
Beberapa hari berlalu. Tanpa terasa, sudah hari terakhir liburan golden week.
Saat ini, semua orang yang pulang untuk liburan telah kembali ke sekolah. Suasana menjadi lebih hidup karena kantin dan tempat-tempat lain kembali ramai.
Sementara itu, Satoru tidak begitu memperhatikan orang-orang yang kembali ke sekolah karena memiliki kesibukan sendiri. Sekarang dia berjalan menuju ke kantor karena dipanggil oleh kepala sekolah.
Sesampainya di sana, Satoru terkejut ketika melihat kepala sekolah tiba-tiba berkata, “Ada paket dari kakekmu. Karena menuliskan alamat sekolah dan aku sebagai penerimanya, jadi sekarang paket ini ada padaku.”
“Paket? Dari Tokyo? Kenapa bisa secepat itu?”
Satoru mengangkat alisnya. Dia merasa kalau pengiriman sekarang agak lambat. Setelah memikirkannya baik-baik, pemuda itu yakin kalau kakeknya menghabiskan uang untuk hal sepele semacam ini.
“Haruskah saya membukanya di sini sekarang?”
“Bawa saja ke kembali dan bongkar di sana. Tentu saja, kamu tidak boleh melanggar peraturan.”
Melihat senyum misterius kepala sekolah, Satoru mengangkat alisnya. Pemuda itu kemudian diusir dari kantor kepala sekolah, kembali ke kamarnya dengan membawa kotak besar. Orang-orang memandangnya dengan ekspresi penasaran, dan dia hanya bisa pura-pura tidak tahu.
Sesampainya di kamar, Satoru terkejut ketika melihat Takeo dan Manabu.
“Kalian sudah kembali?” tanya Satoru.
“Hahaha! Baru saja sampai,” balas Takeo. “Aku ingin pergi ke sekolah lebih awal tetapi tidak bisa. Terlalu banyak pekerjaan di rumah sampai aku tidak bisa tidur nyenyak!”
Melihat Takeo yang berbaring di ranjang dengan ekspresi konyol di wajahnya, Satoru menggelengkan kepalanya.
Manabu dan Ono sendiri malah fokus pada kotak besar yang Satoru bawa. Mereka tidak bisa tidak bertanya.
“Apa yang kamu bawa, Satoru-san?” tanya Ono.
“Apakah dari Tokyo?” tambah Manabu.
Mendengar kata ‘Tokyo’, Takeo yang awalnya berbaring seperti ikan asin yang dijemur langsung bangkit. Pemuda itu kemudian melihat ke arah Satoru dengan ekspresi penasaran.
“Ya, seharusnya ini beberapa barang yang tertinggal dan dikirim ke sini oleh kakekku.”
Meski mengatakan itu, Satoru juga merasa ragu. Jika hanya beberapa barang, seharusnya tidak terlalu berat. Kotak kardusnya juga tidak perlu terlalu besar.
Setelah menutup pintu, Satoru meletakkan kotak paket di lantai. Melihat orang-orang yang penasaran tetapi tidak mau mendekat, dia mengangkat bahu.
“Ini bukan barang ilegal. Mendekat saja jika ingin menonton.”
Setelah mengatakan itu, Satoru mulai membongkar paket. Baru saja dibuka, Satoru dan ketiga temannya melihat sebuah kotak berisi berbagai peralatan elektronik dan aksesoris di bagian atas.
__ADS_1
“Ponsel? Kamera? Jam? Perhiasan?”
Melihat apa yang ada di dalamnya, ketiga teman Satoru tampak sangat terkejut. Belum lagi ketika melihat ponsel lipat dan kamera berwarna hitam yang paling terkenal di tahun 2006 ini. Mereka langsung sadar kalau teman sekamar mereka ternyata adalah orang kaya.
“Ugh!” Satoru tampak agak malu. “Bisnis kakekku memang lumayan dan memiliki ‘beberapa’ pegawai. Sebagai satu-satunya cucu laki-laki, dia sedikit memanjakan aku.”
Mendengar penjelasan Satoru, ketiga teman sekamarnya mengangguk. Mereka merasa kalau penjelasan pemuda itu memang cukup masuk akal. Jadi mereka tidak banyak bertanya.
Mengambil barang-barang di lapisan atas, Satoru kemudian kembali membongkar. Hanya saja, ketika melihat apa yang ada di bagian bawah, dia langsung tertegun di tempatnya.
‘Kenapa Pak Tua itu mengirim benda ini? Bukan itu masalahnya! Yang penting, kenapa dia bisa mengirim ini?’
Bukan hanya Satoru, ketiga temannya juga melihat apa yang berada di bagian bawah kotak dengan ekspresi terkejut.
“Jaket army? Senapan? Pisau militer?” ucap Ono dengan nada tidak percaya.
Mata Takeo dan Manabu juga terbelalak. Mereka kemudian menatap ke arah Satoru dengan ekspresi tercengang. Bahkan ketiganya bertanya-tanya apakah pemuda itu adalah agen rahasia tertentu yang dikirim ke sini untuk melakukan misi.
Merasakan tatapan ketiga temannya, Satoru langsung tersenyum masam.
“Kalian tidak perlu terkejut. Ini semua hanya replika.”
Setelah mengatakan itu, Satoru menyingkirkan dua pistol glock 17 berwarna hitam dan perak. Dia kemudian mengambil beberapa toples kecil berisi peluru plastik berwarna perak.
