
“Apakah ada masalah?”
Kembali ke kelas, Ono langsung berbisik pada Satoru dengan ekspresi khawatir. Sebagai tanggapan, pemuda itu mengangkat bahu dengan ekspresi santai di wajahnya.
“Bukan apa-apa. Kakekku hanya menelepon karena khawatir. Mungkin dia berpikir kalau aku tidak akan tahan ketika datang ke tempat ini.”
“Ah! Jadi begitu,” gumam Ono dengan ekspresi lega.
Pada awalnya, dia berpikir kalau ada masalah dengan keluarga Satoru. Namun siapa sangka ternyata kakek pemuda itu menghubunginya karena khawatir. Mendengar itu, Ono merasa sedikit iri karena hubungannya dengan keluarganya tidak sebaik itu.
Menyadari sesuatu, Ono tidak bisa tidak bertanya, “Kenapa tidak meneleponmu secara langsung? Setelah jam makan malam, kita boleh menggunakan ponsel sebentar kan? Meski sinyal agak buruk, tetapi masih bisa dilakukan.”
Mendengar pertanyaan itu, ekspresi Satoru yang awalnya agak cerah menjadi suram. Duduk di kursinya, dia menghela napas panjang lalu berbicara dengan nada tertekan.
“Aku sempat bertengkar dengan kakekku. Jadi, tanpa sengaja aku melupakan kotak peralatan yang berisi ponsel dan barang-barang lain saat berangkat ke sini.”
Ono sedikit terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Satoru yang biasanya tampak tenang ternyata bisa marah dan berperilaku sedikit kekanak-kanakan. Pemuda itu juga bisa bertengkar dengan orang lain.
Saat itu, Ono langsung teringat bagaimana Satoru memukul dia, Manabu, dan Takeo. Mengingat sensasi tidak nyaman itu, dia langsung menggelengkan kepala. Pemuda itu berpikir kalau bertengkar dengan Satoru bukanlah ide yang baik.
Lebih mirip dengan bunuh diri! Jika tidak, itu seperti meminta pemukulan!
Sementara itu, Satoru yang baru saja kembali ke tempat duduknya langsung mengeluarkan buku. Karena waktu istirahat tinggal sedikit, dia tidak mengajar Jiro dan beberapa teman lainnya, hanya bersiap untuk pelajaran berikutnya.
***
Sore harinya, di klub berkuda.
Saat itu, semua anggota dari klub berkuda berkumpul di depan kandang. Pak Sengoku mengumpulkan mereka untuk memberikan pengumuman penting.
“Untuk Golden Week kali ini, apakah ada yang tinggal di sekolah? Jika ada, silahkan angkat tangan.”
Mendengar itu, Satoru dan Ono mengangkat tangan mereka. Tidak hanya mereka, ada juga dua gadis lain yaitu Natsumi dan Miyuki.
Pak Sengoku menatap Natsumi beberapa saat lalu menghela napas panjang. Menghitung empat orang yang tinggal, dia akhirnya kembali bicara.
“Karena jadwal piket tidak diatur dan kebetulan ada cukup orang, aku ingin meminta kalian membantu mengurus kandang kuda selama Golden Week. Apakah ada yang keberatan?”
“Kebetulan aku tidak memiliki rencana apapun, jadi tidak masalah.” Satoru mengangkat bahu.
__ADS_1
“Aku sedang tidak ingin pulang, tapi tinggal di sekolah saja pasti membosankan. Aku bisa melakukan ini,” ucap Natsumi dengan senyum di wajahnya.
“S-Saya juga tidak memiliki masalah.” Miyuki mengangguk dengan ekspresi malu-malu.
“...”
Sementara itu, Ono terdiam di tempatnya. Setelah melalui hari-hari melelahkan dimana banyak tekanan yang membuatnya cukup stres, pemuda itu ingin menggunakan liburan Golden Week untuk bermalas-malasan dan melakukan healing. Namun, sekarang dia malah diminta untuk mengurus kandang kuda.
Tugas itu benar-benar membuatnya sangat tertekan!
Hanya saja, Ono masih mengangguk dengan ekspresi enggan karena melihat Satoru, Natsumi, dan Miyuki yang sama sekali tidak keberatan. Dia tidak bisa menolak tugas itu sendiri karena membuatnya merasa tidak nyaman.
“Kalau begitu, kalian bisa melakukan latihan seperti biasa. Tentu saja, kalian harus menyelesaikan tugas terlebih dahulu sebelum latihan.”
Mendengar itu, para murid kelas 1 agak cemberut. Lagipula, dibandingkan dengan tugas kakak kelas yang bertugas merawat kuda, mereka lebih kerepotan karena harus membersihkan kandang kuda, membuang kotoran, dan mengganti jerami sebagai alas kuda masih lebih merepotkan. Jelas tidak ada yang suka melakukan pekerjaan semacam itu.
Setelah membuang kotoran ke tempat pengumpulan, Satoru melihat Ono yang tampak lesu.
“Apakah ada masalah, Ono?”
“Tidak.” Ono menggelengkan kepalanya. “Aku berpikir kalau bisa berlibur dengan santai. Menghabiskan satu minggu untuk menebus kelelahan di hari-hari sebelumnya. Aku benar-benar tidak menyangka kalau akan diminta untuk mengurus kandang kuda dan semua isinya.”
