
Setelah melakukan bersih-bersih, Ono mengikuti para siswa kelas 1 menuju ke lapangan berkuda. Saat itu juga, dia melihat Satoru yang menaiki kuda hitam. Ekspresi pemuda itu tampak tak acuh, ditambah dengan penampilan manusia dan kuda yang luar biasa, itu jelas mempesona banyak orang.
Ono mengalihkan pandangannya pada kuda yang biasa dia rawat. Melihat kuda yang agak pendek dibandingkan dengan kuda lain, warna bulu putih agak kusam, dan penampilannya agak buruk membuat pemuda itu menjadi lebih suram.
‘Sungguh kuda yang jelek.’
Dia kemudian melihat sekeliling. Mengamati banyak kuda yang lebih baik daripada kuda yang dirawatnya, Ono merasa semakin kesal dan marah.
‘Mereka semua memiliki tujuan. Mereka semua memiliki fokus masing-masing. Sudah aku duga, tempat seperti ini sama sekali tidak cocok untukku!
Kenapa rasanya tidak memiliki tujuan itu tidak berguna? Sebenarnya kenapa aku datang ke tempat terpencil seperti ini?
Jika bukan karena adanya asrama sehingga tidak perlu pulang atau ngekos, mana sudi aku berada di tempat seperti ini!’
Ono merasa semakin kesal. Dia merasa kalau hidupnya tidak pernah berjalan mulus. Selalu dibandingkan dengan kakaknya, mengalami kegagalan meski telah berusaha, dan merasa hidupnya sia-sia.
Saat itu juga, kuda di depan Ono tiba-tiba tampak marah. Melihat tatapan manusia yang penuh kebencian itu, dia langsung mendorongnya dengan keras sampai jatuh ke tanah lalu membuat rengekan tidak puas.
“ADUH!”
Jatuh ke tanah, Ono yang sebelumnya melamun langsung tersadar. Merasakan sensasi sakit, dia tanpa sadar berteriak, membuat banyak orang terkejut dan langsung mendekatinya.
“Apakah kamu baik-baik saja, Anak Muda?”
Pak Sengoku dan beberapa murid senior langsung mendekati Ono dengan begitu terburu-buru. Mereka jelas sangat khawatir kalau terjadi kecelakaan lain padahal satu semester pun belum berlalu. Jika sampai terjadi, bisa-bisa klub berkuda mendapatkan teguran keras dari atas, bahkan terancam dibubarkan.
Melihat orang-orang yang tampak panik, Ono bangkit dengan ekspresi malu sekaligus tertekan di wajahnya. Dia merasa wajahnya benar-benar hilang karena kejadian memalukan seperti ini.
Berusaha menenangkan diri, Ono akhirnya berkata, “S-Saya tidak apa-apa. Hanya terpeleset secara tidak sengaja.”
Mendengar itu, orang-orang yang tidak melihat bagaimana Ono dijatuhkan menghela napas lega. Sementara itu, ada juga beberapa orang yang menatap ke arah pemuda itu dengan ekspresi aneh.
“Apakah kamu yakin?” tanya Pak Sengoku dengan ekspresi serius.
“Y-Ya!”
Pak Sengoku melihat Ono dari atas ke bawah. Melihat wajah pemuda itu sebentar, dia langsung menggelengkan kepalanya.
“Kamu tidak dalam kondisi prima. Berbahaya jika memaksakan diri untuk berkuda, khususnya bagi pemula sepertimu. Karena itu, kamu pergi ke pinggir lapangan untuk menonton. Meski hanya mendengar teori, itu masih berguna bagimu.”
__ADS_1
“Tapi-“
Ono ingin menyela, tetapi akhirnya tidak jadi ketika melihat ekspresi serius Pak Sengoku dan merasakan tatapan dari orang-orang di sekitarnya. Dengan ekspresi tertekan di wajahnya, pemuda itu menunduk.
“BAIK!”
Setelah mengatakan itu, dia pun pergi meninggalkan lapangan dengan ekspresi suram. Semakin merasa kalau Akademi Greenfield memang tidak cocok baginya.
***
Sekitar jam 18:30 petang, semua murid berkumpul di kantin untuk menyantap makan malam mereka. Di meja tempat Satoru, Ono, Manabu, dan Takeo berada, suasananya tampak begitu canggung. Benar-benar berbeda daripada biasanya.
“Apakah kalian bertengkar?” tanya Takeo dengan ekspresi ragu.
“T-Tidak juga!” jawab Ono dengan ekspresi gugup. Tampak sedikit cemberut.
Saat itu, mereka melirik ke arah Satoru. Pemuda itu duduk di kursinya, makan dengan tenang tanpa merubah ekspresinya. Ekspresinya begitu datar, membuat mereka sama sekali tidak tahu apakah dia marah atau tidak.
