
Setelah berjalan cukup lama, Satoru dan Ono tiba di klub berkuda.
“Atur napasmu. Kamu terlihat cukup kacau. Jangan membuat kesan yang terlalu buruk.”
Mendengar ucapan Satoru, Ono menarik napas dalam-dalam. Pemuda itu mengangguk dengan ekspresi tegas, tampaknya memang tidak ingin terlihat buruk di depan para senior, khususnya Natsumi.
Di sana, Satoru dan Ono melihat lima orang lain yang memakai seragam mirip mereka. Tampaknya mereka adalah anggota baru yang juga mendaftar ke klub berkuda. Namun mereka berdua tidak mengenal kelima orang itu.
Tiga laki-laki dan dua perempuan.
“Kalian datang agak lambat, segera berbaris!”
Melihat Pak Sengoku melotot dengan ekspresi tidak puas, Satoru dan Ono saling melirik dengan senyum masam di wajah mereka. Tampaknya pria paruh baya itu menyimpan dendam kepada mereka karena kejadian sebelumnya.
‘Jika harus marah, seharusnya kamu marah kepada keponakanmu.’
Satoru mengeluh dalam hati. Namun dia juga tahu kalau itu salah satu sifat manusia yang sulit diubah. Tidak ingin disalahkan dan suka melampiaskan amarah serta kesalahan ke orang lain.
“Baik!” jawab mereka berdua serempak.
Satoru dan Ono kemudian ikut berbaris dengan kelima murid kelas satu seperti mereka. Berdiri diam di tempat sambil mendengarkan penjelasan dari Pak Sengoku.
“Pertama-tama, aku ucapkan selamat pada kalian karena telah bergabung dengan klub berkuda. Aku tidak akan memberi kalian hadiah atau semacamnya karena hal semacam itu tidak diperlukan.
Selama berada dalam klub ini, aku ingin kalian melakukannya secara totalitas. Aku tidak ingin kalian hanya belajar menunggang kuda, tetapi mengerti dasar-dasarnya. Entah itu merawat, menjaga, dan berteman dengan kuda.”
“...”
Beberapa tanda tanya muncul di atas kepala Satoru. Dia tampaknya kurang mengerti apa yang dimaksud oleh Pak Satoru.
‘Merawat, menjaga, dan berteman? Bukankah aku datang untuk belajar berkuda? Apa-apaan ini?’
Satoru merasa bingung. Namun, ucapan Pak Sengoku berikutnya benar-benar semakin membuatnya tercengang.
“Sebagai awal dari segalanya, sebagai anggota klub berkuda, mulai besok kalian harus bangun jam 4 pagi dan datang ke kandang kuda jam 4.30 pagi. Membersihkan kandang, memberi pakan, dan merawat mereka seperti keluargamu sendiri!”
Sementara Satoru dan lima orang lainnya tercengang dengan ekspresi tidak percaya, Ono hampir jatuh berlutut ke tanah.
Ono berpikir kalau mimpi buruk harus bangun pagi dan bekerja keras telah berakhir, tetapi sekarang dia malah harus bangun lebih awal dibandingkan sebelumnya!
“Setelah saling berkenalan, pekerjaan kalian hari ini adalah membersihkan kotoran kuda dan memindahkannya ke tempat pengumpulan!”
Mendengar itu, kejutuh murid itu benar-benar tercengang. Sama sekali tidak menyangka kalau mereka langsung disuruh melakukan pekerjaan kasar tanpa bimbingan dasar perihal berkuda.
Malah bekerja sebagai petugas penyekop kotoran!
__ADS_1
***
Sekitar jam lima sore, kegiatan klub akhirnya selesai.
Dari awal sampai akhir, jangankan menunggang, Satoru dan keenam anggota baru lain bahkan tidak mendekati kuda.
Mereka hanya bertugas untuk memindahkan kotoran dan membersihkan kandang. Membuat ketujuh orang itu merasa agak tertekan. Khususnya Ono yang tampak bisa roboh kapan saja.
“Astaga. Bukan hanya tidak menaiki kuda, kita bahkan menjadi petugas penyekop kotoran.”
Berjalan menuju asrama, Satoru menghela napas panjang dengan ekspresi tertekan di wajahnya. Tampaknya merasa agak menyesal telah bergabung dengan klub berkuda.
Saat itu, Satoru dan Ono mendengar suara ribut di kejauhan. Melihat ke sumbernya, Satoru tidak bisa tidak bergumam dengan ekspresi kusam.
“Sekarang apa lagi?”
Saat itu, beberapa anak kelas tiga berlari ke arah mereka sambil berteriak, “Anak kelas 1! Beberapa ayam dari kandang melarikan diri, bantu kami menangkapnya!”
Mendengar itu, Satoru dan Ono saling memandang lalu mengangguk. Mereka pun akhirnya mengikuti para senior untuk menangkap ayam.
