Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Mempersiapkan Balas Dendam


__ADS_3

Di sebuah rumah indah di pinggiran kota.


Sosok Arthur duduk di halaman belakang dengan ekspresi serius di wajahnya. Lily duduk di sampingnya sambil menyesap teh hangat. Keduanya menatap sosok Joe yang berlatih keras di halaman belakang.


Melirik ke arah bosnya, Joe merasa agak lega. Berbeda dengan ekspresi tumpul sebelumnya, tampaknya semangat pemuda itu telah kembali setelah bertarung dengan Golden Backed Abyss Crocodile.


Meski akhirnya makhluk tersebut bisa melarikan diri, tetapi kota dan wilayah sekitarnya aman dari kehancurkan.


Waktu berlalu cukup cepat. Setelah beberapa jam, mentari tenggelam dan semua orang berkumpul di ruang makan.


Sudah mandi sampai bersih dan wangi, ketiga orang itu berkumpul mengelilingi meja makan.


“Apakah kamu memiliki saran, Bos? Apa yang akan kita lakukan setelah ini?” tanya Joe.


“Aku ingin melumurinya dengan saus pedas manis, lalu memanggangnya dengan baik! Bagian luar cukup garing tetapi bagian dalam masih lembut dan juicy!


Jika kamu tanya bagian mana, tampaknya bagian ekor cocok untuk dipanggang!”


“...”


Melihat sosok Arthur yang begitu bersemangat, Joe terdiam. Meski sisi pendiam dan tertekan Arthur tampak buruk, tetapi sisi bersemangat dan seenaknya juga tidak kalah buruknya.


Setelah memikirkannya baik-baik, kecuali saat berakting, sisi Arthur lainnya sebenarnya menyebalkan!


Melirik ke arah bosnya, Jay tidak bisa tidak mengingatkan.


“Bukankah bala bantuan akan segera tiba, Bos. Bukankah lebih baik kita menunggu mereka? Setidaknya kita bisa menyelesaikan makhluk itu dengan aman.”


Mendengar itu, Arthur langsung menggebrak meja dengan ekspresi kesal di wajahnya.


“Tidak mungkin! Setelah gagal tiga kali mendapatkan daging berkualitas tinggi, aku harus membagi daging terakhir bersama orang-orang yang datang terlambat itu?


Sama sekali tidak mungkin!”


“Lihatlah dirimu, Bos! Apakah itu pantas dikatakan oleh orang yang ditampar buaya sampai terbang ratusan meter?!”


“Itu terjadi karena aku agak bersemangat dan lengah! Jika tidak, kadal besar itu pasti tidak bisa melarikan diri!”


“Itu yang aku maksud! Kamu terlalu bersemangat dan akhirnya bertingkah ceroboh, Bos!”


“Jangan sangkut pautkan yang lalu dan yang akan datang, Joe!”


“...”

__ADS_1


Sementara keduanya sibuk berdebat, Lily makan makanannya dengan ekspresi tenang. Makan nasi dengan lauk ikan bakar, minum sup, dan menonton perdebatan kedua rekannya dengan wajah datar.


Tampaknya cukup menikmati pertunjukan tersebut!


***


Keesokan harinya.


Selesai sarapan pagi, Joe langsung melanjutkan latihannya. Sementara itu, Arthur dan Lily tidak berada di halaman belakang.


Mereka berdua berada di kamar. Duduk berdampingan sambil menatap meja di depan mereka.


Di atas meja, tampak tumpukan kertas kuning khusus yang biasanya digunakan untuk membuat jimat. Meski Arthur bukan ahlinya, tetapi pemuda itu masih memiliki sedikit ilmu.


Setidaknya, bisa mengajari Lily dan tidak kalah dengan pembuat jimat biasa.


“Arthur, Arthur ...”


“Ada apa, Lily?” balas Arthur tanpa menoleh.


“Kenapa kita menulisnya dengan darah, bukan tinta?”


“Mungkin darah lebih baik dalam menyegel dan menyimpan energi? Atau mungkin ada bahan alternatif tetapi sulit didapat? Ya ... itu tidak begitu penting.”


“Ya.”


Arthur fokus pada pekerjaannya. Dia menatap ke arah kertas jimat berwarna kuning tanpa menoleh sedikitpun.


Beberapa saat kemudian, suara Lily kembali terdengar.


“Arthur, Arthur ...”


“Ada apa, Lily?”


“Jimat yang aku buat ini adalah jimat peledak, kan?” tanya Lily.


“Iya.”


“Apakah kamu juga membuat jimat peledak?”


“Tidak.”


“Kenapa? Bukankah kamu bisa membuat jimat peledak yang lebih baik?”

__ADS_1


“Karena aku membuat jimat lain.”


“Jimat lain?” Lily memiringkan kepalanya.


“Ya.”


“Jimat seperti apa?”


“Jimat penyegel. Ya ... seperti rantai yang membatasi pergerakan lawan.”


“Sebanyak itu?”


Lily tampak bingung. Di depannya, ada setumpuk kecil kertas kuning. Jika ditotal, mungkin dia akan membuat sekitar 100 jimat peledak. Sementara itu, ada tumpukan lebih tinggi dan lebih banyak di depan Arthur.


“Aku akan menyimpan sisanya untuk berjaga-jaga.” Arthur membalas dengan wajah santai.


“Berapa banyak?” Lily memiringkan kepalanya.


“Seribu jimat! Gunakan 100 untuk mengikat kadal itu! Jika masih bergerak, maka gunakan 200! Tidak peduli apakah 300, 400, 500, bahkan 1000! Dia tidak akan pernah lagi melarikan diri!


Makhluk itu sudah ditakdirkan untuk mengisi kulkasku! Sama sekali tidak ada jalan lain dalam hidupnya!”


Melihat Arthur sangat bertekad, Lily mengangguk dengan wajah kosong. Tidak tahu apa yang sebenarnya pemuda itu inginkan, dia hanya menemaninya. Tidak kurang, tidak lebih.


Jika Joe tahu apa yang Arthur pikirkan, dia pasti akan berkata kalau pria itu terlalu berlebihan!


Seribu jimat? Menghabiskan banyak energi qi dan uang hanya untuk mendapatkan daging?


Hal semacam itu benar-benar keterlaluan!


Waktu pun kembali berlalu.


Pada saat jam makan siang, Joe yang selesai latihan merasa bingung ketika tidak melihat Arthur dan Lily. Beristirahat sebentar untuk mengatur napas dan menyeka seluruh keringat, dia lalu pergi ke kamar untuk menemui mereka berdua.


Sampai di depan pintu kamar, Joe mengetuknya. Beberapa saat tidak mendapatkan jawaban, dia akhirnya membuka pintu kamar.


Hanya saja, Joe kecewa ketika melihat kamar yang kosong. Merasa bingung karena tidak tahu kemana Arthur dan Lily, pria itu menghela napas panjang.


BLARRR!!


Mendengar suara ledakan di kejauhan, sudut bibir Joe tanpa sadar berkedut. Tanpa harus memeriksanya, dia telah mengetahui siapa pelakunya.


Jelas ... pelakunya adalah kedua rekan tersayangnya!

__ADS_1


__ADS_2