Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Sumber Racun dan Kutukan


__ADS_3

“Kenapa kalian memandangku dengan cara seperti itu?”


Arthur memiringkan kepala, melihat ke arah orang-orang yang menatapnya dengan heran. Di tangan kirinya, ada sebuah piring piring indah dengan belasan tusuk daging panggang. Aroma nikmat langsung memenuhi ruangan. Mereka semua tanpa sadar menelan ludah.


Saat itu, istri tuan kota menatap ke arah putranya dengan ekspresi bingung.


Merasakan tatapan ibunya, Kiba langsung tersadar. Dia segera menghampiri Arthur lalu memperkenalkan pemuda itu.


“Perkenalkan, Ibunda, namanya adalah Arthur. Dia adalah murid-“


“Koki.” Arthur langsung menyela.


“Uhuk! Dia adalah koki sekaligus tabib yang hebat. Arthur adalah orang yang telah menyembuhkan anda.” Kiba pura-pura batuk.


Wanita itu menatap ke arah Arthur dengan heran. Pemuda itu tampaknya begitu santai. Menggigit sate lalu membuang tusuknya tepat ke tempat sampah, Arthur menyapa santai.


“Senang melihat anda baik-baik saja, Nyonya.”


Setelah mengatakan itu, Arthur mencari tempat untuk duduk lalu mulai makan tanpa memedulikan orang lain dalam ruangan. Melihat situasi tidak benar, dia menambahkan.


“Abaikan aku. Kalian bisa berbicara kepada Nyonya dan menanyakan berbagai hal kepadanya.”


“…”


Mendengar ucapan Arthur, ekspresi mereka semua langsung berubah menjadi suram. Jelas penampilan pemuda itu terlalu mencolok. Ditambah aroma memenuhi ruangan yang membuat mereka tidak fokus, orang-orang itu merasa tidak tertahankan.


Melihat semua hanya diam, Arthur memulai pembicaraan.


“Omong-omong, bagaimana anda bisa menderita racun dan kutukan semacam itu, Nyonya? Kultivator jahat? Iblis? Roh jahat?”


Pemuda itu duduk dengan santai, makan dan bertanya seperti sedang berada di rumahnya sendiri. Dia bahkan tidak mempedulikan ekspresi penuh keinginan di wajah orang-orang dalam ruangan.

__ADS_1


Seolah mengingat sesuatu yang penting, istri tuan kota itu langsung menatap putranya dengan ekspresi serius.


“Apa yang sedang ayahmu lakukan, Nak? Apakah dia kembali ke desa yang ditinggalkan itu?”


“Eh? Itu-“


“Sebelum aku kehilangan kesadaran, aku jelas memintanya untuk tidak mendekati tempat itu!”


“T-Tapi ayah pergi ke sana untuk mencari petunjuk untuk menyembuhkan anda, Ibunda.”


“Suruh seseorang untuk membawa laporan, minta dia segera kembali sebelum terlambar.”


Mendengar ucapan wanita itu, semua orang jelas menjadi penasaran. Sementara itu, Arthur hanya menjadi pendengar sambil terus makan.


“Apakah ada sesuatu yang membahayakan Ayah di sana? Apakah itu monster?”


“Monster dan orang gila yang menjual jiwanya kepada kegelapan.”


“Pertama-tama, maafkan ketidaksopanan saya. Perkenalkan, nama saya Fuji. Terima kasih telah menyelamatkan saya dari kemalangan. Jika boleh saya tahu, apakah anda mempelajari lebih lanjut tentang kutukan dan racun?”


Mendengar pertanyaan itu, Arthur diam saja. Meski diajari banyak hal di Sekte Pilar Surgawi, pemuda itu sama sekali tidak sering mempraktikkannya. Sebaliknya, dia malah menggunakannya untuk memperkuat caranya menangani berbagai bahan agar bisa menjadi koki lebih baik.


“Fuji yang berarti bunga wisteria, cocok bagi wanita cantik dan mempesona seperti anda. Meski begitu, dugaan anda sedikit salah. Saya bukanlah ahli dalam hal-hal semacam itu. Saya adalah seorang koki.


Seorang koki yang serius.


Jadi saya sama sekali tidak tertarik untuk mengurus hal-hal berbahaya seperti monster beracun atau kultivator gila. Jadi tidak perlu mempertanyakan itu lagi karena saya jelas menolaknya.”


Melihat Arthur telah menyadari keinginannya, ekspresi Fuji berubah. Dia tidak menyangka kalau pemuda tampan itu ternyata sangat cerdas, berbeda dengan penampilannya yang agak konyol dan sembrono.


“Tuan Arthur, tolong-“

__ADS_1


“Bahkan jika kamu berlutut, aku tidak akan peduli lagi, Kiba. Aku datang ke sini karena melihat perjuanganmu untuk menyembuhkan ibumu. Aku sedikit tersentuh dengan sikap berbakti semacam itu.”


Arthur menggelengkan kepalanya. Dia jelas tidak setuju dengan permintaan pemuda itu. Lagipula, pemuda tersebut sama sekali tidak ingin berurusan dengan hal-hal berbahaya yang mempengaruhi hidupnya.


Situasi yang awalnya tampak santai menjadi lebih berat. Meski mereka jelas ingit meminta bantuan Arthur, tetapi mereka sama sekali tidak bisa memaksanya. Lagipula, urusan wilayah keluarga bangsawan mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan Arthur.


“Hentikan, Kiba. Tuan Arthur sudah berbaik hati mau datang untuk menolongku. Musuh kita jelas sulit dihadapi. Makhluk itu … cockatrice sangat berbahaya. Racunnya sangat mengerikan.


Kamu pasti sudah mengetahui apa yang terjadi pada desa itu, Kiba.”


“…”


Kiba hanya bisa diam. Dia merasa agak enggan. Meski tidak mengetahui sepenuhnya, pemuda itu merasa kalau Arthur jelas kuat dan bisa membantu. Sebelum dia mengatakan sesuatu, pria paruh baya yang merupakan penjaganya langsung menepuk pundaknya lalu menggeleng ringan.


Sementara itu, Arthur sendiri tampak terkejut. Dia jelas mengetahui apa itu cockatrice. Dalam mitologi di kehidupan sebelumnya, cockatrice adalah makhluk yang menetas dari telur ayam jantan yang dierami oleh ular atau katak. Makhluk itu memiliki penampilan seperti ayam jantan dengan ekor ular dan sayap kelelawar.


Ada beberapa versi, tetapi Arthur jelas mengenalnya sebagai ayam. Ayam jantan yang memiliki sebagian tubuh ular, bahkan sering dianggap sebagai naga berkepala ayam.


‘Jika itu racun, bukankah itu bisa dimurnikan? Benda itu pasti bisa dimakan, bukan? Sama seperti belut sebelumnya, meski penampilannya buruk, tetapi setelah dibongkar … kualitasnya pasti luar biasa.’


Sementara semua orang tampak agak sedih dan tertekan, Arthur sendiri malah melamun. Dia kemudian berpikir.


‘Jika bisa dimakan, bagaimana dengan rasanya? Apakah itu seperti ayam biasa? Ataukah sebenarnya naga? Bagaimana dengan rasa daging naga?’


Memikirkan hidangan yang akan tersaji di atas piringnya, mata Arthur berbinar. Dia kemudian menoleh ke arah Kiba dan Fuji.


“Aku berubah pikiran! Katakan, dimana aku bisa menemukan ayam- uhuk! Cockatrice itu!”


Mendengar perubahan sikap Arthur yang begitu tiba-tiba, mereka semua tercengang. Benar-benar bingung harus merespon bagaimana.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2