Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
198


__ADS_3

Keesokan paginya.


Setelah selesai bersih-bersih kandang kuda, Satoru langsung pergi menuju ke kandang babi. Di sana, dia langsung menemui Pak Okuda. Beliau kemudian memberitahu pemuda tersebut cara memberi makan yang benar. Seberapa banyak makanan, air, dan kapan harus memberi babi-babi kecil itu makanan.


“Apakah kamu yakin akan baik-baik saja? Setelah kamu membersihkan kandang kuda dan memberi makan anak babi, kamu harus buru-buru kembali ke asrama, mandi, kemudian pergi sarapan. Waktumu sangat tipis, jadi ...”


“Saya tidak apa-apa, Okuda-sensei!”


Satoru berkata dengan senyum di wajahnya. Pemuda itu kemudian membungkuk hormat.


“Jika tidak ada yang lain, maka saya akan pergi terlebih dahulu.”


Melihat Satoru yang bergegas pergi, Pak Okuda hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Bocah itu ...”


***


Siang harinya.


Selesai menyantap makan siangnya, Satoru langsung bangkit dari kursinya. Dia langsung menghampiri Jiro yang tampaknya sedang bercanda ria dengan teman-temannya.


“Oh! Itu kamu, Satoru-san! Tumben sekali kamu-“


“Kembali ke kelas bersamaku sekarang.”


“Eh? Tapi jam istirahat masih lama, jadi kita bisa-“


“Kamu sudah selesai makan, jadi kamu akan kembali denganku sekarang.”


Setelah mengatakan itu, Satoru langsung menyambar kerah belakang leher Jiro. Di depan ekspresi terkejut banyak orang, dia menyeret remaja yang terkenal nakal itu keluar dari kantin. Benar-benar membuat banyak orang terpana.


“Bukankah Satoru-san itu luar biasa?” gumam salah satu teman sekelas.


“Tampan, dari kota, rajin, dan pintar. Sejak awal dia memang luar biasa, kan?” balas teman di sebelahnya.


“Bukan itu. Maksudku, meski dari kota, dia itu kuat. Satu hal lagi yang paling aku kagumi darinya ...”


“Jangan membuat kami penasaran! Katakan, apa itu?”


Melihat teman-temannya yang penasaran, pemuda itu langsung berseru dengan ekspresi serius di wajahnya.


“Satoru-san bahkan tidak menyerah pada otak Jiro!”

__ADS_1


Mendengar itu, semua orang tertegun. Setelah beberapa saat, mereka semua mengangguk dengan ekspresi penuh persetujuan. Tampaknya mereka menganggap hal semacam itu sangat luar biasa.


Sementara itu, di meja tempat Ono, Takeo, dan Manabu berada. Dua orang terakhir menatap ke arah Ono ketika mendengarkan ucapan orang-orang itu.


“Apa masalahnya? Apakah bocah bernama Jiro itu suka membuat masalah?” tanya Takeo.


“Apakah dia masih memberontak setelah mendapatkan ‘pendidikan’ dari Satoru-san?” tambah Manabu dengan ekspresi kagum.


Keduanya jelas masih mengingat bagaimana pemuda tampan dan tidak terlihat berbahaya itu memukul perut mereka. Saat itu, mereka berdua merasa kalau seluruh isi perut mereka hampir dikeluarkan. Walau tidak memar, sensasi sakitnya masih membekas sampai pagi di hari berikutnya!


Benar-benar pengalaman yang membuat mereka tidak nyaman!


“Tidak. Berbeda dengan apa yang kalian pikirkan, Satoru-san mengajari Jiro. Dia mengajarinya berbagai pelajaran umum, khususnya matematika. Sebagai gantinya, Jiro akan membantunya dalam pelajaran praktik. Meski menurutku kurang adil, tetapi Satoru-san berkata kalau itu sudah cukup.”


“Eh? Hanya itu?” tanya Takeo dengan ekspresi curiga.


“Apa maksudmu dengan hanya itu?” Ono mengangkat alisnya. Memiliki ekspresi suram, dia melanjutkan. “Kalian meremehkan kepala Jiro. Bukan hanya aku, bahkan wali kelas kami benar-benar menyerah mengajarinya.”


“...”


Takeo dan Manabu saling memandang dengan ekspresi bingung. Saat itu, suara Ono kembali terdengar.


“Baru setelah kerja keras Satoru-san, Jiro ... dia akhirnya mendapatkan nilai matematika dua digit pertama kali dalam hidupnya!”


