Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
200


__ADS_3

“BAIK!”


Satoru mengangguk dengan ekspresi serius di wajahnya. Pemuda itu langsung melepaskan kerah Jiro, lalu mengikuti Pak Aikawa. Bahkan, dia sedikit terburu-buru ketika berjalan.


Satoru merasa cukup bersemangat karena kakeknya akhirnya mau menghubunginya. Namun, setelah beberapa saat berjalan, pemuda itu menjadi lebih tenang. Dia juga memikirkan berbagai kemungkinan lain.


Sampai di depan pintu kantor kepala sekolah, Satoru menarik napas dalam-dalam.


“Masuk.”


Mendengar ucapan dari dalam kantor, ekspresi Satoru menjadi lebih tenang dan stabil dibandingkan sebelumnya. Dia kemudian mengikuti Pak Aikawa masuk ke dalam kantor.


Masuk ke dalam kantor, pintu langsung ditutup oleh Pak Aikawa. Satoru juga melihat kepala sekolah yang sedang menelepon.


“Dia sudah datang. Kamu bisa bicara langsung dengannya.” Setelah mengatakan itu, kepala sekolah langsung menoleh ke arah Satoru lalu berkata, “Dari kakekmu.”


Satoru berjalan mendekat lalu menerima telepon yang diserahkan oleh kepala sekolah.


“Halo.”


‘Oh! Akhirnya terhubung. Bagaimana kabarmu di sana, Bocah? Kamu benar-benar masih membuat masalah meski ada di tempat asing?’


“...” Satoru hanya diam, tetapi merasa agak lega mendengar suara kakeknya yang masih lantang dan terdengar begitu sehat.


‘Apa? Apakah kamu pikir kakekmu sekarat? Jangan mengada-ada! Aku masih sangat sehat, jadi jangan buru-buru memberiku seorang cicit! Sekolah saja yang benar!’


“...” Mendengar itu, Satoru tidak bisa tidak melihat ke arah kepala sekolah dengan ekspresi tak berdaya.


‘Kenapa kamu diam saja? Apakah kehidupan di sana berat dan membuatmu tidak bisa makan atau tidur nyeyak?’


“Jangan menyepelekan aku, Pak Tua. Aktivitas seperti ini tidak akan terlalu mempengaruhiku.”


‘Hmph! Lihat siapa yang melatihmu sampai seperti itu!’


Kepala sekolah yang mendengar ucapan temannya dari telepon tidak bisa tidak merubah ekspresinya. Wajah lelaki tua itu langsung menjadi gelap. Benar-benar marah karena temannya masih bisa bangga setelah melakukan hal semacam itu.


“Jangan pamer, Pak Tua. Omong-omong, kenapa kamu menelepon? Saking kagetnya, aku pikir kamu sudah berjalan satu langkah ke peti mati,” ucap Satoru dengan nada datar.


‘Kamu ... bocah durhaka! Aku ...’


“Apakah kamu mengkhawatirkan aku, Pak Tua? Tenang saja, hal semacam ini tidak akan menjadi masalah bagiku.”


‘Siapa yang mengkhawatirkanmu! Aku hanya mendengar kamu membuat masalah, jadi ingin bicara langsung untuk memarahimu, Bocah Bau!’


“Ini hanya salah paham kan? Aku sudah membereskannya. Omong-omong, sejarah hitam dimana aku dibius dan pingsan di jalan karena kelaparan ... aku masih mengingatnya dengan jelas!”

__ADS_1


‘Uhuk! Uhuk!’


Saat itu, suara batuk yang canggung terdengar di sisi lain telepon. Sementara itu, kepala sekolah dan Pak Aikawa tampak bingung. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau ada kejadian semacam itu.


‘Itu adalah pilihan terakhir karena kamu tidak patuh! Maksudku, kamu tidak mau melakukannya jika dibujuk secara langsung. Sedangkan meminta para penjaga memaksamu, itu pasti akan menjadi pemandangan berdarah karena adu jotos. Setelah itu pun, kamu pasti akan berusaha mencari cara untuk melarikan diri!


Jangan kira aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, Anak Muda! Terlalu dini 40 tahun bagimu untuk melampauiku! Hahaha!’


“Pak Tua ini ...” Satoru menggertakkan gigi. “Jika kamu hanya ingin pamer, aku akan menutup telepon!”


‘TUNGGU!’


“Apa lagi?” tanya Satoru dengan nada kesal.


‘Uhuk! Lusa akan ada liburan Golden Week, kan? Apakah kamu ingin kembali? Jika kamu mau, kepala sekolah akan memberimu izin. Besok kamu bisa pulang dan berlibur di rumah selama satu minggu.’


“Jika aku kembali, mungkin aku tidak akan pergi ke akademi ini lagi.”


‘...’


