
“Yuhu! Bagaimana keadaanmu, Kouhai-kun?”
Pintu UKS terbuka, dan sosok Natsumi masuk ke dalam dengan senyum di wajahnya. Dia mendekat lalu membuka gorden yang mengelilingi ranjang. Namun, ekspresinya langsung berubah ketika melihat Satoru yang ada di sana.
Satoru duduk di tepi ranjang dengan seorang guru yang sedang memerban bagian bahu kirinya. Namun fokusnya bukan pada guru tersebut, tetapi pada tubuh atas pemuda itu.
Melihat garis tubuh yang tampak kuat dan otot perut yang terbentuk, rona merah langsung tampak di wajah gadis lincah itu.
“...”
Melihat Natsumi langsung melarikan diri ketika dengan wajah malu, Satoru hanya menggeleng ringan.
Saat itu, suara guru UKS, Miss Aoi terdengar di telinganya.
“Sudah selesai. Untuk sementara, jangan membuat gerakan yang berlebihan. Dengan kondisi fisikmu yang baik, seharusnya akan kembali normal setelah beberapa hari.
Selain itu, ingat untuk selalu mendengarkan instruksi guru. Jangan berbuat ceroboh jika tidak ingin mengalami kecelakaan. Apakah kamu mengerti?”
“Dimengerti.” Satoru mengangguk.
“Kalau begitu kamu boleh pergi.”
“Baik.”
Setelah memakai kembali bajunya, Satoru pergi meninggalkan UKS. Dia telah diperiksa secara menyeluruh, jadi memang diperbolehkan kembali. Namun itu tidak merubah fakta kalau tubuh Satoru membuat Miss Aoi terkejut.
Wanita itu pernah bekerja menjadi staff medis di ketentaraan. Dia merasa, tubuh Satoru yang dilatih sangat baik sejak kecil itu memang jauh lebih baik dibandingkan tentara biasa. Setidaknya fisiknya milik prajurit elit.
Hal tersebut membuat Miss Aoi bertanya-tanya bagaimana sang kakek melatih cucu kesayangannya itu.
Jika tahu apa yang dipikirkan Miss Aoi, Satoru pasti akan berkata dengan senyum ramah di wajahnya kalau dirinya dilatih dengan ‘penuh kasih sayang’. Terlalu penuh sampai dia nyaris tidak bisa menerimanya.
Keluar dari UKS, Satoru melihat Natsumi yang bersandar pada dinding. Tampaknya dengan sengaja menunggunya keluar.
“Apa yang kamu lakukan di sini, Natsumi-senpai?”
“Tentu saja memeriksamu. Mungkin orang-orang di klub berkuda bisa dibohongi pamanku, tetapi aku tidak bisa.” Natsumi mengangkat wajahnya dengan bangga. “Aku ingin tahu kondisimu. Itu saja.”
“Aku baik-baik saja. Lagipula, itu juga salahku karena tidak berhati-hati dan memperlakukan kuda dengan cara begitu buruk.”
Mendengar ucapan Satoru, Natsumi tertegun. Setelah beberapa saat, dia terkikik sambil menutup mulutnya.
“Apakah ada yang salah?” Satoru mengangkat alisnya.
“Tidak.” Natsumi menggelengkan kepalanya. “Tidak ada.”
“Katakan. Jangan membuatku jengkel.”
Satoru langsung menggebrak dinding samping Natsumi dengan tangan kanannya. Tindakan tersebut membuat gadis itu tertegun. Melihat wajah Satoru yang cukup dekat dengannya, dia langsung mendorongnya mundur.
Natsumi buru-buru berjalan menjauh sambil berkata.
__ADS_1
“Ugh! Anu ... itu sebenarnya bukan sepenuhnya salahmu.”
Mendengar itu, Satoru segera menyusul. Dia berjalan di sebelah Natsumi lalu bertanya, “Maksudmu?”
“Memang benar kalau tidak saling menghormati menjadi masalah. Namun, alasan utama kamu jatuh dari atas kuda bukan itu.
Sebenarnya, kuda hitam itu tidak pernah ditunggangi. Lebih tepatnya jarang. Sifatnya lebih liar dibandingkan rekan-rekannya. Di akademi, hanya kepala sekolah yang bisa menaikinya karena beliau yang mendatangkan dan merawat kudanya sejak kecil. Mungkin seperti balas budi pada orang tua?”
Penjelasan dari mulut Natsumi membuat Satoru kehilangan kata-kata. Memiliki ekspresi penuh keraguan, pemuda itu tidak bisa tidak bertanya, “Jadi apa fungsi kata-kata penuh semangat dan motivasi itu?”
“Mungkin memang berniat mengajarimu. Namun, intinya sudah pasti ... orang itu takut dipotong gaji.”
“...”
Satoru terdiam. Pemuda itu diam-diam berseru ‘Sangat baik!’ dalam hatinya. Benar-benar tertipu oleh ucapan manis gurunya sendiri.
