Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
176


__ADS_3

“Apa maksud dari semua ini Pak Tua?”


Seorang remaja mendorong pintu kantor, masuk ke dalamnya sambil membawa selebaran dengan ekspresi muram di wajahnya.


Satoru Fujiwara, seorang remaja tampan dengan kulit putih, rambut hitam, mata seperti mutiara hitam, dan alis bak pedang. Dia biasanya sangat tenang karena mendapatkan pendidikan ketat sejak dini. Namun, kali ini remaja tersebut jelas kehilangan ketenangannya.


“Seperti yang kamu lihat, itu adalah selebaran. Lebih tepatnya, selebaran sekolah tempat kamu akan mengenyam pendidikan setelah ini.”


Seorang lelaki tua dengan rambut, kumis, dan jenggot panjang berwarna putih membalas santai.


Dia adalah kakek Satoru, pemilik Fujiwara Group yang merupakan salah satu perusahaan terbesar di Jepang. Meski seluruh rambutnya telah memutih, tetapi sama sekali tidak kehilangan keagungannya. Tidak hanya tampak agung, tetapi terlihat bijaksana karena usia serta penampilannya.


“Kamu pasti bercanda, Pak Tua! Apa gunanya aku pergi ke tempat ini? Buang-buang waktu saja!”


Satoru berjalan ke arah kakeknya lalu menggebrak meja dengan keras. Menunjukkan selebaran Akademi Greenfield, sekolah pertanian terbesar di Hokkaido, bahkan Jepang.


“Kamu harus pergi ke sana untuk menjernihkan pikiran, Nak.”


“Pikiranku sudah jernih, mungkin kepalamu yang tak jernih karena sudah tua!”


“Otakmu tidak beres, Nak. Jangan kira aku tidak tahu apa yang terjadi pada Hiro. Jika bukan karena kedua orang tuanya memberiku wajah, kamu pasti sudah benar-benar berakhir!”


Mendengar seruan kakeknya, Satoru membalas dengan ekspresi tak puas.


“Orang-orang itu ... aku sudah membalaskan dendam Hiro! Aku-“


“Itulah masalahnya!” Lelaki tua itu memijat kening dengan ekspresi tertekan. “Bukan hanya tidak merasa bersalah karena sahabatmu diserang, kamu bahkan hampir membunuh orang! Kenapa kamu tidak bisa menjadi murid SMP yang normal!”


“AKU NORMAL! JELAS 100% NORMAL!”


“Normal dari mana! Bocah SMP membentuk Gang lalu mulai menantang anak-anak SMA, setiap hari bertarung seperti anjing kecil gila. Mencoba membuat Gang besar sambil menggigit di mana-mana!”


Lelaki tua itu menunjuk ke wajah Satoru lalu berseru.


“Kakek lelah membersihkan kekacauan yang kamu perbuat! Jadilah normal, belajar di sekolah, bermain-main, merasakan cinta, dan lakukan hal-hal yang remaja normal lakukan!”


Mendengar keluhan kakeknya, Satoru mengambil kursi lalu duduk dengan kaki bersilang. Pemuda itu menopang dagu, menunggu lelaki tua itu menyelesaikan ceramahnya.


Tepat ketika ucapan kakeknya selesai, Satoru berkata dengan nada penuh ejekan.


“Kamu bahkan tidak mendidikku dengan cara ‘NORMAL’ seperti yang kamu katakan, Pak Tua.”


Mendengar itu, sang kakek mengerutkan kening. Melihat penampilan cucunya yang tidak sopan, cuek, dan semakin mirip gangster membuatnya semakin marah.


“Aku jelas memberimu pendidikan terbaik!”


“Seperti menyuruh bocah berenang dengan kawanan hiu?” Satoru memiringkan kepalanya.

__ADS_1


“Aku hanya melatih mentalmu.”


“Naik perahu melewati sungai penuh dengan buaya?”


“...”


“Berkemah jauh di dalam hutan dan nyaris tidak tidur karena takut beruang muncul lalu ditampar sampai mati?”


“...”


“Daripada bertamasya di taman bermain, pergi melakukan perjalanan melalui gurun sampai hampir mati dehidrasi?”


“...”


“Lupakan soal hadiah ulang tahun replika berbagai senjata api, apakah kamu pikir normal untuk memberi anak SD kelas 5 sebuah katana asli? Bahkan bangga karena itu dibuat oleh pengrajin terkenal secara khusus?”


“Uhuk! Uhuk!”


Lelaki tua itu langsung pura batuk dengan pipi agak merah. Menyadari kalau tidak ada orang lain di kantor, dia akhirnya merasa lega. Melihat satu-satunya cucu laki-laki yang paling berharga, lelaki tua itu merasa agak menyesal.


“Itulah kenapa kamu harus pergi ke sana.”


“Itu hanya menunda, bahkan membuatku mengalami kemunduran! Perusahaan sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanian. Soal membuat kelompok kecil, kamu sendiri yang bilang untuk mengumpulkan orang-orang yang bisa dipercaya! Aku hanya melakukannya, jadi tidak ada yang salah dengan itu.”


Mendengar ucapan Satoru yang begitu tidak masuk akal, lelaki tua itu bersandar pada kursinya sembari memejamkan mata. Setelah menghela napas panjang, dia pun kembali berkata.


