
“Penjelasan macam apa yang kamu inginkan?”
Satoru memasang senyum masam di wajahnya. Mundur beberapa langkah, dia mengangkat kedua tangannya lalu melanjutkan.
“Aku rasa tidak ada yang perlu dijelaskan, bukan? Maksudku ... ini hanya salah paham kecil. Sama sekali tidak begitu penting.”
“Lihat wajahku lalu katakan itu sekali lagi!”
Natsumi berkata dengan ekspresi penuh kebencian. Karena pemuda itu, dia sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Bukan hanya penampilannya tampak memburuk, tetapi gadis itu juga merasa kalau tubuhnya lelah dan juga mengantuk.
Melihat mata panda, wajah lesu, dan ekspresi suram Natsumi membuat Satoru merasa agak malu. Dia benar-benar bingung harus mengatakan apa. Sedangkan untuk mengatakan secara terus terang ... pemuda itu merasa agak malu.
“APA? Apakah kamu benar-benar tidak akan mengatakan apa-apa?” ucap Natsumi sambil menggertakkan gigi.
Melihat ekspresi penuh kebencian di wajah Natsumi, Satoru tahu dirinya akan ada dalam masalah jika tidak mengatakan apa-apa.
Pemuda itu diam sejenak. Setelah beberapa saat, dia menoleh ke arah lain sambil memegangi belakang lehernya. Memiliki ekspresi agak canggung, pemuda itu bergumam dengan suara yang nyaris tidak bisa didengar.
“Aku merasa agak tidak nyaman dengan kedekatan kita.”
Natsumi yang tidak mendengar dengan jelas mengangkat alisnya dengan ekspresi tidak puas.
“Katakan dengan jelas!” tegas gadis itu.
“Aku merasa tidak nyaman dengan kedekatan kita.”
“...”
Mendengar ucapan Satoru, Natsumi langsung tertegun di tempatnya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda itu akan mengucapkan kata-kata semacam itu kepadanya. Saat itu juga kemarahannya hilang, langsung digantikan dengan kekecewaan dan kesedihan.
Satoru menjadi agak panik ketika melihat perubahan jelas pada ekspresi Natsumi. Merasa agak pusing dan bingung, dia segera menjelaskan.
“Aku mulai memikirkannya ketika menerima paket dari rumah. Awalnya aku ingin meminta alamat e-mail atau nomor ponselmu, tetapi tiba-tiba terpikir kalau kita agak berlebihan.
Aku tidak tahu apakah itu karena kamu agak tomboy atau gadis-gadis di tempat ini agak terbuka. Hanya saja, aku merasa kalau hubungan laki-laki dan perempuan tidak bisa seperti ini. Maksudku ... terlalu dekat tanpa memiliki hubungan apa-apa.”
“Kamu tidak suka karena aku terlihat agak tomboy?”
“Bukan.” Satoru menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Lalu kamu tidak puas karena aku gadis desa dan merasa aku itu rendah?”
“Aku bilang bukan soal itu!” tegas Satoru dengan ekspresi agak tertekan.
“Lalu kenapa?!”
“Sudah aku bilang, kita tidak seharusnya seperti ini!
Bahkan jika masih berusia belasan tahun, kita bukan lagi anak kecil. Aku rasa lebih baik kita menjaga jarak.”
“...”
Melihat Natsumi diam saja, Satoru menjadi semakin tertekan. Awalnya dia merasa kalau hubungan mereka baik-baik saja karena tidak melakukan hal-hal yang di luar batas. Namun, semakin lama pemuda itu merasa kalau mereka seharusnya tidak terlalu dekat karena mereka tidak memiliki hubungan spesial.
Bukan hanya akan membawa masalah pada dirinya sendiri, Satoru merasa tidak baik bagi seorang gadis jika terlalu dekat dengan pemuda entah dengan atau tanpa hubungan yang jelas.
“Aku tidak tahu apakah orang-orang setempat memang begitu dekat satu sama lain. Hanya saja, aku tidak terbiasa dengan hal semacam ini. Kamu adakah gadis ramah, ceria, dan baik.
Aku merasa kamu sering menggodaku sejak pertemuan pertama kita. Mungkin aku sedikit sensitif atau apa, tetapi kurasa jika kamu hanya menggoda adik kelas baru yang kamu anggap polos ata menarik ...”
“Apakah kamu pikir aku dekat dengan semua laki-laki dan suka menggoda seseorang? Jenis gadis tidak tahu malu yang suka main-main dengan perasaan?”
Natsumi sama sekali tidak menganggap Satoru sebagai anak kecil atau adik kelas biasa. Dia menjadi lebih tertarik kepada pemuda itu ketika mulai mengenalnya.
