
Melihat pemuda yang berdiri dengan tenang di bawah hujan darah dengan api hitam yang belum padam pada bilah di tangannya, ketiga lelaki tua itu sama sekali tidak berani mengatakan apa-apa.
“Aku akan mengurus sisanya.”
Mendengar ucapan Arthur, ketiga lelaki tua itu saling memandang lalu mengangguk. Melihat kalau Ground Dragon telah benar-benar diselesaikan, mereka tidak lagi memiliki alasan untuk tinggal. Ketiganya bahkan cukup kasihan kepada Arthur karena bahan yang didapatkannya sekarang benar-benar rusak. Mereka tampaknya mengerti apa yang Arthur rasakan, jadi akhirnya memilih untuk pergi dalam diam.
Setelah sekitar lima belas menit dan ketiga lelaki tua dipastikan telah pergi, Arthur tiba-tiba mendongak.
“Pfft ,,, Hahahaha! Sangat bagus! Ternyata ini bukan jenis golem atau patung semacam itu, Jika tidak, sudah terlambat untuk menyesalinya!”
Arthur menyeringai. Pemuda itu tampak bahagia. Jejak kemarahan benar-benar telah menghilang seolah tidak pernah ada.
“Gluttony!”
“...”
Setelah keheningan singkat, sebuah pedang hitam legam dan memancarkan perasaan jahat muncul, jatuh ke tangan Arthur dengan tenang. Namun pemuda itu menatap pedang dalam diam.
Beberapa saat kemudian, pedang menggeliat seolah hidup, memiliki daging dan darah. Benda itu kemudian berubah menjadi pisau chef. Melihat senyum puas di wajah Arthur, sepertinya Gluttony tampak tertekan.
Setiap kali keluar, dia sama sekali tidak digunakan untuk memusnahkan musuh. Sebaliknya, Gluttony disuruh menjadi pisau chef, digunakan untuk menguliti dan mengambil daging.
“Hitam, Putih ... kalian juga ikut membantu.”
Mendengar ucapan Arthur, dua anting di telinganya langsung berubah wujud. Mereka kemudian berenang di sekitar pemuda itu seperti anak-anak yang senang ketika diajak bermain. Meski mereka patuh dan mau tetap dalam bentuk anting, tetapi keduanya jelas lebih suka dengan penampilan asli mereka.
Arthur kemudian mengeluarkan beberapa barel yang terbuat dari kayu dengan ukuran besar. Setelah itu, barulah dia memberi perintah.
__ADS_1
“Tolong bantu aku untuk mengumpulkan sisa-sisa potongan tubuh Ground Dragon, Anak-anak!”
“Baik, Tuan!” jawab mereka serempak.
Dalam beberapa saat, Yin-Yang Koi kembali. Kedua makhluk seukuran telapak tangan itu terbang sambil membawa potongan tubuh sepanjang dua meter lebih. Terlihat aneh dan tidak pada tempatnya.
Arthur sama sekali tidak terkejut. Dia sendiri tahu kalau kedua ikan yang suka bermain itu sangat kuat. Pemuda itu sama sekali tidak heran jika melihat mereka menggigit dan membawa terbang seekor gajah.
“Tumpuk saja di sana.”
Setelah mengatakan itu, Arthur mengeluarkan kursi kayu kecil. Pemuda itu kemudian mulai mengambil daging dan menyingkirkan sisik tebal dan keras, juga beberapa bagian lain seperti tulang, tanduk dan semacamnya.
Melihat daging merah yang sangat lembut di tangannya, Arthur merasa heran. Dia sama sekali tidak menyangka, di balik tubuh besar dan kokoh Ground Dragon, ternyata dagingnya begitu lembut. Pemikirkan untuk segera memasaknya muncul dalam kepala Arthur, tetapi penuda itu segera menggelengkan kepalanya. Lagipula, banyak pekerjaan yang harus dia lakukan sendirian.
Setelah setengah hari penuh, Arthur yang mengambil daging dengan kecepatan luar biasa menyelesaikan pekerjaannya. Dia mandapatkan banyak daging, kira-kira hampir 5 ton. Seberat gajah Afrika dewasa. Tampaknya banyak, tetapi sama sekali tidak.
Jadi pada akhirnya, lebih dari 35 ton bahan menumpuk seperti bukit kecil di depannya. Jika orang itu teliti, bagian sisik bisa diproses, dilelehkan dan ditempa lagi menjadi armor. Sedangkan bagian tanduk, taring, cakar, dan tulang ekor bisa digunakan untuk membuat senjata.
