Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
197


__ADS_3

Siang harinya.


Berada di kantin, Satoru memakan makan siangnya dengan ekspresi tenang di wajahnya.


“Apakah kamu benar-benar ingin merawat anak-anak babi yang kurang gizi itu, Satoru-san?”


Mendengar pertanyaan Ono, Satoru mengangguk ringan. Meski belum pernah memelihara babi, pemuda itu masih cukup percaya diri. Pak Okuda mau mempercayainya, jadi seharusnya itu tidak begitu sulit.


Takeo dan Manabu melihat Satoru dengan ekspresi rumit di wajah mereka. Pernah dipukul sekali, mereka agak takut pada pemuda itu. Jadi kali ini mereka tidak berkomentar. Namun, sama dengan Ono, mereka juga agak khawatir pada kondisi Satoru.


Menghabiskan pagi di klub berkuda, istirahat siang sebentar, praktik di siang sampai sore, ikut klub berkuda pada sore hari, belajar di malam hari. Ditambah mengajar teman sekelas ketika senggang dan mengurus babi ... jadwal Satoru benar-benar terlalu padat jika dibandingkan murid lain.


“Apakah kamu yakin Satoru-san? Maksudku, kita ikut ekskul berkuda dan sudah sibuk. Apakah itu tidak berlebihan?” tanya Ono.


“Aku masih bisa menanganinya,” jawab Satoru.


Ekspresi Satoru berangsur-angsur menjadi lebih serius. Alasan kenapa dia melakukan ini bukan agar tampak sibuk, sok, atau terlihat rajin. Ada alasan kenapa pemuda itu ingin melakukannya. Bukan untuk mendapatkan pujian atau perhatian dari orang lain ...


Satoru hanya ingin membuktikan sesuatu dan melihat itu dengan matanya sendiri!


***


Setelah makan siang, Satoru dan semua teman sekelasnya pergi ke kandang babi.


Sesampainya di sana, Pak Okuda sudah menunggu mereka dengan senyum lembut di wajahnya. Beliau melihat ke arah Satoru lalu menggeleng ringan.


“Kamu benar-benar membuat akademi ini semakin ramai, Anak Muda.”


“...”


Satoru hanya bisa diam dengan ekspresi malu di wajahnya. Baru saja datang dari Tokyo, dia sudah membuat hampir semua siswa-siswi mendekatinya. Baru beberapa waktu berlalu, sekarang dia sudah membuat keributan lain lagi.


Hal semacam itu benar-benar diluar kendalinya, tetapi masih membuat pemuda itu merasa agak malu ketika ada orang ramah yang membicarakannya.


Tidak lagi membahas soal Satoru, Pak Okuda mulai mengajar murid-murid seperti biasa. Tanpa terasa, beberapa jam berlalu begitu saja.


Sementara jam pelajaran hampir usai, Pak Okuda memanggil Satoru. Dia membawanya pergi ke tempat dimana para induk dan anak babi berada.


Kandang induk dan anak-anak dipisah agar anak-anak babi tidak mati karena ditimpa induknya sendiri tanpa sengaja. Di empat kandang berbeda, ada masing-masing delapan anak babi. Jadi totalnya 32 ekor.

__ADS_1


Di setiap kandang, ada babi paling kecil dan kurang gizi karena tidak mendapatkan cukup nutrisi.


Melihat babi kecil yang tampaknya nyaman dan menerima takdirnya itu, Satoru mengangkat alisnya. Ketika anak-anak babi lain selesai minum, dia mengambil anak babi itu dan memindahkannya ke bagian depan. Namun, anak babi itu tidak ingin minum dari sana dan malah kembali ke belakang.


“Dipaksa pun, anak babi itu tidak akan mau. Itulah kenapa kita harus memberinya nutrisi tambahan. Lagipula, memang begitulah sifat alami mereka.” Pak Okuda menggeleng ringan.


Lelaki tua itu menatap ke arah Satoru yang tampak linglung. Memiliki senyum ramah di wajahnya, dia berkata, “Aku dengar kamu ikut klub berkuda. Apakah itu benar, Satoru-kun?”


“Ya.” Satoru mengangguk.


“Kalau begitu, sulit bagiku untuk mengizinkan kamu merawat mereka.”


“Kenapa?” tanya Satoru dengan ekspresi bingung.


“Karena bukan hanya membebanimu, tetapi peraturan sekolah memang begitu. Jika kamu memiliki banyak waktu, sekolah pasti akan mengizinkan karena Akademi Greenfield hampir memperbolehkan segala hal positif. Namun, kali ini berbeda.


Waktumu sendiri sudah sangat padat. Kamu tidak memiliki waktu untuk mengurus anak babi ini dengan serius. Bukan hanya membuat kerugian dan pembuangan dana tidak perlu bagi sekolah, tetapi main-main dengan kehidupan semacam itu sama sekali tidak kami perbolehkan.”


