
“Harta karun?”
Arthur melihat ke arah Daiki dengan ekspresi heran. Dalam informasi, jelas tidak tertulis masalah ini. Di dalam tugas, mereka hanya dibayar untuk membunuh Frost Wyvern. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan harta karun atau hal-hal semacam itu.
“Jangan terlalu kaku, Arthur. Sebenarnya informasi ini sendiri tidak diketahui oleh pemberi misi. Informasi ini juga aku dapatkan secara tidak sengaja. Meski tidak 100%, tetapi aku yakin kalau kita akan mendapatkan banyak hal jika misi ini selesai.
Kamu tahu, Frost Wyvern sering melakukan penyerangan terhadap karavan dan kavaleri yang lewat di daerahnya. Aku beberapa kali mendengar kabar kalau makhluk itu suka mengambil benda-benda berkilauan seperti emas, perak, dan berbagai perhiasan. Menurut dugaanku, makhluk itu pasti mengumpulkan banyak emas di sarangnya.
Jika kita bisa membunuh dan mengambil jarahan, kita pasti akan menjadi kaya!”
Mendengar Daiki yang begitu bersemangat, Arthur mengangguk ringan. Bukan hanya harta karun, tetapi bahan dari tubuh Frost Wyvern sendiri adaah bahan berharga. Jika bisa mendapatkannya, mereka jelas memiliki banyak keuntungan.
Melihat ke arah Daiki, Arthur langsung bertanya to the point.
“Misi ini diambil oleh Divisi 9, berarti yang akan mendapatkan hadiah dari pemberi misi adalah kalian. Selain itu, poin prestasi dan perhitungan penyelesaian misi adalah milik kalian. Jadi ... bagaimana kamu ingin membagi jarahan, Senior Daiki?
Kamu pasti tahu. Aku mungkin menghormatimu sebagai senior, tetapi aku tidak akan bekerja secara gratis. Lagipula, begitulah cara Garden of Death bekerja.”
Mendengar ucapan Arthur, banyak bawahan Daiki mengerutkan kening. Mereka tidak menyangka kalau ketua Divisi 10 akan begitu langsung. Menurut mereka, sebagai pendatang baru, seharusnya Divisi 10 lebih aktif membantu divisi lain agar mereka disambut dengan ramah. Namun, Arthur malah melakukan sebaliknya.
Ketika salah satu orang hendak mengatakan sesuatu, Daiki langsung menghentikan mereka. Dia sendiri berbicara.
“Itulah yang aku suka darimu, Arthur. Kamu benar-benar tidak bertindak dengan cara munafik seperti apa yang dilakukan orang-orang biasa. Begitulah ketua divisi dari Garden of Death harus berperilaku. Kita, setiap ketua divisi harus memiliki ego untuk memperkuat diri kita dan divisi kita sendiri.
Poin penyelesaian misi jelas akan menjadi milik Divisi 9. Namun, pendapatan dari pemberi misi akan dibagi dua. Lagipula, hal semacam itu hanya diambil satu kali setahun dan tidak perlu banyak dipikirkan. Sekarang adalah yang paling penting, yaitu pembagian jarahan.
Dari Frost Wyvern, aku tidak keberatan memberimu cakar dan juga ¼ dari sisik yang kita dapatkan. Sedangkan untuk harta karun yang didapatkan, aku tidak keberatan memberimu 20%. Dengan jumlah anggota dan pembagian tugas, aku rasa ini sudah adil dan menguntungkan dirimu, kan?”
“Itu tidak adil, Senior Daiki.”
Arthur langsung menolak tanpa sedikitpun keraguan. Melihat itu, Daiki mengangkat alisnya. Dia kemudian bertanya kepada pemuda itu.
“Kalau begitu, menurutmu bagaimana sebaiknya semua dibagi?”
__ADS_1
“Di bagian awal, aku sama sekali tidak keberatan. Hanya saja, di bagian jarahan, semua seharusnya dibagi menurut peran masing-masing. Bahkan jika jumlah kalian banyak, jujur saja ... hanya beberapa orang yang benar-benar berperan melawan Frost Wyvern.
Menurutku, Jotaro memiliki kemampuan lebih baik daripada lima prajurit terbaik kecuali ketua cabang. Selain itu, Lily sendiri juga lebih baik dari ketua cabang ini, hal itu bisa dilihat dari levelnya. Sedangkan aku sendiri merasa, seharusnya masih bisa bersaing denganmu, Senior Daiki.
Jadi aku menyarankan membagi tubuh Frost Wyvern setengah. Sedangkan harta yang didapatkan di gua, setidaknya aku akan mendapatkan 40% dari hasilnya.”
“Hehehe~ Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu begitu serakah, Arthur!”