Mendengar kesunyian di sisi lain, Satoru mengangkat sudut bibirnya. Pemuda itu menghela napas sebelum berkata, “Aku tidak akan kembali. Setidaknya, untuk saat ini aku tidak akan pulang.”


‘Kenapa?’ tanya sang kakek dengan nada bingung.


Selain itu, kamu memang benar Pak Tua. Aku masih terlalu bodoh dan ceroboh. Ada banyak hal yang bisa aku lihat dan pelajari. Rasanya memang tidak sia-sia aku sampai ke tempat ini.


Kata-kata katak di dalam sumur mungkin kurang cocok bagiku. Bisa dibilang, aku adalah orang yang berdiri di puncak gunung tertinggi. Hanya saja, karena terlalu tinggi, aku hanya bisa melihat awan. Sama sekali tidak bisa melihat pemandangan di bawahnya.


Aku ... masih perlu banyak belajar tentang dunia.”


‘Hiks!’ Suara tangis terdengar dari sisi lain telepon.


“Hah?! Apakah kamu menangis, Pak Tua?”


‘Diam! Hiks! Siapa yang menangis, Bocah Bau! Aku hanya tersedak teh karena ucapanmu yang penuh omong kosong dan bualan!’


“Pffft! Hahahaha!”


Satoru yang jarang tertawa sekarang tertawa lepas sambil menyeka sudut matanya. Pemuda itu tampak senang dan puas. Terlihat lebih ceria dibandingkan sebelumnya.


‘Bocah Bau! Kamu ... kamu benar-benar meminta pemukulan!’


“Pukul saja jika kamu mampu, Pak Tua! Pinggangmu tidak lagi mampu menanggung gerakan sebesar itu!”


‘Cih! Kalau begitu biar aku tanya sekali lagi. Apakah kamu benar-benar tidak ingin pulang untuk liburan?’

__ADS_1


“Tidak! Aku ingin tinggal di sekolah. Selain itu, aku sebenarnya ingin berkeliling di sekitar tapi kamu terlalu pelit! Setidaknya beri aku sedikit uang untuk jalan-jalan dan jajan, Pak Tua!”


‘Kalau seperti itu, kamu tidak akan merasakan ujiannya, Bodoh!’


“Cih! Aku hanya bercanda, kenapa kamu menanggapinya dengan begitu serius?”


‘Kamu yang memulainya!’


Mendegar itu, Satoru mengangkat bahu. Pemuda itu kemudian berkata, “Jika tidak ada apa-apa, aku akan menutup telepon. Juga, jangan lupa jaga kesehatanmu, Pak Tua. Jangan terlalu banyak lembur, aku tidak ingin kamu segera melangkah ke peti mati! Bye!”


Setelah mengatakan itu, Satoru pun menutup teleponnya.


***


Sementara itu, dalam sebuah kantor di gedung Fujiwara Group.


Mendengar suara telepon ditutup, kakek Satoru terkejut. Namun, alih-alih marah, lelaki tua itu malah mengangkat sudut bibirnya. Meletakkan kembali teleponnya, dia bersandar di kursi dengan ekspresi nyaman.


“Tampaknya pilihanku melemparnya jauh-jauh ke sana memang benar, Sakura.”


Saat itu, wanita muda cantik yang menggunakan pakaian OL (office lady) mengangguk tulus.


“Senang mendengar rencana anda berjalan lancar, Tuan.”


“Aku tahu kamu sedih. Namun bocah itu pasti paham alasan kenapa kamu memberikan obat tidur. Ya ... karena aku yang memintanya.


Selain itu, alasan kenapa aku mendidikmu dari kecil adalah untuk merawat dan membantu Satoru. Jadi aku tidak mungkin membuatmu melakukan hal-hal buruk kepadanya. Kamu tidak perlu bersedih seperti itu.”


“Saya hanya takut Tuan Muda akan membenci saya, Tuan. Lagipula, Tuan Muda selalu berkata kalau saya adalah salah satu orang yang paling dia percayai. Jadi ... tidak mungkin jika saya tidak merasa menyesal.”


Sakura tampak sedih ketika mengingat bagaimana Satoru diangkut untuk diterbangkan ke Hokkaido.


Mengetahui kalau Sakura tidak mungkin melupakan hal semacam itu, kakek Satoru berkata, “Sebagai ganti rasa bersalah itu, kamu harus belajar lebih banyak dan lebih giat lagi. Jadilah penolong terbaiknya ketika dia kembali.”


Mendengar ucapan kakek Satoru, mata Sakura berbinar. Dia mengangguk tegas.


“Ya, Tuan!”


“Kamu boleh pergi.”


Setelah melihat Sakura pergi meninggalkan kantor, lelaki tua itu memejamkan mata dengan sudut bibir terangkat. Meski kecewa cucunya tidak kembali, dia juga merasa sangat puas.


‘Bocah bau ... tampaknya kamu benar-benar telah menjadi semakin dewasa!’


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2