“Saya akan merawat mereka dengan serius!” tegas Satoru.


Pak Okuda ingin menasihatinya. Namun ketika melihat mata penuh tekad pemuda itu, dia akhirnya hanya bisa menghela napas panjang.


“Aku tidak tahu kenapa kamu ingin melakukan hal semacam itu. Namun kamu harus tahu batasanmu sendiri, Satoru-kun.”


“...”


Melihat itu, Pak Okuda menghela napas panjang. Dia menghampiri Satoru yang berjongkok sambil memegang babi kecil. Guru ramah dan baik hati itu menepuk punggung pemuda tersebut.


“Setelah pelajaran selesai, kamu tinggal sebentar. Ada yang ingin aku tanyakan. Ini akan mempengaruhi apakah kamu boleh merawat mereka atau tidak.”


“BAIK!” Satoru mengangguk tegas.


Melanjutkan pelajaran sebentar, semua murid akhirnya dibubarkan. Saat itu, Satoru tinggal di tempatnya dengan ekspresi agak gugup.


“Katakan padaku secara jujur, Satoru-kun. Kenapa kamu ingin melakukan hal merepotkan semacam itu? Katakan padaku alasanmu.”


“Itu karena ... saya bingung.”


Satoru sedikit tertunduk. Melihat lantai dengan ekspresi penuh keraguan, pemuda itu menghela napas.

__ADS_1


Pemuda itu mendapatkan pendidikan sangat baik dari kecil. Dia dijejali dengan berbagai ilmu. Ditambah dengan latar belakang yang luar biasa dan bakat menakjubkan yang diberikan Tuhan kepadanya, Satoru hampir tidak mengalami hambatan dalam hidupnya. Namun, itu juga membuatnya merasa hampa.


Satoru belajar banyak hal dan hampir menguasai yang dipelajarinya. Namun, dia sama sekali tidak mengerti nilai-nilai kehidupan.


“Aku rasa, mereka layak mendapatkan kesempatan.”


Satoru menatap ke arah anak-anak babi di kejauhan. Dengan ekspresi kosong dan mata kusam, pemuda itu berkata dengan nada datar.


“Ketika manusia melakukan kesalahan, mereka seharusnya diberi kesempatan untuk merubahnya setidaknya satu kali. Jika memang masih melakukannya, maka bar memutuskan hukumannya. Setidaknya, hal semacam itu yang ingin aku inginkan.


Kita bisa memberi orang lain kesempatan untuk berubah. Jadi, aku pikir babi juga seperti itu. Kita tidak bisa membiarkan mereka begitu saja hanya karena hukum alam. Hanya karena lemah, kita harus membuangnya?


Bukankah anda pernah bilang kita harus membantu mereka?”


“Manusia dan ternak tidaklah sama anak muda. Selain itu, dunia tidak selalu berputar di sekitarmu. Jadi, kamu tidak bisa hanya berbicara dan berharap semua selalu menjadi sesuai dengan keinginanmu.


Sekuat apapun kita, tetap saja kita adalah manusia. Makhluk kecil yang tidak bisa mengendalikan segalanya. Jangankan segalanya, kita bahkan tidak bisa mengendalikan sesuatu di sekitar kita.


Kita memang harus memperjuangkan sesuatu. Namun, kita tidak harus memaksa apa yang kita perjuangkan terwujud. Karena, terkadang hidup sulit dan kita harus bisa menerima fakta dengan lapang dada.”


Melihat Satoru yang bingung, Pak Okuda tersenyum ramah. Dengan kedua tangan di belakang punggungnya, dia melanjutkan penjelasan.


“Contohnya sapi perah. Kita bisa menghasilkan banyak susu dari mereka dan bahkan mulai bergantung dan menyayangi mereka. Namun, sapi-sapi itu juga bisa tua dan menghasilkan susu lebih sedikit.


Jika dihitung biaya pakan, biaya mengurus, energi, waktu, dan sebagainya, akan rugi besar jika terus melanjutkannya. Jika rugi, maka peternak itu juga bisa terlilit hutang atau semacamnya. Jadi, mau tidak mau sapi-sapi itu akan dijual dan dijadikan daging.”


“Itu ...” Satoru linglung.


“Itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Namun ucapanmu juga benar. Anak-anak babi ini memang memiliki kesempatan. Jadi kamu boleh mencoba merawat mereka.”


Melihat senyum ramah Pak Okuda, Satoru langsung membungkuk.


“Terima kasih banyak, Okuda-sensei!”


“Sama-sama.”


Melihat ke arah Satoru yang tampak begitu lega, Pak Okuda menggeleng ringan. Memejamkan matanya, lelaki tua itu berpikir.


‘Sungguh pemuda baik yang belum melihat dunia. Aku harap, dia bisa bertahan ketika akhirnya bertemu dengan masalah seperti itu. Lagipula ...’

__ADS_1


‘Dunia ini tidak seramah yang dia kira.’


>> Bersambung.


__ADS_2