
Melihat Natsumi yang tidak peka, ketiga temannya hanya bisa menghela napas panjang. Meski begitu, mereka tidak ingin memperjelas semuanya karena ingin gadis itu mengetahuinya sendiri.
“Kenapa kalian memandangku seperti gadis bodoh?”
Melihat Natsumi yang bingung dan tampak konyol, ketiga temannya menggelengkan kepala. Saat itu juga, suara Hotaru kembali terdengar.
“Memang gadis bodoh.”
Mendengar itu, Natsumi langsung menggembungkan pipinya. Dia tampak marah, seperti kucing kecil yang diinjak ekornya.
“Kamu ... kalian semua yang bodoh!”
***
Tanpa terasa, waktu kembali berlalu begitu saja. Semua berjalan begitu lancar, hampir dua bulan berlalu seperti air mengalir.
“Satoru-san! Oh ... Sobatku, Satoru-san!”
Pintu kamar terbuka. Sosok Takeo berjalan masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru. Melihat Satoru yang duduk di kursi sambil membaca buku, dia tampak agak lega.
“Ada apa?” tanya Satoru dengan ekspresi datar.
“Apakah kamu bisa ikut denganku nanti sore?”
“Kenapa? Ada masalah apa?” tanya Satoru.
“Salah satu teman sekelasku terpaksa pulang karena orang tuanya mengalami kecelakaan, perlu tenaga tambahan untuk memanen kentang hari ini. Jika boleh, bisakah kamu membantu kami?”
Mendengar itu, Satoru menatap ke arah Takeo dengan ekspresi bingung. Memang, dibandingkan dengan teman-teman lainnya, pemuda itu beradaptasi dengan sangat baik. Dia melakukan setiap tugas harian dengan cepat dan baik, jadi selalu mendapatkan pujian dari para guru.
“Hari ini hanya latihan biasa dan tidak terlalu sibuk, jadi seharusnya tidak apa-apa. Nanti aku akan membiarkan Ono mengerjakan bagianku, lalu meminta izin pada Pak Sengoku.”
“Terima kasih banyak, Satoru-san!” ucap Takeo dengan senyum ceria di wajahnya.
“Omong-omong ...” Satoru menunjuk wajahnya sendiri sambil memiringkan kepala. “Kenapa aku?”
“...”
Mendengar itu, Takeo memasang ekspresi malu. Namun, pemuda it sama sekali tidak berani mengatakan alasan yang sebenarnya. Lagipula, selain memalukan, dia takut dipukul oleh Satoru jika mengatakannya.
Alasan kenapa Takeo mengajak Satoru bukan karena temannya itu paling senggang, tetapi paling kuat dan tahan lama. Orang-orang lain memiliki energi terbatas. Namun dia merasa kalau pemuda itu memiliki energi yang tidak ada habisnya. Benar-benar jenis fisik tahan banting!
Jika Satoru tahu fisik yang dilatih kakeknya agar sekuat personel militer khusus malah dipekerjakan sebagai kuli, dia pasti bingung harus menangis atau tertawa. Yang jelas, pukul saja sekali untuk meredakan emosinya.
“Apakah ada yang salah?” tanya Satoru.
“Tidak ada!” balas Takeo dengan senyum di wajahnya.
“Kalau begitu ayo pergi ke kantin untuk sarapan. Ono dan Manabu pasti sudah menunggu di sana.”
__ADS_1
“Baik!”
Melihat Satoru yang bangkit lalu pergi meninggalkan ruangan, Takeo langsung menyeka keringat dingin di dahinya. Dia merasa beruntung karena temannya itu tidak terlalu banyak berpikir.
Setelah menghela napas lega, Takeo langsung menyusul Satoru pergi menuju kantin.
***
Sore harinya.
“Oi, Takeo.”
Melihat pandangan di depan mata, Satoru langsung memanggil Takeo dengan ekspresi datar di wajahnya.
“A-Apakah ada yang salah?” tanya Takeo dengan ekspresi gugup.
“Aku tidak bisa menggunakan alat pertanian. Ajari aku terlebih dahulu.”
“...”
Mendengar itu, Takeo langsung merasa lega. Dia berpikir kalau Satoru sedang memikirkan hal lain, tetapi ternyata berbeda dari apa yang dibayangkannya.
“Omong-omong, bukankah ini terlalu luas hanya untuk sekadar praktik? Kamu yakin tidak ada masalah? Kita melakukannya sore hari loh?”
“Ugh!”
Mendengar ucapan Satoru, Takeo langsung tersedak.
Sedangkan sekarang, mereka benar-benar kewalahan untuk panen karena kurangnya jumlah personel. Belum lagi, orang yang paling bisa mereka andalkan sekarang harus pulang karena masalah mendesak.
“Maaf!” Takeo langsung membungkuk dengan ekspresi masam.
