Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
204


__ADS_3

Natsumi langsung melepaskan diri dari Pak Sengoku. Menendang kaki pria itu, dia mendengus dingin dengan ekspresi tidak puas di wajahnya.


“Pergi! Tinggalkan pria tak tahu malu ini sendiri! Benar-benar tidak bisa diharapkan!”


Satoru melihat Natsumi yang pergi lalu ke arah Pak Sengoku dengan ekspresi tak berdaya. Pemuda itu kemudian mengangkat bahu sebelum pergi mengikuti Natsumi. Dua orang lainnya, Ono dan Miyuki juga ikut pergi. Meninggalkan Pak Sengoku yang terdiam di tempatnya.


Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya berdiri di pinggir pagar pembatas untuk menonton pertandingan.


Sementara itu, Satoru dan Ono yang baru melihat arena pacuan kuda semacam itu secara langsung tampak heran. Berbeda dengan arena pacuan kuda biasa, tempat ini lebih mirip landasan pacu untuk sprint. Bedanya, ada dua tanjakan yang digunakan sebagai rintangan.


Bersama dengan suara peluit keras, semua penonton tampak begitu riuh. Banyak dari mereka berteriak dengan wajah bersemangat, bahkan agak berlebihan dan terlihat hampir putus asa.


‘LAMBAT!!!’


Satoru dan ono berteriak dalam hati mereka. Karena jarak pandang tertutup tanjakan pertama, mereka hanya bisa melihat kepulan asap dari kejauhan. Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya melihat para kuda dan jokinya.


Pada saat melihat kuda besar penuh otot yang menarik kereta luncur dengan berat di atasnya, Satoru dan Ono benar-benar tercengang. Mereka sama sekali tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti itu.


“Apa-apaan itu? Bukankah beban yang mereka tarik itu terlalu berat?” ucap Ono dengan ekspresi heran.


“Jalur ban’ei terdiri dari jalur tanah sepanjang 200 meter. Sedangkan berat yang mereka tarik sekarang adalah 450 kilogram, untuk yang lebih profesional, ada kelas berat 1 ton.” Miyuki berkata dengan senyum di wajahnya.


“Ton?!” ucap Ono dengan ekspresi tercengang.


Saat itu, suara Natsumi juga ikut terdengar.


“Aku dengar kuda dari keluargamu mengikuti balap ini? Yang mana kuda dari keluargamu?”


“Nomor 03, Kapten Brown!” ucap Miyuki dengan ekspresi penuh semangan dan rasa bangga.


Saat itu, pandangan mereka jatuh ke arah kuda berwarna coklat tua yang memimpin di depan. Hanya saja, kuda itu tiba-tiba terhenti. Melihat itu, Satoru dan Ono tampak bingung.


“Apa yang dia lakukan? Kenapa Kapten Brown berhenti?” tanya Ono dengan ekspresi cemas.


“Joki memang menghentikannya karena perlu tenaga ekstra untuk melewati rintangan ke dua! Tenang saja, semua baru saja dimulai di sini!” ucap Natsumi dengan ekspresi tegas.

__ADS_1


Melihat Kapten Brown yang memulai kembali, Satoru dan teman-temannya tampak sangat bersemangat. Namun, kuda coklat itu tidak sendiri karena kuda lainnya juga telah menyusul.


Pada saat melihat para kuda yang melewati rintangan (bukit) kedua, tangan mereka terkepal erat penuh dengan semangat.


***


Sekitar satu jam kemudian, Satoru dan teman-temannya berada di restoran sambil menyantap ramen.


“Itu benar-benar nyaris! Padahal sedikit lagi mendapatkan tempat pertama!” ucap Ono dengan ekspresi agak kesal.


Mendengar itu, Satoru tampak tak acuh. Sementara itu, Natsumi dan Miyuki saling memandang dengan senyum di wajah mereka.


“Apa yang salah jika tidak mendapatkan nomor 1? Aku rasa nomor 3 masih bagus. Dengan begitu, setidaknya kuda itu akan bertahan lebih lama dan tidak akan disembelih,” balas Miyuki dengan senyum lembut di wajahnya.


“Apa?! Jika mereka kalah, maka mereka akan disembelih? Meski mereka sudah berusaha begitu keras?” Ono berkata dengan ekspresi tertekan bercampur marah.


“Tentu saja usaha itu penting, tetapi para peternak hanya memikirkan hasilnya. Selama itu menang, berarti memiliki manfaat. Memang agak kejam, tetapi begitulah kenyataan.” Miyuki menatap Ono dengan senyum lembut di wajahnya.


Mendengar perkataan Miyuki, Ono mengepalkan tangannya lebih erat.