Mungkin awalnya sedikit penasaran karena tampang dan identitasnya sebagai pemuda yang datang dari kota. Namun, bukan itu yang membuat Natsumi menjadi lebih tertarik dan nyaman di sekitarnya.
Sikapnya yang acuh tak acuh, tetapi juga baik. Sangat cerdas sehingga mudah mempelajari sesuatu, tetapi begitu tidak peka dan tumpul. Pemuda itu seperti kotak penuh misteri yang membuatnya merasa penasaran dan tanpa terasa membuatnya sulit menjauh.
‘Mungkin baginya aku hanyalah senior nakal yang suka menggoda, bahkan merusak reputasinya.’
Memikirkan itu, Natsumi menyeka air matanya lalu memaksakan senyum di wajahnya. Dia tahu kalau dirinya tidak bisa seperti ini. Terlebih lagi, sebentar lagi orang-orang akan datang. Jadi lebih baik tidak membuat tindakan yang membuat mereka salah paham.
Satoru sendiri terkejut ketika melihat air mata Natsumi. Dengan kedua tangan terkepal, dia sedikit menunduk sambil menjelaskan.
“Bukan karena aku berpikir seperti itu. Aku merasa kamu adalah gadis cantik, ramah, dan baik. Jadi, aku tidak ingin kesalahpahaman dan ketidakjelasan.”
“Apa maksudmu?” tanya Natsumi dengan ekspresi bingung.
Melihat gadis yang biasanya ceria tetapi ternyata agak bodoh itu membuat Satoru menghela napas lalu menggelengkan kepalanya. Menarik napas dalam-dalam, pemuda itu kemudian memaksakan diri untuk tersenyum.
__ADS_1
“Bukan apa-apa.” Satoru menggelengkan kepalanya. “Jika tidak ada masalah lain, aku akan pergi untuk melaksanakan tugas.”
Setelah mengatakan itu, Satoru langsung berjalan pergi. Benar-benar meninggalkan gadis yang baru saja menangis itu sendirian. Berdiri di tempatnya dengan ekspresi terpana.
***
Malam harinya.
Setelah melewati hari yang melelahkan dimana dia tidak bisa fokus, Natsumi langsung kembali ke kamarnya setelah makan malam. Gadis itu berbaring di atas ranjang dengan ekspresi linglung. Ada perasaan marah, kecewa, dan bingung dengan sikap yang Satoru tunjukan kepadanya.
“Apakah kamu baik-baik saja, Natsumi?” tanya salah satu temannya dengan ekspresi khawatir.
“Ya! Kamu jelas tidak fokus selama dua hari ini!” tambah salah satu temannya.
“Apakah itu karena junior dari kota? Bukankah aku sudah bilang kalau orang-orang dari kota itu tidak baik?”
Saat itu, suara gadis yang terdengar dingin dan tak acuh masuk ke telinga tiga gadis itu. Natsumi melirik ke arah meja belajar. Di sana, tampak sosok gadis cantik dengan rambut dikepang dua. Dia mengenakan kacamata dan pakaian longgar, tetapi sama sekali tidak bisa menghalangi pesonanya.
“Apa maksudmu, Hotaru?” tanya Natsumi dengan ekspresi datar.
“Pemuda dari kota memang seperti itu. Mereka semua busuk. Suka mendekati gadis cantik dan mencoba mendapatkan manfaat darinya. Setelah itu mereka akan meninggalkannya dan mencari gadis lain.
Apalagi, gadis-gadis dari pedesaan itu sangat polos dan mudah ditipu. Jadi aku sarankan untuk melupakan pemuda dari kota semacam itu.”
“Kamu salah Hotaru! Satoru-kun bukanlah orang semacam itu. Terlebih lagi, dia sama sekali tidak pernah memanfaatkan aku!” tegas Natsumi.
“Lalu kenapa kamu sedih dan linglung? Dicampakan?” balas Hotaru dengan nada datar.
Mendengar ucapan terus terang Hotaru, dua gadis lain tidak bisa tidak menghirup napas panjang. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau kedua temannya akan berdebat karena seorang laki-laki.
“Ya! Dia bilang agar kami berdua menjaga jarak supaya tidak terjadi kesalahpahaman yang membuat rumor-rumor salah. Dia berkata kalau itu tidak baik bagi kami, terlebih karena kami berdua tidak memiliki hubungan yang jelas.”
Mendengar itu, tiga orang lainnya tertegun. Mereka menatap ke arah Natsumi seolah sedang melihat gadis bodoh. Ketiganya bahkan mengeluh dalam hati mereka.
‘Bukankah itu berarti dia ingin mengkonfirmasi hubungan kalian? Ingin melangkah lebih jauh?’
‘Kamu berkata Satoru-kun tidak peka? Bukan kamu sama saja!’
>> Bersambung.
__ADS_1