
Waktu terus mengalir, tanpa disadari, sudah kari ke-90 sejak Arthur datang untuk mengajar Nanami.
Hanya saja, sejak penolakan Arthur, hubungan antara guru dan murid itu menjadi cukup canggung. Bahkan Jotaro dan ibu Nanami juga merasa agak tertekan karena hubungan mereka. Hari demi hari yang dihabiskan benar-benar lebih berat dibandingkan sebelumnya.
Untung saja, ibu Nanami telah membaik dan menjadi semakin baik sehingga bisa membimbing putrinya. Peran Arthur lebih berkurang dibandingkan sebelumnya. Dia hanya mengatur jadwal, mengajar beberapa hal, dan memberi Nanami serta ibunya beberapa sup herbal yang membantu mereka. Sedangkan latihan dilakukan oleh Nanami sendiri dengan ibunya yang mengoreksi jika ada kesalahan.
Sedangkan untuk Masanobu, dia sekarang tidak lagi ikut campur. Pada awalnya, lelaki tua itu datang untuk memeriksa putrinya yang berhasil siuman dan mulai membaik. Pada awalnya, dia mencoba untuk memperbaiki hubungan, tetapi tampaknya tidak berhasil. Lagipula, menjaga cangkir agar tidak retak lebih mudah dibandingkan memperbaiki cangkir yang retak.
Tanggapan ibu Nanami jelas membuat Masanobu ragu. Lagipula, orang tua itu pasti tidak akan membiarkan bahaya tersebunyi membayang-bayangi Kerajaan Fuji. Namun setelah diyakinkan oleh Arthur, lelaki tua itu akhirnya memilih untuk percaya.
Meski enggan, pada akhirnya Masanobu dipaksa untuk menganggap putrinya telah meninggal. Tidak ada putri atau cucu perempuan dari pihaknya, hanya orang asing. Dengan begitu, Nanami dan ibunya akan pergi setelah masa latihan diselesaikan.
“Kamu benar-benar berbakat, Nanami. Telah menembus tingkat bronze bintang lima dalam waktu tiga bulan. Jika terus berusaha, kamu pasti berhasil menembus tingkat silver sebelum satu tahun.”
Di halaman belakang, seorang wanita cantik yang agak pucat melihat putrinya dengan senyum lembut di wajahnya.
Nanami sendiri masih mengayunkan pedang dengan ekspresi serius. Ingatan tentang penolakan Arthur sangat jelas di kepalanya. Itu membuatnya sangat kesal. Dia juga mengingat ekspresi penuh rasa hormat dan takjub tiga lelaki tua saat berada di tambang besi dingin. Dari penampilan mereka saja gadis itu yakin kalau Arthur memiliki peran penting dalam menghadapi Ground Dragon.
Belum lagi, gurunya sekarang telah menembus tingkat gold bintang 2. Dia sama sekali tidak bisa membayangkan betapa kuatnya pria iru sekarangan. Oleh karena itu, Nanami sama sekali tidak berani kendur. Jika sampai sedikit lengah, mustahil baginya untuk mengikuti bayangan sang guru.
“Waktunya untuk istirahat, Nanami.”
“Aku akan berlatih sebentar lagi, Ibu.”
“...”
Melihat putrinya yang berusaha begitu keras, wanita itu hanya bisa tersenyum masam. Dia merasa senang sekaligus sedih.
Di satu sisi, dia merasa senang karena Arthur menolak Nanami untuk mengikutinya. Meski Athur kuat, wanita itu tahu kalau dunia luar benar-benar sangat berbahaya. Nanami masih terlalu muda, bukan hanya menjadi beban, tetapi ada banyak resiko mengalami kecelakaan. Sebagai seorang ibu, tentu dia tidak ingin suatu hal buruk terjadi pada putrinya.
Di sisi lain, dia merasa sedih melihat Nanami terus berusaha keras tanpa letih. Meski itu juga untuk Nanami sendiri, tetapi wanita itu merasa kalau putrinya berusaha terlalu keras. Belum lagi melihat Nanami tertekan. Itu juga membuatnya merasa tertekan.
__ADS_1
Sore harinya sebelum latihan diakhirnya.
“Saya ingin menantang anda, Guru.”
Nanami berkata kepada Arthur dengan ekspresi serius di wajahnya. Mendengar itu, Arthur mengangguk ringan.