Jadi Ono sama sekali tidak bisa membayangkan betapa tertekannya Satoru ketika mengajar jenis makhluk semacam itu. Namun, Jiro juga memiliki kelebihan sendiri.


Jiro adalah murid yang ramah. Meski memiliki rambut , mohawk diwarnai kuning yang tampak seperti kepala ayam, dia suka membantu orang lain. Selain itu, pemuda itu juga rajin dan memiliki nilai sangat baik dalam praktik.


Rasanya, Tuhan telah menutup pintu dan membuatnya tidak bisa belajar, tetapi membuka pintu lainnya sehingga Jiro memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.


“Benar-benar parah. Setelah belajar hanya mendapatkan nilai 12. Meski tidak begitu baik, tanpa belajar aku masih bisa mendapatkan nilai 23.” Takeo menggelengkan kepalanya.


Mendengar itu, Ono langsung tertegun. Pada saat dia menatap ke arah Manabu, pemuda itu mengangkat bahu. Tampaknya juga tidak berdaya dengan kemampuan belajar teman asrama mereka itu.


Pada saat Ono melihat ekspresi bangga dan lega di wajah Takeo, dia tidak bisa tidak mengeluh dalam hati.


‘Ternyata kamu juga sama parahnya, Kampret!’


***


Malam harinya.


Setelah makan malam, Satoru, Ono, Takeo, dan Manabu kembali ke asrama. Sementara tiga orang lainnya masih memiliki energi, Ono langsung menjatuhkan diri ke ranjangnya dengan ekspresi lesu.

__ADS_1


“Tidak mungkin. Jika terus seperti ini, aku benar-benar akan mati. Kenapa aku merasa momen paling menyenangkan di akademi hanya saat makan dan berendam dalam kolam air panas! Ini benar-benar membuat tertekan!”


Melihat Ono yang kehilangan berat badannya, Takeo dan Manabu menggelengkan kepala mereka.


“Selain kekurangan nutrisi, fisikmu perlu dilatih, Ono. Setidaknya makan telurnya. Itu akan menambah lemak dan protein untuk tubuhmu.” Takeo berkata dengan nada tidak puas.


“Ya.” Manabu menghela napas panjang. “Kenapa kalian tidak mau makan telur? Apakah kalian alergi?”


“Itu ...”


Ono bingung harus menjawab apa. Dia tidak mungkin berkata kalau dia membayangkan kotoran ketika hendak makan telur. Bukan hanya terkesan meremehkan, itu benar-benar bukan sesuatu yang baik untuk dibicarakan.


Ono menatap ke arah Satoru. Melihat pemuda tampan itu duduk di kursi sambil membaca buku dengan ekspresi malas, dia merasa agak tertekan.


‘Setidaknya katakan sesuatu, Satoru-san!’


Seolah mendengarkan keluhan dalam hati Ono, Satoru yang sedang membaca buku tiba-tiba bicara.


“Aku tidak terbiasa makan telur atau daging mentah. Sayur dan ikan mentah masih baik-baik saja, tetapi telur dan daging tidak bisa. Itulah kenapa aku selalu memberikan telur segar itu kepada kalian.”


Mendengar penjelasan Satoru, Takeo dan Manabu tampak tercerahkan.


“Jadi begitu! Berbeda di sini, di kota pasti agak sulit mendapatkan sesuatu yang segar. Bahkan jika telur dijual, mungkin itu sudah tidak layak dikonsumsi secara langsung. Hanya bisa diolah.


Aku benar-benar tidak memikirkannya jika kamu tidak mengatakan itu, Sobat.”


Sementara itu, Manabu mengelus dagu lalu berkata dengan ekspresi bingung.


“Kalau begitu, kenapa kamu tidak membicarakannya pada pak guru atau pengurus kantin. Meski membuatnya menjadi telur gulung agak membuang waktu dan mungkin ditolak, tetapi masih bisa dijadikan telur rebus kan?”


“EH???”


Mendengar ucapan Manabu, Satoru dan Ono berseru bersamaan. Kedua pemuda itu tampaknya tidak pernah memikirkan hal semacam itu.


“Apakah itu boleh?” tanya Ono dengan ragu.


“Tentu saja boleh.”


Mendengar jawaban pasti tersebut, Satoru dan Ono tertegun di tempat masing-masing.


Keduanya tiba-tiba merasa bahwa selama ini mereka begitu bodoh karena tidak menyadari hal semacam itu!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2