“Aku tidak akan kembali ke rumah!” tegas Ono dengan ekspresi serius.
Melihat ekspresi Ono, Satoru yakin kalau masalah yang dialami pemuda itu sama sekali tidak biasa. Walau sebenarnya tidak ingin ikut campur, pemuda itu akhirnya masih terjun ke dalamnya.
“Jika ada masalah, kamu bisa bercerita. Jika tidak mengatakannya, aku sama sekali tidak mengerti alasan kenapa kamu begitu marah ketika berbicara soal rumah.”
Mendengar perkataan Satoru, Ono yang awalnya tampak begitu marah langsung terdiam. Pemuda itu memiliki ekspresi rumit di wajahnya. Setelah beberapa saat, dia pun meluapkan emosinya.
“Bagaimana aku tidak marah? Bukankah manusia berbeda dengan ternak. Namun pada kenyataannya, bukankah kita sama saja?
Kita dibesarkan untuk mencapai sesuatu yang diinginkan orang tua kita! Mereka memaksa kita untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Bahkan memberi kita cap ‘baik’ atau ‘buruk’ padahal tidak tahu apa yang kita alami!
Dari kecil aku suka belajar dan menghabiskan waktuku untuk itu! Namun akhirnya aku tidak bisa melebihi kakakku! Aku bahkan tidak diterima di SMA terbaik di Sapporo!
Aku tidak ikut ekskul, aku tidak bermain atau berkencan, aku menghabiskan waktuku untuk belajar, kursus, mengulas, dan melakukan segala yang aku bisa! Namun akhirnya masih gagal, dianggap sebagai produk inferior dan dibenci!
Aku-“
__ADS_1
“Bukankah itu berarti kamu datang ke tempat ini untuk melarikan diri? Bukankah itu berarti kamu hanya pecundang kalah yang melarikan diri lalu mengeluh karena dunia tidak berjalan di sekitarmu?”
Saat itu, Satoru langsung menyela dengan ucapan datar. Ekspresinya tampak kosong, matanya terlihat suram dan keruh. Benar-benar terlihat berbeda dengan biasanya.
Ono sempat tertegun karena tidak pernah menyangka kalau Satoru yang ramah dan baik akan mengatakan hal sedingin itu.
“Apa yang kamu tahu! Kamu memiliki nilai yang sangat baik, memiliki banyak keahlian, memiliki fisik baik, memiliki wajah tampan, dan segudang kelebihan! Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan!
Kalian semua sudah melihat masa depan seperti apa yang akan kalian miliki! Kalian tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi orang yang kebingunan sepertiku!”
Setelah mendengarkan semua keluhan Ono, Satoru menarik napas dalam-dalam dengan mata tertutup. Ketika membuka matanya, pemuda itu bertanya, “Selesai?”
“Satoru, kamu-“
“Hanya karena kamu gagal masuk ke sekolah terbaik, apakah menurutmu hidupmu telah berakhir? Hanya karena kami semua memiliki tujuan, apakah kamu pikir jalan yang kami hadapi itu mudah?
Buka matamu, Bodoh! Siapa yang tidak ingin merubah hidupnya menjadi lebih baik? Siapa yang tidak melakukan perjuangan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik?
Aku tidak tahu bagaimana orang lain, tetapi kamu bisa melihat teman-teman kita!
Apakah kamu pikir tujuan Manabu bisa diselesaikan dengan mudah? Apakah kamu pikir punggung Takeo tidak berat karena membawa masa depan adik-adiknya?
Aku bisa melakukan apapun dengan baik? Apakah kamu pikir itu membuatku merasa cukup dan bangga? Tidak!”
Ekspresi Satoru berubah menjadi lebih dingin. Dia langsung menghampiri Ono, meraih kerah lalu mengangkat pemuda itu tinggi-tinggi.
“Aku tidak tahu bagaimana keluargamu dan seperti apa rumah bagimu. Namun, aku iri dengan kalian yang memiliki ayah dan ibu!
Bagimu aku hebat? Tetapi bagiku ini belum cukup! Dalam hidup ini, setidaknya aku ingin membuat pencapaian yang membuat kakekku bangga! Aku ingin membalas budinya!
Dengan membahagiakan satu-satunya orang yang bisa aku anggap keluarga, setidaknya aku merasa hidupku lebih berguna!
Sekarang kita masih muda dan masa depan masih panjang. Namun, apakah kamu pikir orang bisa hidup selamanya? Apakah kamu pikir aku tidak khawatir ketika melihat rambut lelaki tua itu telah memutih semua!
Jika seperti ini saja aku tidak bisa melakukannya! Kapan aku bisa meraih tujuanku yang sebenarnya!”
Melihat Ono yang tertegun di tempatnya, Satoru langsung menjatuhkannya. Pemuda itu kemudian pergi dari tempat tersebut dengan ekspresi suram.
Sementara itu, tidak jauh dari sana, Natsumi yang sebelumnya hendak memanggil mereka berdua hanya bisa menyembunyikan dirinya. Bersandar pada dinding sambil memejamkan mata, mendengarkan semuanya tanpa mengucap sepatah kata.
__ADS_1
>> Bersambung.