Daiki menyeringai kejam. Saat itu, tekanan mengerikan muncul dari dalam tubuhnya. Mendapatkan tekanan dari Daiki, Arthur sama sekali tidak merubah ekspresinya. Pemuda itu malah menyempatkan diri untuk menyesap teh lalu membalas santai.
“Begitulah pendapatku, Senior Daiki. Jika tidak mempercayainya, kita bisa mencobanya.”
“Hah?! Kamu ... ingin mencoba bertarung denganku?” tanya Daiki.
“Bukan hanya aku, tetapi Divisi 10 melawan Divisi 9. Meski tidak lengkap, selama kami mengalahkan cabang ini, kamu menganggap kami memiliki kekuatan yang pantas diperhitungkan, bukan?”
Daiki langsung menggebrak meja. Pria besar itu kemudian tertawa terbahak-bahak. Dia menatap ke arah Arthur dengan ekspresi semakin tertarik. Jika tidak tahu rumor kalau Daiki suka berjudi, mabuk, dan juga bermain wanita ... Arthur pasti sudah curiga kalau pria itu tidak normal karena cara memandanginya yang berlebihan.
“Menarik! Sangat menarik, Arthur! Pria yang dipilih pemimpin secara pribadi memang harus seperti ini!
Jika tidak, aku akan menandaimu sebagai orang yang hanya bisa bicara. Selain itu, kamu harus membantuku secara gratis. Maksudku, kamu masih mendapatkan hasil dari pemberi misi, tetapi tidak mendapatkan sedikit pun jarahan.
Bagaimana, Arthur? Apakah kamu berani?”
Arthur menyesap teh dengan tenang. Meletakkan cangkir teh perlahan, dia menatap ke arah Daiki lalu membalas.
“Setuju.”
“Bagus!” ucap Daiki puas. “Kalau begitu kita akan bertarung satu minggu kemudian di arena. Sambil menunggu, kamu bisa beristirahat dan mempersiapkan diri dengan baik di kamar tamu.”
“Satu minggu kemudian? Kenapa tidak sekarang?”
“Tentu saja karena aku serakah dan menginginkan keuntungan. Jika kita membuat pertarungan megah di arena, aku bisa menjual tiket. Bukan hanya para penduduk kota, tetapi banyak kultivator di wilayah sekitar akan datang untuk menonton. Itu berarti ... aku bisa mendapatkan keuntungan besar!
__ADS_1
Tentu saja, karena kamu penantang dan aku yang mempersiapkan segalanya, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari duel ini. Apakah kamu keberatan?”
Mendengar itu, sudut bibir Arthur berkedut. Menghela napas panjang. Dia kemudian berkata.
“Pantas saja kamu terkenal menjadi salah satu yang paling kaya di antara ketua divisi lain padahal bergabung terlambat dibandingkan divisi lainnya, Senior Daiki. Aku, Arthur cukup takjub melihat caramu menghasilkan uang dari apa saja yang bisa kamu manfaatkan.”
Mendengar itu, Daiki tertawa terbahak-bahak. Meski keduanya akan berduel, ini bukanlah duel hidup dan mati. Bisa dibilang, lebih mirip dengan pertandingan persahabatan. Keduanya sama sekali tidak akan saling membenci karena beberapa hal sepele seperti itu.
Daiki kemudian melihat ke arah Arthur lalu berkata.
“Kalau begitu, mari makan sepuasnya! Pastikan menjaga energimu dan tidak tampil buruk satu minggu kemudian!”
***
Satu minggu berlalu begitu saja.
Bangun tidur di pagi hari, Arthur melihat Jotaro dan Lily yang tampak gugup. Lagipula, meski diperlakukan dengan baik, mereka juga melihat dengan jelas rasa percaya diri dari para anggota Divisi 9. Dari penampilannya saja, mereka juga tahu kalau Daiki sama sekali tidak lemah.
“Apakah kamu baik-baik saja, Bos? Hari ini kota sangat ramai. Apakah kita tidak bisa melakukan pertandingan yang lebih tertutup untuk menjaga privasi?”
Mendengar itu, Arthur mengangkat bahu.
“Aku yang akan bertarung, kenapa kalian berdua yang tampak gugup?”
“Eh?”
Melihat ekspresi datar di wajah Arthur, keduanya terkejut. Saat itu, Jotaro bertanya dengan nada penuh semangat.
“Apakah kamu menemukan cara untuk menghadapi Tuan Daiki, Bos? Bagaimana dengan persiapanmu?”
“Persiapan?”
Arthur memiringkan kepalanya. Mengabaikan Jotaro yang bersemangat, dia berkata dengan nada santai.
__ADS_1
“Lakukan saja seperti biasa.”
>> Bersambung.