Sementara itu, Natsumi menggertakkan gigi ketika melihat Satoru yang tidak peka. Dia ingin menginjak kaki pemuda itu dan bertanya apakah otaknya baik-baik saja. Lagipula, Satoru telah memperlakukannya dengan begitu ‘intim’ dan membuatnya malu.
Namun masih saja tidak peka!
“Apakah kamu marah? Aku berterima kasih karena kamu sudah peduli, bahkan sampai marah pada Sengoku-sensei untukku. Namun, aku pikir semuanya baik-baik saja.
Maksudku, luka ini cukup ringan. Aku malah mendapatkan pelajaran berharga dari luka ini.”
Melihat Satoru tersenyum lembut, Natsumi tercengang. Gadis itu langsung mengutuk dalam hati.
‘Benar sih, aku marah pada Paman. Tapi sekarang aku lebih marah padamu! Dasar bodoh, narsis, tidak peka!’
“Ini sudah agak malam, biarkan aku mengantarmu-“
“Tidak perlu! Ini hanya di sekolah, belum lagi sekolah pertanian terpencil dimana tidak ada bahaya! Aku tidak perlu diantar, Bodoh!”
Satoru menatap ke arah Natsumi yang pergi dengan ekspresi bingung. Dia jelas tidak menyangka kalau gadis itu begitu pemarah.
Sementara itu, Natsumi yang berjalan pergi kembali mengutuk dalam hati.
‘Kenapa kamu tidak menyusul? Setidaknya peka sedikit, Bodoh!’
Jika Satoru tahu apa yang dipikirkan gadis itu, dia pasti bingung harus menangis atau tertawa. Jelas Natsumi bisa memintanya untuk mengantar, tetapi malah mempersulit semuanya.
Memang, perempuan adalah makhluk yang rumit!
***
Kembali ke asrama, Satoru melihat ketiga teman sekamarnya menatapnya dengan mata merah.
“Apa?” tanya pemuda itu.
“Ugh! Dasar kampret!” Takeo menyeka air matanya. “Kamu membuat kami khawatir. Tapi ketika kami hendak menjenguk, ternyata kamu malah dihampiri cewek! Cewek cantik!”
“Jika kamu memiliki hubungan dengan Natsumi-senpai, seharusnya kamu bilang saja, Satoru-kun. Jangan membuat orang lain terlalu berharap.” Ono bersandar pada dinding dengan ekspresi kosong, tampak begitu tertekan.
__ADS_1
“GOOD JOB!” Manabu malah tersenyum sambil mengacungkan jempol.
Mendengar ucapan mereka, Satoru menutup wajahnya dengan ekspresi tertekan. Dia benar-benar tidak tahu dari mana imajinasi mereka berada. Jelas Natsumi hanya menjenguknya karena merasa bersalah dan perlu bertanggung jawab.
Ya ... itulah yang dipikirkan si tidak peka.
“Aku sudah bilang berkali-kali kalau kami berdua tidak memiliki hubungan semacam itu!”
Satoru sekali lagi menjelaskan dengan senyum masam di wajahnya. Tidak peduli lagi jika rekan-rekannya tidak percaya.
“Kamu yakin tidak memiliki sedikitpun rasa kepadanya?” tanya Takeo.
“Tidak.”
“Bagaimana dengan masa depan? Mungkin saja kalian bersama?” tanya Ono.
“Itu ... siapa yang tahu masa depan!”
“Akui saja, Satoru-kun. Kamu merasa kalau Natsumi-senpai itu cukup menawan.” Manabu membujuk.
“Jika dibilang menawan, dia memang kecantikan natural yang menawan. Namun, banyak gadis yang cantik secara fisik di dunia ini. Menurutku, apa yang membuatnya lebih menonjol adalah ... karena dia seperti musim panas (natsu)?” gumam Satoru dengan ekspresi bingung.
“Musim panas???” tanya ketiga temannya bersamaan.
“Maksudku, dia begitu cerah, ramah, baik, cukup usil dan agak menjengkelkan, tetapi juga perhatian dan bertanggung jawab. Ugh! Aku tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata.”
Satoru memijat pelipisnya dengan ekspresi tertekan.
“ITU DIA!” teriak Takeo.
“Apanya?” Satoru tercengang.
“Aku tidak peduli mana yang kamu pilih, entah teman sekelas atau kakak kelas! Yang paling penting ...
KAMU HARUS MENGAJARI KAMI!”
Satoru semakin bingung. Melihat mata ketiga temannya berbinar, dia malah tidak paham.
“Apa sih yang kalian maksud?”
Mendengar pertanyaan Satoru, ketiganya saling memandang. Mereka bertiga kemudian berkata secara serempak.
“AJARI KAMI CARA MENJEMPUT CEWEK!”
Tiba-tiba dijadikan mentor para remaja yang mencari cinta, Satoru benar-benar kehilangan kata-kata. Dia bahkan bertanya-tanya apakah dirinya salah dengar atau semacamnya!
Dia? Satoru Fujiwara yang belum pernah berpacaran sepanjang hidupnya? Menjadi mentor untuk mengejar cinta gadis muda?
Yang benar saja!
>> Bersambung.
__ADS_1