Kakekku adalah penggila militer dan seperti yang kalian ketahui, aku dilatih olehnya sejak kecil. Sepertinya dia ingin aku menjadi tentara atau semacamnya.”
Satoru tampak lega ketika melihat ketiga temannya mengangguk dengan ekspresi pengertian di wajah mereka. Hanya saja, dia tidak menjelaskan semuanya kepada mereka karena takut akan menakuti ketiga pemuda tersebut.
Sebenarnya, pistol glock 17 yang dia miliki sudah dikustom secara khusus. Bukan hanya bahan plastik lebih kuat, tetapi ada juga beberapa bagian yang terbuat dari logam. Meski tidak seberat aslinya, itu masih lumayan berat. Tidak seringan pistol mainan biasa.
Selain itu, daya tembaknya sendiri lebih kuat dari airsoft biasa. Tentu saja, tidak bisa membunuh, tetapi masih sangat menyakitkan jika ditembak dengan pistol tersebut.
Selain itu, Satoru juga melihat protective gear yang ada di bawah jaker army miliknya. Dengan kemampuan finansial kakeknya, tidak perlu ditanyakan kualitan barang-barang yang dimilikinya.
Selain itu, yang paling penting adalah pisau militer dalam kotak. Berbeda dengan dua airsoft pistol, benda itu nyata!
‘Untung saja Pak Tua itu tidak mengirim koleksi air gun! Jika tidak, bukankah aku akan segera diamankan?’
Mengingat wajah kakeknya, pemuda itu menggertakkan giginya. Dia tidak bisa tidak mengutuk dalam hatinya.
‘Apa sih yang Pak Tua itu pikirkan! Kenapa dia mengirim benda-benda mencurigakan semacam ini ke sini? Sengaja meminta masalah?’
Jika kakeknya tahu apa yang dipikirkan pemuda itu, dia pasti mengeluh. Lelaki tua itu hanya rindu dan merasa kasihan kepada cucunya, jadi mengirim mainan kesukaan cucunya ke sana. Jika bukan karena bahayanya, dia mungkin sudah mengirim air gun dan beberapa airsoft gun dengan ukuran lebih besar.
__ADS_1
Tentu saja, jika Satoru tahu apa yang dipikirkan kakeknya, dia pasti sudah menganggap lelaki tua itu gila!
“Kalau begitu biarkan aku menyimpan barang-barang ini terlebih dahulu.”
Setelah mengatakan itu, Satoru segera menyimpan pakaian dan berbagai hal lain ke dalam lokernya. Dia juga menyimpan senjata mainan replika lengkap dengan peluru dan pistolnya. Di antara barang-barang itu, pemuda tersebut merasa tertekan ketika melihat amplop tebal.
Satoru ingin mengambil isinya, tetapi tidak ingin teman-temannya tahu tentang kekayaannya. Lagipula, melihatnya memiliki ponsel, kamera, dan jam sudah membuat mereka gugup. Belum lagi jika mengetahui identitas aslinya.
Pemuda itu hanya mengeluarkan ponsel dan jam tangan. Setelah memakai jam tangan, dia menggoyangkan ponsel di tangannya dengan senyum dipaksakan di wajahnya.
“Mau bertukar alamat e-mail? Nomor telepon?”
Melihat itu, ketika teman Satoru saling memandang lalu mengangguk secara bersamaan.
***
Malam harinya.
Pada saat makan malam, semua siswa-siswi telah kembali ke sekolah karena besok jam pelajaran telah dimulai. Kantin sangat ramai, berbeda dengan suasana sunyi ketika liburan.
Omong-omong, Satoru sendiri merasa agak menyesal. Setelah mendapatkan ponselnya, dia tidak bisa terlalu sering menggunakannya karena batasan penggunaan. Siswa-siswi hanya boleh menggunakan ponsel sepulang sekolah. Mereka boleh menggunakannya sampai jam setengah delapan malam, sebelum mereka kembali ke kamar.
Kurang lebih hanya dua jam, bahkan bisa hanya satu setengah jam karena terpotong mandi dan makan.
Sebelum kembali ke kamar masing-masing, ponsel akan disimpan pada loker khusus sesuai dengan nomor mereka. Kemudian ditutup seperti brankas besar sehingga tidak bisa diambil. Penggunaannya sangat dibatasi, membuat Satoru merasa agak sia-sia.
Selesai makan malam bersama, guru pembimbing masuk ke kantin dan menyampaikan pesan singkat.
“Apakah kalian semua sudah merasa segar kembali setelah Golden Week? Eh, kurasa itu pertanyaan yang bodoh karena kalian semua bekerja di rumah?”
Melihat ekspresi lelah di wajah para murid, pria paruh baya itu mengangkat sudut bibirnya.
“Aku harap besok kalian bisa bekerja keras dan kembali semangat. Itu saja! Selamat beristirahat!”
“Ya Pak!” jawab semua murid serempak.
Setelah itu, mereka semua mulai mengumpulkan ponsel lalu kembali ke kamar masing-masing.
Dalam perjalanan ke kamar, Satoru terhenti sejenak lalu memandang langit berbintang di luar jendela. Benar-benar berbeda dengan Tokyo yang agak sulit melihat bintang karena polusi. Kalaupun bisa, pasti tidak seindah tempat ini.
Menghela napas panjang, pemuda itu mengangka bahu lalu mengikuti temannya berjalan ke kamar.
Tanpa dia sadari, Golden Week telah berlalu begitu saja! Sudah saatnya memulai aktivitas seperti biasanya!
__ADS_1
>> Bersambung.