Hanya saja, ekspresi canggung dan tidak enak di wajah Ono membuat semuanya jelas. Manabu dan Takeo tahu kalau mereka berdua sedang ada masalah. Sedangkan masalahnya apa ... mereka sama sekali tidak tahu kepala dan ekornya.
“Apakah sebaiknya kita membantu mereka berdamai sesegera mungkin?” bisik Takeo pada Manabu.
“Bukankah kita besok akan kembali. Jika memang bisa, mari kita damaikan mereka berdua. Jika tidak, biarkan mereka berbaikan di liburan Golden Week ini. Lagipula, masih ada waktu satu minggu,” bisik Manabu ketika membalas ucapan Takeo.
Satoru yang memiliki pendengaran baik tidak bisa tidak mengangkat alisnya. Dia merasa kalau kedua orang itu benar-benar tidak bisa begitu diandalkan. Selain itu, pemuda itu sendiri tidak merasa kalau dirinya sedang marah pada Ono.
Bisa dibilang, sebelumnya Satoru membalas secara refleks karena cukup muak dengan sikap Ono. Namun, setelah itu dia tidak lagi memikirkannya. Lebih tepatnya, pemuda itu tidak berniat untuk mengurus masalah semacam itu karena berpikir buang-buang waktu yang tidak perlu.
Bisa dibilang, Satoru langsung mencoret nama Ono dari list orang-orang dalam hidupnya.
Ya ... seperti yang biasanya dia lakukan.
Selesai makan malam, Satoru berniat pergi kembali ke kamar. Pemuda itu ingin membuat jadwal yang harus dia lakukan selama sisa waktu saat liburan Golden Week. Namun, dia sama sekali tidak menyangka ada orang yang tiba-tiba menghentikan jalannya.
Baru saja berjalan di lorong, satu orang berjalan menyusul lalu menghalangi jalannya.
“Kenapa kamu begitu terburu-buru, Kouhai-kun? Lagsung pergi setelah makan tanpa beristirahat sambil berbincang dengan teman-temanmu?”
“Ada apa, Senpai?” tanya Satoru.
__ADS_1
Pemuda itu mengangkat alisnya, benar-benar tidak menyangka kalau Natsumi tiba-tiba muncul dan menghentikannya.
“Kenapa kamu tampak tidak puas?”
Natsumi berkata dengan tangan di pinggangnya, melihat ke arah Satoru dengan ekspresi marah di wajahnya. Gadis itu benar-benar merasa kesal dengan sikap Satoru yang begitu tak acuh kepada semua orang, entah itu laki-laki atau perempuan, bahkan pada gadis cantik sepertinya.
“Ugh!”
Satoru langsung memegangi lehernya dengan tangan kiri, tampak kurang nyaman.
“Bukankah kamu terlalu menarik perhatian? Selain itu, aku selalu mendapatkan masalah setiap kali kamu datang.”
Satoru mengucapkan kalimat terakhir sangat pelan, dan tidak menyangka kalau Natsumi benar-benar mendengarnya.
Pada saat mendengar ucapan Satoru, Natsumi tampak seperti kucing yang ekornya diinjak. Dia langsung mendekati pemuda itu sambil bertanya, “Maksudmu aku sumber masalah? Hah?!”
“Bukan begitu,” balas Satoru dengan senyum dipaksakan.
“Lalu apa?!”
“Errr ... itu tidak penting. Omong-omong, apakah ada masalah? Kenapa kamu mencariku, Senpai?”
“Tentu saja ada masalah. Jika tidak, kenapa aku repot-repot mencarimu?”
Mendengar itu, Satoru langsung tersenyum pahit. Karena sangat jarang berhubungan dengan gadis seusianya, pemuda itu benar-benar merasa kerepotan ketika menghadapi Natsumi.
“Jadi, apa yang kamu butuhkan dariku, Senpai? Apakah itu ada hubungannya dengan klub berkuda?”
“Itu ...” Natsumi tertegun sejenak. Memiliki ekspresi ragu dan sedikit malu, dia berseru, “Ya! Memang ada hubungannya dengan klub berkuda. Meski tidak secara langsung. Apa yang kita lakukan adalah pengamatan. Ya! Itu pengamatan!”
Beberapa tanda tanya muncul di atas kepala Satoru. Pemuda itu benar-benar merasa agak bingung, sama sekali tidak paham apa yang Natsumi ucapkan.
“Tiga hari kemudian, setelah bersih-bersih dan memberi makan kuda, kamu akan menemaniku pergi menonton balap kuda! Apakah kamu mengerti?
Jika kamu sudah mengerti, maka aku akan pergi! Ingat, jangan lupa dan jangan sampai terlambat!”
Melihat Natsumi yang mengambil langkah seribu sebelum dia sempat menjawab, Satoru benar-benar tercengang. Setelah linglung beberapa saat, otak pemuda itu akhirnya memproses semuanya.
Satoru memiliki ekspresi rumit di wajahnya. Dia merasa sangat aneh sampai bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1
‘Mungkinkah ... ini ajakan kencan?’
>> Bersambung.