“Tidak apa-apa.” Mengetahui apa yang Takeo maksud, Satoru mengangguk ringan. “Kalau begitu ajari aku agar bisa segera membantu.”
“B-Baik!”
Setelah itu, Takeo langsung mengajari Satoru menggunakan berbagai alat. Dia juga menjelaskan tugas-tugas semua orang, dan memperkenalkan pemuda itu pada teman-teman lainnya.
Usai mendapatkan ajaran dari Takeo, Satoru mengelus dagu dengan ekspresi serius.
“Ini tidak akan terselesaikan di sore ini.”
Mendengar ucapan Satoru, orang-orang itu menghela napas panjang. Salah satu dari mereka juga langsung menyetujui.
“Benar. Sudah aku duga mustahil menyelesaikannya dalam satu sore saja.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Haruskah kita meminta bantuan orang-orang di desa sekitar atau teman lain?”
__ADS_1
“Tidak. Jika ketahuan oleh guru pembimbing, kita benar-benar akan berada dalam masalah.”
“...”
Mendengarkan orang-orang itu, Satoru yang berpikir dengan mata terpejam tiba-tiba membuka matanya. melihat sekeliling dengan ekspresi serius, pemuda itu akhirnya membuka mulutnya.
“Aku sudah paham masalah kalian. Jika boleh tahu, kapan kentang-kentang ini akan dikirim?”
“Lusa, tepat di pagi hari,” balas Takeo.
“Kalau begitu itu lebih mudah.” Melihat orang-orang yang bingung, pemuda itu mengangkat sudut bibirnya. “Kita masih memiliki cukup waktu. Jika tidak bisa menyelesaikannya satu kali, maka kita harus membaginya.”
“Maksudmu hari ini dan besok sore? Tentu kami sudah memikirkannya, tetapi masih saja sibuk. Belum lagi, kita harus menyortir dan mengurus hal lain.”
“Bagaimana jika bukan membaginya menjadi dua ... tetapi tiga?”
Mendengar ucapan Satoru, orang-orang itu langsung saling memandang dengan ekspresi penuh pertanyaan di wajah mereka.
Sementara itu, Takeo tiba-tiba menyadari sesuatu.
“Maksudmu ...”
“Ya! Masih ada jam pagi. Sebelum kelas dimulai, kita bisa menyelesaikannya. Jadi, daripada langsung menyelesaikan sesuatu yang tidak mungkin, kita akan membaginya menjadi 1/3, mengumpulkannya sesuai dengan batch.”
Mendengar penjelasan Satoru yang sederhana tetapi masuk akal, mata orang-orang langsung berbinar. Pada akhirnya, mereka semua sepakat dengan usulan pemuda itu. Bahkan meminta Satoru memimpin mereka dalam waktu ini.
Setelah itu, semua orang mulai melakukan tugas masing-masing.
Satoru dan dua orang lain mulai menggali kentang dengan garu sisir, lalu membiarkan kentang-kentang yang telah dikeluarkan diambil dan dipilih oleh orang-orang yang melakukan tugas itu. Mereka juga mengumpulkan bagian pohon kentang yang telah mengering lalu menyingkirkannya.
Pada saat bekerja, Satoru tidak bisa tidak melihat kentang-kentang yang telah dikeluarkan dari tanah. Melihat kentang dari berbagai ukuran dan bentuk, serta beberapa yang cacat karena terkena garu membuatnya agak bingung.
“Apakah biasanya memang seperti ini? Bukannya kentang akan matang ketika masing-masing dari mereka mencapai ukuran tertentu?” tanya Satoru.
“Mana ada.” Takeo menggelengkan kepalanya. “Pada kenyataannya, ada cukup banyak kentang yang tidak cukup baik untuk dijual di pasaran. Kalaupun terjual, harganya pasti rendah.”
“...” Satoru mengangguk ringan.
“Mereka itu juga makhluk hidup, jadi malah aneh jika semuanya bisa tumbuh dengan ukuran dan bentuk yang sama. Namun, orang-orang yang membeli biasanya akan meninggalkan yang bentuknya cacat seperti ini,” ucap Takeo sambil menyeka keringatnya.
“Iya. Padahal rasanya sama saja!” balas teman satu kelompoknya.
Mendengar percakapan mereka, Satoru mengambil kentang kecil dengan bentuk buruk dan terkena luka karena garu. Mengamatinya sebentara, pemuda itu langsung berpikir.
‘Kecil, lemah, dan cacat ...’
‘Mereka juga berusaha tumbuh besar, tetapi tidak bisa. Namun pada akhirnya tetap dianggap sebagai sampah.’
Menghela napas panjang, Satoru bergumam dengan suara yang hanya bisa dia dengar.
__ADS_1
“Dunia memang kejam. Bukan hanya manusia yang selalu dinilai dan dipaksa untuk menjadi lebih baik. Bahkan, hidup sebagai kentang pun memiliki kesulitannya sendiri.”
>> Bersambung.