Kurang dari satu jam kemudian dimana matahari hampir terbenam, ayam-ayam yang lolos akhirnya tertangkap.
“Terima kasih atas bantuan kalian! Nama kalian siapa dan dari asrama nomor berapa?”
“Nama saya Ono dari asrama 303.”
“Baik! Satoru dan Ono dari asrama 303. Setelah ayam selesai diasap, aku akan mengirimkannya kepada kalian.”
Senior kelas 3 yang terlihat tampan itu tersenyum ramah sambil mengayunkan pisau di tangannya. Menyembelih ayam yang baru saja mereka tangkap.
Melihat bagaimana darah memercik, Ono tiba-tiba merasa pusing. Dia belum pernah melihat pemandangan ‘berdarah’ semacam itu, jadi terasa terlalu berlebihan baginya.
Sebaliknya, Satoru melihat beberapa senior yang mulai menyembelih ayam dengan ekspresi agak bingung.
“Jika kalian memiliki alat lain, mungkin aku bisa membantu? Maksudku ... ini sudah petang dan pekerjaan tampaknya cukup banyak.”
Mendengar itu, senior tampan sebelumnya terkejut. Dia bertanya dengan ragu. “Apakah kamu tahu cara menyembelih ayam?”
“Aku sempat mempelajari itu sebelumnya.”
“Kalau begitu kami akan berterima kasih karena kamu mau membantu.”
Mendengar itu, Satoru mengangkat bahu sambil berkata, “Sebagai gantinya, tolong urus makan malamku.”
“Hahaha! Begitu lugas, tetapi aku menyukainya!”
__ADS_1
Dengan begitu, Satoru akhirnya membantu para senior menyembelih ayam, mencabut bulu, dan memotongnya.
Orang-orang yang Satoru bantu ternyata dari klub penelitian bahan makanan non-adiktif. Sebuah klub yang dibentuk untuk meneliti cara mengawetkan bahan makanan tanpa pengawet kimia yang berbahaya bagi tubuh. Sebuah klub dengan niat baik yang membuat Satoru cukup salut dengan mereka.
“Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu memiliki keterampilan yang luar biasa, Satoru-kun. Bagaimana jika bergabung dengan klub kami?”
Menyelesaikan pekerjaan mereka, para senior melihat ke arah Satoru dengan ekspresi takjub dan sangat ramah. Membuat pemuda itu merasa agak tidak nyaman karena orang-orang itu agak mengerikan.
“Terima kasih atas tawarannya, Shigeo-senpai. Namun aku sudah bergabung dengan klub berkuda dan ingin belajar, jadi aku akan menolak tawaran kalian.”
“Kalau begitu kalian bisa kembali. Tenang saja, aku akan memberikan bagian kalian berdua!”
Melihat Shigeo dan rekan-rekannya, Satoru mengangguk ringan. Dia berjalan pergi dengan Ono sambil melambaikan tangannya.
“Kalau begitu sampai jumpa.”
Setelah berpamitan, Satoru dan Ono pun pergi. Kembali ke asrama tanpa terburu-buru.
***
Keesokan paginya.
Selesai membersihkan kandang, mengganti alas jerami, membuang kotoran, dan memberi makan kuda, Satoru dan Ono pergi mandi lalu sarapan bersama Takeo dan Manabu.
“Apakah kamu baik-baik saja, Ono? Kamu tampak pucat, seperti akan roboh kapan saja.”
Mendengar perkataan Takeo, Ono langsung mengeluh.
“Akan terasa aneh jika aku baik-baik saja setelah belajar, bekerja seharian, lalu membantu mengurus ayam dan akhirnya mandi terlalu larut!”
Pada saat ucapan Ono selesai, mereka semua langsung mengalihkan pandangan mereka pada Satoru yang makan sarapan dengan tenang. Tampaknya apa yang terjadi kemarin sama sekali tidak mempengaruhi dirinya.
‘Binatang buas ini ...’
Ketiga teman sekamarnya tidak bisa tidak mengeluh dalam hati. Walau Satoru tidak terbiasa dengan pekerjaan para peternak dan kebiasaan orang-orang lokal, tetapi fisiknya yang sangat kuat membuatnya tampak tahan banting.
Jika dipikirkan baik-baik, rasanya agak mengerikan. Tidak tampak seperti remaja normal biasanya.
“Apa?” tanya Satoru sambil mengangkat alisnya.
Mendengar itu, ketiga teman sekamarnya langsung menggelengkan kepala secara bersamaan. Sama sekali tidak berani berkata kalau merasa si Satoru tidak normal dalam beberapa aspek!
Selesai sarapan, Satoru dan ketiga temannya hendak kembali ke asrama untuk bersiap. Namun, saat itu sosok gadis cantik berkepang dua menghalangi jalan mereka.
Gadis itu menunjuk ke arah Satoru lalu berkata dengan nada agak kesal.
__ADS_1
“Kamu ... ikuti aku sekarang!”
>> Bersambung.