu merasa cukup frustrasi karena tertinggal. Namun kamu bisa yakin, dengan rencana pelatihan yang aku siapkan, kamu pasti akan berkembang dengan cepat.”


“BOS!” ucap Jotaro dengan ekspresi terkejut dan hormat, tampaknya tersentuh karena kebaikan Arthur.


Melihat ekspresi Jotaro, Arthur hanya mengangkat jempolnya. Meyakinkan kalau semuanya pasti berjalan dengan baik untuk semua orang. Tentu saja, dia tidak akan bilang kalau ...


Hanya dirinya yang paling diuntungkan oleh rencana pelatihan ini.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2