Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Pesta Perayaan


__ADS_3

Lima hari berlalu begitu saja.


Dikarenakan membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai di markas cabang Divisi 9, semua orang memutuskan untuk singgah di salah satu penginapan di kota besar yang mereka lewati. Daiki langsung menyewa penginapan untuk tiga hari. Mungkin karena berada di kota dimana objek wisata berada, ada penginapan besar dan luas yang mampu menampung mereka semua.


“Akhirnya kita bisa beristirahat.”


“Ya. Aku dengar ada pemandian air panas tidak jauh dari sini. Apakah mau memeriksanya?”


“Tentu saja! Lebih baik jika ada layanan pijat.”


“Hahaha! Siapa yang tidak tahu pikiranmu.”


“...”


Banyak anggota Divisi 9 yang tampak sangat senang ketika misi mereka telah benar-benar selesai. Lagipula, dalam perjalanan kembali dari puncak gunung, mereka masih menghadapi cukup banyak bahaya. Selain medan berbahaya seperti tebing curam, ada juga penyergapan beberapa kelompok binatang buas.


Tentu saja, kali ini tidak ada kejadian ‘sup tumpah’. Meski begitu, Gluttony masih bisa makan banyak karena selain beberapa bahan berharga, kebanyakan daging seperti serigala atau monyet tidak mereka makan. Akhirnya masuk ke dalam ‘perut’ Gluttony. Melihat reaksinya, mungkin dia berpikir kalau misi gabungan dengan Divisi 9 adalah masa terbaiknya sejak datang ke dunia ini.


“Apakah kamu ingin pergi ke pemandiang air panas, Arthur?” tanya Daiki.


Mendengar itu, banyak orang memandang ke arah Arthur dengan antusias. Bukan hanya banyak membantu mereka melawan binatang buas, pemuda itu juga telah memasak banyak hidangan untuk mereka. Orang-orang jadi lebih menghormati Arthur dibandingkan sebelumnya.


“Tidak.” Arthur menggeleng dengan nada malas. “Aku akan mandi di penginapan lalu tidur. Jangan ganggu aku, karena kalian selalu tidur setelah makan, jam tidurku benar-benar kacau berkat misi ini!”


Setelah mengatakan itu, Arthur pergi diikuti Lily dan Jotaro. Orang-orang di Divisi 9 tertawa, jelas tidak mengambil hati ucapan yang terlontar dari mulut Arthur. Setelah menjalankan misi beberapa waktu, mereka semua sudah kenal dan terbiasa dengan ucapan tajam dari pemuda itu.


Sementara itu, Arthur yang pergi langsung mandi dan tidur di kamarnya. Benar-benar tidak peduli dengan hal-hal lain.


***


Sore harinya.


Membuka matanya, Arthur langsung disambut oleh langit jingga di sore hari. Menyadari kalau dirinya tertidur pulas begitu lama, pemuda itu langsung bangkit sambil menghela napas. Dia langsung pergi mencuci muka, lalu berganti pakaian sebelum keluar.


Pada saat keluar, Arthur langsung mendengar banyak keributan dimana banyak anggota dari Divisi 9 yang berkumpul dan bercanda. Pemuda itu langsung mengerutkan kening. Meski meriah dan tampak menyenangkan, dia lebih memilih kehidupan santai dan biasa-biasa saja. Baginya, terlibat dengan terlalu banyak orang itu merepotkan.

__ADS_1


“Arthur, Arthur ... kamu sudah bangun?”


Mendengar itu, Arthur langsung menoleh ke sumber suara. Melihat sosok Lily, dia tersenyum sambil berkata.


“Jika belum, kenapa aku bisa berdiri di sini? Sungguh pertanyaan yang lucu, Lily.”


Saat itu, Lily langsung melihat ke arah Arthur dengan wajah tidak puas, menggembungkan pipinya karena kesal.


“Ada apa?” tanya Arthur.


“Kamu belum makan. Apakah kamu ingin makan bersama, Arthur?”


“Sebentar lagi malam. Aku tidak begitu lapar, jadi makan nanti saja.”


“Ya.”


Lily mengangguk ringan. Gadis itu langsung berjalan lalu berhenti di samping pemuda itu seperti biasa. Melihat itu, Arthur malah lebih mirip maskot daripada rekan satu timnya. Menggeleng ringan, dia langsung pergi ke halaman belakang diikuti oleh Lily.


Sampai di sana, Arthur langsung melihat Jotaro yang berlatih secara gila-gilaan. Hanya saja, kali ini dia tidak sendiri. Tampaknya ada beberapa anggota Divisi 9 yang tergerak oleh pria itu, dan akhirnya mengikutinya menjalankan latihan.