Bukan hanya ibunya, tetapi Jotaro juga mengetahui kebiasaan Nanami untuk menantang Arthur setiap beberapa hari sekali. Menurut perjanjian, selama gadis itu bisa mengalahkan Arthur dalam tingkat kultivasi yang sama sebelum latihan 100 hari diselesaikan, pemuda itu akan menarik kata-katanya dan mengizinkan Nanami ikut.
Itu juga salah satu alasan kenapa Nanami berusaha berlatih lebih keras.
“Aku siap kapan saja.”
Arthur berdiri di tempatnya dengan tenang. Dia sama sekali tidak mengeluarkan senjata. Seperti biasa, berencana menghadapi Nanami hanya dengan tangan kosong.
Nanami menarik keluar pedangnya. Dia menatap ke arah Arthur dengan ekspresi serius di wajahnya. Menarik napas dalam-dalam, gadis itu berkata.
“Saya mulai!”
Swoosh!
Arthur mengambil satu langkah mundur sambil sedikit memutar tubuhnya, langsung menghindari serangan gadis itu. Namun serangan Nanami tidak berhenti di sana. Selain tebasan pertama, gadis itu terus mengikutinya dengan gerakan demi gerakan. Kombinasi setiap gerakan benar-benar berjalan sangat natural seperti air mengalir. Pencapaiannya dalam menggunakan pedang jelas tidak lagi buruk.
Hanya saja, ketika berhadapan dengan Arthur ...
Hal tersebut masih jauh dari kata cukup!
BANG!
Arthur berhenti menghindar. Dia langsung mendekat dan menyerang. Langsung memecah serangan beruntun Nanami, lalu memukul gadis itu sampai terpental mundur beberapa meter.
Saat Nanami hendak bergerak, sosok Arthur sudah berdiri di sampingnya dan jari telah diarahkan ke tenggorokannya.
__ADS_1
“Cukup.”
Arthur berkata dengan nada santai sebelum melanjutkan.
“Kamu sudah sangat baik karena bisa melakukan serangan kombo terus-menerus. Hanya saja, sekali kombo itu rusak, kamu bisa dengan mudah dikalahkan karena celah dalam pertahanan. Setelah memperlajari ini, kekuatanmu pasti akan meningkat ke level lain.”
“Tetap saja, masih tidak mungkin untuk mengalahkan anda.”
Nanami berkata dengan nada tertekan. Dia menggigit bibirnya. Kesedihan sempat terlintas dalam matanya, tetapi segera digantikan dengan tekad. Gadis itu kemudian membungkuk sopan, berterima kasih atas pelajaran hari ini.
Setelah itu, Nanami berbalik untuk pergi. Dia melakukannya entah karena lelah dan ingin segera merawa luka lalu beristirahat, atau tidak ingin berlama-lama dengan gurunya jika tidak dalam waktu latihan. Mungkin juga keduanya.
Sang ibu yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala lalu menyusulnya. Sedangkan Jotaro hanya memandang Arthur dalam diam. Sama sekali tidak berniat untuk ikut campur.
Melihat Nanami pergi, Arthur menghela napas panjang. Dia merasa kalau menghadapi seorang gadis itu terlalu rumit. Pemuda itu sama sekali tidak memiliki banyak pengalaman dalam hal semacam itu. Dia hanya ingin hidup berkelana dengan bebas. Tidak kurang, tidak lebih.
Membawa Jotaro saja sudah membuatnya kerepotan, belum lagi membawa gadis yang masih labil. Dia jelas tidak tahan menghadapi tekanan semacam itu.
Bukan hanya itu, ada alasan kenapa Arthur menolak berhubungan terlalu dekat dengan orang lain. Khususnya dengan orang-orang biasa.
Arthur sama sekali tidak sombong atau menganggap mereka lebih rendah dibandingkan dengan dirinya. Pemuda itu hanya merasa cukup takut kehilangan. Dia telah mengalami perasaan kehilangan orang yang dia anggap sangat berharga. Perasaan menyakitkan semacam itu, Arthur sama sekali tidak ingin mencoba untuk terbiasa dengannya.
Melihat langit senja, Arthur mengingat sebuah idiom dari timur yang diambil dari kitab Buddha.
‘Eshajori.’
‘Setiap pertemuan harus melibatkan perpisahan. Mereka yang bertemu pada akhirnya harus berpisah.’
Memikirkan itu, Arthur hanya bisa menutup mata sambil menghela napas tanpa mengucapkan sepatah kata.
>> Bersambung.
__ADS_1