Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
157


__ADS_3

Salju telah mencair dan tahun telah berganti.


Burung-burung berkicau, menari di udara atau melompat dari dahan satu ke dahan pohon lainnya. Tunas-tunas baru tumbuh, warna hijau muncul menggantikan warna putih sebelumnya.


Dalam toko yang tidak begitu mencolok ibukota kerajaan tertentu, tampak sosok pemuda yang duduk di kursi belakang meja kasir. Dia menopang dagu dengan ekspresi lelah di wajahnya. Mengabaikan teh panas yang masih mengepul di atas meja.


“Apakah kamu masih tidak puas dengan liburanmu, Bos?”


Jotaro yang baru saja menyelesaikan latihan pagi melihat Arthur dengan ekspresi aneh. Melihat pemuda yang tampak linglung itu membuatnya bingung harus mengatakan apa.


Alasan Arthur datang ke tempat ini adalah mencari tempat untuk membuka toko dan hidup dalam ketenangan. Namun saat mereka membeli tempat ini, musim dingin tiba. Jadi membuka restoran tanpa persiapan jelas tidak mungkin.


Dari sana, Arthur mulai terbiasa hidup dengan terlalu santai, atau lebih tepatnya ... bermalas-malasan. Bahkan Lily lebih rajin daripada pemuda itu.


Beberapa hari yang lalu, saat Arthur merasa bersemangat untuk membuka restoran, dia malah mendapatkan surat undangan untuk datang ke markas Garden of Death. Mengetahui kalau tidak mungkin menghindarinya, pemuda itu benar-benar tampak sangat tertekan.


Itulah alasan kenapa penampilannya menjadi seperti sekarang.


“Tenang saja, Bos. Setelah menyelesaikan pertemuan ini, kita bisa kembali ke tempat ini untuk membuka restoran.”


Mendengar ucapan Joe, mata kusam Arthur mulai mendapatkan kembali cahayanya. Memiliki ekspresi cukup bersemangat di wajahnya, pemuda itu mengangguk tegas.


“Kamu benar, Joe. Kita tidak boleh menyerah hanya karena masalah sepele seperti ini. Bahkan jika belum sempat membuka, itu bukan masalah.”


Setelah mengatakan itu, Arthur mengelus dagu.


“Karena jaraknya yang begitu jauh, kita juga harus berangkat lebih awal. Rencananya aku ingin berangkat dua hari kemudian. Namun lebih baik kita berangkat hari ini. Selain agar lebih cepat, kita juga bisa menggunakan waktu sisan untuk mencari bahan yang berguna.”


Melihat Arthur yang mendapatkan kembali semangatnya, Joe merasa lega. Dia benar-benar tidak ingin melihat ketuanya malas dan putus asa. Bukan karena kasihan, tetapi karena membuatnya tertekan.


Melihat bagaimana orang makan, tidur, dan bermalas-malasan tetapi bisa naik level dengan cepat membuat Joe merasa hampir gila. Jika bukan karena tekadnya, hidup dengan monster semacam Arthur akan membuatnya yang dianggap jenius memilih untuk menyerah.


Dengan demikian, Arthur dan kedua rekannya akhirnya memilih untuk mengemas barang-barang mereka.


Bersiap untuk pergi ke tempat tujuan berikutnya!


***

__ADS_1


Belasan hari berlalu begitu saja.


Arthur, Jotaro, dan Lily melakukan perjalanan tanpa menunda. Namun tetap saja mereka tidak bisa segera sampai di tempat tujuan karena jauh dari tempat mereka tinggal sementara.


Melihat hutan dan pegunungan sejauh mata memandang, Arthur tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya.


‘Bukankah mereka seharusnya membangun markas di kota besar yang mudah diakses atau semacamnya? Kenapa orang-orang itu malah memilih tempat terpencil semacam ini?’


Memikirkan berbagai alasan, Arthur akhirnya menyerah karena tidak ingin terlalu memikirkannya. Meski begitu, ada sesuatu yang membuatnya merasa aneh.


“Walau tempatnya sangat luas dan asri, tetapi tidak ada jejak roh jahat atau demonic beast. Apakah orang-orang itu sengaja melakukan pembersihan wilayah?”


Mendengar ucapan Arthur, Joe dan Lily mengangguk. Mereka merasa ucapan pemuda itu memang benar. Suasana asri, sejuk, tetapi juga cerah tanpa ada jejak kesuraman itu benar-benar aneh.