Jangankan memikirkan keuntungan semacam itu. Bahkan Satoru sudah melihat beberapa kekejian dan hal kotor dimana orang tidak ragu menjatuhkan rekannya untuk keuntungannya sendiri.


Yang berguna dipertahankan dan yang tidak berguna dibuang, Satoru sudah sangat akrab dengan sistem semacam itu. Belum lagi, mereka yang berada di atas memang sering melakukan hal semacam itu.


Pada akhirnya, suasana menjadi agak canggung karena pembicaraan itu. Saat itu juga, Natsumi tiba-tiba bertepuk tangan sambil berkata, “Daripada bingung, bagaimana kalau kita menemui Kapten Brown? Aku ingin melihat kuda balap Ban’ei dari dekat.”


“Baik!” balas Miyuki dengan senyum di wajahnya.


Setelah itu, mereka akhirnya pergi ke bagian belakang arena untuk melihat kuda. Di sana, tampak banyak orang yang berkumpul. Kebanyakan dari mereka adalah pemiliki atau pengurus kuda pacuan, tetapi ada juga beberapa orang luar yang mungkin teman atau pengunjung.


“Oh! Bukankah itu Miyuki-chan? Datang menonton pertandingan dengan teman-temanmu? Ternyata ada Natsumi-chan juga.”


Seorang pria paruh baya yang sedang merawat Kapten Brown berkata dengan senyum ramah di wajahnya. Ketika melihat Satoru dan Ono, dia mengelus dagu dengan mata menyempit, tampaknya mengawasi keduanya dengan baik.


Satoru dan Ono sendiri langsung mengangguk dengan sopan sebagai sapaan. Mata mereka kemudian teralihkan pada sosok kuda besar dan tampak kuat.

__ADS_1


‘Benar-benar tampak ganas, apakah dia berperilaku seperti bajak laut yang liar lalu dinamai Kapten Brown?’


Pada saat Satoru memikirkan itu, Kapten Brown tiba-tiba mendengus ganas sambil menggaruk tanah dengan kaki depannya. Melihat itu, pemuda tersebut mundur beberapa langkah lalu berkata dengan senyum masam.


“Maaf, aku tidak memiliki pemikiran buruk tentangmu. Itu tidak sengaja.”


Melihat Satoru yang tiba-tiba bicara pada kuda itu, orang-orang di sekitar sedikit terkejut. Bahkan paman yang merawat kuda langsung tertawa.


“Hahaha! Kuda ini sombong, tetapi ramah dengan orang yang berpenampilan menarik. Seharusnya dia ingin kamu menyisir bulunya.”


Setelah mengatakan itu, paman tersebut mengeluarkan sikat lalu menggosok tubuh kuda itu. Melihat ekspresi nyaman di wajah kuda, Satoru benar-benar terpana.


“Apakah anda bisa membaca pikiran kuda itu, Paman?” tanya Satoru dengan ekspresi bingung.


“Hahahaha! Itu benar-benar pertanyaan yang lucu sekaligus konyol.”


Pria paruh baya itu tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Setelah beberapa saat, ekspresinya berangsur-angsur menjadi tenang.


“Jika bisa mendengarkan pikiran para kuda di sini, aku mungkin sudah gila karena para kuda pasti membenci kami. Lagipula, mereka hidup dikurung, dipekerjakan secara paksa, dan dihabisi ketika dianggap tidak berguna. Bagaimana mungkin para kuda itu bisa menyukai kami jika memang bisa mengetahui itu.


Juga, orang seperti kami adalah orang-orang yang hidup dari kuda. Mungkin kami bukanlah orang yang baik, tetapi kami tetap menghargai mereka. Lagipula, itulah yang bisa kami lakukan.”


“Meski mereka kalah?” tanya Ono.


“Ya.” Pria paruh baya itu mengangguk. “Meski terdengar munafik, tetapi beginilah kebenarannya. Mungkin kamu bisa melihat cheetah dan rusa. Cheetah mengejar rusa sambil berdoa ‘Tuhan, aku kelaparan dan ingin makan.’ Sedangkan rusa yang dikejar cheetah berdoa ‘Tuhan, aku ingin hidup.’ ... jika seperti itu, siapa yang benar dan salah?”


“...”


“Baik dan buruk tidak bisa dilihat hanya dari sisi. Kita tidak bisa membenarkan pemikiran kita sendiri dan menyalahkan orang lain karena belum tentu tindakan kita benar di mata orang lain.”


Melihat ke arah Satoru dan teman-temannya, paman itu tersenyum.


“Hidup ini bukan soal menang dan kalah, bukan pula soal benar dan salah. Menurutku, daripada mencari kesalahan orang lain dan membenarkan diri sendiri ... kita perlu memiliki toleransi.


Menghargai pilihan mereka tanpa perlu menyalahkan apalagi memaksakan kebenaran kita kepada mereka.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2