Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Wilayah Perbatasan


__ADS_3

Sore, tiga hari kemudian.


Di perbatasan kerajaan dan padang rumput, sosok Arthur jatuh berlutut dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya.


Tidak jauh darinya, tampak sebuah kota kecil yang benar-benar dihancurkan. Puing-puing bangunan berserakan, debu mengepul, dan pasir kuning kecoklatan menyebar di segala tempat.


Arthur tertunduk melihat ke arah kedua telapak tangannya yang dipenuhi darah. Di sekitarnya, tampak genangan membentuk kolam dangkal.


“Ini ... ini tidak mungkin.”


Kedua tangannya mengepal erat. Menatap ke arah langit, matanya memerah.


“Bagaimana bisa hal semacam ini terjadi!”


Angin suram berembus membawa debu dan udara panas. Merasakan angin kering yang menerpa wajahnya, Arthur benar-benar merasa tak berdaya.


***


Beberapa waktu sebelumnya.


“Kerugian. Ini benar-benar kerugian total!”


Duduk di atas pedang terbang, Arthur berbicara dengan nada penuh keluhan. Setelah menyelesaikan dua iblis, pemuda itu malah menjadi tertekan karena perjalanannya sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasi.


“Arthur, Arthur ... Bukankah kita menemukan beberapa herbal berguna?”


Lily memiringkan kepalanya, benar-benar tidak tahu kenapa pemuda itu merasa tertekan.

__ADS_1


“Ya. Kita memang mendapatkan cukup banyak panen.”


Arthur mengangguk ringan sambil berpikir.


‘Aku mengambil beberapa bibit buah khusus, herbal, dan jamur yang akhirnya ditanam oleh para Treant.’


Menatap ke arah Lily, ekspresi Arthur menjadi lebih serius.


“Aku tahu kalau kita mendapatkan cukup banyak panen, tapi ...”


“Tapi?” Lily memiringkan kepalanya ke arah lain.


“Masalahnya apa yang kita dapatkan adalah hadiah sampingan, sama sekali bukan hadiah utama!” ucap Arthur dengan ekspresi tertekan di wajahnya.


“Bukankah kamu sudah membunuh dua iblis dan mendapatkan tubuhnya, Bos? Bukankah itu berarti Tuan Arima akan membayarmu?”


“Tubuh makhluk itu milikku! Aku hanya perlu menunjukkannya kepada Senior Arima, mengerti?!”


“Anu ... Aku benar-benar tidak tahu maksudmu, Bos. Bukankah itu baik? Maksudku, tubuh itu bisa dijual dengan harga bagus dan-“


“BUKAN BEGITU, JOE!”


Arthur melepaskan kerah Joe lalu mundur dengan wajah tertekan.


“Bahan! Seharusnya aku mendapatkan lebih banyak bahan premium! Burung bodoh itu memiliki berat ratusan kilogram! Seandainya saja bisa dimakan ... ugh!


Ini benar-benar berita menyakitkan!”

__ADS_1


Ark mencengkeram erat dadanya sendiri dengan ekspresi sakit hati. Melihat tindakan berlebihan pemuda itu, Joe langsung mengalihkan pandangannya sementara Lily menatap dengan ekspresi kosong.


‘Aku rasa ekspresi lelaki yang putus cinta tidak akan seburuk itu, kan? Hanya beberapa potong daging, kenapa tingkahnya seperti langit akan runtuh kapan saja?’


Joe menghela napas dalam hati.


“Apa maksud dari tetapan ‘hanya beberapa potong daging’ itu, Joe? Apakah kamu tidak mengerti-“


“Lihat, Bos! Kita telah sampai di perbatasan!”


Hampir dihajar oleh Arthur karena menyepelekan makanan, Joe langsung mengalihkan perhatian. Di kejauhan, tampak asap mengepul. Begitu mencolok meski hanya terlihat dari kejauhan.


“Semua orang, bersiap! Kita akan menaikkan kecepatan!”


Melihat situasi semacam itu, ekspresi tidak bisa diandalkan di wajah Arthur berubah menjadi serius. Pemuda itu langsung menaikkan kecepatan pedang terbang. Segera menuju lokasi secepat yang dia bisa.


Setelah beberapa waktu, Arthur dan kedua rekannya akhirnya tiba di lokasi.


Melihat kota yang benar-benar telah dihancurkan dan banyak korban, ekspresi mereka bertiga berubah. Tampak banyak warga yang berlarian dengan panik. Sementara itu, ada juga suara tangisan di berbagai tempat.


Mendengar dan melihat itu semua, tangan Joe tanpa sadar mengepal erat.


“Ini benar-benar sudah keterlaluan!”


Sementara itu, Ark menjadi lebih tenang. Menghela napas panjang, pemuda itu berkata.


“Beginilah medan perang.”

__ADS_1


__ADS_2