“Karena sudah ada di sini, mari kita pergi ke hutan terlebih dahulu untuk mencari tempat berkemah.”


“Baik!” jawab Joe sementara Lily hanya mengangguk.


Mereka bertiga kemudian pergi ke hutan. Meski subur dan penuh pepohonan tinggi, tetapi kanopi tidak menutupi semuanya. Jarak antar pohon juga berjauhan, benar-benar cocok sebagai tempat untuk piknik.


Merasakan kedamaian semacam itu membuat Arthur, Joe, dan Lily merasa aneh karena tidak terbiasa.


Lagipula, dunia ini dipenuhi dengan monster, hantu, dan roh jahat. Bahkan jika mereka berada di kota, masih ada hal-hal semacam itu. Entah memang hantu atau beberapa orang tertentu yang suka melakukan ritual.


Merasakan sensasi santai dan tenang sama seperti mengunjungi hutan di dunia sebelumnya, Arthur benar-benar merasa rumit.


‘Tampaknya aku telah terbiasa dengan dunia penuh hantu, roh jahat, dan monster ini. Hal-hal nyaman seperti ini sekarang malah terasa agak aneh.’


Memikirkan itu, Arthur sekali lagi menggelengkan kepalanya.


Baru dua jam memancing, Arthur dan kedua rekannya mendapatkan banyak ikan. Lebih dari cukup untuk mereka makan bertiga.


Saat itu, pemuda tersebut tiba-tiba menoleh ke arah tertentu.


Di arah Arthur menoleh, tampak sosok pria paruh baya dengan pakaian warga desa biasa datang ke arah mereka dengan keranjang bambu di punggungnya. Perasaan yang dibawa olehnya hanya sosok manusia biasa.


Hanya saja, kerena berada di tempat aneh, Arthur memilih untuk waspada.

__ADS_1


“Siapa?”


Mendengar pertanyaan Arthur, pria paruh baya yang membawa keranjang bambu itu tidak marah. Sebaliknya, dia tersenyum ramah sambil menyapa.


“Seharusnya aku yang mengatakan itu pada kalian. Aku adalah warga desa yang berada di pinggiran hutan ini. Datang untuk memetik buah, jamur, sayur, dan juga mencari kayu bakar.” Pria paruh baya itu tersenyum. “Kalian tampak asing, apakah bukan dari tempat ini?”


“Bukan.” Arthur menggelengkan kepala. “Kami datang untuk menghadiri pertemuan anggota Garden of Death.”


Setelah mengatakan itu, Arthur menatap ke arah pria paruh baya itu dengan ekspresi serius. Tampaknya ingin melihat responnya. Namun, apa yang dia lihat benar-benar berbeda dari yang diharapkannya.


Bukannya menatap penuh kebencian karena menyebut organisasi semacam itu, pria paruh baya tersebut malah tampak sangat bahagia. Dia segera mendekati Arthur dan kedua rekannya, bahkan hampir berlari.


Setelah mendekat, pria paruh baya itu memberi hormat dengan tulus.


“Senang melihat kalian, Tuan. Melihat kalian tampaknya mencari bahan untuk dimakan, meski tidak seberapa, saya memilikinya di sini.”


Pria paruh baya itu menurunkan keranjang lalu meletakkannya di depan Arthur dan kedua rekan-rekannya. Tampak beberapa jamur, buah, dan sayur dalam keranjang tersebut.


“Ini?” Arthur mengangkat alisnya.


“Ini adalah ketulusan dari saya. Mungkin tidak seberapa, tetapi hanya ini yang bisa saya berikan.”


Melihat ekspresi tulus di wajah pria itu, Arthur tidak bisa tidak bertanya.


“Apakah karena kami anggota Garden of Death? Kamu takut kami menyakitimu untuk merampokmu?”


Mendengar itu, bukannya marah, pria paruh baya tersebut malah tertawa ramah. Dia bahkan menyeka air mata di sudut matanya.


“Tidak ada yang seperti itu, Tuan. Kami sama sekali tidak membenci atau takut pada Garden of Death. Sebaliknya, kami merasa hormat dan berterima kasih kepada kalian.


Karena adanya Garden of Death, wilayah dimana kami tinggal sangat aman. Itu adalah apa yang selalu kami syukuri. Lagipula ...”


Pria paruh baya itu tersenyum ramah.


“Bagi kami, Garden of Death adalah sosok pelindung yang selalu kami puja.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2