Satoru yang melihat kakeknya merasa puas. Dia kemudian bangkit lalu berjalan pergi dengan bangga. Tampaknya puas atas kemenangan yang dia dapatkan.


Hanya saja, remaja itu tidak tahu kalau sang kakek menatap punggungnya dengan mata menyempit.


Sama sekali tidak tahu apa yang dipikirkan olehnya.


♦♦♦


Dua minggu berlalu dengan tenang seperti aliran air.


Satoru mengerutkan kening. Mendengarkan kebisingan di sekitar, remaja itu membuka matanya. Saat itu juga, dia merasa agak pusing dan pandangannya agak buram.


Beberapa saat kemudian, Satoru yang berhasil mendapatkan kembali penglihatannya tiba-tiba tertegun di tempatnya. Alasannya sederhana ...


Dia tiba-tiba bangun di tempat yang begitu asing! Lebih tepatnya, halte bus di depan bandara yang bahkan dia tidak ketahui.


“Akhirnya kamu telah bangun, Anak Muda.”


“...”


Mendengar itu, Satoru menoleh dengan ekspresi kosong di wajahnya.

__ADS_1


Di sana, tampak sosok pria paruh baya dengan tubuh tinggi dan penuh otot. Kultinya berwarna gandum, tampak sangat sehat bagi orang seusianya. Pria itu memiliki senyum di wajahnya, alih-alih membuatnya terlihat ramah, itu malah membuatnya tampak mengerikan karena tampangnya yang seperti Yakuza.


“Ini dimana?”


“Hahaha! Sungguh lucu tidak tahu dimana kamu turun, Nak! Ini jelas bandara Sapporo, Hokkaido!”


“...”


Satoru membuka dan menutup mulutnya, tetapi tidak ada suara yang muncul. Mengingat apa yang terjadi semalam, remaja itu tampak linglung.


Semalam dia masih berada di Tokyo, berada di rumah dan santai seperti biasa. Ingatan terakhirnya adalah kesadarannya yang tiba-tiba mulai buram ketika meminum jus pada saat selesai latihan di malam hari.


“Omong-omong, namaku adalah Genjirou, guru bagian mekanisasi pertanian. Kamu bisa memanggilku Pak Genji, dan aku datang untuk menjemputmu sesuai dengan perintah kepala sekolah!”


Pria itu mengeluarkan tanda pengenal lalu memberikannya kepada remaja di depannya.


Satoru tampak linglung ketika menerima tanda pengenal. Melihat kopernya yang dibawa oleh Pak Genji, dia sama sekali tidak merespon. Benar-benar masih duduk di tempatnya dengan ekspresi kosong.


‘Mengirim orang tidak sadar pergi naik pesawat dan menerbangkannya ke Hokkaido, bukankah itu tindakan ilegal?’


Memikirkan itu, Satoru langsung membayangkan senyum penuh kemenangan di wajah kakeknya. Tampaknya, selama bisa diselesaikan dengan uang, sama sekali tidak ada hambatan bagi lelaki tua itu untuk melakukan sesuatu.


‘Tua bangka itu ...’


Sementara merasa pusing, Pak Genji menariknya sambil tertawa ramah. Karena benar-benar belum mencerna segalanya dengan baik, Satoru hanya pergi bersamanya. Masuk ke dalam mobil lalu memulai perjalanan mereka.


Dari bandara, pergi ke kota, melewati jalan utama lalu pergi ke tempat yang jauh dari perkotaan ... Satoru hanya duduk dengan ekspresi kosong sambil mendengar ocehan Pak Genji yang masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.


‘Karena Sakura yang mengirimkan jus, aku benar-benar tidak berhati-hati. Jika itu musuh, aku pasti sudah diracuni sampai mati.’


Mengingat ‘kekalahannya’ membuat Satoru yang cukup paranoid waspada. Sesekali dia melirik ke arah Pak Genji dengan curiga. Jika pria paruh baya itu memiliki pemikiran macam-macam, remaja itu tidak akan segan mematahkan beberapa tulang rusuk pria tersebut dengan tendangannya!


Begitulah yang Satoru pikirkan sampai akhirnya mereka tiba di depan gerbang akademi dengan selamat.


“Kamu turun di sini dan pergi ke gedung kantor lewat jalan itu. Bagian mekanisasi pertanian memiliki jalan berlawanan, jadi aku tidak bisa mengantarmu.”


Itulah yang diucapkan oleh Pak Genji setelah menurunkan Satoru dan kopernya. Pria itu langsung melambaikan tangan dengan senyum seperti penjahat sebelum pergi meninggalkan ramaja yang berdiri di depan gerbang dengan ekspresi linglung.


Melihat gerbang agak tua lalu pepohonan rimbun di mana-mana, Satoru berkedip. Alih-alih akademi, apa yang dia lihat lebih mirip dengan hutan.


Hutan luas dan pemandangan pegunungan di kejauhan.


Masih berdiri linglung dengan puluhan atau ratusan pemikiran rumit di kepalanya, pemuda itu tidak tahu kalau kehidupan baru yang sama sekali tidak dia ketahui telah menantinya.


Benar-benar menyambutnya dengan tangan lebar tanpa mengizinkannya mengambil langkah ke belakang!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2