Mendengar itu, Jotaro berhenti berlatih. Dia kemudian menghampiri Arthur sambil bertanya.


“Apakah sudah tidak terlalu lelah, Bos?”


“Tidak ada masalah denganku. Berhenti berlatih, ikuti aku sebentar.”


“Baik!”


Meski bingung, Jotaro masih mengangguk. Pria itu kemudian mengikuti Arthur pergi ke ruangannya.


Setelah pintu ditutup, Arthur langsung mengeluarkan buku tebal dan tampak kuno. Dia kemudian melempar buku tersebut ke Jotaro. Sempat terkejut, pria itu langsung menangkap buku dnegan ekspresi bingung.


“Pada awalnya, aku ingin memberikan itu setelah kita selesai liburan. Namun, melihatmu berlatih begitu keras, aku tidak tega menyia-nyiakan waktumu dan memaksamu untuk terus menunggu. Oleh karena itu, aku memberikannya kepadamu.”


“Ini ...” gumam Jotaro.

__ADS_1


“Hanya buku tua yang ditemukan di sarang Frost Wyvern. Kamu boleh mendapatkannya. Lagipula, itu tidak begitu berguna untukku.”


Mendengar kata ‘hanya buku tua’, Jotaro jelas tidak percaya. Pria itu langsung membuka buku dan membacanya. Di sana, tercatat kalau buku itu adalah buku skill tingkat tinggi, 100 Beast Moves yang sangat cocok untuknya.


Tubuh Jotaro sempat gemetar. Dia kemudian menatap ke arah Arthur dengan ekspresi bingung, benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Meski Arthur bilang buku tersebut tidak ada gunanya, tetapi buku tersebut jelas memiliki nilai jual tinggi. Siapa sangka, pemuda itu benar-benar memberikannya kepada dirinya.


“Bos ...”


“Jangan terlalu emosional! Sudah kubilang, tetap tenang dan berlatih saja. Itu tidak ada gunanya untukku. Selain itu, bukankah itu yang kamu butuhkan?


Aku sudah bilang, kan? Kamu pasti juga bisa berkembang. Tidak perlu terburu-buru mati, berjalan dengan kecepatanmu sendiri. Cepat atau lambat, kamu pasti akan sampai tujuan.”


Arthur sangat santai. Dia sama sekali tidak ragu untuk memberikan buku itu. Lagipula, buku tersebut tidak tercatat dalam pembagian jarahan. Ya ... ketika melihat Daiki sibuk berbahagia dengan dua telur yang didapatnya, dia mengambil beberapa buku tua yang tampaknya mahal tanpa sepengetahuan orang-orang.


Kebetulan saja, salah satu buku cocok untuk Jotaro. Karena pria itu telah menjalankan banyak tugas untuknya seperti mendirikan tenda, mencari kayu bakar, dan sebagainya. Ditambah karena Jotaro juga rajin berlatih, Arthur tidak ragu memberinya buku ‘gratisan’ tersebut.


“Berhenti menangis! Pemandangan pria besar penuh otot menangis benar-benar tidak sedap dilihat mata!”


Mengabaikan Jotaro yang terharu di kamarnya, Arthur langsung keluar bersama Lily. Baru saja pergi ke dapur mengambil air untuk diminum, pemuda itu sekali lagi dihadang oleh sosok besar. Menghela napas panjang, dia berkata.


“Apakah ada yang salah, Senior Daiki?”


“Tentu saja ada yang salah!”


Daiki langsung merangkul leher Arthur lalu menyeretnya sambil berkata.


“Banyak makanan, banyak minuman, ada juga penyanyi dan penari ... bisa-bisanya kamu tidak ikut bersenang-senang! Apakah kamu tidak memberi wajah pada kakakmu ini!”


“Itu tidak baik untuk Lily, Senior Daiki. Dia tidak boleh melihat hal-hal semacam itu, apalagi mengikuti pesta kacau.” Arthur langsung mencari alasan.


“Tenang saja, aku sudah menyiapkan ruang makan khusus. Kamu dan Lily bisa menemaniku. Tidak usah ikut dengan kekacauan itu. Banyak yang bisa kita bicarakan bersama.”


Seolah sudah mengerti bagaimana Arthur menjawab, Daiki telah menutup celah untuk melarikan diri. Pada akhirnya, pemuda itu benar-benar diseret pergi untuk mengikuti pesta perayaan keberhasilan misi.


Jenis pesta yang pemuda itu tidak sukai.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2