Mungkin di mata orang-orang apa yang menumpuk di depan Arthur adalah harta Namun bagi pemuda tersebut, itu hanyalah tumpukan benda yang hanya memenuhi ruang penyimpanan miliknya.
Setelah mengemas semua daging dan menyimpannya dalam ruang milik Yin Koi, Arthur melemparkan Gluttony ke arah tumpukan sisik, tulang, taring, dan berbagai sisa daging serta darah Ground Dragon, lengkap dengan kepala utuh yang dia anggap jelek.
Ketika dilemparkan, Gluttony yang awalnya seperti pisau langsung berubah bentuk. Tubuhnya langsung berubah menjadi cairan hitam pekat kemudian melapisi seluruh gundukan bahan-bahan sisa tersebut. Setelah itu, tampak banyak taring muncul, belasan, mungkin puluhan. Ada juga banyak mata merah seperti iblis dengan pupil berbentuk ‘+’. Sekali lihat, makhluk itu benar-benar mirip monster dibandingkan senjata.
Kriuk! Kriuk! Kriuk!
Melihat Gluttony yang makan dengan rakus seperti pria kelaparan berhari-hari, sudut bibir Arthur berkedut. Belum lagi, cara makannya yang begitu ... kurang sedap dipandang membuatnya bingung harus berkata apa.
__ADS_1
Entah kenapa, jika seseorang melihatnya, Arthur yakin kalau dirinya akan dianggap penjahat alih-alih pahlawan. Lagipula, penampilan Gluttony sekarang lebih mengerikan daripada iblis yang ditulis dalam buku-buku di perpustakaan Sekte Pilar Surgawi.
“Tidak bisakah kamu makan lebih tenang? Kenapa kamu makan seolah-olah ini adalah makanan terakhirmu! Tenanglah!”
“...”
Mendengar ucapan tuannya, Gluttony jelas langsung mengabaikannya. Dia jelas eksistensi kerakusan, tetapi selama ini diperlakukan lebih buruk daripada petapa yang disuruh berpuasa berbulan-bulan. Tentu saja, selama ada kesempatan, Gluttony ingin menikmati kesempatan ini.
Makhluk itu bahkan merasa bersyukur dan beruntung karena tuannya mendapatkan musuh seperti ini. Jika itu kadal raksasa normal, jangankan berton-ton. Dia yakin kalau dirinya hanya memakan sisa kulit, tulang, cakar, dan beberapa ‘sampah’ dengan berat paling banyak ratusan kilo. Seperti saat tuannya menyuruh dirinya menelan bagian atas silumat belut itu.
Sekitar satu jam kemudian, proses pencernaan benar-benar selesai.
Arthur berdiri dengan linglung. Di depannya, tampak Gluttony dalam bentuk pedang hitam yang lebih indah daripada sebelumnya. Dari kekuatannya saja, pasti lebih baik dibandingkan dengan pedang yang sering dia gunakan untuk bertarung.
Hanya saja, apa yang membuat Arthur linglung bukan perubahan Gluttony, tetapi umpan balik yang diberikan olehnya. Tanpa berlatih dan sering membuang waktu untuk santai, sekarang dia benar-benar menembus tingkat gold bintang 2. Rasanya dia benar-benar naik level hanya dengan makan dan tidur.
‘Apakah orang-orang itu berlebihan? Naik level ... bukankah semudah ini?’
Jika kultivator lain mengetahui pikiran Arthur, mereka pasti akan muntah darah karena marah. Jangankan hanya berlatih serius setiap hari. Mereka bahkan rela mengambil resiko menjelajahi belantara dan reruntuhan kuno berbahaya untuk mencari kesempatan.
Makan dan tidur untuk naik level? Tidak ada hal semacam itu sepanjang sejarak kultivasi yang mereka ketahui!
Arthur menggeleng ringan. Perubahan Gluttony atau levelnya sendiri, dia sama sekali tidak begitu peduli. Pemuda itu hanya merasa puas setelah mendapatkan bahan kualitas premium dengan kuantitas tinggi! Sama sekali tidak bingung akan dimasak apa karena pasti cukup dibuat berbagai masakan!
Setelah meminta Yin-Yang Koi dan Gluttony kembali, pemuda itu terbang keluar dari tambang sambil bersenandung. Benar-benar puas dan tidak sabar lagi untuk segera memasak bahan yang telah dia dapatkan!
>> Bersambung.
__ADS_1